
Marisa sudah tau Yoga tidak akan mau keluar kamar untuk makan malam. Yoga pasti akan bilang kalau dia tidak lapar. Untuk itu Marisa membawakan Yoga makan malam untuknya langsung kedalam kamar. Marisa tidak tega membiarkan suaminya tidur dalam keadaan banyak pikiran dan dalam keadaan perut kosong.
"Makanlah dulu sebelum tidur! Tidak baik menunda-nunda makan, nanti masuk angin. " Kata Marisa lalu menyimpan makanan di meja kerja Yoga.
Yoga melirik makanan yang Marisa sediakan. "Terimakasih." Jawabnya pendek.
"Masalah tidak akan selesai jika kau hanya diam di dalam kamar. Merenung sampai berhari-hari pun Andin tidak akan tau kalau kau sedang merindukannya kalau kau tidak bilang sama dia. "
Yoga sedikit memperlihatkan giginya yang putih bersih. Dia tersenyum mendengar Marisa berkata demikian.
"Sok tau.. " Kata Yoga masih sambil tertawa.
"Taulah.. " Jawab Marisa yang bahagia melihat Yoga akhirnya bisa sedikit tertawa. "Aku tau kamu mencintai Andin sudah sejak saat kita masih kuliah dulu. Aku tau betul, saat kamu sedang begitu merindukannya. Aku tau betul, kalau otak kamu sedang tidak bisa berpikir sebelum kamu bisa bertemu dengannya. "
Yoga kembali tertawa untuk kedua kalinya. Yoga begitu merasa takjub kepada Marisa yang ternyata begitu memahami dirinya. Yoga lupa bahwa sebelum Marisa menjadi istrinya, Marisa sudah lebih dulu menjadi teman dan jadi tempat curhatnya tentang Andin di jaman dulu.
"Ya kau memang benar. Aku sedang begitu merindukan Andin. Tapi aku tidak tau bagaimana cara menemuinya. "Jawab Yoga sambil mulai meraih makanannya.
"Telpon dulu kan bisa?"
"Ga lah." Kata Yoga terlihat menepis saran yang dikatakan Marisa barusan.
"Kenapa?"
"Aku sudah cukup membuat pusing hidupnya." Jawab Yoga.
Terlihat Yoga mulai mencicipi nasi dan lauk yang sudah Marisa sediakan untuknya di atas meja.
"Andai saja aku bisa melupakan dia. Tentunya hidup ku tidak akan seperti ini." Kata Yoga berandai-andai pada dirinya sendiri.
Kalau boleh memilih sebenarnya Yoga tidak mau hidup seperti ini. Kalau saja dia bisa membuat takdirnya sendiri. Yoga akan memilih membiarkan Andin bahagia dengan Gerald. Yoga akan meninggalkan Andin demi kebahagiannya. Tapi sayangnya, hidup tidak sesimpel itu. Bahkan Yoga belum bisa melupakan Andin hingga saat ini.
Marisa tak menjawab.
"Semakin aku berusaha melupakan dia, aku semakin merasa gila. Aku ingin marah, aku ingin teriak, aku ingin menangis. Pokoknya campur aduk. Bingung! Kerja jadi nggak fokus. Semuanya jadi serba salah." Yoga menambahkan perkataannya.
__ADS_1
"Pelan pelan. Kalau memang benar benar ada niat pasti ada jalan. Tapi kalau memang tidak bisa ya tidak usah di paksa. Jalani saja semampunya! Toh tidak ada yang memaksa juga kan kalau kau harus tetap melupakan Andin. "
"Semakin aku berusaha menjauh semakin aku ingin bertemu. Aku bingung bagaimana menjalani hari hari yang seperti ini. Aku tidak bisa kalau seperti ini terus! Aku harus semangat. Ada tanggungjawab besar di pundak ku untuk mengurus dan membesarkan anak anak di Panti sampai mereka sukses."Kata Yoga bergumam seperti pada dirinya sendiri.
"Aku tau." Jawab Marisa sambil tersenyum.
"Kau tidak marah padaku kan?" Yoga akhirnya menatap wajah Marisa yang juga sedang memandanginya.
"Untuk apa marah?"
"Karena aku tidak bisa menjadi suami yang baik yang bisa memberikan semua perhatian dan kasih sayang sepenuhnya untuk mu."
