
Andin masih duduk di meja kerjanya saat Arman tiba-tiba datang memberi tahu kalau Gerald sudah datang menunggu Andin di depan Resto.
"Dia sudah dua kali datang ke sini mbak. " Kata Arman menjelaskan kalau Gerald sudah bolak-balik datang ke Resto dari tadi pagi.
Andin menghentikannya pekerjaannya. Lalu menutup laptopnya kemudian dia berdiri.
"Baik, bentar lagi aku kesana. " Kata Andin sembari mengambil tas kecilnya. "Aku akan pergi sama Gerald, jangan tunggu aku datang lagi ke Resto. Tutup saja jika sudah waktunya. Aku akan kerjakan laporan keuangannya di rumah nanti. " Kata Andin sambil berlalu.
"Baik, mbak. "Jawab Arman sambil mengikuti Andin di belakangnya.
Andin melangkah meninggalkan ruangan kerjanya menuju dimana Gerald sedang menunggunya.
Gerald tampak datar memandang Andin yang berjalan menuju kearahnya. Ada sedikit rasa marah dalam hatinya.
Gerald tau, kalau seharian Andin tidak bisa dihubungi karena pergi bersama Yoga entah kemana.
"Hai sayang.. " Sapa Andin mengecup sedikit bibir Gerald yang masih terdiam sambil memandangnya.
"Aku tidak ingin bertanya kemana kamu pergi. Yang ingin aku tanyakan kenapa kamu matiin handphone?" Kata Gerald tanpa basa basi. "Bisa kan kamu kabari aku agar tidak datang menjemput. Aku banyak kerjaan hari ini, tapi aku masih sempetin datang ke kosan untuk jemput kamu. Tapi kamu gak ada di tempat. Tega kamu yaa! Aku bela belain tinggalin kerjaan aku demi jemput kamu. Kamu tau berapa harga kerjaan yang aku cancel demi bisa tetap menjemput kamu? "
"Nggak."
Gerald tampak berdecak kesal.
"Iya aku minta maaf. " Kata Andin berusaha mengiba agar Gerald mau memaafkannya.
Andin tau seberapa besar ia telah membuat kesalahan hari ini.
"Aku sudah dua kali datang ke Resto tapi kamu masih saja belum datang. Sebenarnya apa yang sedang kamu lakukan di belakang aku? Pergi seenak jidat bersama laki-laki lain. Tanpa mengabari ataupun ijin dulu sama aku. "
"Ga ada apa-apa, kok. Aku tadi pergi karena ada urusan Yayasan yang gak bisa di tunda. " Jawab Andin berusaha membuat alasan.
__ADS_1
"Lucu, kau gunakan Yayasan untuk berbohong! " Jawaban Gerald dengan tertawa sinis.
"Iya,, aku tadi pergi sama Yoga jalan jalan. " Jawab Andin akhirnya mengakui kemana dia pergi tadi.
"Kau bilang jalan jalan, otak mu di mana? Kau pergi dengan laki-laki lain untuk jalan jalan sedangkan pacar mu bolak-balik mencari mu kemana-mana. " Kata Gerald dengan nada suara yang agak tinggi.
"Kan aku sudah minta maaf, Aku ganti ajak Ayang jalan jalan sekarang, gimana? " Kata Andin sambil menarik Gerald untuk berdiri. Lalu menyeret paksa Gerald untuk keluar dari Resto lalu naik ke mobil Gerald di parkiran.
Gerald terdengar menutup pintu mobilnya dengan sangat keras. Lalu terdengar dia berteriak sendiri sambil mengepalkan kedua tangannya.
Gerald geram pada kelakuan Andin yang keterlaluan.
"Yang.. aku minta maaf. " Rengek Andin kepada Gerald. "Aku tadi tidak enak menolak ajakan Yoga untuk pergi. "
"Kau ini aneh, kau bisa tidak enak pada Yoga tapi kau seenaknya perlakuan aku seperti ini. Dasar ga ada otak! " Kata Gerald masih dengan nada tinggi.
"Yang,,, aku janji tidak akan seperti ini lagi. Ini terakhir kalinya. " Kata Andin masih dengan mimik muka yang memelas.
Disepanjang perjalanan Gerald hanya terdiam.Dia masih tampak kesal pada Andin.Seringkali Andin melakukan hal tidak seharusnya dia lakukan.
