Kisah Cinta Andin Dan Gege

Kisah Cinta Andin Dan Gege
Pertemuan Gerald Dan Yoga #85


__ADS_3

Di tempat lain.


Gerald duduk menghadap Yoga di kantornya sebagai donatur dan Yoga sebagai penanggung jawab Yayasan yang dia kunjungi. Gerald berusaha menghilangkan rasa bencinya terhadap Yoga kali ini.


Gerald tidak mengerti kenapa tiba-tiba Andin di coret sebagai penanggung jawab di Panti Asuhan. Tiba-tiba posisi Andin di gantikan dengan orang lain yang bernama Nadia.


Sedangkan Andin tak pernah bercerita tentang pengunduran dirinya dari Panti kepada Gerald. Andin juga tidak pernah bercerita tentang Nadia kepadanya.


"Bisa jelaskan kenapa tiba-tiba Andin di berhentikan dari Panti ini? " Tanya Gerald dengan raut muka yang dingin.


Gerald menatap wajah Yoga tanpa senyum dan penuh tanda tanya.


"Saya tidak punya keharusan menjelaskan tentang alasan saya memberhentikan Andin kepada anda, pak Gerald. " Jawab Yoga,juga tidak kalah dingin. "Karena anda tidak ada hubungan apapun dengan Yayasan kami kecuali hanya sebagai donatur rutin saja. Urusan intern Yayasan ini, sepenuhnya ada di tangan saya. "


"Ga, tolonglah jangan bersikap formal seperti ini. Aku cuma ingin tanya apakah Andin tau kalau dia di berhentikan dari Panti? " Gerald kembali bertanya sembari terlihat sedikit mengemis kepada Yoga.


"Sudah." Jawab Yoga dengan tegas.


"Yakin? " Tanya Gerald, agak sedikit mengernyitkan dahi.


"Saya sudah jelaskan alasan saya memberhentikan dia dari Yayasan kami. Dan dia juga tidak merasa keberatan. "


"Kau bercanda. " Gerald seolah tak percaya dengan kata-kata Yoga.


"Dia lebih memilih fokus menjadi editor di kantor Pak Gerald. " Jawab Yoga dengan menatap tajam kearah Gerald.


"Ga please! Kita bicara dari hati ke hati. "


"Di Yayasan ini pak Gerald adalah donatur kami. Maka kita bicara secara profesional sebagai donatur dan penanggung jawab Yayasan. Tapi kalau ingin bicara diluar urusan Panti, mari kita bertemu di tempat lain. Akan saya buatkan janji. Nanti Nadia yang akan menghubungi pak Gerald. "


"Ga, Panti ini adalah mimpi bagi Andin. Dia memperjuangkan segalanya bagi Panti ini. "


"Kalau tidak ada urusan lagi, silahkan pergi pak! Saya masih banyak urusan. " Kata Yoga mempersilahkan Gerald untuk keluar dari ruangan kerjanya.


"Tapi, Ga! "

__ADS_1


"Silahkan pak! " Kata Yoga kembali mempersilahkan Gerald untuk keluar dari ruangan kantornya.


Gerald akhirnya keluar dengan terpaksa. Gerald juga akhirnya pamit kepada bu Aisyah dan anak-anak untuk pulang.


Gerald tak habis pikir kenapa Yoga tega memberhentikan Andin dari Panti. Sedangkan Yoga tau, kalau Panti adalah nyawa bagi Andin. Sedangkan Yoga tau kalau Andin tidak akan pernah bisa lepas dari Panti dan anak-anak.


Gerald tak bisa menebak apa yang sedang terjadi pada mereka berdua. Tapi meski begitu bencinya Gerald kepada Yoga. Gerald tak pernah ingin Andin keluar dari Panti.


Yayasan adalah tempat Gerald bisa sedikit melepas lelah dengan melihat tawa dari anak anak yang bahagia ketika dirinya datang dengan begitu banyak bawaan untuk mereka.


Jika Panti sebegitu pentingnya bagi Gerald, tentu Panti juga sangat penting bagi Andin.


Gerald tak percaya jika Andin benar-benar sudah tau kalau dirinya telah di berhentikan dari Panti seperti apa yang dikatakan Yoga kepada dirinya. Gerald juga tidak percaya kalau Andin juga telah memilih bekerja sepenuhnya di kantor miliknya.


