
"Tapi apa? "
"Ya jangan kau mulai bicara kasar lagi tentang Yoga! Kan tadi kau bilang jangan memikirkan tentang apapun, sekarang kenapa kau bahas bahas dia terus? " Jawab Andin sambil agak membenarkan sedikit duduknya.
"Wih logat Medan mu kondisikan sayang! Bisa berantem lagi kita kalau bicara mu mulai naik kayak gini. "
"Ya habisnya aku kesel kalau kau selalu melimpahkan semua kesalahan terhadap Yoga. Kau sendiri pun salah! Kau sendiri pun egois! Tak sadar kah kau juga melakukan kesalahan fatal selama ini?"
Gerald dengan cepat menarik tubuh Andin untuk lebih mendekat kearah dirinya. Andin tak sempat menolak saat tiba-tiba Gerald menciumnya dengan mesra.
Keduanya saling terdiam.
"Sudah! Aku tak ingin lagi bertengkar denganmu! Aku janji aku tidak akan lagi menyalahkan Yoga untuk semua yang terjadi. Aku akan berusaha percaya dan berusaha tidak akan cemburu buta lagi pada Yoga. Gimana? " Kata Gerald dengan sedikit mencubit hidung Andin, tak lupa mengecup bibir Andin untuk kedua kalinya.
Andin tersenyum.
"Oke sayang, mau ngapain kita hari ini? " Tanya Gerald lalu menyandarkan tubuhnya di sofa. "Mau berpelukan saja atau mau buka bukaan? " Kata Gerald sambil senyum senyum sendiri.
Sebuah bantal sofa melayang keatas kepala Gerald saat Gerald selesai bicara.Terlihat mata Andin mendelik kearah Gerald yang sedang bicara sembarangan.
"Sejak kapan otakmu mesum kayak gitu? " Kata Andin dengan spontan memukul kembali Gerald dengan bantal sofa untuk kedua kalinya.
"Ye,,, siapa yang mesum? Bukan buka bukaan baju lah, tapi buka bukaan tentang perasaan kita, gitu maksudnya. " Bantah Gerald sambil nyengir.
"Alah,, bohong! Udah banyak gayamu sekarang. "
"Iyalah, ngapain aku bohong! Kalau aku mau mah gampang, ga usah tanya tinggal buka sendiri juga aku yakin kamu nggak bakal nolak. Iyakan? " Jawab Gerald sambil tertawa.
"Dasar gila! " Gerutu Andin kemudian beranjak pergi ke kamar mandi.
Gerald tersenyum geli sendiri melihat Andin yang sedang kesal terhadap dirinya. Tak lama Andin terlihat keluar lagi dari kamar mandi.
"Baru tau ayang kalau aku gila, Yang! " Celoteh Gerald ketika melihat kembali Andin berjalan kearah dirinya.
"Udah tau aku dari dulu. Kenapa rupanya? "
"is is is bahasa mu sayang. " Kata Gerald berdecak, sambil menggelengkan kepalanya.
"Kenapa rupanya dengan bahasa ku? Baru kau tengok bicara ku kayak gini? " Tanya Andin agak melotot.
"Kalau bicara mu seperti ini, aku yakin kau masih mencintai ku. "
"Aneh, mana ada aku masih mencintaimu? " Andin mendelik dengan ujung matanya.
"Kalau kau tidak mencintai aku, mana mau kau aku cium tadi. "
"Kapan kau cium aku? "
__ADS_1
"Tadi lah, bodoh! "
"Kapan loh? "
"O ini kode kayaknya. Mau minta di cium lagi. " Jawab Gerald saat menyadari kalau Andin tengah bergurau.
Andin tertawa melihat Gerald yang telat memikirkan candaan dari dirinya.
Sedang saling tertawa, terdengar suara ponsel Gerald berbunyi.
Sebuah panggilan telepon dari Ica.
Gerald menatap kearah Andin.
"Siapa? " Tanya Andin dengan isyarat.
"Ica." Jawab Gerald pelan.
Gerald terlihat bertanya dengan isyarat apakah harus diangkat atau tidak.
"Angkat aja! " Jawab Andin.
Gerald meraih ponselnya.
"Halo.Kenapa Ca?" Tanya Gerald.
"Aku lagi di jalan. Kenapa? "
"Urusan kerjaan. Bisa pulang sekarang nggak? "
Gerald terdiam sejenak. "Kenapa nggak tanya Fadil kalau soal kerjaan. Soalnya kerjaan hari ini sama besok sudah aku serahkan sama dia. " Jawabnya.
