Kisah Cinta Andin Dan Gege

Kisah Cinta Andin Dan Gege
Hati Gerald Cemburu #63


__ADS_3

Setelah beberapa lama mereka terdiam akhirnya Gerald berpamitan pulang. Terlihat sedikit raut kecewa di wajah Gerald saat Andin menolak pergi bersamanya ke Rumah Duafa.


Gerald tak bisa memaksa karena apa yang di katakan Andin kepadanya memang masuk akal. Status dirinya masih menjadi pacar Ica sekarang. Gerald harus menyelesaikan dulu urusannya dengan Ica, baru ia bisa memperkenalkan dirinya sebagai pacar Andin kepada semua orang. Gerald mengerti perasaan Andin, makanya ia tidak banyak membantah perkataan Andin tadi.


Di dalam mobil Gerald lama terdiam. Ia tak terburu-buru keluar dari parkiran sampai beberapa lama. Gerald bingung akan pergi kemana. Mau pulang ke rumah, Gerald malas bertemu dengan Ica. Tapi jika tidak pulang, ia bingung harus nongkrong dimana.


Semua teman temannya sedang sibuk bekerja. Tidak mungkin juga menggangu salah satu dari mereka.


Gerald terlihat menghela nafas panjang sebelum akhirnya ia tancap gas kemudian berlalu dari sana.


Gerald berniat tetap pergi ke Rumah Duafa meski tidak bersama Andin. Gerald rindu bertemu dengan Adinda, sudah beberapa minggu ia tak pernah datang lagi berkunjung dan bertemu dengan Dinda. Anak manis yang imut dan lucu yang selalu di rindukannya.


Tak sampai berapa lama akhirnya Gerald tiba di Rumah Duafa. Saat mobil berhenti di halaman, Adinda sudah menunggu kedatangannya sambil bermain bersama teman temannya yang lain.


Adinda sudah tau Gerald akan datang hari itu dari bu Aisyah, itu kenapa Adinda sengaja menunggu kedatangan Gerald di halaman.


"Hai, om. " Sapa Adinda saat melihat Gerald turun dari dalam mobilnya.


"Hai sayang." Jawab Gerald Gerald sambil mengusap rambut Adinda yang berdiri di hadapannya. "Gimana kabarnya anak cantiknya om hari ini?"


"Baik, om. " Jawab Adinda dengan senyumnya yang manis.


"Sedang bermain apa nih sama Nabil? "


"Main petak umpet om. " Jawab Nabil mendahului Adinda untuk menjawab.


"Oh,, boleh nggak om ikutan? "


"Boleh dong! " Jawab Adinda dan Nabil serempak.


Adinda berjalan menarik Gerald untuk bermain bersama mereka.


Beberapa saat kemudian akhirnya Gerald terlihat benar-benar mengikuti Adinda dan Nabil yang bermain petak umpet. Gerald terlihat beberapa kali mengejar Adinda dan Nabil hingga beberapa menit kemudian Gerald terlihat kelelahan lalu duduk di teras depan rumah sambil terengah-engah.

__ADS_1


"Dinda, ambilkan minuman dingin untuk om Gerald!!" Perintah bu Aisyah kepada Adinda yang kebetulan melihat Gerald sedang kecapean.


"Waduh jadi ngerepotin bu Aisyah nih! " Kata Gerald sambil tersenyum simpul kepada bu Aisyah.


"Ah bisa aja, pak Gerald. Ngerepotin apa sih pak?"


Beberapa saat kemudian Adinda datang membawa sebotol minuman dingin lalu di diberikannya kepada Gerald.


"Terimakasih, Dinda. " Kata Gerald sambil tersenyum kepada Adinda.


"Sama sama om ganteng. " Balas Adinda kepada Gerald.


"Harus ya pakai ganteng? " Kata Gerald sambil meneguk air yang di berikan oleh Adinda tadi.


"Harus dong om, kan om emang ganteng. " Jawab Adinda lalu tertawa kecil. Begitupun bu Aisyah dan Nabil yang juga ikut tertawa.


"Tapi perasaan, om tidak ganteng deh Din, om jadi malu di puji ganteng terus sama Adinda."


"Om ganteng kok, ibu Andin aja sering lihatin om ganteng secara diam diam. Pasti ibu Andin terpesona dengan kegantengan om ganteng." Jawab Adinda dengan polos.


