Kisah Cinta Andin Dan Gege

Kisah Cinta Andin Dan Gege
Gerald Melarang Andin Beli Mobil #76


__ADS_3

Gerald terlihat menatap wajah Andin yang tiba-tiba berubah mendengar tentang uang yang ia katakan tadi.


Sedangkan Andin hanya terdiam. Ia malas sekali mengingat tentang uang yang Gerald katakan tadi. Karena uang itu, dua tahun yang lalu Gerald memutuskan hubungan dengannya. Dan Andin sakit hati atas apa yang di lakukan Gerald pada saat itu kepada dirinya.


Andin masih mengingat saat dia memelas dan memohon agar Gerald jangan membagi dua uang mereka. Tapi dengan sangat angkuh Gerald tetap membagi dua uang itu karena ingin mengakhiri hubungannya dengan Andin.


Gerald ingin secara profesional membayar keuntungan yang harusnya Andin dapatkan selama menjadi partner kerja Gerald selama bertahun-tahun. Dan itu sangat menyakiti hati Andin.


"Aku tidak menginginkan uang itu berapapun


jumlahnya. "Kata Andien dengan ketus.


"Kenapa? " Gerald masih bertanya kenapa.


Aneh saja melihat Andin yang sepertinya tidak butuh uang yang sedang mereka bicarakan padahal nilainya begitu besar.


"Karena uang itu dulu kau pergi meninggalkan aku."Kata Andin dengan nada tertahan.


Andin masih mengingat semua hal yang terjadi dua tahun yang lalu. Sakit rasanya jika ia mengingat kejadian itu.


Gerald terlihat memeluk kembali Andin dengan erat. "Aku kan sudah minta maaf. Kok masih di ungkit? " Sambil mencium rambut Andin yang tergerai.


Gerald mengakui segala kesalahan yang telah di lakukannya dulu kepada Andin. Namun ia tak bisa melakukan apapun kecuali berusaha memperbaiki semuanya dari awal.


"Aku trauma sebenarnya, makanya sekarang aku gak pernah minta uang lagi sama Ayang ataupun balik lagi kerja di kantor sama kamu. Aku takut hal itu akan terulang. Kau punya banyak cara untuk membuat aku sakit hati. Dan kau tau membagi dua uang itu pasti akan sangat menyakiti aku makanya kamu kekeh mau membagi uang itu. " Kata Andin masih dengan nada tertahan.


"Bukan gitu, Yang! Aku kan sudah bilang kalau waktu itu aku lagi emosi. Lagian aku gak mikir sampai ke situ. Yang aku pikir waktu itu adalah kalau uang itu masih ada pada ku, akan terus ada kesempatan untuk kita bertemu karena alasan pekerjaan. Tapi kalau uang itu di bagi dua, Ayang akan mendapatkan apa yang seharusnya Ayang dapatkan, ya aku pikir kita akan sama-sama terbebas dari beban. Waktu itu aku hope less banget karena Ayang segitu pedulinya sama Yoga. Dan aku pikir ya udah, aku mau menyerah. Waktu itu aku berpikir untuk apa bertahan kalau yang kamu pikirkan selalu Yoga bukan aku. Aku hanya berusaha memberikan apa yang harusnya kamu dapatkan. Itu aja!! Aku nggak nyangka kalau keputusan ku akan sangat menyakiti hati kamu. " Kata Gerald masih dengan mengelus pundak Andin yang bersandar pada dirinya.


"Dan Ayang gak tau kan, kalau aku trauma gara-gara itu? " Kata Andin sambil mendelik.


"Aku janji, enggak akan kayak gitu lagi. Tapi kalau gak pake uang itu, ga ada duitku untuk beli mobil mu, Yang! "


"Ya udah aku aja yang bayar. " Jawab Andin.


"Ih jangan,, gak mau aku. Aku yang harus bayar. '' Bantah Gerald.


" Kau bilang gak ada duitmu, terus kau mau bayar pake apa? "


"Tunggulah sebulan lagi, biar aku cari kurangnya. "


"Lama."

__ADS_1


"Gak lama. Cuma sebulan. "


"Ngapain tunggu sebulan, kalau sekarang aku bisa bayar? "


"Gayamu.. " Kata Gerald sambil melotot. "Merasa hebat kau sekarang? Ga minta duit ku? "


"Iyalah,, ngapain aku minta duitmu kalau aku juga bisa cari sendiri. "


Gerald mencubit hidung Andin dengan kesal.


"Ga ada beli mobil, tunggu bulan depan aku cari tambahan duitnya. Kalau Ayang tetap memaksa beli, aku akan marah. " Kata Gerald mengakhiri pembicaraan tentang beli mobil.


