
Andin duduk dengan tertunduk. Bibirnya sudah tidak bisa berkata-kata. Rasanya tak ada kata kata yang bisa mengobati luka di hati Yoga yang begitu dalam.Apapun yang akan Andin katakan saat itu, tak akan pernah mampu mengobati luka yang bertahun-tahun menyayat hatinya.
Hancur hatinya mendengar kisah Yoga yang berusaha bangkit dari keterpurukan. Andin tidak tau saat Yoga mengalami masa masa yang begitu sulit yang telah dia ceritakan barusan. Andin tidak tau bahwa keputusannya untuk berpisah dari Yoga waktu itu telah membuat hancur hatinya.
Yoga tak terlihat hancur saat dulu mereka memutuskan untuk berpisah. Lagi pula kesepakatan itu di buat bersama bukan atas keinginan Andin sendiri. Untuk itu Andin sama sekali tidak mengetahui kalau Yoga akan begitu hancur saat mereka memutuskan untuk menjalin persahabatan saja.Yoga terlihat baik baik saja saat dia mengiyakan keinginannya untuk berpisah lalu kembali pulang ke Jogja untuk melanjutkan pendidikannya.
Siapa yang tau kalau di Jogja sana Yoga ternyata mengalami keterpurukan.
Dulu, Andin dan Yoga sepakat untuk berpisah karena mereka tau apa yang akan mereka jalani akan tetap menemukan jalan buntu. Mereka tidak akan pernah bisa bersama jika mereka tetap berbeda.
"Bolehkah jika aku tak mau mendengar kelanjutan ceritanya? " Kata Andin berharap kalau Yoga tidak akan melanjutkan ceritanya kembali.
Andin tak sanggup mendengar cerita Yoga yang begitu menyayat hati. Andin tau betul bagaimana rasanya berpisah dengan orang yang kita cintai.
Yoga tersenyum sambil memegang mesra tangan Andin.Pandangan matanya masih terpaku pada Andin yang masih duduk manis di sampingnya.
"Tapi sayangnya kau harus tetap mendengarkan ceritanya sampai akhir. " Jawabnya.
Sebatang rokok kembali Yoga nyalakan. Tak lupa ia kembali meneguk secangkir kopi yang sudah mulai terasa dingin.
"Aku tak berhenti mencintaimu sejak SMA, kuliah, Kerja, hingga hari ini. Yang ada di hatiku cuma Andin. 3 tahun kita pacaran, 10 tahun kita menjalin persahabatan. Perasaan ku tidak pernah berubah. Sejak hari itu hingga saat ini aku tetap mencintai mu.
Dalam kurun waktu 10 tahun kita menjalin persahabatan, 4 tahun ku habiskan untuk melihat senyum dan bahagia mu untuk orang lain.Empat tahun yang ku habiskan untuk meratapi ketidakberdayaan ku.
Aku tak pernah berencana untuk mengatakan kembali isi hatiku kepadamu jika aku benar-benar melihatmu bahagia bersama Gerald. Tapi sayangnya, pertengkaran mu dengan orang bodoh itu terus membuat aku memiliki banyak kesempatan untuk bersama denganmu. Hingga terkadang aku kehilangan kendali atas diri dan perasaan ku.
Kadang aku tidak bisa mengendalikan perasaan ku yang hanya menjadi seorang sahabat saja. Aku hanya manusia biasa. Kadang merasa cemburu, kadang aku merasa marah, kadang aku juga merasa lelah. Kadang aku ingin memilikimu sepenuhnya.Tapi kadang aku ingin melihat mu bahagia dengan orang lain. "
Andin menatap dengan sayu kepada Yoga. Andin juga kembali mengusap sisa air mata Yoga yang masih berlinang di matanya.
"Bunuh saja aku, agar aku tidak lagi mengganggu kehidupan mu! " Kata Yoga dengan sedikit terisak.
Andin memeluk Yoga dengan erat. Tak mampu lagi ia mendengar semua yang Yoga katakan. Semua kalimat yang dia ucapkan mampu menyayat hatinya yang begitu keras. Kemanakah selama ini Andin? Hingga ia tak menyadari kalau Yoga begitu tersakiti.
__ADS_1
Sebuah pelukan yang tulus dia berikan untuk membesarkan hati Yoga yang terlihat hancur. Andin tidak tau apa yang harus dia lakukan untuk Yoga.
