
Di tempat lain.
Semenjak pulang dari rumah sakit hampir dua minggu yang lalu, Andin memutuskan untuk sementara waktu tinggal di Yayasan bersama Adinda. Andin juga berhenti pergi ke Resto untuk beberapa lama.
Andin memutuskan untuk istirahat sejenak dari rutinitasnya bekerja setiap hari. Urusan di Resto Andin serahkan sepenuhnya kepada Arman. Andin ingin beristirahat sejenak dari segala sesuatu yang membuat dirinya merasa tertekan.
Pekerjaan dan urusan hatinya sedikit banyak telah menguras begitu banyak energi dari seorang Andin. Walau ia sudah berusaha keras untuk tetap tegar menjalani semuanya, tapi Andin hanya manusia biasa yang terkadang bisa jatuh dan terpuruk.
Andin tidak ingin kecolongan lagi akan kesehatannya yang tiba-tiba memburuk setelah mengalami hal buruk beberapa waktu lalu. Bagaimanapun Andin sudah terlalu banyak berpikir beberapa waktu ini. Dia sudah terlalu banyak memendam semua perasaan yang ada di hatinya.
Andin tidak bisa bersukacita atas pertemuannya dengan Gerald di Restoran beberapa waktu lalu. Andin tak bisa berteriak bahwa sebenarnya dia bahagia bertemu dengan Gerald waktu itu. Tapi, dia harus menahan semua rasa bahagianya di dalam hati karena berbagai hal.
Andin juga gagal menjelaskan tentang Rumah Duafa kepada Gerald beberapa waktu lalu. Pertemuannya dengan Gerald waktu itu membawa Andin akhirnya harus menginap di rumah sakit. Andin jatuh pingsan saking tidak tahan saat berdebat dengan Gerald. Keadaannya sedang tidak stabil waktu itu. Andin sudah beberapa hari tidak enak badan. Dan kondisinya drop saat tiba di rumah Gerald.
Di rumah sakit, Andin melihat dengan mata dan kepalanya sendiri Gerald dan Yoga masih berdebat atas dirinya.Andin sebenarnya tidak bisa memilih salah satu dari mereka, karena keduanya adalah orang orang terpilih di hatinya. Yoga adalah sahabatnya, sedangkan Gerald adalah orang yang sangat di cintai nya.
Semua itu sungguh membuat Andin pusing. Ia ingin sejenak merefresh dirinya untuk kembali stabil seperti semula. Menyingkirkan semua perasaan yang bisa membebani pikirannya. Andin ingin pergi menenangkan diri.
Pergi ke Yayasan adalah salah satu cara untuknya menenangkan diri dari segala hal yang berbau Gerald ataupun Yoga. Tapi ternyata, kemanapun ia pergi, Tuhan kembali mempertemukan Andin dengan Gerald.
Selepas pertemuannya kemarin dengan Gerald. Andin semakin tidak bisa menenangkan hatinya. Ia selalu gelisah. Andin selalu mengingat wajah Gerald yang tiba-tiba terdiam saat mendengar Andin mengatakan "ya" saat Gerald bertanya apakah dia mau menikah dengan Gerald?
Gerald seperti terlihat bingung dan bimbang.Gerald seperti merasa begitu berat jika harus kehilangan Ica. Padahal Gerald berulang kali mengatakan kalau dia masih mencintai Andin. Dan masih mau kembali pada Andin. Tapi kenapa? Kemarin Gerald terlihat begitu bingung dan ragu.
Andin merasa kalau Gerald sudah jauh berubah. Mungkin kehadiran Ica sudah berhasil mengisi sedikit kekosongan di hati Gerald. Mungkin juga kehadiran Ica sudah bisa menggantikan posisi Andin di hati Gerald selama ini.
Sebuah tepukan kecil di pundaknya, membuat Andin sedikit terperanjat.
Andin menoleh.
"Hai..! " Sapa Yoga yang sudah berdiri di belakangnya. "Kok melamun?" Tanya Yoga kemudian sembari mendaratkan ciuman di pipi kiri Andin.
Andin tersenyum dengan ujung bibirnya tanpa menjawabnya.
__ADS_1
"Ngelamun apa sih, beb? " Tanya Yoga lalu duduk di depan Andin.Memperhatikan wajah Andin yang masih tampak lemah.
Andin masih belum sepenuhnya sehat. Dia masih harus banyak istirahat lagi. Wajahnya masih tampak pucat.
