
Pagi pagi sekali Gerald sudah terbangun dari tidurnya.Dia terus mengingat kejadian kemarin saat Andin meninggalkannya. Dia terus mengingat perkataan Andin padanya. Dari semalam dia selalu teringat saat Andin menangis di hadapannya.Gerald jadi merasa bersalah pada Andin. Dia ingin cepat cepat pagi dan menunggu kedatangan Andin dan dia ingin segera meminta maaf padanya.
Gerald melirik ke arah jam beker yang terpajang di meja kecil di samping tempat tidurnya. Waktu baru menunjukan jam 06.00 pagi. Masih dua jam lagi menunggu Andin untuk datang ke kantor untuk bekerja.
Sekilas dengan ujung matanya dia melihat kunci motor Andin di samping jam beker yang terpajang di meja. Gerald kemudian meraihnya, memastikan bahwa itu memang kunci motor Vespa yang selalu di pakai Andin.
"Bi sumi!" Panggil Gerald berteriak dari dalam kamarnya.
Bi sumi datang sambil berlari." Iya kenapa,den?" Tanyanya dengan terengah-engah.
"Andin sudah datang? Kok kunci motor Vespa-nya ada disini?" Kata Gerald sembari menunjukan kunci motor Vespa Andin kepada bisa Sumi.
"Iya,semalam neng Andin mengantarkan motornya kemari." Jawab bi Sumi.
Gerald tampak termenung. "Semalam kapan? Kok aku tidak tau, bi?"
"Semalam waktu Aden pergi ke kosannya den Fadil.Neng Andin datang mengantarkan motor vespanya kesini. Katanya mau ketemu Aden Gege juga. Tapi bibi bilang den Gege baru saja pergi ke rumah den Fadil. "
"Mengantarkan motor? Maksudnya ?" Gerald tampak bingung.
"Bibi kurang tau tuh,den! Neng Andin mengembalikan kunci motor sama ini. " Kata bi Sumi sambil membuka laci lemari kecil di dekat di kamar Gerald. Kemudian mengambil sesuatu dari dalamnya kemudian memberikannya pada Gerald.
Satu kotak berukuran kecil yang kemudian di buka nya dengan rasa penasaran. Isi kotaknya adalah beberapa perhiasan berlian, uang dan juga handphone yang selalu di pakai oleh Andin.
"Maksudnya apa ini,bi?"
Gerald tampak bingung dan takut.Perhiasan itu adalah perhiasan yang pernah di belikan nya untuk Andin.Dan beberapa juga perhiasan yang di beli sendiri oleh Andin dengan menggunakan uangnya.
"Kurang tau,den! Semalam neng Andin cuma berpesan untuk memberikan kotak ini dan kunci motor nya sama Aden."
Gerald tampak begitu syok melihat Andin mengembalikan semua barang pemberiannya. Kartu ATM dan kartu kredit yang di berikan Gerald pun juga ada didalam kotak tersebut.
Selembar kertas terselip di dalamnya.
Dengan rasa penasaran dan dengan tangan yang bergetar, Gerald mencoba membaca tulisan di dalam kertas itu.
*Ayang, ku kembalikan semua perhiasan yang Ayang pernah kasih ke aku.Juga perhiasan yang ku beli pakai duit Ayang. Jam tangan serta hape yang Ayang belikan juga aku kembalikan.Yang tidak aku kembalikan hanya baju dan sepatu yang pernah Ayang belikan untuk aku. Tapi aku tetap ganti duitnya pakai duit aku.
__ADS_1
Aku tidak bisa mengembalikan semua uangnya, di tabungan ku hanya tersisa uang cash segitu.Sekurangnya aku akan kumpulkan dulu uangnya. Nanti kalau sudah cukup, aku akan datang untuk membayar semua kekurangannya.
Di dalam kotak ada sebuah buku kecil, didalamnya ku tulis semua pengeluaran aku selama bersama Ayang selama empat tahun ini. Ku tulis rinci semua pengeluaran ku selama bersama Ayang.Ku tulis juga dari mulai hari, jam dan dimana kita makan dan belanja. Aku sudah tulis sedetail mungkin. Berapa banyak uang yang pernah Ayang berikan untuk aku,aku akan berusaha untuk membayarnya walau aku memang mungkin tidak akan bisa membayar semua nya.Tapi insyaallah pasti akan aku bayar.
