
Setelah Gerald dan Fadil meninggalkan mereka, Andin berusaha memapah Yoga yang masih tampak kesakitan dan membawanya turun ke bawah untuk di obati. Kemudian menyuruh Yoga istirahat sebentar di kamarnya menunggu sampai dia merasa baikan. Dan Andin pamit pada Yoga untuk menemui Gerald saat itu juga.Andin tidak mau menunda nunda untuk menjelaskan segalanya, Andin takut masalahnya dengan Gerald akan tambah panjang jika ia tidak menghampirinya saat itu.Andin takut kalau Gerald benar benar akan berpikir kalau antara dia dan Yoga memang terjadi hubungan yang lebih dari sekedar teman.
Dengan penuh rasa bersalah, Yoga berulang kali meminta maaf pada Andin untuk semua yang terjadi hari ini. Karena dialah hari ini Andin bertengkar hebat dengan kekasihnya. Yoga menjelaskan hanya tidak menyukai sikap Gerald yang terkesan angkuh dan sombong saja. Yoga juga tidak terlalu suka cara Gerald memperlakukan Andin yang terkesan terlalu mengekang kebebasan Andin untuk berteman. Menurut nya Gerald terlalu banyak membatasi hak privasi Andin untuk bergaul. Tapi melihat akhirnya jadi seperti ini, Yoga pun menyampaikan permintaan maaf. Dia tidak menyangka masalahnya akan jadi serumit ini. Dia juga tidak mau melihat Andin bersedih. Yoga menawarkan dirinya untuk datang menemui Gerald dan meminta maaf padanya.Tapi dengan tegas Andin menolak, dia akan berusaha menyelesaikan masalahnya sendiri.
Melihat Yoga yang terlihat begitu menyesali kejadian hari ini, dengan penuh keyakinan Andin mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja. Yoga tidak perlu khawatir, Andin meyakinkan Yoga bahwa Gerald pasti akan memaafkannya.
Melihat Andin yang begitu yakin, akhirnya Yoga bisa sedikit merasa tenang. Dia mengiringi lambaian tangan Andin dengan sebuah senyuman dan berharap masalahnya dengan Gerald akan cepat selesai.Dia berharap akan cepat mendapatkan kabar kalau hubungan mereka akan baik baik saja.
***
Tiba di rumah Gerald, rumah itu nampak terlihat sepi.Tak terdengar suara orang berbicara ataupun hanya terdengar suara musik yang biasanya di putar oleh Fadil.Tapi mobil dan motor terparkir rapih di garasi dan teras rumah. Itu menandakan bahwa memang ada orang di rumah.
Dengan perlahan Andin membuka pintu rumah dan langsung menerobos masuk ke dalam kantor. Tampak semua temannya sedang sibuk bekerja di mejanya masing-masing. Tapi tak nampak Gerald di kantor, meja kerjanya kosong.
Melihat Andin yang tiba-tiba masuk, semua pandangan mengarah terhadapnya. Tapi tak ada satupun dari mereka yang bicara ataupun menyambut kedatangan Andin walau hanya dengan sebuah senyuman. Mereka semua tampak begitu marah kepada Andin.
"Gerald di mana?" Terdengar Andin bertanya kepada semua orang.
Semua masih tampak terdiam.Tak ada satupun dari mereka yang menjawab.
"Jangan bilang kalian juga ikutan marah sama aku!" Kata Andin lagi, kemudian keluar dari kantor beralih menuju ke kamar Gerald.
Di kamar, Gerald tampak sedang terbaring. Matanya tampak terpejam, tapi Andin tau Gerald tidak sedang tertidur. Dia duduk di tepi kasur, dan berusaha bicara perlahan dengannya.
"Ayang." Kata Andin, sambil berusaha meraih tangan Gerald.
Gerald perlahan membuka mata. Menoleh dengan ujung matanya.Tapi dia tidak bereaksi apapun. Dia tetap diam.
"Ayang masih marah sama aku?" Andin berusaha berbicara dengan halus, berharap Gerald akan luluh dan memaafkannya.
Gerald masih tidak bergeming.
"Aku minta maaf,Yang!" Kata Andin berusaha merangkul Gerald yang sedang terbaring.