"Ya nggak apa apa. Kan itu sudah kita bahas sebelum menikah dulu. Aku tidak keberatan sedikitpun. Yang penting kamu masih perduli sama aku dan menyayangi Arjuna itu sudah lebih dari cukup buat aku.Cuma aku tidak suka kalau kamu menyiksa diri seperti ini. Kamu kan bisa datangi Andin ataupun telpon dia daripada terus diam dikamar sambil merenung yang tiada ujungnya."
Yoga tersenyum pahit.
Apa yang dikatakan Marisa memang sepertinya mudah. Tapi sulit bagi Yoga untuk melakukannya. Ada banyak ketakutan di hati Yoga untuk bersikap masa bodoh seperti dulu. Yoga takut sikap egoisnya akan kembali menghancurkan senyuman Andin yang kini sudah kembali bahagia.
"Kau sudah begitu baik padaku, aku malu karena aku justru tidak bisa membalas semua kebaikan mu selama ini." Kata Yoga dengan jujur berkata kalau dia merasa begitu buruk di hadapan Marisa.
Yoga terlihat membalas senyuman Marisa sambil berusaha meraih tangannya.
"Andai aku bisa membahagiakan mu seperti suami suami pada umumnya, mungkin aku tidak akan merasa bersalah kepada mu." Kata Yoga dengan mencium mesra jari jemari Marisa.
Marisa terlihat mendekat lalu memeluk Yoga dengan erat. Baru hari ini Yoga memeluknya kembali setelah beberapa hari ini Yoga hanya terdiam tanpa bicara.
Marisa tidak tega melihat Yoga yang hanya terlihat berpikir beberapa hari ini. Tapi dia juga tidak tau bagaimana cara menolongnya. Yoga sudah melarangnya untuk ikut campur urusan Yoga dan Andin. Padahal Marisa ingin sekali datang dan menemui Andin untuk menyuruhnya datang dan menemui Yoga walaupun hanya sebentar.
"Habiskan makanan mu! Setelah itu jangan lupa istirahat! Jangan terus bergadang! Aku yakin besok pasti Andin datang mencari mu. " Kata Marisa menyudahi percakapan hari ini.
Yoga terdengar kembali tertawa.
"Sok tau.. " Lucu rasanya mendengar Marisa yang sok tau sejak tadi.
"Boleh kita taruhan? Kalau sampai Andin besok datang, aku minta satu hari mu hanya bersama ku. Tanpa memikirkan apapun dan siapapun hanya aku saja! Gimana? " Kata Marisa dengan begitu yakin akan semua kata katanya.
__ADS_1
"Boleh. Kalau enggak datang?"
"Aku jamin dia pasti datang. " Jawab Marisa tetap dengan percaya diri.
"Oke,,oke,,kau begitu berniat membuat aku bahagia hari ini. Tapi lumayan, aku cukup tenang sekarang. Cukup bisa berpikir rasional." Jawab Yoga.
"Ya sudah, kalau begitu. Aku keluar dulu!" Kata Marisa kemudian pergi meninggalkan Yoga sendirian di kamarnya.
Yoga terlihat meraih ponselnya lalu melihat siapa yang mengirimkan pesan kepadanya barusan.
"Ga, dimana? " Sebuah pesan whatsapp di kirimkan Andin kepadanya.
"Di rumah." Jawab Yoga singkat. "Kenapa?" Tulisnya lagi kemudian.
"Aku on the way ke rumah mu sekarang!"
"Oh oke." Balas Yoga dengan begitu bahagia.
Akhirnya Yoga tidak usah capek capek cari alasan untuk bisa bertemu dengan Andin. Benar apa yang dikatakan Marisa,Andin akan datang menemuinya.
Yoga sempat takjub ketika tiba-tiba Andin mengirimkan pesan padanya. Apa yang baru saja Marisa katakan sekejap mata menjadi kenyataan. Andin benar-benar datang menemuinya sendiri.
"Aku di kamar atas, di ruangan kerja. Langsung ke atas saja. Marisa sedang istirahat. " Tulis Yoga kemudian.
"Yang buka pintu siapa?"
"Ada mbak yang bukain pintu."
"Oh ya udah. Bentar lagi aku sampai."
"Oke."
Yoga kembali menyimpan ponselnya dengan senyum yang begitu lebar di wajahnya.
Akhirnya orang yang ia tunggu berhari-hari untuk menghubunginya akhirnya datang dengan sendirinya tanpa bersusah susah mencari alasan.
__ADS_1
***