Sekali lagi, maafkan aku yang tidak bisa mengerti perasaan Ayang. Maafkan aku jika selama ini aku memang egois. Maaf kalau akhirnya hubungan kita harus seperti ini.
Terima kasih untuk semua kebaikan Ayang selama empat tahun bersamaku. Terimakasih untuk semua kebaikan dan kasih sayang Ayang sama aku.
Yang selalu mencintaimu, Andin *
Sebuah emoji love menjadi akhir dari tulisan itu.
Gerald menangisi dan menciumi tulisan yang telah selesai di bacanya.Ia bahkan tidak menyangka Andin akan membuat keputusan yang jauh dari dugaannya.Bahkan Gerald tidak menyangka kalau Andin akan mengembalikan semua hal yang pernah dia berikan padanya.
Gerald akhirnya berteriak mengeluarkan semua penyesalannya.
"Ahh......"
Gerald kemudian tiba-tiba beranjak dari tempat tidurnya. Dia bergegas mengambil jaketnya yang tergantung di tempat gantungan baju, kemudian bergegas keluar untuk memanaskan mobilnya lalu kemudian melajukan mobilnya dengan cepat.
Melihat Gerald yang begitu kacau, bi Sumi hanya tampak menggeleng geleng kan kepalanya lalu kembali masuk ke dapur meneruskan kembali pekerjaannya yang terhenti karena Gerald memanggilnya tadi.
Gerald tampak semakin syok ketika melihat kontrakan Andin pun telah kosong pula.
"Maaf Pak.Kenapa kamarnya kosong ya? Andin kemana?" Tanya Gerald pada salah satu bapak bapak yang sedang merapikan kamar kontrakan bekas Andin.
"Ohh,neng Andin baru saja beberapa jam yang lalu pindah?" Kata seorang bapak bapak yang sedang berdiri di pintu, mengawasi beberapa orang pekerja yang sedang membersihkan ruangan.
"Pindah kemana ya,pak?" Gerald penasaran.
"Ohh, kurang tau tuh mas!" Jawab si bapaknya.
Karena dia memang tidak tau Andin pindah kemana.Andin juga tidak bilang akan pindah ke mana.
Gerald terkulai lemas, seluruh tenaganya seperti hilang dalam sekejap. Saat itu dia bahkan tidak bisa menghubungi Andin lewat telpon, karena telpon Andin telah dia kembalikan kepadanya lengkap beserta SIM cart- nya.
Gerald berusaha berjalan ke arah mobilnya dengan segala tenaganya yang masih tersisa. Gerald benar-benar kacau saat itu. Gerald benar-benar merasa begitu menyesal telah mengacuhkan Andin begitu lama.
__ADS_1
Di dalam mobil Gerald hanya bisa terisak. Berusaha menahan penyesalan yang begitu menyesak. Dia membayangkan betapa sakitnya Andin saat dia mengacuhkannya.
Karena diapun merasakan hal yang sama. Betapa sangat menyakitkan jika tiba-tiba orang yang kita sayangi pergi begitu saja.
Tapi penyesalan selalu datang terlambat. Penyesalan selalu datang di akhir. Segalanya selalu terasa berharga setelah semuanya pergi.Gerald menyesali semua perbuatannya kepada Andin setelah Andin pergi darinya tanpa berpamitan.
Gerald bingung apa yang harus ia lakukan saat itu. Ia bahkan tidak tau harus mencari Andin kemana. Telponnya bahkan ada padanya.Andin sama sekali tidak meninggalkan sedikitpun jejak untuk untuk Gerald.
Gerald hanya bisa menyesali segalanya. Dan berharap esok atau lusa Andin akan kembali kepadanya. Mungkin Andin hanya sedang mengujinya saat itu. Bukan sedang bersungguh sungguh pergi meninggalkan nya.Mungkin Andin hanya sedang marah saja saat itu. Begitu yang Gerald yakini.
***
Beberapa hari kemudian.