"Aku mau istirahat, pergilah keluar!" Jawab Gerald, berusaha menahan badan Andin yang berusaha merangkulnya.Kemudian berbalik membelakangi Andin.Tak ada yang ingin dia dengar saat itu. Gerald hanya ingin beristirahat saja.
"Yang,,jangan gitu dong! Aku kan udah minta maaf.Kok Ayang masih marah?" Andin tetap berusaha membujuk Gerald yang tengah marah padanya.
"Kalau mau keluar jangan lupa tutup pintu!" Kata Gerald seperti yang ingin menyudahi percakapan nya dengan Andin. Dan secara tidak langsung telah menyuruh Andin pergi dari kamarnya.
Melihat sikap Gerald yang masih tampak begitu dingin padanya, Andin pun tak bisa berbuat apa-apa. Dengan lemas dia keluar dari kamar Gerald dan menutup kembali pintu kamarnya.
Setelah keluar dari kamar, dia berusaha menyandarkan dirinya di sofa di ruangan tamu sambil tampak menutup matanya dengan kedua telapak tangannya. Dia berusaha menahan air matanya yang tiba-tiba ingin menetes.
Perasaannya begitu campur aduk saat itu.Andin bukan tidak mengerti akan perasaan Gerald yang mungkin sakit hati atas perlakuannya dan sikapnya terhadap Gerald.Tapi apa yang bisa dia lakukan. Mengacuhkan dan membiarkan Yoga dalam keadaan dia sedang kesulitan pun bukan lah jalan keluar.Dia tidak akan mungkin membiarkan Yoga begitu saja.
__ADS_1
Yoga adalah orang yang pernah begitu lama membantunya di saat dia sedang susah. Yoga juga telah lebih dahulu datang di kehidupannya dan telah belasan tahun selalu ada di setiap fase kehidupan Andin yang buruk. Yoga selalu jadi teman, jadi sahabat yang terbaik di sepanjang kehidupannya. Andin tidak bisa melupakan budi baik Yoga selama ini. Hari ini jika Yoga memang sedang membutuhkannya,Andin ingin dia juga ada untuknya.Untuk bisa membalas semua budi baik Yoga kepadanya.
Tidak lebih dari itu, hanya ingin membalas budi. Andin hanya ingin dia menjadi manusia yang tidak pernah melupakan kebaikan orang lain kepadanya.Itu saja! Hanya sesimpel itu, pun ternyata begitu sulit. Sulit membuat Gerald memahami tentang dirinya. Sulit untuk memahami ketidakberdayaannya.
Kebaikan yang tetap dilakukannya ternyata membuat hubungannya dengan Gerald di ambang kehancuran. Hubungan yang di jalani hampir Empat tahun akhirnya goyang hanya karena sebuah kesalahpahaman.Andai saja Andin bisa sedikit lebih mengerti keinginan Gerald sebenarnya semuanya tidak akan serumit ini. Tapi apalah daya, membalas jasa orang yang telah begitu baik adalah menjadi prioritas di atas segalanya.
Andin tidak menyalahkan Gerald sedikitpun, Andin tau begitu kecewa nya Gerald terhadap dirinya. Andin juga tau, apa yang sebenarnya diinginkan Gerald.Tapi Andin tak bisa mewujudkan keinginan Gerald yang begitu sederhana.
Andin merasa begitu buruk hari itu. Tapi apa yang harus dia lakukan agar Gerald bisa memahami semua yang di lakukannya.Andin juga tidak sanggup jika dia harus kehilangan Gerald.
Tapi hari itu Gerald tampak begitu marah. Jika ia terus memaksanya untuk berbicara hari itu sepertinya akan percuma. Andin memutuskan untuk membiarkan Gerald sendiri dulu seperti biasanya.
Siapa tau setelah melewati beberapa hari, kemarahan Gerald akan sedikit mereda dan Gerald akan memaafkan semua kesalahan Andin kepadanya seperti biasa.
***
Berhari-hari setelah kejadian itu sikap Gerald masih tetap saja dingin terhadap Andin. Gerald berusaha sebisa mungkin menjauh dari Andin. Dan kalaupun memang harus bertemu dan bekerja sama karena suatu pekerjaan, Gerald berusaha sebisa mungkin bersikap profesional dan tidak menunjukkan kemarahannya di hadapan semua orang.