Sedangkan Andin terus berusaha meminta maaf.Andin terus merengek meminta maaf disepanjang perjalanan hingga membuat Gerald yang sedang kesal pada dirinya tambah semakin pusing dengan kelakuannya.
"Udahlah Yang, berisik ngomong terus minta maaf kan aku nggak tuli. Aku dengar kamu ngomong. " Kata Gerald menghentikan Andin yang terus saja bicara.
"Berarti Ayang maafin aku? "
"Ya terpaksa,, tapi jangan di ulangi lagi."
"Oke, siap bos. " Jawab Andin sambil tersenyum.
Andin lega akhirnya Gerald bisa memaafkannya.
__ADS_1
Andin sebenarnya sengaja mematikan ponselnya dari pagi. Karena kalau tidak di matikan, Gerald akan banyak bertanya dan akan berusaha menggagalkan kepergiannya bersama Yoga.Gerald akan banyak bertanya ini itu kepadanya. Dan Andin malas berdebat.
Andin merasa sangat bersalah kepada Yoga. Beberapa waktu ini Andin selalu mengacuhkan keberadaannya. Andin ingin sedikit bisa membahagiakan Yoga meski tidak bisa sepenuhnya membuat Yoga bahagia.
Perjuangan Yoga selama ini dan kasih sayang Yoga yang tak pernah berubah kepadanya yang menjadi pertimbangan kenapa Andin belum bisa sepenuhnya kehilangan dia. Andin tidak tau apa yang akan terjadi jika Yoga kehilangan Andin sepenuhnya.
Ada banyak rasa sakit dan kecewa di hati Yoga kepada dirinya yang tidak bisa Yoga ungkapkan secara gamblang. Andin tidak tega memperlakukan Yoga dengan keras.Andin juga tidak tega jika dia harus meninggalkan Yoga sepenuhnya saat ini.
Bagaimanapun Yoga adalah orang yang selalu ada bersamanya disaat apapun. Yoga tidak pernah meninggalkannya dalam keadaan apapun. Yoga tidak pernah menjauhinya karena masalah apapun. Lalu alasan apa yang membuat dia harus menjauhi Yoga.
Lagipula, Andin dan Yoga sama-sama mempunyai tanggungjawab yang harus mereka jalani bersama sepanjang hidupnya yaitu memperjuangkan sekolah anak anak yang bernaung di dalam Panti Asuhan yang mereka kelola selama ini.
Andin akan merasa sangat bersalah jika Panti Asuhan yang mereka kelola akhirnya akan hancur karena masalah pribadi antara dirinya dengan Yoga. Masa depan anak anak di Panti ada di tangan mereka berdua. Untuk itu Andin tetap bersikeras untuk tetap bersama Yoga meski mempertaruhkan segalanya termasuk hubungannya dengan Gerald.
"Sebenarnya yang ada di hati kamu itu aku atau Yoga sih? " Tiba-tiba terdengar Gerald bicara.
Pertanyaan Gerald membuat Andin sedikit tertegun. Kemudian ia menjawab.
"Yang aku cintai itu kamu. " Jawab Andin sambil melirik kearah Gerald.
"Itu tidak menjawab pertanyaan ku. "
"Lalu aku harus jawab apa, kan emang bener yang aku cintai itu ya kamu. Masa aku harus jawab Yoga."
"Aku tau Ayang cinta sama aku, tapi Ayang sayang juga kan sama Yoga. "
Andin terdiam.
"Ayang begitu tidak ingin membuat dia kecewa, tapi Ayang tega membuat aku kecewa. Apa dia lebih spesial dibanding aku? "
Andin terlihat menghela nafasnya. "Berkali-kali kita putus kemudian kembali bersama, putus lagi lalu bersama lagi, yang kita perdebatkan selalu saja sama. Bertahun-tahun kita tak pernah membahas hal yang lain, selalu masalah ini yang selalu di ributkan. Masalah ini seperti lingkaran setan yang selalu berputar putar di situ terus. Seperti labirin yang tidak ada jalan keluarnya. Aku capek,, aku sudah berulang kali menjelaskan, tapi Ayang selalu menanyakan hal yang sudah sering kali aku jelaskan. "
__ADS_1
***