
Setelah sampai di kontrakan Andin yang baru, Gerald bergegas merebahkan dirinya di sofa yang ada di kamar Andin.Berjalan selama beberapa menit saja mampu membuat kakinya merasa kelelahan, maklum sekarang Gerald sudah jarang pergi ke gym untuk olahraga.Dia sudah hampir tidak pernah kemana-mana berjalan kaki.Kecuali dia pergi belanja ke Mall barulah dia berjalan kaki,itupun hanya sebentar dan tidak setiap hari.
Apalagi semenjak Andin pergi meninggalkannya, Gerald bahkan sudah tidak pernah lagi pergi ke Mall walaupun hanya untuk sekedar berjalan jalan saja.Gerald selalu menghabiskan waktunya untuk duduk dan merenung. Selebihnya dia gunakan untuk bekerja dan beristirahat.
Sedangkan Andin pergi ke dapur untuk menyiapkan minuman untuk Gerald yang kelelahan setelah berjalan kaki.
Gerald menatap ke sekeliling ruangan kontrakan Andin yang tampak agak lebih besar dari kontrakannya yang dulu. Disini Andin cukup leluasa untuk menyimpan barang.Tidak sumpek seperti kontrakannya yang dulu.Walaupun sebenarnya barang barang Andin juga tidak terlalu banyak. Hanya barang barang yang di gunakan untuk keperluan sehari-hari dirinya sendiri.Lagi pula di sepanjang perjalanan tadi Andin bercerita, kalau selama pindah ke kontrakan yang baru, Andin juga jarang ada di rumah. Dia selalu menghabiskan waktunya untuk bekerja di Kafe bersama Yoga.
Di samping tempat tidurnya, di atas meja kecil terpajang foto jadul dirinya dan Andin di jaman pertama kali mereka bertemu empat tahun yang lalu. Di foto itu mereka tampak begitu bahagia.Tak tampak beban di wajah mereka saat itu. Gerald Tampak tersenyum geli melihat foto jadulnya yang masih di pajang oleh Andin.
Gerald meraihnya, lalu menatapnya berulang ulang kali sambil tersenyum senyum sendiri.
Andin datang memberikan segelas minuman dingin kepada Gerald.
Gerald menyimpan kembali pigura fotonya, lalu menerima minuman yang di berikan Andin kepadanya.Gerald meneguk minumannya tanpa jeda karena dia benar benar merasa kehausan setelah beberapa menit berjalan kaki.
"Kenapa kau senyum senyum lihat fotoku?" Tanya Andin lalu duduk di sebelah Gerald. "Cantik kan aku di foto itu?" Tanyanya kemudian dengan percaya diri.
"Mana ada cantik?" Gerald mencoba membantah. "Jelek pun! Kurus kering kayak ranting pohon."
"Cantik lah, mana ada kayak ranting pohon!" Kata Andin sambil meneguk minuman yang sedang di pegang nya. "Yang ada kau yang jelek,item,dekil, hidup pula kau ini,Yang?"
"Emang aku jelek, tapi kau cinta mati sama aku!" Jawab Gerald sambil tertawa.
Andin mendelik, tak terima rasanya Gerald bicara seperti itu padanya.Tapi yang di katakan Gerald memang benar adanya. Dia begitu mencintai Gerald selama ini.
"Kenapa cemberut, Ayang? Betulkan apa yang aku bilang, biar hitam, biar dekil, kau jatuh cinta sama aku.Tak apalah aku jelek yang penting banyak duit ku,Yang!" Tambah Gerald dengan bangga menyebut dirinya banyak uang.
__ADS_1
Andin tak berkata apapun lagi. Tiba-tiba dia menyandarkan kepalanya di pundak Gerald dengan manja.
"Kangen kayak gini, Yang! Sejak Ayang marah sama aku, aku ga pernah di peluk lagi sama Ayang.Ayang terus saja diam tidak mau mengajak aku bicara." Kata Andin lalu memeluk Gerald.
"Maafin aku, Yang! Aku janji, semarah apapun aku sama Ayang aku ga akan pernah diemin Ayang lagi."
Gerald terlihat menciumi kening dan rambut Andin yang terurai sembari balas memeluk Andin dengan erat.
Rindu juga rasanya dia memeluk Andin seperti ini. Sudah lama sekali sejak Andin pergi, tak pernah lagi dia merasakan kebahagiaan seperti ini. Rasa bersalah yang selalu datang menghampiri di setiap hari yang berganti selama beberapa bulan ini, hari ini sudah tak lagi Gerald rasakan. Sudah lega rasanya, setelah pertemuan beberapa minggu yang lalu akhirnya membawa Andin kembali di hidupnya.