***


Pagi pagi sekali ponsel Gerald sudah terdengar berdering. Gerald menggeliat dari sofa dimana ia tertidur untuk mengambil ponselnya yang berada di atas meja.


Setelah bicara beberapa patah kata dengan orang yang menelponnya. Ia kembali merebahkan tubuhnya di sofa. Lalu melirik Andin yang masih tertidur di kasur.


Di atas meja masih terlihat berantakan bekas semalam mereka makan nasi goreng. Segala bentuk sampah makanan hingga sampah minuman kaleng masih berjejer di atas meja.


Gerald berdiri lalu masuk ke kamar mandi.


"Yang...! "


Tapi Andin tidak menyahut.


"Yang! " Teriak Gerald lebih keras.


Andin yang masih tertidur langsung terbangun mendengar Gerald berteriak memanggilnya.


"Iya.. " Kata Andin sambil menoleh ke kamar mandi di mana Gerald berada.


"Ada daleman aku tertinggal di sini nggak? Celana ku jatuh ke lantai, basah nih. "


Andin bangkit kemudian menuju ke lemari bajunya. Lalu mengambil salah satu daleman pria yang di minta oleh Gerald.


Setelah mengetuk pintu dan memberikan daleman itu lalu Andin kembali duduk di atas tempat tidurnya.


Matanya masih mengantuk. Ini hari libur, belum waktunya untuk bangun.Tapi Gerald sudah berteriak teriak yang akhirnya membuat Andin terbangun.


Tapi tiba-tiba Gerald terlihat melemparkan kembali daleman yang ia berikan tepat ke kepala Andin yang sedang duduk.

__ADS_1


"Itu bukan daleman ku, bodoh! " Teriak Gerald sambil kembali menutup pintu kamar mandi.


Andin mengambil daleman yang di lempar Gerald ke kepalanya. "Memang yang mana celana daleman mu bodoh? " Balas Andin berteriak. "Terus ini daleman siapa kalau ini bukan celana mu? Kau pikir aku cewek tukang ngumpulin daleman pria? "


"Pokonya itu bukan daleman ku. " Bantah Gerald dari dalam kamar mandi.


"Ya sudah, gak usahlah kau pake daleman. Sok tau kau, kalau ini bukan celana mu. " Andin terdengar menggerutu kesal kepada Gerald.


Gerald keluar dari kamar mandi dengan hanya menggunakan celana boxer tanpa memakai daleman dengan wajah yang ketus.


"Aku tau mana daleman ku, mana daleman orang lain. " Kata Gerald masih dengan raut muka yang judes.


"Malas aku, pagi pagi sudah ngeributin masalah daleman. Terus kau pikir yang kusimpan di dalam lemari itu daleman orang lain? "


"Mana aku tau, kau yang simpan berarti kau yang tau. " Jawab Gerald sambil melotot.


"Dah lah, kalau begini terus aku bilang kau harus secepatnya nikahin aku. Ga mau tau aku. Biar kau tau, aku nggak simpan celana orang lain. Capek aku lama lama. "


"Aku mau tau dulu celana siapa yang kau simpan itu? "Gerald tetap kekeh dengan pertanyaannya.


"Ya pasti daleman kau lah bodoh! " Kata Andin tampak kesal. "Ini masih pagi loh, kau sudah buat aku berteriak bangun tidur kayak gini. Kau ributkan celana daleman. Menyesal aku berikan daleman sama kau. Dah bagus lah kayak gitu, gak pake daleman. Kau tetap ganteng walau gak pake daleman. " Kata Andin mencoba mencairkan suasana agar tidak tegang.


"Malu lah, bodoh!"


"Ngapain malu, aku ini yang lihat. Kau kan di rumah, gak kemana-mana. "


"Aku mau pulang, ada kerjaan aku hari ini. "


"Pulanglah, biar kau pakai celana mu di sana! "


"Kau kan belum jawab pertanyaan ku, itu celana siapa? "


"Ga tau lah aku, mungkin celana daleman tukang becak yang kesasar kesini terus aku simpan di lemari. " Jawab Andin dengan kesal.


"Jawablah yang betul! "


"Ya ampun, gak ada cowok lain yang tidur dan mandi disini kecuali Ayang aja loh. " Jawab. Andin yang sudah mulai kehilangan rasa sabarnya.


"Yoga juga tidur disini kan? " Tanya Gerald dengan tatapan mata yang sinis dan sedikit menyudutkan.


***

__ADS_1


__ADS_2