
Selain Andin, Yoga juga kaget tiba-tiba melihat Gerald datang dari dalam.
"Selamat sore Pak Gerald. " Sapa Yoga terlihat berbasa-basi basi. "Sudah lama pak? " Tanyanya kemudian.
"Ya sudah lumayan lama pak, ini saya mau pamitan pulang. " Jawab Gerald seadanya.
"Loh kok buru buru pak. Saya baru juga datang. Kita ngopi ngopi dulu sebentar. " Ajak Yoga, agar suasana tidak terasa kaku.
Bu Aisyah tidak harus melihat kejanggalan diantara mereka berdua.Yoga tidak harus memperlihatkan kebenciannya kepada Gerald. Bagaimanapun Gerald adalah donatur tetap di Yayasan yang di kelola olehnya. Yoga harus memperlakukan Gerald dengan baik.
"Terimakasih tawarannya, tapi saya masih ada keperluan di luar. " Jawab Gerald sambil berusaha untuk tersenyum.
"Baiklah kalau begitu, terimakasih sudah menyempatkan waktunya untuk datang kemari menemui Adinda. " Kata Yoga berusaha bersikap seprofesional mungkin menjadi seorang pemilik Yayasan. "Dinda, salam sama om ganteng! " Kata Yoga pada Dinda.
Adinda mengulurkan tangannya untuk salam kepada Gerald.
"Om pulang dulu ya, sayang! "
"Iya, om. Terimakasih sudah datang ya om. "
"Iya, sama-sama. " Jawab Gerald dengan seulas senyum.
Detik-detik saat Gerald akan pamit barulah Andin kembali ke teras depan menghampiri mereka kembali.
Andin bingung ketika dia tiba-tiba melihat Gerald berada di ruang tamu dan sedang berdiri memperhatikannya. Andin tidak tau kalau Gerald pamit kepadanya lalu berkunjung ke Rumah Duafa sendirian.
"Saya pamit pulang dulu ya bu Andin, Bu Aisyah! " Kata Gerald sambil melihat dengan tatapan penuh makna kepada Andin.
"Iya, terimakasih atas kunjungannya pak Gerald. " Jawab Andin dengan perasaan yang berkecamuk di hatinya.
Setelah melambaikan tangan kepada Adinda barulah Gerald berbalik melangkah menuju ke mobilnya.
Sesaat sebelum akhirnya dia tancap gas, untuk kedua kalinya Gerald melihat Yoga kembali menggandeng tangan Andin untuk masuk ke dalam rumah.
Gerald hanya bisa dengan cepat memalingkan wajahnya lalu pergi meninggalkan Rumah Duafa dengan kekecewaan.
***
Baru beberapa menit mobil melaju, ponsel Gerald terdengar berbunyi. Dengan cepat Gerald melihat siapa yang menelponnya. Tapi Gerald tidak dengan cepat mengangkat telponnya ketika dia tau kalau yang sedang menelpon itu adalah Andin.
Dia hanya terlihat menatap ponsel yang tidak berhenti berdering dari tadi tanpa menyentuhnya. Gerald sedang tak ingin bicara karena dia sedang kesal. Tapi karena Andin juga tak berhenti menelponnya, akhirnya dia mengalah untuk mengangkat telpon.
"Halo.. " Jawab Gerald pelan.
"Ayang marah sama aku? " Kata Andin langsung to the point.
__ADS_1
"Enggak." Jawab Gerald berusaha mengelak.
"Kok telpon aku ga di jawab dari tadi? "
"Aku kan lagi nyetir, ga baik terima telpon sambil nyetir. Bahaya. " Jawabnya. "Ada apa ayang telpon? "
"Mau minta maaf. "
"Untuk apa? Ayang ga salah kok tiba-tiba minta maaf. " Kata Gerald pura-pura tidak faham dengan apa yang dikatakan Andin.
Andin terdiam sejenak.
"Aku mau minta maaf tadi aku ga mau di ajak ke Rumah Duafa. "
" Ga pa pa, aku ngerti kok. " Jawab Gerald seolah tak perduli.
"Yang... " Andin terdengar merajuk.
"Aku ngerti,, aku siapa. Aku bukan orang hebat seperti Yoga, aku tidak pernah berbuat hal hebat juga buat kamu. Selama ini aku cuma bisa nyakitin kamu aja. Aku ngerti jika kamu lebih perduli sama Yoga. "
"Loh kok yang di bahas itu lagi sih?"