Di setiap kesempatan yang ada Andin selalu tetap mencoba mendekati dan meminta maaf berulang-ulang kali. Tapi sikap Gerald tetap saja dingin terhadapnya.Gerald seperti tidak menginginkan masalahnya dengan Andin cepat selesai. Dia masih diam dan tidak mau bicara.
Sesekali Andin tersedu disaat dia tengah sendirian.Air matanya tampak sesekali menetes ketika dia merasa begitu asing di tengah-tengah orang yang tadinya begitu perduli padanya.Sekarang dengan begitu cepat semuanya berubah.
Andin merasa begitu sulitnya untuk meminta maaf pada Gerald kali ini.Kadang Andin bertanya pada dirinya sendiri, sebegitu fatal kah kesalahannya kali ini. Hingga ia begitu merasa tersisih dan terabaikan begitu lama. Andin tidak menyangka bahwa Gerald akan mengacuhkannya hingga berminggu-minggu lamanya.
Biasanya Gerald hanya akan mendiamkannya beberapa hari saja.Lalu kemudian mereka akan kembali berbaikan seperti biasanya. Tapi kali ini, semuanya terasa begitu berat.
Semenjak Gerald mendiamkan Andin hampir sebulan yang lalu, Gerald mempunyai kebiasaan baru, yaitu pergi ke luar rumah hampir setiap hari. Entah apa yang di lakukan nya di luar. Yang pasti Gerald seperti sengaja ingin menghindari Andin.
Tapi kebetulan hari itu dia sedang sibuk dengan pekerjaannya di kantor.Ada banyak pekerjaan yang harus dia selesaikan yang membuat dia tidak bisa keluar rumah seperti biasanya.
Teman teman sekantornya kebetulan sudah pulang dari tadi. Gerald sengaja tidak menyuruh mereka lembur untuk hari ini. Gerald merasa dia sedang butuh waktu untuk sendiri di rumah.Makanya sore itu Gerald tidak mengizinkan siapa pun untuk lembur ataupun sekedar nongkrong saja.Gerald menyuruh semua orang untuk pulang, tak terkecuali Andin.
"Aku mau bicara!" Kata Andin sambil menghampiri Gerald di mejanya.
Dia sebenarnya juga akan pulang saat itu, tapi karena dia merasa ini kesempatan yang bagus untuk bicara, akhirnya Andin tidak menyianyiakan kesempatan yang sudah ada di depan mata.Dia berusaha membuat Gerald agar mau berbicara padanya.
"Mau ikut aku keluar atau kita bicara disini?" Kata Andin lagi, sambil menatap Gerald yang terus saja menatap ke arah laptopnya.
Gerald kemudian beranjak dari duduknya, lalu melangkah keluar dari ruangan kantor menuju teras rumah.Di ikuti oleh Andin dari belakang.
Gerald duduk tenang di kursi di teras depan rumahnya. Tatapan matanya nanar menatap jalanan depan rumahnya yang terlihat lengang tak terlihat motor atau mobil melintas satupun.
Andin duduk di samping Gerald, menatapnya penuh dengan rasa kerinduan.Sudah lama sekali Gerald mendiamkannya.
"Ayang akan terus mengacuhkan aku seperti ini?" Tanya Andin perlahan.
__ADS_1
Gerald tak menjawab ataupun menoleh, pandangan nya tetap menatap ke jalanan kosong di depan sana.
"Aku harus bagaimana agar Ayang bisa memaafkan aku?" Kata Andin tampak begitu mengiba.
Andin sudah tidak tau bagaimana cara agar Gerald mau memaafkannya. Sudah berkali-kali dia berusaha meminta maaf, tapi Gerald tetap saja mengacuhkannya.
Gerald masih tetap terdiam.Tak terlihat juga dia perduli pada apa yang di katakan Andin kepadanya.
"Ngomong dong Yang, biar aku ngerti dan bisa perbaiki kesalahan ku. Kalau Ayang hanya mendiamkan aku terus terusan seperti ini, masalah kita tidak akan pernah selesai." Kata Andin terus mencoba membuat Gerald bicara.
"Tapi aku tidak pernah merasa punya masalah. " Jawab Gerald sembari melirik ke arah Andin dengan ujung matanya.
Andin menghela nafasnya.Dia juga terlihat sedang menahan air matanya yang tiba-tiba ingin jatuh. Seperti sedang menahan perasaannya yang tiba-tiba terasa menyesak.
