Kisah Cinta Andin Dan Gege

Kisah Cinta Andin Dan Gege
Andin Marah Kepada Yoga #37


__ADS_3

"Sudah malam, mbak." Arman mengingatkan Andin karena waktu sudah menunjukan hampir jam 11 malam.


Tapi Andin masih belum beranjak dari duduknya. Kafe sudah tutup dari jam 9 malam tadi. Tapi Andin masih belum mau pulang. Dia masih duduk Terpekur sendirian di ruang kerjanya.


"Bentar lagi. Duluan aja kalau kamu mau pulang!" kata Andin tanpa melihat kepada Arman yang berdiri di hadapannya.


"Tungguin mbak Andin aja, sekalian aku antar pulang."


"Ga usah, Arman!" Andin membantah.


"Ga pa pa mbak, di hitung lemburan juga boleh." Kata Arman sambil nyengir.


Andin tersenyum, mendengar Arman mengatakan kalau waktu dua jam yang di habiskan untuk menemani Andin di kantor di hitung lemburan. "Ah, elu mah duit mulu yang di pikirin."


"Daripada mbak, cinta mulu yang di pikirin."Jawab Arman tidak mau kalah.


Andin melotot, kepada Arman. Sedangkan Arman hanya tersenyum geli.


"Susah mbak, kalau saling mencintai tapi sama-sama egois."Celetuk Arman tiba-tiba.


"Maksudnya?" Andin menatap Arman yang masih tampak berdiri.


"Maksudnya sama-sama tidak ada yang mau mengalah." Jelas Arman.


"Ah, sok tau." Kata Andin sambil kembali menyandarkan bahunya ke kursi meja kerjanya.Kirain Arman mau bilang apa, ternyata gitu doang, pikirnya.


Arman terlihat menggeser kan kursi yang berada di dekat pintu, ke depan meja di mana Andin duduk. Lalu duduk saling berhadapan dengan Andin.


"Masalah tidak akan selesai dengan hanya kepoin Story Gerald aja di sosial media, mbak. Salah satu dari kalian harus ada yang mengalah. Bicarakan kembali masalah kalian secara baik baik.Aku yakin, kalian berdua masih saling mencintai." Kata Arman, sok sok an menjadi orang yang bijaksana.


"Kamu salah, Arman!" Andin menyela pembicaraan Arman. "Gerald sudah lama punya pacar baru. Dia sudah berusaha Move on dari ku.Aku aja, yang bodoh masih suka kepo sama kegiatan dia."


"Iya kah?" Arman tampak kaget mendengar perkataan Andin yang mengatakan kalau Gerald sudah punya pacar baru.


"hmm." Terdengar desah suara nafas Andin yang begitu berat. Berulang ulang kali Andin menghela nafas panjangnya. Tapi beban berat di hatinya seakan tak bisa lepas.Andin juga tidak habis pikir, kenapa Gerald bisa mengkhianatinya.Tapi kalau di pikir pikir enggak salah juga sih. Kan mereka berdua sudah lama putus.Mungkin Gerald memang sudah melupakan dirinya sejak lama.

__ADS_1


"Gerald sudah berusaha menghapus aku dari hatinya, lalu kenapa aku harus datang dan kembali ke kehidupan dia. Akan ada hati yang terluka jika aku datang." Kata Andin dengan desah suara yang dalam.


Arman terdiam.


"Aku pernah ingin datang,, dan memulai semuanya dari awal, tapi ketika aku mempersiapkan diri untuk datang, Posisi ku sudah tergantikan oleh orang lain. Lalu apa menurut mu aku pantas menghancurkan kebahagiaan orang lain?"


Arman masih tidak menjawab.


"Coba jelaskan apa yang harus aku lakukan?" Kata Andin kepada Arman yang masih saja terdiam.


Keduanya terdiam untuk beberapa saat. Arman memikirkan perkataan Andin yang hatinya kecewa posisinya telah di gantikan oleh wanita lain. Sedangkan Arman tahu, Andin tak pernah berhenti mencintai Gerald meski mereka telah berpisah begitu lama.


Andin menceritakan semua hal tentang Gerald kepada dirinya. Maka dari itu, Arman merasakan apa yang di rasakan oleh Andin saat ini. Ingin rasanya dia bisa membantu, tapi apa yang dia bisa bantu. Yang bisa dia lakukan saat ini hanyalah tetap bersama dengan Andin dan selalu mensupport dia semampu yang dia bisa.


Andin terlihat memejamkan matanya. Tapi dia tidak tertidur, dia hanya berusaha sedikit melepaskan beban yang ada di hatinya dengan menutup mata.Dengan sedikit menarik nafas panjang,lalu kemudian mengeluarkannya, mungkin sejenak bisa meringankan tekanan batin cinta yang selalu membebani pikirannya.


Terdengar seseorang masuk kedalam ruangan kerjanya. Yoga masuk tanpa mengetuk pintu.


"Pulang, sudah malam !" Perintahnya kepada Andin yang sedang menyandarkan dirinya dengan tenang.


Andin membuka mata, menatap Yoga yang sudah berdiri di hadapannya. Andin tak terlalu menggubris perkataan Yoga yang menyuruhnya untuk cepat pulang. "Kenapa bisa kesini?" Tanya Andin yang agak aneh melihat Yoga yang tiba-tiba datang ke Resto tengah malam.


