
Ica masih tampak sibuk membuat laporan keuangan yang belum ia selesaikan hari itu. Gerald terlihat menghampirinya, lalu terlihat memeluk Ica yang sedang duduk dari belakang. Tampak juga dia mencium rambut Ica yang terurai panjang.
"Maafkan kata kata ku kemarin, Ca. " Kata Gerald masih tampak membelai halus rambut Ica yang terurai.
Ica menghentikan pekerjaannya, lalu berbalik kearah Gerald yang sedang memeluknya. "Sudahlah, tidak apa apa." Jawab Ica sambil tersenyum.
Gerald sudah sering melakukan itu pada dirinya. Ica sudah tidak pernah sakit hati.Ica selalu menganggap maklum sikap Gerald yang terkadang agak kasar terhadap dirinya.
"Aku tidak bermaksud menyakiti hatimu." Kata Gerald sambil mencium kening Ica.
"Aku tau." Ica Kembali mencium balik pipi Gerald.
Lalu terlihat keduanya saling berpelukan.Merasa terharu mendengar Gerald berusaha meminta maaf atas sikapnya yang beberapa hari ini agak kasar terhadap dirinya. Merasa terharu ketika Gerald dengan gamblang meminta maaf, padahal dirinya tidak salah. Ica tau, Gerald sebenarnya tidak ingin menyakiti hati dia. Tapi keadaan yang memaksa Gerald seperti itu.
Gerald juga merasa marah pada dirinya sendiri karena dia tak bisa berbuat ataupun membahagiakan Ica seperti yang dia harapkan.Ternyata susah sekali membahagiakan orang yang tidak kita cintai. Walaupun sebenarnya orang itu begitu baik kepada dirinya.Gerald selalu menyakiti hati Ica dengan selalu mengingat Andin di sepanjang waktu yang berlalu. Padahal Ica selalu berada di sampingnya sepanjang waktu. Ica selalu membantunya dari semua fase buruk yang sedang Gerald Lalui selama ini. Gerald ingin bisa membahagiakan Ica sebagaimana biasanya orang membahagiakan pasangan nya. Tapi mengapa teramat sulit? Kenapa masih selalu Andin yang dia ingat? Padahal yang ada di hadapannya adalah Ica.
Bayang bayang Andin selalu menghantui kehidupannya di sepanjang waktu. Walau sudah begitu lama, Gerald masih belum bisa lepas dari semua hal tentang Andin.
Pepatah mengatakan kalau waktu akan menyembuhkan segala luka. Waktu akan membuat kita bisa melupakan orang yang kita cintai. Waktu bisa mengubah segalanya. Tapi tidak bagi Gerald! Waktu yang berjalan setiap hari tak pernah lepas dari bayang-bayang Andin. Gerald tak pernah benar-benar bisa melupakannya. Dia selalu mengingat segala hal tentang Andin. Walaupun ada begitu banyak orang di sekelilingnya yang selalu mensupport, tapi tetap Gerald tak pernah bisa melupakannya.Gerald seperti terpenjara dalam masa lalu, dan tak pernah bisa keluar dari cintanya Andin.
Dalam sehari, pasti ada fase dimana Gerald diam dan termenung. Menyendiri sendiri dengan segala kerinduan yang menyelimuti hatinya.
"Aku selalu mencoba untuk mengerti hatimu, tapi ternyata begitu susah aku lepas dari bayang-bayang Andin." Kata Gerald dengan tetap memeluk Ica.
"Ya sudah. Jangan terlalu dipikirkan! Masih banyak waktu,asal jangan berhenti mencoba, aku yakin kamu pasti bisa." Kata Ica, lalu melepaskan pelukan Gerald. Tersenyum manis memberikan semangat yang tak pernah putus.
"Masih banyak kerjaan mu?" Gerald terdengar mengalihkan pembicaraan.
"Masih numpuk.Kenapa emang?"
"Aku mau jalan keluar makan bareng anak anak." Kata Gerald lagi dengan masih menatap wajah Ica yang memang terlihat sibuk hari ini.
"Emang kerjaan mu sudah beres?" Ica balik bertanya kepada Gerald.
"Belum.Tapi anak anak ngajak pergi."
"Pergi ke mana?"
__ADS_1
"Krisna dan Angga ngajak ngumpul hari ini. Mereka lagi ada waktu. Ya, paling cuma nongkrong di kafe atau di rumahnya kali."
" Ya udah, Hati-hati di jalan. Pulangnya jangan malem malem!" Kata Ica, Lalu ia kembali duduk didepan laptopnya. Kembali mengerjakan pekerjaan yang sedang di lakukan nya tadi.
"Oke." Kata Gerald sambil berbenah, bersiap untuk pergi. "Kamu di rumah sama Ayu dan bi Sumi,karena semua anak anak pergi sama aku." Kata Gerald menambahkan.
"Ya." Jawab Ica pendek.
Hari ini Gerald berniat pergi bersama teman temannya yang lain untuk pergi ngumpul bareng di rumah Angga. Sudah lama sekali rasanya mereka tak pernah pergi ngumpul bareng setelah mereka sama sama sibuk.
