Kisah Cinta Andin Dan Gege

Kisah Cinta Andin Dan Gege
Hati Ica Yang Tersakiti #52


__ADS_3

Melihat Gerald yang tidak keluar keluar kamar sejak pulang dari Rumah Duafa, Ica menghampiri Gerald ke kamarnya.Melihat sedang apakah Gerald di kamarnya. Ica takut kalau Gerald sedang tidak enak badan, makanya dia tidak keluar dari kamar.


"Kok nggak keluar kamar? " Tanya Ica sambil menghampiri Gerald yang terlihat sedang rebahan di tempat tidurnya sambil bermain handphone.


Gerald menoleh ke arah Ica yang menghampirinya lalu duduk di sebelah Gerald. Sebuah senyuman kecil menyambut sebuah ciuman Ica yang mendarat di bibir Gerald.


"Sakit? " Tanya Ica lagi.Sambil berusaha memegang kening Gerald.


"Enggak, kok. Aku enggak apa apa. " Jawab Gerald.


"Gimana pertemuan dengan Adinda? "


Gerald terlihat terbangun dari tidurnya.Lalu duduk bersebelahan dengan Ica. "Ya, biasa aja. Kita cuma bermain dan ngobrol saja seharian. " Jawab Gerald biasa saja sambil meletakkan ponselnya di atas meja samping tempat tidurnya.


"Kok pulang cemberut? "


"Emang aku kelihatan cemberut ya? " Gerald malah balik bertanya kepada Ica.


"Enggak juga sih. Cuma aneh aja, pulang pulang langsung masuk kamar dan enggak keluar keluar lagi sejak tadi. Aku mau ajak kamu makan! pasti kamu belum makan dari tadi. " Jawab Ica sambil tersenyum.


Gerald tersenyum kembali. "Tau aja! " Katanya sambil mencubit manja pipi Ica.


Ica mengajak Gerald untuk bangun dan keluar dari kamar lalu mengajak Gerald untuk makan.Ica menggandeng tangan Gerald sampai di meja makan. Lalu terlihat Ica menyiapkan makanan untuk Gerald.


Di meja makan, Gerald tak banyak bicara. Dia hanya terlihat fokus dengan makanannya saja. Matanya terlihat kosong, dan terlihat seperti sedang memikirkan sesuatu.


"Kenapa? " Tanya Ica penasaran ketika melihat Gerald seperti sedang berpikir.


Gerald menengadahkan wajahnya kepada Ica. Ia tak terlalu mendengar apa yang baru saja Ica katakan kepadanya.


"Sedang memikirkan apa? " Ica mengulang pertanyaannya.

__ADS_1


"Enggak." Jawab Gerald agak malu. Ica tau kalau dia sedang melamun kan sesuatu.


"Memikirkan Andin? " Tanyanya lagi.Mencoba menebak apa yang ada di pikirannya.


Mendengar pertanyaan itu Gerald terdiam. Dia tak bisa menyangkal perasaannya. Dia memang sedang memikirkan Andin sejak tadi.


"Kalau ya, bilang saja iya. Kamu sudah sering seperti ini. Kenapa sekarang jadi canggung? " Jawab Ica, agak sedikit menyindir dengan halus dengan kata katanya.


Gerald terdiam.


Dia tak bisa menjawab pertanyaan Ica untuknya. Gerald juga tidak tau, kenapa akhir akhir ini, dia begitu tak ingin membuat Ica kecewa kepada dirinya. Padahal dia biasanya terbuka tentang perasaannya kepada Ica. Gerald tak pernah menutupi perasaan hatinya jika sedang rindu kepada Andin. Gerald selalu mengatakan jujur apa yang sedang di rasakan nya.Tapi kali ini, dia begitu tidak tega mengatakan yang sejujurnya kepada Ica.


"Enggak, aku g pa pa kok. Cuma lagi capek aja seharian bermain bersama Adinda. " Jawab Gerald mencoba berkelit.


"Harusnya senang dong, kalau sudah bertemu dengan Adinda. Kenapa jadi terlihat banyak pikiran begitu? "


Gerald tak menjawab. Dia bingung harus bilang apa kepada Ica.


Gerald menatap Ica dengan sorot mata yang tak percaya. Tapi Gerald tak salah dengar, Ica memang menyuruh dia menemui Andin.


"Are you sure? " Tanya Gerald, memastikan bahwa Ica tidak salah bicara.


"Ya." Jawab Ica pendek.


