
Kita beralih cerita di tempat lain.
Andin masih memegang ponselnya dari tadi. Menutup lalu membuka kunci ponselnya dengan raut wajah yang tampak gelisah.Dia masih terlihat merenung seperti orang yang sedang kebingungan.Mondar mandir ke sana-kemari. Dia juga terlihat menggigit sedikit bibirnya. Dia tampak khawatir akan sesuatu.
"Kenapa, mbak?" Tanya Arman yang datang membawakan segelas minuman dingin untuk Andin.
Arman tau Andin sedang mencemaskan sesuatu, makanya dia datang untuk memberikan support kepada Andin dengan membawakan segelas minuman dingin kesukaan Andin.
"Marisa sedang di rumah sakit, Man." Kata Andin.
"Ya kalau mau melahirkan emang harusnya di rumah sakit, mbak. Kalau di rumah, baru itu salah." Kata Arman sambil meletakkan minuman yang dia bawa di atas meja.
"Ah kamu, ya iya kalau mau melahirkan ya di rumah sakit. Maksudnya, aku tegang Arman."Andin mendelik, melototi Arman yang sedang senyum senyum sendiri sambil menatap ke arah dirinya.
"Mbak Marisa yang mau melahirkan kok jadi mbak Andin yang tegang. Gimana sih mbak?" Arman masih terlihat menggoda Andin yang sedang tampak khawatir itu.
"Ih, Arman. Jangan bercanda terus dong lagi serius nih. " Andin mulai kesal, karena Arman terus saja bercanda. Padahal Andin sedang benar-benar khawatir pada keadaan Marisa.
Kemarin Yoga bilang kepadanya, kalau sampai nanti sore masih belum ada pembukaan, dokter menyarankan agar Marisa di operasi sesar saja. Tapi sampai sore tadi Yoga masih belum menghubungi Andin. Chat Andin yang tadi siang pun belum Yoga baca. Berarti Yoga belum sempat membuka hapenya.
"Udah, mbak Andin tenang saja. Mbak Marisa pasti baik baik saja. Dia sudah di tangani dokter di rumah sakit. Mbak Andin hanya tinggal berdoa! Tunggu Resto tutup dulu baru kita ke rumah sakit buat jenguk mbak Marisa." Ucap Arman meyakinkan Andin yang sedang cemas agar lebih tenang.
"Ya udah, cepetan beresin Resto. Bentar lagi mau tutup!" Kata Andin seperti yang sudah tidak sabar untuk menutup Restonya, agar ia bisa cepat cepat pergi ke rumah sakit untuk mengetahui keadaan Marisa secara langsung.Kebetulan jam sudah menunjukkan jam 20.45 malam. Sebentar lagi jam 9 dan Resto akan tutup.
"Ok, mbak." Ucap Arman seraya berlalu dari hadapan Andin yang masih tampak khawatir akan keadaan Marisa.
Iya Marisa, teman Yoga waktu di Jogja yang dulu datang untuk menggantikan posisinya di Resto waktu itu. Tapi kedatangan Marisa ternyata membawa keberuntungan sendiri untuk Yoga. Tak berselang lama dari kedatangan Marisa, Yoga akhirnya memutuskan untuk menikahi Marisa. Iya Yoga dan Marisa berjodoh.
Selain keduanya sudah lama saling kenal, Marisa juga memang sudah lama mencintai Yoga sejak mereka masih sama sama suka nongkrong bareng di Jogja. Dan Yoga juga akhirnya merasa cocok dengan Marisa, ya sudah akhirnya mereka memutuskan untuk menikah.Tak butuh waktu yang lama untuk penjajakan, karena mereka sudah saling kenal sejak lama. Kurang lebih sudah mengenal baik satu sama lain.Mereka hanya tinggal meyakinkan diri mereka untuk mengikat hubungan mereka lebih dari sekedar teman. Karena hubungan pernikahan tentu berbeda dengan hubungan pertemanan, walaupun mereka sudah saling mengenal sejak lama.
__ADS_1
Marisa adalah wanita yang baik. Selain cantik, Marisa juga seorang yang sangat pengertian. Sampai akhirnya mereka menikah, Marisa tidak pernah satu kali pun komplain akan hubungan Andin dan Yoga. Marisa mengerti hubungan mereka dan tak pernah satu kali pun mengungkapkan rasa keberatannya kepada Andin atau pun Yoga.Marisa hidup bahagia bersama Yoga bersama Andin di tengah tengah mereka.
Resto yang tadinya akan di kelola oleh Marisa dan Yoga, ternyata tidak jadi diambil alih oleh Marisa. Karena setelah menikah, Yoga dan Marisa harus kembali ke Jogja. Resto kembali di kelola oleh Andin dan Arman. Dan Yoga serta Marisa hidup tenang di Jogja selama kurang lebih satu tahun.
