
Sudah hampir satu jam Gerald duduk di kafe tempat dia janjian dengan Andin hari itu, tapi tak terlihat ada tanda tanda Andin akan datang ke sana. Suasana kafe hari itu agak lumayan rame, tapi tak seramai seperti pertama kali Gerald datang ke kafe tersebut.
Gerald duduk di kursi yang tersedia di luar kafe sembari memesan segelas kopi klasik kesukaannya. Gerald duduk sembari melihat nomor WA yang tadi di pakai Andin untuk menelponnya.Di hape, nomor itu terlihat sedang aktif, tapi tak ada satupun chat Andin untuknya yang telah menunggunya dari tadi di sana.
Gerald mencoba menekan nomor panggilan, tapi kemudian dia menghentikannya kembali.Dia juga berusaha chat nomor itu, tapi dia menghapusnya kembali.Ada perasaan campur aduk di dalam hatinya.Perasaan apakah semua ini hanya mimpi ataukah sengaja Andin sedang mempermainkan perasaannya? Sedang bahagia kah dia saat itu, atau malah sebaliknya.
Saat dia meletakan kembali hapenya di atas meja, dari parkiran yang jaraknya tidak begitu jauh dari tempat ia duduk.Gerald melihat orang yang sedang di tunggunya turun dari sebuah mobil berwarna putih.Kemudian terlihat seorang pria melambaikan tangan pada Andin yang tengah menuju ke arahnya.Andin pun membalas lambaian tangan pria tersebut yang tidak lain adalah Yoga.
Terlihat Andin agak berlari cepat menuju ke arah di mana Gerald duduk. Lalu ia berbalik kembali ke arah mobil yang mengantarnya dan melambaikan tangan untuk kedua kalinya.
Tak ada kata kata yang keluar dari mulut Gerald melihat pemandangan itu.Walau sakit hati,Gerald hanya mampu terdiam tak mengeluarkan kekesalannya.Dia tidak ingin kejadian beberapa bulan lalu terulang kembali hari ini.Dia tidak ingin lebih banyak salah faham lagi.
"Sudah pesan makanan?" Tanya Andin sambil agak terengah-engah."Maaf aku telat,tadi aku nganter dulu Yoga ke dokter."Tambahnya kemudian.
Gerald berusaha menutupi kekesalan hatinya dengan tetap mencoba tersenyum walaupun agak terlihat di paksakan.
"Ga pa pa! Jangankan cuma satu jam, satu tahun pun aku akan tunggu sampai kamu datang." Jawabnya, tetap melempar sebuah senyuman kepada Andin.
Andin tersenyum simpul mendengar jawaban Gerald demikian. Andin tau apa yang sedang terjadi di hati Gerald saat itu.Andin tau, Gerald pasti kesal melihat dia turun dari mobil Yoga.Tapi Gerald berusaha tak memperlihatkan kekesalannya.
"Aku mengenalmu, bukan baru hari ini. Aku tau Ayang sedang kesal sama aku." Kata Andin berusaha menebak perasaan Gerald yang memang sedang merasa kesal kepadanya.
"Kenapa aku harus kesal?" Gerald berusaha membantah.
Andin mencoba meraih tangan Gerald dan menggenggamnya dengan erat. "Aku sudah bilang, aku tidak bisa menjauhi Yoga.Aku harus menemani dia kontrol ke dokter hari ini. "
"Aku tidak menyuruh mu menjauhinya." Bantah Gerald mencoba mengelak dari perkataan Andin.
"Ayang memang tidak menyuruhku menjauhinya, tapi sikap ayang mencerminkan kalau aku harus menjauhinya." Jawabnya sambil tersenyum.
Gerald menarik napas panjangnya kemudian dia berkata. "Aku adalah orang yang sama, yang mencintaimu dari dulu hingga hari ini.Aku tidak ingin kehilangan kamu karena hal yang tidak penting.Jika kamu masih mau terima aku apa adanya. Aku mau kembalikan semuanya seperti dulu. Aku manusia normal, yang akan cemburu melihat orang yang aku cintai turun dari mobil mantan pacarnya.Setiap waktu pacarku selalu bersama laki-laki lain. Lalu apa yang harus aku pikirkan sebenarnya?"
