Kisah Cinta Andin Dan Gege

Kisah Cinta Andin Dan Gege
Pertemuan Setelah Terpisah begitu lama #55


__ADS_3

Andin berjalan menuju jalan raya sesuai seperti yang Gerald katakan di dalam chat. Andin tidak tau kenapa Gerald tiba-tiba mengajaknya keluar hari itu. Padahal Andin merasa sudah tidak ada yang harus mereka bicarakan saat itu. Semuanya sudah selesai menurutnya.


Andin sudah merelakan Gerald berbahagia dengan pilihannya. Tak ingin lagi mempermasalahkan apa yang sudah terjadi di masa lalu. Tak ada gunanya juga setiap pertemuan mereka membahas masalah yang tak pernah ada ujungnya.Kedua belah pihak merasa diri mereka lah yang paling tersakiti. Baik Andin ataupun Gerald sama sama terluka atas perpisahan yang terjadi.


Nasi sudah menjadi bubur, dan semuanya sudah terlanjur hancur. Menangis dan meratap pun sudah tidak berguna. Gerald tidak akan pernah mau meninggalkan Ica demi dirinya.Bagaimanapun Ica adalah orang yang spesial juga dalam hidupnya Gerald. Andin mengerti jika akhirnya Gerald memilih Ica untuk mendampinginya.


Sebuah motor Vespa berhenti tepat di hadapannya setelah beberapa saat Andin menunggu.


Gerald tersenyum kepada Andin yang sedang terpukau dengan motor Vespa miliknya yang sudah lama sekali tidak dia lihat.


"Hai sayang. " Sapa Gerald dari atas motor yang di naikin nya. " Mau pergi jalan jalan bersama ku naik motor ini? " Tanya Gerald sambil tersenyum.


Andin terlihat termenung sejenak. Ada sedikit perasaan bahagia, saat Gerald datang dengan menaiki motor Vespanya.Tapi kebahagiannya tiba-tiba di tepis oleh perasaan kalau Gerald sudah bukan siapa-siapa baginya.Untuk apa Andin begitu bahagia untuk sesuatu yang sudah bukan miliknya lagi.


"Jangan terlalu banyak berpikir Andin ku sayang, kesempatan cuma datang satu kali dalam hidup. " Gerald terdengar berkata kembali.


Andin masih termenung. Andin tak ingin terjebak dalam perasaan yang bukan untuknya. Andin takut dia akan kembali mengalami kekecewaan yang begitu dalam.


"Kenapa kamu tiba-tiba ngajak aku jalan? " Tanya Andin dengan menatap Gerald yang masih duduk di atas motor.


"Masih perlu di tanya? " Gerald malah balik bertanya.


"Maksudnya? "


"Ya aku kangen kamu lah, emang kau pikir apa? " Jawab Gerald.


Andin terdiam kembali.


"Perjalanan kita sudah begitu panjang. Ada banyak yang sudah kita lalui, yang tentu sangat menyakitkan bagi kita berdua. Baik aku atau pun kau, kita berdua sama sama terluka.Aku tidak ingin berpikir tentang apapun. Aku hanya ingin mengatakan satu hal, jika kau masih mencintaiku, maukah kau pergi bersamaku hari ini? Tanpa memikirkan hal yang lain!"


Gerald memberikan uluran tangannya kepada Andin.


Andin kembali termenung untuk kesekian kalinya. Ada banyak sekali ketakutan yang tiba-tiba datang di hati Andin.


Walau agak terlihat ragu Andin menyambut uluran tangan Gerald kepadanya. Sebuah senyuman manis dilemparkan Gerald kepada Andin kemudian mencium lembut jari jemari Andin yang sedang dipegangnya.


Andin perlahan menaiki motor Vespa maticnya yang sudah lama tak pernah Andin lihat. Gerald menarik tangan Andin yang sudah duduk manis di belakangnya agar Andin duduk sembari memeluknya.


Motor pun melaju dengan kecepatan standar.


"Kau senang hari ini? " Tanya Gerald sambil tetap menatap ke depan.


Andin sedikit menganggukkan kepalanya tanpa bicara.Andin bingung harus bicara apa. Rasanya agak sedikit canggung melihat Gerald yang tiba-tiba berubah.


"Akan kemana kita hari ini? " Gerald terdengar bertanya kembali.


"Nggak tau. "

__ADS_1


"Kita berputar putar saja gimana? "


" Terserah. " Jawab Andin sambil tetap memeluk Gerald dari belakang dengan erat.


Sudah lama sekali Andin tak pernah berboncengan naik motor bersama Gerald. Sudah lama sekali Andin tak pernah memeluk Gerald seperti ini. Rindu rasanya saat saat dulu dimana mereka berdua sering menghabiskan waktu bersama sama dengan motor Vespanya.


Tapi sekarang bahkan Andin tak pernah mempunyai kesempatan untuk berdua dengan Gerald. Setiap pertemuan selalu mereka habiskan dengan bertengkar dan berbeda pendapat. Andin sudah bosan berdebat.Ada begitu banyak hal yang terjadi dalam tiga tahun belakangan ini yang membuat hubungan mereka menjadi jauh.


Setelah hampir satu jam lamanya mereka berkeliling, Gerald akhirnya membawa Andin pulang kembali ke rumah kontrakannya yang sudah hampir dua minggu ini Andin tinggalkan.