Dan baru satu tahun ini Yoga dan Marisa kembali pulang ke Bandung karena keadaan ibunya Yoga yang sudah sepuh. Beliau tinggal sendiri karena anak anaknya yang lain semuanya berada di luar kota termasuk Yoga. Maka dengan pertimbangan yang matang, atas kesepakatan keluarga besar,akhirnya Yoga dan Marisa memutuskan untuk kembali ke Bandung untuk merawat sekaligus menemani ibunya.
Setelah beberapa bulan mereka tinggal di Bandung, Marisa langsung hamil dan hari ini akan melahirkan anak pertamanya.
Marisa sudah dua hari berada di Rumah sakit, dan hari ini adalah hari yang di tentukan dokter untuk operasi Sesar jika masih ada kendala dengan persalinan Marisa.
***
Di Rumah sakit.
Keluarga inti dari kedua belah pihak sudah berkumpul di Rumah sakit. Suka cita menyambut jagoan cilik baru di keluarga mereka. Ya,seorang bayi laki-laki telah lahir dari rahim Marisa. Seorang malaikat kecil baru saja lahir ketika Andin dan Arman datang ke rumah sakit.
Suasana penuh haru menyelimuti keluarga mereka. Apalagi Yoga yang terlihat begitu amazing melihat dirinya sudah menjadi seorang ayah. Dia masih menitikkan air mata saat memandangi wajah bayi mungil yang baru saja di lahir kan ke dunia ini.Bayi kecil mungil dari darah dagingnya sendiri.
Yoga memeluk Andin yang berdiri di sebelahnya, memandangi wajah bayi mungil yang masih berada di ruang incubator.
"Anak kita. " Kata Yoga dengan nada suara yang masih terharu melihat semua ini.Dia masih tampak berkaca kaca melihat bayinya. "Kita akan besarkan anak kita bersama sama. " Tambahnya sambil tetap menatap wajah Andin yang berada di sampingnya.
Andin sedikit mengangguk, ia juga terharu. Akhirnya dia bisa menyaksikan Yoga berbahagia bersama pasangannya beserta anaknya juga. Andin bisa menyaksikan sendiri kebahagiaan itu dan bisa merasakannya juga bersama sama dengan Yoga.Dia berada di tengah tengah kebahagiaan mereka bertiga.
"Akhirnya kamu sah menjadi, tante."Goda Yoga kepada Andin.
Andin tersenyum, sambil masih terharu melihat bayi kecil yang lucu yang berada di hadapannya. Walaupun hanya melihat dari kejauhan, karena masih dalam ruangan incubator, tapi bayi kecil itu tampak lucu dan menggemaskan. Sekilas wajahnya mirip dengan Yoga, sekilas juga tampak mirip dengan Marisa.
"Kan kau beri nama siapa anakmu, Ga?" Tanya Andin,tetap dengan pandangannya menatap ke arah bayi yang sedang tertidur lelap di incubator.
__ADS_1
"Entahlah, tunggu Marisa sehat dulu. Pulang dulu ke rumah, baru kita siapkan nama."
"Memang kamu belum menyiapkan nama sebelumnya?"
"Belum" Jawabnya, "Kenapa? Kau mau sumbang nama buat anak ku?"
"Enggak, penasaran aja. Pengen cepet cepet tau namanya." Jawab Andin, tersipu saat dia ditanya apakah akan menyumbangkan nama untuk anaknya Yoga.
Yoga dan Andin berjalan kembali ke ruangan di mana Marisa di rawat.Kembali menemani Marisa yang baru saja selesai makan dan minum susu yang sudah disediakan oleh rumah sakit. Marisa belum boleh makan makanan dari luar kata dokter. Kondisinya masih lemas, masih terpasang juga selang infus di tangannya.
Tadi Yoga meninggalkannya sebentar, karena Andin ingin melihat bayinya di ruang incubator.
"Gimana perasaan mu sekarang, sayang?" Tanya Yoga lalu duduk di samping tempat tidur Marisa, memegangi dan mencium kening Marisa dengan lembut.
Marisa tak menjawab, tampak dia masih terlihat menahan sakit. Dia masih belum mau banyak bicara.
"Masih perlu istirahat di rumah sakit satu atau dua hari lagi. Baru boleh pulang. " Sahut ibu Marisa dari belakang.
"Apa kabar tante?" Sapa Andin kepada ibunya Marisa yang baru saja masuk ke ruang rawat.
"Andin ya?" Tanya ibunya Marisa kepada Andin.
"Iya." Jawab Andin.
"Kabar tante baik. Kabar kamu gimana ?"
"Baik juga tante." Jawab Andin seraya mengulurkan tangan untuk menjabat tangan ibunya Marisa.
***
__ADS_1