Semuanya memang seperti mimpi, mimpi buruk yang berakhir bahagia. Walaupun belum sepenuhnya bahagia karena Gerald masih merasa bahwa Yoga akan tetap menjadi duri dalam daging di dalam hubungan mereka. Yoga akan tetap membuat hubungannya dengan Andin akan mengalami banyak masalah. Kecuali Yoga dan Andin bisa di pisahkan.
Tapi apa yang akan membuat mereka berpisah. Gerald juga tidak bisa memaksa Andin untuk menjauhi Yoga.
Tapi dengan cepat Gerald menepis pikiran buruknya. Berharap bahwa apa yang dia pikirkan saat itu tidak akan pernah menjadi kenyataan. Semoga semua harapannya tentang Andin akan berjalan mulus seperti apa yang dia pikirkan setelah ini. Tak lagi ada keributan yang akan membuatnya terpisah kembali dengan Andin.
Waktu berjalan begitu cepat, tak terasa hari sudah mulai gelap ketika Gerald menyadari bahwa dia sudah terlalu lama memarkirkan mobilnya di kafe favorit. Bercengkrama seharian dengan Andin membuatnya lupa segala hal. Rasanya waktu tak akan pernah cukup untuknya, dia tidak ingin pulang dan meninggalkan Andin di sana sendirian. Tapi sebagaimana pun rindunya dia, Gerald tetap harus pulang. Ada hal yang harus dilakukan tanpa ada Andin di sampingnya.
"Kalau aku sempat, aku besok mampir." sambil merapikan rambut Gerald yang terlihat agak berantakan.
Gerald mencoba menggenggam tangan Andin dengan lembut. "Ikutlah pulang bersama ku, Yang! Temani aku di rumah. Sepi rumah tanpa Ayang di sana."
"Alah,,gayamu, kalau lagi cinta kau ga mau lepas kayak perangko. Kalau lagi marah, kau diamkan aku! Benci aku tengok gaya mu." Kata Andin mencoba menghentikan keromantisan yang sedang terjadi.
"Ihh, kau ini. Kau bilang jangan bahas masalah yang udah terjadi. Tapi kau ulang ulang terus kata katamu. Kau sindir sindir aku terus! Aku tau aku salah.Aku kan udah janji ga bakalan kayak gitu lagi."
"Lo emang iya, kan. ko ga terima?"
__ADS_1
"Ya,iya.Kan aku udah bilang minta maaf."Ucap Gerald penuh rasa penyesalan.
Andin tersenyum geli mendengar Gerald yang terus merasa bersalah. "Ya, udah. Iya,iya!" Katanya seraya memeluk kembali Gerald dengan mesra.Tak lupa juga sebuah kecupan mendarat di bibir Gerald dengan lembut.
Setelah merapikan diri Gerald akhirnya pergi juga meninggalkan rumah kontrakan Andin walaupun dengan sangat berat hati. Berulang ulang kali Gerald membalikkan badannya untuk terus melambaikan tangannya pada Andin. Dia harus berjalan kaki kembali ke kafe favorit tempat dia memarkirkan mobilnya tadi siang. Lumayan lah beberapa menit kemudian dia baru sampai di sana.
Penuh perjuangan memang hari itu, tapi Gerald tetap merasa bersyukur karena hari itu menjadi awal kembalinya Andin di kehidupannya.
***
Sesampainya di rumah, Fadil telah menunggunya di ruang tamu.Menunggu kabar baik yang akan di sampaikan oleh Gerald saat itu.Dia terus menatap ke arah Gerald yang sedang berjalan menuju ke hadapannya.
Gerald terlihat melepaskan jaketnya, lalu melemparkannya ke arah Fadil yang tengah memperhatikannya.
"Matamu,kondisikan Fadil!" Katanya seraya menyandarkan tubuhnya di kursi.
Fadil menyingkirkan jaket yang di lempar Gerald kepadanya lalu meletakan nya di sampingnya.
"Gimana, bang?" Tanyanya seperti begitu penasaran dengan hubungan Gerald dengan Andin sekarang.
"Menurut mu?"
Fadil terus memperhatikan Gerald dari tadi.Terlihat kebahagiaan yang terpancar dari aura wajah Gerald saat itu.
"Lo udah baikan sama Andin?" Tebaknya.
Gerald menjawab dengan sebuah senyuman.Senyuman yang tampak ia begitu bahagia saat itu.Semua yang diharapkan sesuai dengan keinginannya.Penantian yang begitu lama, terbayar dengan satu kali pertemuannya dengan Andin tadi sore.
__ADS_1
Fadil yang melihat Gerald begitu bahagia hari itu turut juga berbahagia.Akhirnya setelah berbulan bulan lamanya Gerald tidak pernah tersenyum. Kini senyuman itu kembali hadir di kehidupannya.Takan lagi Fadil melihat keterpurukan di wajah Gerald.Dan Fadil tak perlu lagi mengkhawatirkan keadaan Gerald setelah hari ini.Semoga hari ini menjadi awal kebahagiaan Gerald bersama Andin.
***