"Aku datang ke kosan, tapi kosan kamu masih terkunci. Dan aku pikir pasti kamu masih berada di Resto." Jawab Yoga sambil mendekat ke arah Andin.


"Terus mau ngapain kamu datang kesini, ini kan sudah malam?"


"Buat ngajak kamu pulang." Jawabnya sambil berusaha menarik Andin untuk bangun dari duduknya.


"Aku bukan anak kecil kali, aku bisa pulang sendiri." Kata Andin dengan raut muka yang tampak dingin.


"Ya udah, ayo kita pulang!" Ajak Yoga untuk kedua kalinya.


"Ayo Arman kita pulang !" Kata Andin sambil beranjak dari kursinya. Berjalan keluar dari ruangan kerjanya, di ikuti oleh Arman serta Yoga,lalu Arman tidak lupa mengunci semua pintu. Dan mereka bertiga pun pulang.


Andin dan Arman berdua naik mobil Andin, sedangkan Yoga datang dengan mengendarai motor. Dia juga pulang dengan menggunakan motornya kembali. Motor Yoga berjalan membuntuti mobil Andin yang berjalan di depannya.

__ADS_1


Dalam hati, Andin kesal karena Yoga membuntutinya. Sedangkan dia sedang ingin sendirian. Tak ingin berbicara dengan siapapun, tidak juga dengan Yoga. Andin sudah tau, pasti Yoga akan ikut pulang ke kosannya.


Andin masih kesal karena hal yang kemarin. Dia masih kesal karena Yoga tidak mengatakan apapun tentang kesulitan yang sedang di hadapinya. Andin sedang merasa jauh dari Yoga. Andin sedang merasa kehilangan sosok sahabat yang biasa ada di sampingnya. Sudah seminggu ini, Yoga tak pernah menelpon dirinya.


Setelah mengantarkan Arman pulang kerumahnya, Andin juga pulang ke kosannya. Dan ternyata Yoga sudah duluan ada di kosan Andin. Andin kira tadi Yoga pulang kerumahnya dan berhenti membuntutinya. Tapi ternyata, Yoga pergi duluan datang ke kosan Andin. Karena Andin terlalu pelan menjalankan mobilnya. Yoga tidak sabar ingin cepat sampai di kosan.


Andin turun dari mobilnya tanpa bicara, walaupun Yoga sudah berdiri di depan pintu kosannya. Lalu masuk, dan langsung merebahkan tubuhnya di tempat tidur. Sedangkan Yoga, ikut masuk lalu duduk di sofa satu satunya yang ada di kosan itu. Yoga juga terlihat merebahkan badannya di sofa itu. Terdengar desah nafasnya yang terdengar lelah malam itu.


"Bikinin aku makan, Din!" Kata Yoga terdengar lirih.


Andin menggeliat, dia tidak tega membiarkan Yoga yang minta di bikin kan makanan malam itu. Padahal Andin berniat mendiamkan Yoga dan Andin tak ingin berbicara dengannya.


"Jangan mendiamkan aku seperti itu, ayo bangun bikinin aku makan!" Terdengar Yoga berkata kembali.


"Aku enggak punya makanan, aku belum belanja buat isi kulkas.Semuanya kosong. " Jawab Andin sambil memperlihatkan isi kulkas yang memang kosong tidak ada isinya.


"Hhh." Terdengar Yoga mendesah.


"Kau mau makan apa biar aku beli ke depan sana?" Tanya Andin kemudian, menawarkan Yoga untuk membeli makanan di abang abang depan jalan raya sana.


"Ga usah, sudah larut!" Yoga melarang Andin untuk keluar membeli makanan. "Kamu kenapa sih? Ga biasanya diamkan aku seperti ini? Kalau ada masalah itu coba bicara, jangan diam. Aku bingung tiba-tiba kamu tidak jawab chat aku dari kemarin." Yoga tiba-tiba mengalihkan pembicaraan. Dia tidak tau kenapa tiba-tiba Andin mendiamkannya seperti itu.Yoga juga heran kenapa sejak kemarin Andin juga tidak membalas Chat-nya.


"Enggak kenapa napa kok, aku cuma lagi males jawab aja." Jawabnya, mencoba berkelit.


"Tidak ada masalah yang akan selesai jika kau hanya diam."


"Aku tidak merasa punya masalah sama kamu. Aku hanya kecewa, kenapa kamu enggak bilang apa apa soal Reina yang mengalami kecelakaan lalu membutuhkan banyak biaya untuk operasi." Terdengar nada suara Andin mulai naik.


"Marisa yang cerita ke kamu?" Yoga menebak siapa menceritakan masalah itu kepada Andin.


"Iya." Jawabnya. "Kan bisa cerita ke aku, dan pinjam uang sama aku dulu. Bukan malah jauh jauh datang ke bang zul." Andin terlihat lebih kesal.


Yoga melirik ke arah Andin yang masih duduk di tempat tidur. "Bukan pinjam sama bang Zul, tapi bang Zul yang menawarkan bantuan untuk Reina. Ya masa bantuan dari abang ku, aku tolak."


"Tapi Marisa kemarin tidak bilang begitu."

__ADS_1


"Memang Marisa tau apa? Aku tidak pernah cerita masalah uang ini ke dia. Mungkin dia mendengar pembicaraan aku ketika aku bicara dengan mama di kamar waktu itu." Yoga tampak menjelaskan kepada Andin, kalau memang Marisa tidak tau apa apa soal Reina dan masalah uang itu.


***


__ADS_2