Andin tersenyum. "Bisa kita lupakan masalah kita yang tidak akan ada ujungnya ini?" Kata Andin seperti sedang ingin mengakhiri pembicaraannya tentang Yoga. "Aku ingin mengajakmu kesini bukan ingin membahas masalah ku dengan Yoga.Aku ingin menemui pacarku yang katanya merindukan aku selama ini.Aku ingin melepaskan rasa rindu ku sama Ayang, bukan mau membahas tentang aku dan Yoga."
Gerald akhirnya terdiam. Dia seperti berusaha mengalah agar tak terjadi keributan.Memang benar, kedatangan mereka ke sana bukanlah untuk membahas tentang Yoga, tapi ingin melepas kerinduan diantara mereka.
"Antar kan motor Vespa ku ke kontrakan aku besok!" Kata Andin mengganti topik pembicaraan.
"Enggak!" Jawab Gerald.
"Ko enggak?" Kata Andin agak bingung. "Itu kan motor aku? "
"Motor ku juga lah, kau memang yang beli, tapi kau bayar pakai duit ku." Bantah Gerald agak mendelik.
__ADS_1
"Duit mu kan duit aku juga!" Jawab Andin sambil nyengir memperlihatkan giginya yang putih bersih. "Gimana bisnis online kita, Yang?" Kata Andin mengalihkan lagi pembicaraannya.
"Sejak kamu pergi, omset jadi turun."
"Iya?"Andin tampak seperti tak percaya.
Gerald mengangguk. "Aku sudah lama ga pegang Toko online kita.Semua urusan kantor dan toko online kita, Ica semua yang pegang."
Andin agak mengangguk angguk pelan mendengar Gerald menyebutkan nama Ica. Andin jadi tak mau mendebat pembicaraan Gerald. Malas rasanya ia mendengar nama itu.
"Lagian aku kan ga tau kontrakan kamu yang baru dimana sekarang? "Kata Gerald menyambung perkataan Andin yang tadi menyinggung soal motor Vespa nya yang harus ia antar kan ke rumah kontrakan Andin yang baru.
"Ya udah kita ke kontrakan aku sekarang!" Ajak Andin antusias mengajak Gerald ke rumah kontrakannya yang baru.
Sebenarnya rumah kontrakan Andin tidak jauh dari kafe tersebut, hanya terhalang beberapa gang saja dari sana. Itu kenapa Andin sering sekali pergi ke kafe Favorit bersama Yoga. Mereka hampir setiap pekan datang mengunjungi kafe tersebut hanya untuk sekedar melepas penat seharian berkutat dengan pekerjaan.
Yoga sudah beberapa bulan ini stay di Bandung.Semenjak dia mengetahui kalau hubungan Andin dan Gerald yang sedang tidak baik, Yoga memutuskan mengundurkan diri dari kantornya di Jogja sana. Yoga tidak tega meninggalkan Andin sendirian dalam keadaan yang kurang baik seperti ini. Makanya kenapa Yoga memutuskan untuk tinggal dan membuka usaha di Bandung bersama kakaknya yang bernama Angel.
Sejak saat Andin meninggalkan Gerald dan mengundurkan diri juga dari kantor Gerald, Andin memulai bisnis kuliner dengan Yoga. Mereka membuka sebuah Kafe di jalan Braga tepat bersebrangan dengan kafe favorit yang sering mereka kunjungi.
***
Setelah selesai makan dan membayar tagihannya, Andin mengajak Gerald pergi ke rumah kontrakan nya dengan berjalan kaki.Andin menyebutkan bahwa menuju ke rumah kontrakannya tidaklah begitu jauh, makanya dia mengajak Gerald untuk berjalan kaki.
Gerald hanya bisa menebak nebak apa yang ada di pikiran Andin saja.Ia tak tau pasti apakah Andin memang benar benar akan kembali ke kehidupannya, ataukah kejadian beberapa bulan lalu akan terulang kembali.