"Aku tak mau lagi, menyakiti hati kamu, Ca! "


"Aku sudah biasa sakit hati. " Jawab Ica, seperti sedang menyindir kembali Gerald dengan halus.


"Ca... "


"Enggak, bercanda! " Kata Ica tertawa kecil. "Beneran kok, sayang! Temuin aja Andin, kalau emang kamu mau! " Jawabnya, mencoba meyakinkan Gerald kalau dia baik baik saja.

__ADS_1


Mendengar ica mengatakan itu, hati Gerald sebenarnya tidak tega. Tapi mau bagaimana lagi, bagaimanapun Ica pasti tau perasaannya. Gerald sudah tidak bisa menutupi apapun dari Ica.Ica lebih faham tentang dirinya daripada dirinya sendiri.


Gerald terlihat memegang tangan Ica, lalu menciumnya. Menatap wajah Ica yang terlihat sedikit berubah setelah mengetahui Gerald sedang memikirkan Andin.


"Aku minta maaf, jika selama ini aku selalu menyakiti hatimu. " Kata Gerald dengan nada tertahan.


Gerald merasa begitu berdosa kepada Ica yang tak pernah merasa bahagia selama bersamanya. Tapi Gerald tak bisa membohongi hatinya yang memang tidak pernah bisa mencintai dan menyayangi Ica sepenuhnya. Hatinya selalu saja memikirkan Andin meski Ica yang selalu bersama dengannya.


"Sudahlah, tidak perlu minta maaf. Lagi pula apa yang bisa aku lakukan kecuali tetap mensupport orang yang aku cintai agar dia selalu bahagia. Dan kebahagiaan mu bukan bersama ku. Tapi bersama Andin! Aku sudah mencoba semampu yang aku bisa untuk membuat mu jatuh cinta kepada ku. Tapi aku tetap gagal. Aku tetap tak bisa membuat mu bahagia bersama ku meski aku sudah berusaha dengan sangat keras. Tapi ya sudahlah! Cinta memang tidak bisa di paksakan." Jawab Ica seperti yang sudah pasrah dengan apa yang akan terjadi pada hubungan mereka.


Gerald menatap wajah Ica dengan iba.


"Aku tidak suka melihat mu begitu banyak merenung dan berpikir. Memikirkan bagaimana caranya agar tidak menyakiti aku. " Kata Ica kemudian.


"Ca.. "


"Apapun yang akan kau katakan, jika tentang perasaan mu pada Andin. Semua itu akan tetap menyakiti hatiku. Tapi aku ikhlas! Karena aku juga tidak bisa memaksamu untuk tetap bersama ku. "


Gerald tak bisa lagi mendengar perkataan Ica yang pastinya sangat menyakitkan bagi dia. Hati Gerald benar benar tersentuh dan baru kali ini Gerald merasa kalau dia begitu menyesal telah memperlakukan Ica dengan begitu buruk selama ini.


"Sudah, Ca! Jangan bicara lagi! " Kata Gerald sambil memeluk Ica dengan erat. Pelukan kasih sayang yang hampir tak pernah ia berikan kepada Ica selama ini. "Kita bicarakan lagi masalah ini, nanti. Aku sedang tak ingin membahas tentang apapun. " Tambah Gerald, lalu melepaskan pelukannya kemudian dia berlalu meninggalkan Ica yang masih duduk di meja makan.


Gerald tak ingin lagi mendengar apapun dari Ica. Hatinya begitu sakit mendengar semua yang di katakan Ica kepada dirinya. Hari ini, barulah Gerald mengerti bahwa selama ini dia telah dengan sengaja menyakiti hati Ica secara perlahan.


Gerald tak pernah tau, ada hati yang begitu tersakiti saat dia dengan begitu egois tetap tak memperdulikan perasaan Ica terhadap dirinya.


Sambil berjalan, Gerald terlihat menyeka sedikit air matanya yang sempat jatuh. Gerald kembali masuk kedalam kamarnya dan tak keluar lagi setelah itu.


Sedangkan Ica, masih duduk sendirian sambil memandangi makanan yang masih belum di bereskan di atas meja. Air matanya juga sempat menetes, tapi dengan cepat ia menyekanya kembali. Ia tak ingin terlalu memperlihatkan kesedihannya di hadapan Gerald. Ica tak ingin memperlihatkan kehancuran hatinya di hadapan Gerald.


**"

__ADS_1


__ADS_2