"Kok pulang kesini? " Tanya Andin setelah dia menyadari kalau dirinya sudah berada di depan kamar kontrakannya.


"Pulang kesini, biar jauh dari Yoga. " Jawab Gerald lalu memarkirkan motornya di depan rumah. Lalu turun dan menuntun Andin untuk turun juga dari motor.


"Kuncinya mana? " Tanya Gerald sambil melihat kearah Andin.


Andin menunjuk salah satu pot bunga yang ada di depan pintu. Lalu Gerald terlihat jongkok di tempat yang Andin tunjuk untuk mengambil kunci rumah yang Andin simpan di balik pot bunga.


Pintu Pun terbuka, lalu keduanya masuk kedalam.


Gerald terlihat berdiri sambil melebarkan kedua tangannya. Menatap kearah Andin yang sedang memperhatikannya. Andin perlahan mendekat, lalu terlihat memeluk Gerald yang sudah memberikan isyarat untuk memeluknya.


Pelukan kerinduan kedua pasangan yang sudah sangat lama dipisahkan oleh keadaan.


Setetes air mata Andin tiba-tiba jatuh di pipinya.


Untuk beberapa saat, mereka hanya terlihat berpelukan. Melepaskan semua kerinduan yang sudah lama terpendam.


"Kenapa kau begitu egois selama ini? " Kata Andin masih dengan berlinang air mata.


"Aku minta maaf. " Jawab Gerald masih dengan memeluk Andin. "Aku minta maaf untuk semua kesalahan aku. Ternyata aku tidak bisa hidup tanpamu. Ternyata jauh dari cintamu itu tidak semudah saat aku mengambil keputusan meninggalkan mu."


"Kau yakin masih cinta sama aku? " Tanya Andin dengan menatap tajam wajah Gerald.


"Dasar bodoh! Ya jelas masihlah. Kau masih tanya? " Jawab Gerald sambil noyor sedikit kepala Andin.


"Lalu kenapa kamu jadian sama Ica? "


Gerald terdiam.


Dia seperti sedang memikirkan bagaimana cara mengatakan alasan yang sedikit masuk akal agar Andin mengerti kenapa Gerald bisa jadian sama Ica.


"Saat Ica memanggilmu sayang, hatiku sangat sakit." Tambah Andin dengan sedikit cemberut.


Gerald terlihat mengelus rambut Andin yang terurai. "Aku akan urus itu secepatnya."


Gerald tidak mengatakan dengan jelas apa yang akan dia lakukan terhadap Ica.

__ADS_1


"Maksudnya? "


"Ya aku akan secepatnya membereskan urusan ku dengan dia. Agar kita bisa bersama kembali. "


"Dengan menyakiti hati Ica? "


"Memang ada cara lain selain tidak menyakiti hatinya?" Gerald terdengar balik bertanya. "Kecuali kau mau berbagi aku dengannya. " Jawab Gerald sambil sedikit tertawa.


"Kalau aku mau, bagaimana? " Tanya Andin mencoba memberikan pilihan.


Andin seperti menantang Gerald yang sedang bercanda kepada dirinya dengan candaan yang tidak lucu.


Gerald terlihat mencubit pipi Andin dengan manja. "Akunya yang nggak mau. Aku tuh cuma cinta sama kamu Andin ku sayang. Bukan Ica! Gila aja, membagi cinta kayak gitu.Satu aja pusing setengah mati. Apalagi dua? "


"Kau ini aneh, kau bilang kau mencintai ku. Tapi jadian sama Ica? "


"Bukan jadian sayang! Aku itu cuma mengapresiasi kebaikan dia aja selama ini. Dia tak pernah lelah menjaga aku saat aku berada di fase terjatuh karena kehilangan kamu. Kau pikir kenapa aku masih bisa bertahan sampai saat ini?"


"Kenapa? "


"Karena aku yakin akan adanya hari ini. " Jawab Gerald dengan yakin.


"Itu tak menjawab pertanyaan ku bodoh! " Bantah Andin dengan sedikit melotot.


"Sudahlah! Jangan bahas masalah Ica terus kenapa! Aku kan sudah bilang kalau aku itu salah, makanya aku minta maaf. " Gerald akhirnya menyerah, ia begitu tersudutkan oleh semua pertanyaan yang di lontarkan oleh Andin.


Andin mendelik kepada Gerald.


"Kau tau kalau Yoga sebenarnya masih mencintaimu? " Tanya Gerald setelah keduanya duduk.


Gerald berusaha mengalihkan pembicaraan tentang Ica kepada Yoga agar ia bisa sedikit bernafas dari semua pertanyaan Andin tentang kenapa dia bisa jadian sama Ica.


Andin mengangguk dengan perlahan.


"Kapan akhirnya kau tau? "


"Baru beberapa minggu yang lalu. " Jawab Andin. "Dia yang mengatakan sendiri padaku. "


"Sekarang kau mengerti kan kenapa aku tidak suka kamu selalu bersama dia? Yoga itu licik,dia membuat kamu jadi serba salah hingga akhirnya menjauh dariku."


"Jangan bicara begitu!" Kata Andin mencoba mengingatkan Gerald agar jangan memulai membicarakan Yoga dengan kasar.


"Ya ampun, kau tetap saja bela dia walaupun dia sudah membohongi mu. "


"Bukan bela, tapi.. " Andin mencoba menjelaskan.


***

__ADS_1


__ADS_2