Gerald tak menjawab.
"Kenapa Ayang bahas siapa yang hebat dan gak hebat. Apakah sepanjang hidup kita hanya akan membahas hal ini terus menerus. Aku capek!! " Kata Andin dengan nada yang seperti putus asa.
Gerald sebenarnya tidak tega memotong pembicaraan Andin, tapi dia tidak ingin berdebat di telpon. Lagipula pembicaraan mereka sama sekali tidak penting. Apa yang sedang mereka bicarakan hanya akan mengarah kepada kesalahpahaman.
Tak berselang lama akhirnya Gerald tiba juga di depan rumah. Fadil datang untuk membukakan pintu gerbang.
Setelah mobil terparkir di garasi, Gerald turun dari mobil tanpa bicara sepatah katapun kepada Fadil. Gerald langsung masuk ke dalam kamar lalu merebahkan tubuhnya di kasur. Sesaat kemudian Ica datang menghampirinya.
"Hai.. sudah pulang?" Tanya Ica sambil membungkuk mencium Gerald yang sedang terbaring. Lalu duduk di samping Gerald.
Gerald hanya terlihat melempar seulas senyum kepada Ica.
"Kok pulang pulang cemberut, kenapa sih?"
"Ga pa pa, cuma lagi capek aja. " Jawab Gerald.
"Kerjaan ku sudah selesai, aku mau pulang. "
"Kok tumben buru buru pulang? "
"Ga pa pa, cuma lagi tidak mau mengganggu kamu aja. Takutnya kamu ke ganggu kalau aku ada di samping kamu terus. "
__ADS_1
Gerald hanya melirik sebentar kepada Ica lalu fokus lagi memegang ponselnya.
"Kok gitu ngomongnya? " Kata Gerald lalu menyimpan ponselnya di atas kasur.
"Sampai kapan kamu akan bertahan seperti ini? "
Gerald sedikit menaikan dahi.
"Maksudnya? "
"Ga capek pura-pura seperti ini terus depan aku? " Ica malah semakin memberi teka teki.
"Ca,, bicara yang jelas! " Gerald mulai terlihat agak kesal melihat Ica yang memutar mutar perkataannya.
Dengan perlahan Ica meraih tangan Gerald lalu mengelus elusnya dengan halus. "Ge,, aku tau apa yang sedang kamu pikirkan saat ini. Aku tau kamu sedang bingung bagaimana cara mengatakan padaku kalau kamu sebenarnya sudah berbaikan dengan Andin. "
Gerald hanya terdiam mendengar itu.
"Kamu mau menunggu momen apa saat mengatakannya padaku. Saat aku sedang bahagia, atau saat sedang sedih? "
Lagi lagi Gerald terdiam.
Dia tidak bisa menjawab pertanyaan yang diajukan oleh Ica dari beberapa hari yang lalu.
"Kalau kamu sudah baikan dengan Andin, aku ikhlas mengalah. Aku tidak akan mengganggu kamu lagi. "
"Ca... "
Ica tersenyum. "Enggak pa pa. Aku baik baik aja. Tidak perlu dipaksakan jika memang tidak bisa. Apa baiknya menghindar seperti ini? "
"Aku cuma tidak ingin menyakiti hati kamu, Ca. "
"Tapi pada akhirnya kamu tetap menyakiti aku kan? "
"Iya sih, tapi setidaknya aku sudah mencoba kan. "
Lagi lagi Ica tersenyum. Sebuah kecupan mesra Ica darat kan di bibir Gerald dengan mesra. Kemudian memeluk Gerald dengan erat.
"Perlakukan aku seperti kekasihmu satu hari saja. Seolah kamu mencintai ku seperti mencintai Andin." Kata Ica dengan tatapan yang penuh makna kepada Gerald.
Gerald kembali mencium mesra bibir Ica yang baru saja berhenti bicara. Ia tak tega melihat Ica yang begitu mengemis cinta pada dirinya. Padahal seharusnya Ica tidak perlu melakukan hal itu.
"Terimakasih sudah menjadi wanita paling baik di hidupku. Terimakasih kamu selalu ada bersama ku selama ini. Maafkan aku jika selama ini aku selalu menyakiti hatimu. Maafkan aku juga yang begitu bodoh mengabaikan cinta mu selama ini. " Kata Gerald dengan masih memeluk Ica dengan erat.
Ica kembali tersenyum meski hatinya berkecamuk.
__ADS_1
***