Andin masih tidak menjawab. Dia terlihat hanya diam sambil menyandarkan bahunya di kursi meja kerja di ruangan kantor Yoga.
"Kok di tanya diem aja, masih marah sama aku? "
Andin sedikit melirik ke arah Yoga. "Marah kenapa? Aku cuma lagi males ngomong. " Bantah Andin dengan cepat.
"Biasanya enggak males? "
"Yoga, stop! Jangan mulai membuat aku marah! "
"Loh kok marah? Kan cuma nanya? " Yoga tak mau kalah. "Sekarang ini, kamu jadi berubah sama aku. Ya jelas aku tanya? Kenapa kamu jadi lebih sering diam dan lebih banyak menghindari aku? "
"Aku enggak kenapa kenapa, kok kamu jadi baper gitu sih?"
"Ya wajar dong aku baper, kamu tiba-tiba aneh! "
"Menenangkan diri dari apa? "
"Menurutmu dari apa? "
"Dari aku? " Yoga mencoba menebak.
Andin beranjak dari duduknya. Dia terlihat agak mulai kesal pada Yoga. "Aku enggak bilang begitu loh! "
"Memang ga bilang, tapi sikapmu menyakitkan hati ku. "
"Oh ya? Apa kabar dengan kebohongan mu kepada ku selama ini? Kau kira kau tidak menyakiti hatiku? " Balas Andin dengan raut muka yang mulai kesal.
"Lalu aku harus apa? Aku sudah minta maaf."
__ADS_1
"Aku gak tau." Kata Andin agak berteriak. "Tolong biarkan aku sejenak menenangkan hati ku, Ga! Jangan paksa aku untuk terus berdebat. Aku capek, aku lelah dengan semua ini! "
Yoga mendekat ke arah Andin yang mulai terlihat lemah kembali. Yoga memegang tangan Andin dengan lembut, mengusap lalu menciumnya. Sebuah pelukan dari Yoga membuat Andin berhenti berbicara.
Andin tak bisa menolak pelukan dari Yoga. Bagaimanapun pelukan dari Yoga cukup membuat Andin sedikit tenang. Andin memang sedang membutuhkan sebuah pelukan seorang sahabat untuk menenangkan dirinya.
"Dengar, Andin! Kamu tak akan pernah bisa jauh dari aku. Kau akan selamanya terikat bersama ku! " Bisik Yoga di telinga Andin.
Mendengar Yoga mengatakan itu, Andin mencoba melepaskan pelukannya. Tapi Yoga teramat keras memeluk Andin, hingga Andin begitu sulit lepas dari pelukannya.
"Kau akan menyesal telah melakukan ini padaku! " Balas Andin di telinga Yoga.
Yoga lalu melepaskan Andin. Memberikan sedikit ruang untuk Andin bernapas.
"Aku sudah bicara baik baik kepada mu. Bahkan aku menganggap bahwa kau tak pernah mengatakan apapun padaku! Aku berharap kamu akan tetap menjadi sahabat ku. Tapi jangan salahkan aku jika kau akan menyesali apa yang telah kau lakukan ini! " Ucapnya dengan nada yang sedikit mengancam. Telunjuknya mengacung di wajah Yoga.
Yoga terlihat menyeringai. Dia kembali menarik tangan Andin dan kembali memeluk pinggangnya dengan paksa. "Aku akan dengan senang hati melihat apa yang akan kau lakukan kepada ku. "
"Yoga..! Stop...!" Andin mencoba menepis tangan Yoga.
"I Love you." Yoga tidak memperdulikan Andin yang mencoba berontak.
Sebuah ciuman mendarat dengan paksa di bibir Andin.
Plakk...!
Sebuah tamparan keras pun mendarat di pipi Yoga.
Yoga serentak memegangi pipinya yang di tampar oleh Andin dengan keras.
Tangan Andin terlihat sedikit bergetar. Andin terus memandangi tangannya yang akhirnya dengan tega telah menampar Yoga. Andin tidak menyangka bahwa dia akan melakukannya.
Andin menatap Yoga dengan perasaan menyesal.
__ADS_1
"Jangankan cuma di tampar, aku rela jika kau ingin membunuhku dengan tanganmu. Tapi jangan suruh aku berhenti mencintaimu. " Kata Yoga sambil memegangi pipinya yang memerah. " Lebih baik suruh aku mati saja, daripada kau suruh aku kembali menjadi sahabat mu lagi. Aku capek berpura-pura tak mencintaimu, Andin! "
**