Setelah kepergian Andin beberapa hari yang lalu, Gerald tampak menjadi pendiam dan lebih banyak menyendiri. Tak banyak kata yang keluar darinya di setiap hari yang berganti. Dia menjadi tidak terlalu fokus dengan pekerjaannya dan dia menjadi lebih banyak duduk merenung sendirian.
Setiap hari Gerald mempunyai kebiasaan baru yakni menunggu kedatangan Andin di setiap pagi di depan teras. Gerald berharap entah esok atau lusa Andin akan datang menemuinya kembali.Gerald berharap Andin akan tiba-tiba datang untuk bekerja kembali kepadanya.
Gerald tak habis pikir mengapa waktu itu ia tega mengacuhkan Andin hingga berminggu-minggu lamanya. Juga tidak mengindahkan permintaan maafnya yang berulang ulang kali Andin ucapkan.Padahal Gerald melihat sendiri kalau Andin memang menyadari semua kesalahannya. Tapi dengan angkuhnya, Gerald membiarkan Andin yang berulang ulang kali meminta maaf kepadanya.
Gerald memang sangat marah saat itu. Dia begitu kecewa dengan sikap Andin yang lebih memilih tetap bersama Yoga daripada ikut pulang bersamanya.
Tapi membiarkan dan mengacuhkan Andin begitu lama juga tidak menyelesaikan masalah. Malah ternyata menimbulkan masalah yang baru.
Gerald sudah berulang ulang kali berusaha menanyakan keberadaan Andin pada ibundanya yang berada di Dago ( Dago adalah nama tempat ), tapi Andin juga tidak berada disana.Begitu jawaban yang ia dapatkan dari keluarga Andin di sana. Mereka tidak mengetahui dimana Andin sekarang.
Andin adalah anak kedua dari dua bersaudara. Kakak kandungnya Andin bernama Amel juga tinggal bersama ibundanya di Dago. Sedangkan Ayah Andin adalah orang Medan dan sudah lama sekali ibu dan ayah Andin ini berpisah.
Ayahnya Andin sudah lama pulang ke Medan. Dan Gerald juga belum pernah datang ke tempat ayahnya Andin di Medan sana. Bahkan di kenalkan lewat video call pun hanya pernah satu kali. Gerald belum terlalu akrab dengan ayahnya Andin. Tapi dengan ibundanya, Gerald sudah saling kenal bahkan Gerald terbilang cukup akrab dengan ibu Ami.
Di Dago ibu Ami tinggal bersama Amel dan suaminya. Sedangkan Andin sudah lama ikut bersama Gerald. Selain menjadi pacar Gerald, di kantor Andin juga bekerja sebagai editor video. Karena Andin punya keahlian di bidang foto dan editor.
Ibu Ami menyatakan dengan keyakinan kalau Andin memang tidak pulang ke rumahnya.Dan meyakinkan Gerald kalau dia akan menghubungi Gerald kalau nanti ibu Ami sudah mengetahui dimana keberadaan Andin.Ibu Ami berjanji untuk secepatnya mengabari Gerald kalau dia mengetahui sesuatu tentang Andin.
Andin memang anak yang mandiri.Dari semenjak dia sudah bisa menghasilkan uang sendiri, dia menjadi pengganti ayahnya menjadi tulang punggung keluarga dan berhasil menyekolahkan sekolah Amel hingga lulus sarjana. Sedangkan dia sendiri memilih mengundurkan diri dari fakultas demi fokus membiayai sekolah Amel dan membiayai hidup ibundanya.
Dan alhamdulillah sekarang Amel sudah bekerja dan berumah tangga dan menggantikan Andin yang memang tidak bisa selalu mendampingi ibundanya. Andin suka hidup mandiri dan dia juga terhitung jarang pulang ke kampungnya. Sebulan sekali dia mentransfer uang untuk ibu dan keluarganya.
__ADS_1
Andin itu anak yang suka merantau di kota orang, dia tidak betah tinggal berlama-lama di kampungnya sendiri. Bahkan sebelum bersama Gerald, Andin pernah bekerja di Jakarta dan Surabaya. Tapi akhirnya Andin memilih bekerja dengan Gerald hingga empat tahun lamanya.
***