"Aku terus berandai andai. Andai yang kau cintai adalah aku. Andai kita tidak berbeda. Andai Gerald tak pernah datang dalam kehidupan mu. Tentu tidak seperti ini jalan kehidupan aku. " Katanya, dengan suara yang mulai terdengar parau. "Andai Gerald tidak memutuskan mu waktu itu, aku tentu tidak akan pernah berharap kalau kau akan menjadi milikku kembali. Tapi sayangnya pria bodoh itu selalu saja membuat kesempatan untuk kita sering berduaan hingga aku terus menerus berpikir kalau aku harus bisa merebut kembali hatimu dari dia. "
Andin semakin memeluk Yoga dengan erat. Andin tidak tau kalau Yoga benar-benar terluka atas keputusan yang pernah dia ambil dahulu.
"Sudah, jangan bicara lagi! Aku mohon! " Pinta Andin dengan memohon kepada Yoga.
"Aku akan berhenti jika kau berjanji satu hal padaku! " Ucapnya.
"Apa? "
"Jangan pernah jauhi aku karena alasan apapun! Jangan berusaha menghindari ku! Apa kau bisa? "
Andin mengangguk tanpa berpikir lalu kembali memeluk Yoga. "Aku tidak akan pernah menjauhi ataupun menghindari mu, aku janji. "
Keduanya saling berpelukan.
"Jangan lagi bicarakan hal seperti ini! " Kata Andin sambil melepaskan pelukan Yoga.
Yoga terlihat mengangguk kecil sambil mengusap air matanya yang berkali-kali jatuh.
"Hatiku sangat sakit ketika tau kalau kau berusaha menghindari ku. Rasanya aku tak mempunyai semangat untuk hidup saat kau bersikap seperti ini." Yoga masih tampak menambahkan kata katanya.
Andin melemparkan sebuah senyuman kecil pada Yoga. "Aku minta maaf." Ucapnya.
Andin menyodorkan sepiring nasi goreng yang telah di buatnya untuk Yoga tadi. Andin menyuruh Yoga untuk mencicipinya.
"Makanlah,pasti dari semalam kamu belum makan! "
Yoga mengambil sepiring nasi yang di berikan Andin kepadanya. Lalu mencicipinya.
Andin tetap melihat Yoga meneteskan air mata meski ia sedang makan. Mungkin hatinya begitu penuh dengan luka hingga ia begitu tidak bisa menahan air matanya.
__ADS_1
13 tahun ia pendam rasa sakit itu sendirian. Ia tak pernah mengatakannya pada orang lain.Dan hari ini dia berhasil mengungkapkan semua isi hatinya.
"Aku janji tidak akan pernah lagi menghindari mu karena alasan apapun. " Kata Andin sambil menyenderkan kepalanya ke bahu Yoga yang sedang mencicipi nasi goreng buatannya. "Gimana nasi gorengnya? " Tanyanya kemudian, mengalihkan pembicaraan.
"Enak.Seperti biasanya. " Jawab Yoga dengan seulas senyum di wajahnya.
"Aku mau pergi ke Resto apakah kau mau ikut bersama ku atau kau akan istirahat di sini? " Tanya Andin sambil melihat kearah Yoga.
"Aku istirahat di rumah saja. Aku belum puas tidur. " Jawab Yoga sambil meletakan piring nasi goreng yang sudah kosong. "Aku akan tidur dan pulang ke rumah nanti malam, setelah kamu pulang kerja. " Jawabnya.
"Sudah berapa hari kau tidak pulang ke rumah? " Tanya Andin.
Yoga tersipu. "Tiga hari. " Jawabnya agak ragu.
"Tapi kau kasih kabar ke Marisa? "
"Iyalah.Kalau tidak kasih kabar nanti dia khawatir dong. "
"Baguslah kalau sudah tau. " Kata Andin sembari mempersiapkan diri untuk pergi ke Resto.
Setelah begitu panjang lebar mengutarakan isi hatinya, Yoga terlihat sedikit tenang meski masih terlihat beberapa kali dia menyeka kembali air matanya.
Setelah terlihat rapi, Andin kembali menghampiri Yoga yang masih duduk di sofa untuk berpamitan.
"Aku pergi ke Resto dulu sebentar, cuma mau ngecek kerjaan aja. " Kata Andin sambil memegangi tangan Yoga.
Yoga terlihat mengangguk.
"Bye.. " Andin terlihat melambaikan tangan sambil melangkah keluar rumah lalu menutup pintu.
Setelah melihat Andin pergi meninggalkannya, Yoga kembali merebahkan tubuhnya di kasur. Pikirannya terbang ke sana kemari memikirkan hal yang seharusnya tidak ia pikirkan.
***
__ADS_1