Dengan berbagai pikiran bingung di sepanjang perjalanan pulang, akhirnya Gerald memutuskan untuk berhenti sejenak di Resto milik Yoga yang beberapa waktu lalu masih di pegang oleh Andin.


Gerald berniat menemui dan berbicara kembali dengan Yoga, benar benar menjadi diri mereka bukan antara donatur dan penanggung Jawab Panti. Gerald ingin tau yang sebenar benarnya alasan Yoga memberhentikan Andin dari Yayasan.


Setelah memarkirkan mobilnya, Gerald masuk kedalam Resto dan duduk di salah satu kursi yang masih kosong.


"Tolong panggilkan manager Resto-nya mas! " Kata Gerald kepada sang pelayan yang menghampirinya untuk menawarkan menu.


Gerald terlihat menunggu agak lama. Hingga akhirnya beberapa saat kemudahan seorang pria menghampirinya.


Pengganti Andin di Resto itu ternyata adalah Arman. Seorang pria yang dulu lalu pernah memukulinya. Arman terlihat tidak menyukai Gerald dari semenjak mereka bertemu untuk pertama kalinya. Padahal Gerald tak pernah melakukan kesalahan apapun kepadanya.Kenal juga enggak. Tapi Arman begitu membencinya.


"Pa kabar, bro? " Tanya Gerald saat Arman sudah berada di hadapannya.


"Baik." Jawab Arman sambil menjabat tangan Gerald yang mengalaminya.


"Boleh ganggu waktunya sebentar, bro? "


Arman terlihat sedikit hening ketika Gerald mempersilahkan dirinya untuk duduk dihadapannya.


"Tapi maaf ga bisa lama. Soalnya gue lagi banyak kerjaan. " Jawab Arman terlihat seperlunya.

__ADS_1


Apa pentingnya juga berbicara dengan Gerald. Dia bukan orang penting bagi dirinya. Tidak penting juga harus bersikap baik padanya, toh Andin juga tidak akan tau kalau dia memperlakukan kekasihnya dengan buruk.


Lagipula Arman sedikit kesal kepada Andin yang lebih memilih meninggalkan Resto dan kembali kepada Gerald. Padahal Arman melihat dengan mata dan kepalanya sendiri bagaimana Yoga berjuang saat Andin berpisah dan di jauhi Gerald. Arman melihat perjuangan Yoga untuk bisa membahagiakan Andin selama ini. Dan kini Andin dengan tanpa perasaan pergi meninggalkan Yoga sendirian. Kembali kepada Gerald yang sudah berulang kali menyakiti hatinya.


Tidak penting juga menjaga perasaan Gerald.


"Cuma sebentar kok, bro. Cuma minta Yoga untuk datang kesini sekarang. " Kata Gerald dengan sedikit tersenyum.


Arman menatap tajam wajah Gerald. Arman bingung kenapa tiba-tiba orang gila ini datang dan ingin bertemu dengan Yoga. Apa yang akan mereka bicarakan?


"Kepentingannya apa ya? " Tanya Arman dengan sedikit nada suara yang sinis dan tidak terlalu perduli.


"Gue cuma mau ngopi bareng aja, lo tinggal telpon dia dan kasih tau kalau gue sedang menunggu dia disini. " Jawab Gerald sambil kembali tersenyum.


Gerald tau bagaimana perasaan Arman. Mungkin dia khawatir kalau dia akan mengajak Yoga untuk berantem. Padahal sama sekali tidak. Berantem hanya dilakukan untuk orang orang yang tidak berpendidikan menurut Gerald.


Menyelesaikan masalah tidak harus dengan beradu fisik meski ia begitu membenci Yoga.


"Tenang saja, bro. Gue nggak akan ngapa ngapain kok. " Gerald kembali menyakinkan Arman yang masih terlihat khawatir.


Arman terlihat mengeluarkan ponselnya lalu menelpon Yoga.


"Halo, mas. "


" Iya. " Jawab Yoga dari dalam telpon.


"Ini ada Gerald nunggu di Resto, katanya ingin bicara. "


Yoga terdengar hening sejenak.


"Gimana, mas? " Arman mengulang pertanyaannya.


"Suruh tunggu aja! Satu jam lagi aku datang. " Kata Yoga lalu menutup telpon.


Arman kembali menatap Gerald yang terlihat sedang menantikan jawaban darinya apakah Yoga mau bertemu dengan dirinya atau tidak.

__ADS_1


"Silakan tunggu, mas Yoga akan datang satu jam lagi! "


***


__ADS_2