Kisah Cinta Andin Dan Gege

Kisah Cinta Andin Dan Gege
Andin Hanya Terdiam #78


__ADS_3

Yoga tengah memeriksa laporan keuangan yang di berikan bu Aisyah saat Andin datang menghampirinya di ruang kerjanya di Panti.


Andin tak banyak bicara saat datang. Dia hanya terlihat duduk sambil memainkan ponselnya. Andin juga tidak berani mengganggu Yoga yang sepertinya tengah fokus dengan pekerjaannya.


Selain tidak ingin mengganggu, Andin juga merasa kalau Yoga terkesan cuek dan mendiamkannya. Saat Andin masuk bahkan duduk Yoga tidak meliriknya sama sekali. Yoga tidak bereaksi. Dia tetap fokus memeriksa berkas yang ada di atas mejanya. Yoga tak terlihat antusias melihat Andin datang dan duduk di depannya. Dia tetap fokus pada berkas yang sedang di periksanya.


Sudah berminggu minggu setelah pertemuan Andin dan Gerald waktu itu. Andin tidak pernah lagi menemui Yoga ataupun sekedar menelponnya. Andin benar-benar menepati janjinya untuk sebisa mungkin menjauhi Yoga. Walaupun sebenarnya dia tidak tega, tapi Andin ingin memperlihatkan keseriusannya untuk jauh dari Yoga kepada Gerald.


Andin ingin memperlihatkan bahwa sebenarnya dia juga berjuang untuk hubungan mereka selama ini. Andin juga berusaha sebisa mungkin menjaga perasaan Gerald meski dengan itu Andin harus menyakiti hati Yoga.


Jauh di lubuk hati Andin, ia sama sekali tidak tega memperlakukan Yoga seperti ini. Tapi apalah daya,, sudah saatnya kini Andin memprioritaskan Gerald di atas segalanya.


Andin sudah cukup menyakiti hati Gerald selama ini dengan tetap berhubungan dengan Yoga. Kini saatnya Andin harus memperbaiki semuanya dari awal. Meski sebenarnya apa yang sedang dilakukannya menyalahi hati nurani.


Baru hari ini Andin menyempatkan datang ke Panti karena bu Aisyah menelpon untuk memberi tahu kalau ada donatur yang ingin bertemu dengan Andin dan juga Yoga. Andin terpaksa harus datang karena profesionalitas pekerjaan. Bagaimanapun Andin adalah salah satu pemilik dan juga pendiri Yayasan tersebut meski Andin tidak sepenuhnya memegang Panti.


Hampir setengah jam mereka berdua saling terdiam. Tak ada satupun yang mau mengawali pembicaraan.Satu sama lain seperti enggan untuk memulai saling bicara.


Hingga akhirnya Yoga yang mengalah dan mulai bertanya kepada Andin. Lagipula mereka akan tetap bicara meski tidak sekarang.Yoga akan tetap bersikap profesional kepada Andin dihadapan para donatur.


"Pertemuannya masih nanti sore, kenapa sudah datang? " Kata Yoga sembari melirik kearah Andin.


Andin menoleh kepada Yoga yang sudah mulai menutup berkas yang ada di mejanya.


"Nggak pa pa. Mau istirahat dulu aja sambil nunggu. " Jawab Andin.


Dia bingung mau jawab apa. Andin merasa kalau Yoga tengah mendiamkannya. Dari tadi Yoga hanya diam, berpura-pura memeriksa laporan keuangan yang harusnya sudah selesai dari tadi.


Yoga beranjak keluar dari ruangan tanpa sepatah katapun kepada Andin. Lalu ia kembali lagi setelah beberapa saat sudah dengan membawa dua cangkir kopi di tangannya.Lalu meletakkan kedua gelas kopi itu di atas meja.


Andin menatap ke arah Yoga yang kembali duduk di depannya. Menatapnya dengan wajah yang ragu untuk memulai bicara.

__ADS_1


Yoga terlihat meniup beberapa kali kopi yang terlihat masih panas itu, lalu meneguknya sedikit demi sedikit. Lalu meletakkannya kembali.


"Kau marah padaku? " Tanya Andin meski agak ragu ragu.


Yoga menatap Andin yang juga tengah menatapnya.