Ica terdengar hening.
"Ca... " Gerald terdengar memanggil Ica yang terdiam.
"Kamu nggak bisa di ganggu ya? " Tanya Ica, seperti agak ragu saat bertanya demikian.
Gerald terdiam lagi sejenak. "Memangnya ada apa? Emang penting banget, Ca?"
"nggak juga sih, cuma mau diskusi aja. "
"Ya udah bentar lagi aku pulang. " Akhirnya Gerald mengalah pada permintaan Ica yang memintanya untuk pulang.
Gerald kemudian menutup telponnya dan kembali menyimpan ponselnya di atas meja.
"Cie.. cie.. yang di telponin sama pacarnya. " Kata Andin sesaat setelah Gerald kembali menyimpan ponselnya di atas meja.
__ADS_1
"Ih apaan sih ayang! Jangan memperkeruh suasana!" Gerald merasa tersindir dengan perkataan Andin.
"Ye,, marah pula! "
"Diem aku lagi serius. " Gerald kembali berbicara agak ketus karena melihat Andin yang terus mengejeknya.
"Kenapa bilang lagi di jalan? Kenapa nggak bilang lagi sama aku? Takut Ica sakit hati? Sebegitu nggak teganya kamu sama Ica. " Andin tambah semangat membuat suasana jadi kacau.
"Yang! Diam dulu! " Gerald semakin merasa gondok saat Andin terus saja menyudutkannya.
"Kan cuma tanya, kenapa marah? Yang aku bilang bener kan, kenapa bilang lagi di jalan, bukan bilang lagi sama aku? " Andin terdengar mengulang pertanyaannya.
Gerald melihat kearah Andin dengan kesal, lalu dia kembali meraih ponselnya dan terlihat akan menelpon seseorang.
"Iya aku akan bilang nih sekarang, biar kamu puas! " Kata Gerald sambil menekan tombol panggilan ke nomor Ica.
Andin dengan cepat mengambil ponsel Gerald dari tangannya, lalu kembali mematikan panggilan telepon untuk Ica tadi dan menyimpan kembali ponsel Gerald di atas meja.
"Udah mau di telpon kok di matikan? " Gerald tampak melotot melihat tingkah Andin yang aneh.
"Ya jangan, kasihan dia nanti! "
"Kok kasihan? "
"Iyalah, bagaimanapun dia kan cewek sama kayak aku. "
Gerald kemudian menyandarkan bahunya di pundak Andin.
"Aku janji, aku akan secepatnya selesaikan urusan aku dengan Ica. Kasih aku waktu, agar aku bisa menjelaskan ini dengan perlahan sama dia. Bagaimanapun dia pernah ada dalam fase kehidupan aku yang sangat buruk. Dia selalu ada buat aku selama ini. "
Andin tak menjawab.
Andin hanya terdiam mendengarkan perkataan Gerald yang cukup membuat dia menahan emosi. Tapi Andin tak bisa marah, karena pastinya Andin pernah berada di posisi Gerald saat ini.
Selama ini diapun pernah ada di fase tetap mempertahankan Yoga di sampingnya dan mempertaruhkan hubungannya dengan Gerald.
Andin tau bagaimana rasanya jadi Gerald. Di satu sisi, Gerald sangat mencintai Andin tapi di sisi lain, ia juga tidak bisa mengabaikan begitu saja perasaan Ica meski dia tidak mencintai Ica.
Ada sebuah beban mental yang harus dia tanggung. Bagaimanapun Ica adalah orang yang berdiri paling depan saat Gerald sedang jatuh dan terpuruk. Ica berada di barisan paling depan saat Andin sendiri yang justru lebih memilih untuk tetap bersama Yoga dan meninggalkan dirinya. Meski mereka berdua mempunyai alasan masing-masing untuk sebuah pembelaan.
Baik Andin ataupun Gerald sama sama melakukan kesalahan,Andin menyadari hal itu.
Mungkin selama ini, Andin terlampau egois di mata Gerald. Dimana Andin hanya mementingkan perasaan Yoga saja tanpa pernah perduli pada perasaan Gerald yang merasa cemburu karena kebersamaan Andin dan Yoga yang terlalu inten.
Dari sanalah awal mula kesalahpahaman itu akhirnya datang dan membawa hubungan mereka pada perpisahan.
***
__ADS_1