Di sepanjang perjalanan Andin terus memegangi tangan Gerald, ia seperti tak ingin melepaskan genggaman tangannya.Ia terus menggandeng tangan Gerald sembari sesekali dia melingkarkan tangannya di pinggang Gerald.
Gerald hanya mampu memandangi Andin yang tampak begitu bahagia saat itu.Senyuman Andin yang sudah lama sekali tak pernah dilihatnya. Kini, seperti mimpi semua itu ada di hadapannya.
"Aku sudah ambil kembali barang barang aku,Yang." Kata Andin mengakhiri kebisuan di antara mereka.
"Aku sudah tau." jawab Gerald.
"Ayang masih cinta sama aku kan?" Tanya Andin dengan manja.
Gerald tersenyum, langkahnya terhenti sejenak mendengar pertanyaan Andin demikian. " Masih perlu aku jawab?"
Andin tersenyum simpul lalu melangkahkan kakinya kembali.
"Kenapa saat itu kau begitu marah sama aku, hingga kau kembalikan semua barang barang pemberian aku?" Tanya Gerald, mencoba mengorek alasan kenapa dulu Andin pergi meninggalkannya serta mengembalikan semua barang barang pemberiannya.
"Iyaa,aku marah sama Ayang. Waktu itu Ayang ga perduli sama aku, padahal aku sudah berulang kali minta maaf.Aku marah, karena Ayang selalu menyebut aku( kau )bukan sebut aku Ayang." Jawabnya, sembari mengingat kenapa dulu dia pergi meninggalkan Gerald.
__ADS_1
Gerald tersenyum geli mendengar jawaban Andin yang menurutnya sangat menggemaskan. "Mana ada orang marah masih bilang Ayang sama pasangannya, bodoh!" Katanya sambil tertawa.
"Ada."
"Siapa?"
"Aku." Jawab Andin dengan menunjuk dirinya sendiri.
Gerald tertawa terbahak, dan mengiyakan perkataan Andin yang memanglah benar. Sebagai manapun Andin sedang marah, Andin memang tak pernah mengganti sebutan Ayang padanya.
"Selain itu apalagi?" Tanya Gerald kembali.
"Ga ada!"
"Masa cuma gara gara itu doang?"
"Iyalah,aku kesel.Ayang ga pernah bilang lagi Ayang sama aku." Kata Andin dengan wajahnya yang sedikit cemberut.
"Sampai tega pergi ninggalin aku,Yang?"
Andin tak menjawab.
"Ayang tau, kalau aku hampir gila kehilangan Ayang?" Tanya Gerald lagi.
"Tau."
"Tau dari mana?"Gerald terlihat penasaran.
"Tau lah,aku kan ga bener benar meninggalkan Ayang.Aku tau Ayang sakit, masuk rumah sakit. Aku juga tau kalau setiap hari Ayang selalu tunggu aku di depan teras."
Gerald menghentikan langkahnya, lalu menatap wajah Andin yang juga sedang menatapnya.
"Iya?"
Andin mengangguk meyakinkan Gerald yang seperti tidak percaya dengan semua yang dia dengar.
"Itu kenapa waktu itu aku datang menyuruh Ayang untuk tidur. Karena aku tau dari beberapa hari sebelumnya Ayang belum istirahat sama sekali.Makanya aku datang untuk menyuruh ayang untuk istirahat.Aku tidak tega, melihat Ayang terus terusan bergadang tidak tidur juga kurang makan. Makanya kenapa akhirnya aku mengalah untuk datang menemui Ayang. Aku ga mau Ayang sakit dan masuk rumah sakit lagi. "
Gerald semakin tidak bisa berkata kata mendengar perkataan Andin barusan.Gerald sama sekali tidak menyangka kalau Andin ternyata memantaunya selama ini.Tapi Gerald sama sekali tidak tau.
"Ayang,ko tega begitu sama aku?" Gerald cemberut ketika Andin menceritakan semua itu kepadanya.
***
__ADS_1