"Ayah Yoga mah sudah istri lah om." Jawab Adinda dengan cepat.


"Oh ya? "


" Iya.. " Jawab Adinda meyakinkan Gerald yang sedang pura-pura tidak tau kalau Yoga sudah menikah. "Emang om ganteng tidak tau kalau ayah Yoga sudah menikah?"


Gerald tersenyum lalu menggelengkan kepala.


"Yang om tau hanya ibu Andin dan ayah Yoga mu itu sangat dekat. Om tidak bisa membedakan kalau mereka itu ternyata bukan pasangan suami istri."


"Saya juga awalnya berpikir seperti itu pak." Bu Aisyah ikut menyela pembicaraan antara Gerald dengan Adinda. "Saya kira mereka itu sepasang kekasih dulu sewaktu saya baru bekerja disini. Tapi setelah lama bekerja disini, barulah saya tau kalau mereka itu hanya bersahabat. "


Gerald terlihat mengangguk anggukan kepala sambil melihat kearah bu Aisyah.

__ADS_1


"Pak Yoga itu seorang sahabat yang sangat hebat, dia sangat perhatian kepada ibu Andin. Mereka membangun Yayasan Rumah Duafa ini dari nol. Mereka sendiri yang bekerja dan membiayai anak anak yang ada disini, sampai akhirnya ada banyak donatur yang menyumbang seperti sekarang.Mereka berdua berdua banting tulang membangun dan menyekolahkan anak anak sampai sekarang."


"Hebat ya bu. " Puji Gerald sambil tersenyum.


"Bukan hebat lagi pak, tapi sangat hebat. Dia masih sempat ngurusin Yayasan padahal beliau itu sangat sibuk." Tambah bu Aisyah.


Gerald sedikit menelan ludah ketika mendengar begitu banyaknya pujian yang di lontarkan bu Aisyah untuk Yoga. Ternyata Yoga itu begitu baik di hadapan orang orang terdekat mereka.


"Ayah itu sangat baik om." Tambah Adinda.


Gerald hanya bisa tersenyum mendengar begitu banyaknya pujian untuk Yoga.


"Boleh ikut ke toilet sebentar, bu Aisyah? " Kata Gerald mengalihkan pembicaraan. Gerald tidak suka akhirnya pembicaraan mereka hanya terfokus kepada Yoga yang ternyata begitu hebat dimata orang orang terdekatnya.


"Oh, boleh. Silahkan masuk! Lurus belok ke kanan pak! " Kata bu Aisyah mempersilahkan Gerald untuk masuk kedalam.


Gerald pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Dia berencana untuk berpamitan pulang kepada Adinda sebelum sore. Tapi bajunya sedikit berantakan bekas dia bermain petak umpet tadi bersama Adinda.


Setelah beberapa saat di kamar mandi akhirnya Gerald keluar setelah di rasa rapih dan bersih. Tapi saat akan kembali ke teras, dia berhenti di ruang tengah. Melihat ke arah luar, yang dengan jelas melihat Andin tengah membuka kaca mobil dan turun dari mobil Yoga.


Hati Gerald terasa bergetar seketika. Ada rasa panas yang tiba-tiba membakar hatinya saat melihat Yoga akhirnya berjalan bergandengan dengan Andin menuju ke teras depan lalu di sambut dengan senyuman hangat dari Adinda yang menyapa mereka berdua.


Tatapan Yoga dan genggaman tangan Yoga kepada Andin tampak begitu mesra. Sebuah senyuman penuh makna di lemparkan Yoga kepada Andin.


Gerald melihat dengan jelas kalau Yoga memperlakukan Andin bukan sebagai sahabat.


"Aku ambilkan minuman dingin sebentar!" Terdengar Andin bicara lalu masuk ke dalam rumah.


Andin terkejut ketika dia tiba-tiba melihat Gerald sedang berdiri di ruang tamu sambil melihat kearah dirinya dengan pandangan yang begitu kecewa.


"Selamat sore Bu, senang bertemu dengan ibu Andin." Sapa Gerald kemudian berlalu dari hadapan Andin.


Gerald dengan sengaja hanya menyapa Andin, kemudian berlalu untuk menghindari percakapan antara mereka.

__ADS_1


Melihat Gerald bersikap seperti itu, Andin sedikit tidak enak hati.Andin yakin Gerald melihat dirinya turun dari mobil dan berjalan bergandengan dengan mesra dengan Yoga.


***


__ADS_2