"Kenapa aku harus marah? " Tanyanya.


Andin tak menjawab.


"Apakah aku punya hak untuk marah? " Tanya Yoga kemudian. "Aku itu bukan siapa-siapa bagi kamu. Bukan orang yang penting juga di hidup kamu. Jadi kenapa harus marah? "


Andin masih terdiam.


Kata kata Yoga halus tapi tajam menusuk hati dan jantungnya.


"Aku tak perlu marah. Karena aku sadar diri siapa aku bagi dirimu. Kau masih datang dan perduli akan hari ini saja itu sudah keberuntungan bagi ku. Lagipula apa gunanya aku marah. Kau bahkan tak perduli jika aku marah ataupun tidak. " Kata Yoga dengan raut wajah yang dingin.


Andin masih terdiam.


Dari semua perkataan Yoga saat itu, Yoga begitu menggambarkan betapa hatinya terluka atas sikap Andin beberapa waktu ini.


Yoga terlihat kembali meniup kopi yang ternyata masih saja panas. Lalu meneguknya sedikit lalu menyimpannya kembali di atas meja.


"Minumlah! " Kata Yoga. "Walau tidak seenak buatan mu tapi setidaknya kopi ini di buat penuh dengan kasih sayang. Ku buatkan untuk wanita tercantik ku yang baru saja ku temui hari ini setelah sekian minggu menjauhi ku. " Tambahnya.


Andin tetap terdiam.


Rasanya bibirnya terkunci untuk bicara. Dia seolah tidak bisa membantah semua kata kata Yoga yang sangat tajam menusuk hatinya.


"Kopi itu bukan aku, yang harus kau jauhi atau pun kau diamkan juga. Kau harus meminumnya meski kau tidak suka. " Kata Yoga kembali dengan kata-katanya yang masih saja menusuk hati Andin.

__ADS_1


Perlahan Andin mulai memegang cangkir kopi miliknya.


"Semua kata kata mu menyakiti hati ku. " Kata Andin sambil mulai meneguk sedikit kopi miliknya. "Kau tak memberi ku kesempatan untuk bicara. "


Yoga sedikit tersenyum.


"Tak ada yang melarang mu bicara. Bahkan kau hanya diam dari tadi. "


"Aku bingung mau bicara apa? "


Yoga malah semakin tertawa lebar.


"Sudahlah, jangan terlalu banyak berpikir. Minum saja kopi mu! " Kata Yoga kemudian.


"Aku minta maaf jika aku ada salah. " Kata Andin dengan perlahan.


"Tidak perlu minta maaf, kau tidak salah apa apa kenapa harus minta maaf. Aku yang harusnya minta maaf, karena aku sudah mengganggu waktu mu yang sangat berharga. Aku yang harusnya berterimakasih karena kamu sudah menyempatkan waktunya untuk datang di Panti yang tidak berharga ini. "


Andin tak menjawab.


"Kamu benar-benar marah sama aku ya? Bicara mu sedikit berteriak pada ku. "


Yoga terlihat menghela nafasnya berkali-kali.


"Aku tidak marah pada Andin sahabat ku. Tapi aku marah pada Andini putri Andromeda pendiri Yayasan ini. Dimana tanggungjawab jawabmu sebagai pendiri dan pemilik Yayasan ini? Kau boleh menjauhi aku, tapi kau tidak boleh membiarkan Yayasan ini terbengkalai tanpa dirimu. Bisakah aku minta sedikit bantuan mu untuk ikut andil dalam mengasuh anak anak kita di sini. Kasian bu Aisyah,, dia kewalahan sendirian. Aku sibuk di kantor,, aku sibuk ngurusin Arjuna di rumah sakit. Aku juga yang harus mengurus semua urusan di Panti. Lalu apa gunanya dirimu? " Kata Yoga dengan begitu jelas dan tegas.


Andin tetap terdiam.


"Kau itu partner kerjaku di Yayasan ini. Meski apapun yang terjadi antara kita, tapi kau terikat tanggungjawab disini. Jangan campur adukan urusan pekerjaan dan urusan pribadi dong! "


"Aku baru tidak datang beberapa minggu, kenapa kau begitu marah padaku? "

__ADS_1


"Karena kau keterlaluan! "


***


__ADS_2