Kisah Cinta Andin Dan Gege

Kisah Cinta Andin Dan Gege
Gerald Bertemu Seseorang #12


__ADS_3

Setelah kembali lagi ke rumah dengan membawa kembali semua barang barang berharga milik Andin akhirnya Gerald memutuskan untuk menyimpan sendiri semua barang milik Andin itu di rumahnya. Dia tata kembali semua perhiasan dan uang serta kunci motor Vespa matik milik Andin di lemari khusus yang sengaja di belinya sekembalinya dari Dago ( rumah ibunya Andin ) beberapa hari yang lalu.


Masih begitu banyak pertanyaan di benak Gerald sampai hari ini kenapa Andin mengembalikan semua barang pemberiannya. Apakah memang Andin begitu marah? Atau dia tidak ingin berhutang budi padanya? Atau apa? Gerald sama sekali tidak mengerti.Tapi terus berpikir pun sepertinya Gerald tak pernah menemukan jawabannya. Dia sama sekali tidak tau apa sebenarnya yang ada di pikiran Andin saat itu.


Setelah begitu banyak berpikir, akhirnya Gerald berpasrah pada keadaan.Berusaha berdamai dengan diri sendiri bahwa inilah yang sedang terjadi. Terus memaksakan diri memikirkan Andin yang tak tau dimana keberadaannya pun sepertinya percuma.Hidup harus terus berjalan meski tanpa Andin di sampingnya. Tapi yang pasti, Gerald tak akan lelah menunggu kedatangan Andin untuk kembali di kehidupannya.Menunggu keajaiban datang, Karena hanya keajaiban yang bisa mengembalikan Andin kembali ke pelukannya.


Gerald yakin dia pasti akan menemukan keberadaan Andin suatu hari nanti. Entah besok, atau lusa, atau satu minggu lagi, atau satu bulan lagi, atau bahkan satu tahun lagi. Yang pasti, Gerald yakin dia pasti akan menemukannya.


Setelah membereskan semuanya di lemari. Gerald bersiap siap akan pergi ke suatu tempat. Hari itu dia ingin pergi menenangkan diri sambil menikmati secangkir kopi. Beberapa hari yang lalu Fadil mengajaknya pergi ke kafe kopi yang baru saja launching di jalan Braga. Tapi saat itu Gerald tidak pergi, karena ada urusan. Dan hari ini Gerald akan datang ke tempat yang telah Fadil rekomendasikan itu sendirian.Penasaran dengan tempatnya, karena banyak sekali temannya yang pernah berkunjung ke sana dan mereka bilang tempatnya sangat nyaman.


Bagus untuk sedikit merelaksasi pikirannya yang sedang gundah gulana dilanda kerinduan.Sekalian juga ingin duduk duduk sambil minum secangkir kopi menikmati udara malam ini yang terasa begitu dingin.


Mobil melaju dengan kecepatan standar, tidak terlalu pelan, juga tidak terlalu kencang.Di iringi dengan sebuah lagu cinta yang di putarnya untuk menemani kesendiriannya di dalam mobil.


Hari sudah gelap saat Gerald pergi dari rumah dan tiba di sana sekitar jam setengah delapan malam.Di jalanan agak sedikit macet, karena malam ini kebetulan malam minggu.Malamnya para pemuda pemudi untuk pacaran. Banyak anak muda yang sengaja keluar untuk makan dan nongkrong pastinya.


Setibanya di sana, parkiran tampak penuh. Menandakan di kafe juga pasti dalam keadaan banyak pengunjung. Tapi Gerald tetap mau mencoba masuk, sekalian ingin menikmati suasana di kafe baru itu.


Setelah memarkirkan mobilnya, Gerald masuk kedalam kafe kemudian celingak celinguk mencari kursi yang kosong. Pandangan matanya mengarah ke seluruh ruangan di kafe tersebut, kemudian berhenti pada seorang pria dan wanita yang sedang duduk di pojokan ruangan. Terlihat sesekali mereka tersenyum lalu tertawa terbahak. Entah apa yang sedang mereka bicarakan hingga Gerald menebak mereka tampak begitu bahagia. Mata Gerald tampak memerah, seperti sedang menahan sesuatu.


"Selamat datang, silakan masuk mas!" Sapa salah seorang pelayan kafe yang tiba-tiba menghampirinya.


Gerald tersenyum pada pelayan itu. "Oh iya mas, saya di luar aja!" Jawabnya sambil menoleh ke arah luar kafe yang kebetulan ada meja kosong.


Tadi ketika dia baru saja datang, di luar juga sedang penuh. Tapi ketika dia menoleh ke belakang barusan, tiba-tiba saja satu meja sudah kosong.


Gerald berbalik ke arah luar kafe kemudian duduk di meja yang tadi dilihatnya kosong itu. Di ikuti oleh seorang pelayan pria di belakangnya.