"Kalau kau berpikir masalah kita begitu rumit, kau salah besar! Masalah kita itu sepele. Sederhana!! Apa yang aku inginkan juga tidak sulit. Aku tidak menuntut apapun! Aku hanya tidak suka kau selalu berhubungan dengan lelaki itu. Itu saja!" Gerald akhirnya menjelaskan apa yang di inginkan nya.
Andin terlihat menghela nafasnya kembali.
"Tak ada laki laki di manapun yang mau tetap melihat pacarnya berhubungan dengan pria lain apalagi laki-laki itu adalah mantan mu sendiri." Kata Gerald lagi, tak terlihat ada amarah dalam nada bicaranya.Gerald terlihat tenang seperti tak terjadi apapun.
Andin menatap wajah Gerald yang masih tetap tidak mau menatapnya.
"Dari kapan kau tau kalau Yoga itu mantan pacarku?" Tanya Andin dengan sangat pelan.
Gerald tersenyum pahit. " Aku itu tidak bodoh Andin, dari pertama kali aku baca chat kalian berdua di WA waktu itu, aku tau kalau kalian pernah ada hubungan di masa lalu. Walaupun ribuan kali kau bilang kalian hanya berteman.Aku tau dari cara kalian bersikap dan berbicara,kalau kalian dulu pernah dekat. "
Andin juga terdiam, seperti tak ada kata kata yang bisa keluar lagi dari bibirnya.
"Jika kau pikir keinginan ku begitu sulit untuk di lakukan,jangan kau lakukan! Semua tergantung pada pilihan mu!" Kata Gerald lagi dengan masih tetap menatap ke depan jalanan rumahnya yang tampak kosong.
"Ok.Jika memang itu yang Ayang inginkan. " Kata Andin dengan perlahan.
Dadanya tiba-tiba terasa menyesak mendengar Gerald memanggilnya dengan kata ( Kau bukan dengan sebutan Ayang, yang biasa dia katakan selama ini ).Dengan suara yang nampak tertahan dia mencoba untuk menjelaskan isi hatinya.
"Jika memang itu yang Ayang inginkan, sudah tentu memang aku tidak bisa melakukannya.Tak apa, akhirnya Ayang menganggap aku begitu egois,tapi aku memang tidak bisa melakukannya." Jawab Andin kemudian berdiri. "Sekali lagi aku hanya minta maaf, untuk semua kesalahan yang pernah aku lakukan sama Ayang! Tapi sebelum aku pergi, aku ingin menanyakan satu hal sama Ayang?"
Barulah Gerald menatap wajah Andin yang sudah terlihat memerah. Ada tampak butiran butiran air mata yang sepertinya akan jatuh.Tapi Andin berusaha menahannya. "Bisa tidak Ayang menjauhkan Ica dari kehidupan Ayang?"
Gerald menatap Andin yang dari tadi berusaha menahan air matanya yang ingin jatuh.Matanya juga sudah terlihat memerah.
"Saat Ayang bahkan tidak bisa menjauhkan Ica dari kehidupan mu, seperti itulah yang aku lakukan! Aku bahkan tak pernah sekalipun dari hati dan mulutku merasa keberatan akan kehadiran Ica.Aku bahkan tetap membiarkan dia selalu ada di kehidupan Ayang,selalu di sampingmu.Karena aku yakin Ayang hanya akan mencintaiku saja. Bukan Ica!" Akhirnya tangis Andin pun pecah. Ia sudah tidak bisa menahan air matanya yang terus menerobos keluar.
Gerald tertegun mendengar perkataan Andin, dia seperti yang sedang berpikir kalau apa yang di katakan Andin itu ada benar nya. Gerald yang tidak pernah bisa tega menjauhi Ica.
Andin sudah lama tau, kalau sebenarnya Ica memang mencintai Gerald. Tapi Andin memang tak pernah sekalipun membahas soal Ica.Karena Andin selalu yakin kalau Gerald hanya akan mencintainya.
__ADS_1
Terdengar suara Andin menyalakan mesin motornya. Kemudian pergi meninggalkan Gerald yang tengah tertegun. Gerald yang baru tersadar kalau Andin pergi, ia berusaha berlari memanggil dan mengejarnya. Tapi sia sia, Andin melajukan sepeda motornya dengan sangat kencang.
***