Fadil dan Agung ikut bersama Gerald, bekerja menjadi editor dan videografer untuk chanel Gerald. Serta kadang kadang membantu pekerjaan Ica yang sibuk dengan berdagang online. Kalau Ica kewalahan membuat pesanan online Agung dan Fadil dengan sigap membantu.
Sedangkan Krisna dan Angga masih sibuk menjadi pegawai kantoran. Angga dan Krisna lebih suka pekerjaan yang memiliki jam kerja yang tetap dan reguler setiap hari. Daripada bekerja tanpa waktu yang tepat seperti Gerald. Pekerjaan Gerald tidak pernah di atur harus pagi atau malam. Pekerjaan seperti mereka bebas di lakukan kapan saja semaunya. Tentu siklus tidur juga kurang bagus. Gerald dan teman-temannya sering kali begadang sampai pagi.Dan paginya kadang mereka harus kembali bekerja.
Perbedaan jam kerja antara lima berkawan ini menjadikan mereka jadi jarang bertemu. Kalau krisna dan Angga libur, Gerald dan yang lainnya kadang sibuk, atau sedang keluar kota untuk syuting.Begitu juga sebaliknya.
Hari ini mereka sama sama menyempatkan diri untuk bertemu. Karena sudah lama sekali mereka tak pernah lagi ngopi bareng setelah sama sama sibuk.
"Pa kabar bro?" Sapa krisna pada Gerald dan yang lainnya yang baru saja tiba di rumahnya.
"Tambah kurus aja nih, lagi diet Ge?" Tambah Krisna yang heran melihat berat badan Gerald yang sedikit berkurang. Matanya juga terlihat cekung, seperti yang kurang tidur.
Padahal hanya baru beberapa minggu mereka tidak bertemu, tapi Krisna melihat begitu banyak perubahan pada Gerald.
"Boro boro diet, makan aja susah. Kalau diet mah makan teratur, olahraga teratur." Agung menjawab pertanyaan Krisna untuk Gerald.
Kelimanya kemudian duduk di ruang tamu, di rumah Krisna yang sudah di penuhi dengan berbagai makanan dan minuman di atas meja.
Sang tuan rumah sudah menyediakan begitu banyak makanan untuk menjamu tamunya hari itu.
Sedangkan Gerald hanya diam sambil terlihat senyum senyum sendiri ketika mendengar sang sahabat berbicara tentang dirinya.
"Jangan terlalu banyak di pikirin dong, bro! Kalau sudah jodoh, tidak akan lari kemana mana. Dia pasti akan cari elo, kok. Percaya deh sama gue!" Kata Angga, sambil menepuk nepuk pundak Gerald yang duduk di sebelahnya.
Gerald masih terlihat terdiam tak merespon apa yang di katakan para sahabat nya.
Ia malah terlihat mengambil segelas kopi yang masih panas yang baru saja di sediakan oleh mbak di rumah Angga.
__ADS_1
"Benar, bro. Kalau sudah jodoh, pasti Tuhan kasih jalan." Krisna ikut menambahkan.
"Mau bahas masalah gue aja nih?" Gerald terdengar bicara setelah mendengar para sahabatnya bicara hanya tentang dirinya saja. "Bicara masalah gue mah enggak akan ada ujungnya, mending bahas masalah lo aja yang naksir sama si Ayu." tambah Gerald melirik geli kepada Angga.
Gerald mengalihkan pembicaraan Krisna dan Angga yang sedang membahas tentang dirinya, menjadi membahas tentang Angga yang sedang naksir sama Ayu.
Angga tersipu, malu.
"Bener lo naksir sama si Ayu?" Krisna tampak terkejut, mendengar Gerald mengatakan kalau Angga naksir sama Ayu. Angga tak pernah cerita sebelumnya, kalau dia naksir sama Ayu kepada dirinya.
"Yakin, Ga?" Krisna memperjelas pertanyaannya.
Angga masih tak menjawab. Dia hanya terlihat senyum senyum sendiri. Tak menjawab iya ataupun menyangkal.
"Bener lah." Gerald yang menjawab pertanyaan Krisna. " Kerjaan dia, gangguin gue, suruh nitip salam sama si Ayu setiap hari.Pusing gue!"
"Si Ayu udah nyuruh Angga buat datang." Kata Fadil ikut menyela " Tapi dia enggak pernah mau datang."
"Gue malu, coy." Baru terdengar Angga berbicara.
Wajahnya agak tampak sedikit memerah.
"Ya jangan malu, gimana sih. Lo kan cowok." Fadil terlihat greget.
"Gue enggak pernah jatuh cinta sama cewek seperti dia." Jawab Angga.
"Emang dia kenapa?" Gerald melotot.
"Enggak kenapa kenapa."
"Terus?"
" Ya gue malu aja."
Terdengar suara decak kesal ke empat temannya yang lain mendengar Angga berulang ulang kali bilang malu.
***
__ADS_1