Setelah Gerald duduk, sang pelayan tampak menunjukkan buku menu yang sudah tersedia di meja. Kemudian dia terlihat menunjukkan beberapa menu yang menjadi menu yang paling banyak di minati di kafe tersebut. Dan Gerald tampak menunjuk beberapa menu kepada pelayan itu.

__ADS_1


"Ok.Di tunggu ya mas!" Kata pelayan itu lalu pergi masuk lagi ke dalam kafe.


Gerald duduk dengan gelisah, sesekali dia berusaha melihat ke arah pria dan wanita yang tadi dilihatnya. Pandangannya berusaha menembus ke dalam.Tapi dia tidak bisa melihat pria dan wanita itu meskipun hanya kaca saja yang menjadi dinding pemisah antara luar dan dalam kafe.


Tak berapa lama kemudian, seorang pelayan pria mengantarkan pesanannya yang telah rapih di bungkus paper bag.


Iya, tadi Gerald memesan beberapa menu untuk di bawa pulang bukan untuk di nikmati di sana.Setelah melihat pria dan wanita tadi yang duduk di pojokan ruangan, Gerald mengurungkan niatnya untuk menikmati kopi pesanannya di sana. Perasaannya jadi gelisah setelah melihat kejadian itu. Gerald juga ingin cepat cepat pergi meninggalkan kafe tersebut.


"Terima kasih untuk pesanannya. Di tunggu kedatangannya kembali!" Kata sang pelayan sembari memberikan pesanan yang tadi di pesan Gerald padanya.


Gerald tampak mengambil sesuatu dari tas selempang nya. Secarik kertas dan pulpen yang ia keluarkan, lalu ia tampak menuliskan sesuatu di kertas itu. Lalu memberikannya pada sang pelayan bersama dengan beberapa lembar uang seratus ribuan.


"Bisa tolong bayarkan pesanan saya, mas?" Kata Gerald sambil memberikan uangnya. " Kembaliannya buat masnya aja!"


Sang pelayan menerimanya.Tentu dengan sebuah senyuman manis, karena tips yang Gerald berikan itu cukup lumayan jumlahnya.


"Tapi tolong mas, berikan kertas ini kepada seorang perempuan yang memakai baju warna pink di dalam!" Kata Gerald sambil menunjuk ke dalam kafe.


"Perempuan yang mana ya?" Karena di dalam tampak begitu ramai dengan pengunjung, sang pelayan berusaha mencari seorang wanita yang katanya memakai baju warna pink.


"Perempuan yang bersama seorang pria yang memakai baju biru." Tambah Gerald berusaha menjelaskan lagi. "Mereka duduk di pojok ruangan mas!"


Sang pelayan tampak tertegun sejenak.Seperti sedang berpikir sesuatu.


"Tolonglah, mas!" Gerald tampak memelas.


Karena melihat Gerald yang tampak begitu memelas akhirnya sang pelayan menerima secarik kertas yang di berikan kepadanya. Lalu meninggalkan Gerald dan masuk kedalam kafe mencari wanita yang memakai baju warna pink dan duduk di pojokan ruangan bersama seorang pria yang memakai baju biru katanya.


Setelah melihat apa yang dia cari, sang pelayan lalu melangkah ke arah meja di mana mereka duduk lalu memberikan secarik kertas itu lalu memberikannya kepada sang wanita.

__ADS_1


"Maaf mbak, ada seseorang yang menitipkan ini." Kata sang pelayan kepada seorang wanita yang memakai baju warna pink tersebut.


Wanita itu menoleh lalu mengambil apa yang di berikan si pelayan padanya.Lalu melihat isi tulisan yang ada di kertas itu, sebuah kalimat tertulis di situ.


*Aku melihatmu begitu bahagia hari ini *


Begitu isi tulisannya.


"Dari siapa ya, mas?" Tanya wanita itu pada si pelayan kafe.


Sang pelayan menggelengkan kepala. " Dari seorang pria yang duduk di luar,mbak!" Jawabnya.


Wanita itu menatap ke arah luar kafe dari kaca yang menjadi pemisah antara luar dan dalam ruangan.Tapi di luar tampak begitu banyak orang.


"Yang mana orangnya, mas? " Wanita itu tampak berdiri melihat ke sekitar luar kafe yang juga tampak begitu ramai malam itu.


Si pelayan menunjuk salah satu meja yang ternyata sudah kosong. Gerald sudah berlalu dari situ.


"Tadi orangnya duduk di situ, mbak!" Jawabnya.


"Oh, ya udah! Terima kasih ya mas!" Kata wanita itu seraya melemparkan senyuman manis pada sang pelayan.


Setelah pelayan kafe itu pergi si wanita tampak termenung beberapa saat sambil menatapi secarik kertas yang di berikan sang pelayan kafe tadi kepadanya.


Seorang pria di depannya terdengar bertanya sesuatu.


"Dari siapa?"


Sang wanita tampak mengangkat bahu dan menggeleng, lalu menjawab. "Aku tidak tau."

__ADS_1


***


__ADS_2