
Setelah pulang dari rumah Gerald, Andin tidak kembali lagi ke rumah Duafa. Andin kembali ke rumah kosannya sendirian. Andin ingin sejenak merefresh otak dari semuanya. Andin ingin sendirian dulu menikmati malamnya tanpa Gerald ataupun Yoga.Menjauhi dua laki-laki yang dua duanya sangat mencintainya.Dua laki-laki yang menguras hati dan pikirannya.
Andin sudah merasa sedikit tenang, karena ia sudah bisa membuat Gerald tidak marah kepadanya atas kejadian tadi sore. Setidaknya Andin tidak harus menjelaskan lagi tentang perasaannya terhadap Gerald.
Sebenarnya Andin capek bolak-balik menjelaskan perasaannya. Tapi ya bagaimana lagi, tanpa penjelasan Gerald akan sulit yakin kepada dirinya.Bagaimanapun Gerald manusia biasa, yang kadang merasa cemburu jika Andin terlihat begitu dekat dengan Yoga. Walaupun sebenarnya Gerald tau, yang d ihati Andin hanya dirinya.
Mata Andin mulai terpejam ketika ponselnya berdering. Sebuah panggilan video dari Yoga.
Andin dengan malas menjawab panggilan video dari Yoga tanpa terbangun dari tidurnya.
"Kenapa, Ga? " Tanyanya dengan malas.
"Dimana? "
"Di kosan. Kenapa? "
"Udah mau tidur? "
"Hmm."
"Aku belum ngantuk. Temani aku sebentar lah. " Kata Yoga yang terlihat masih duduk di meja kerjanya.
Yoga berharap Andin akan mau menemani dia ngobrol sebentar sebelum dia merasa ngantuk.
"Hmm." Jawab Andin.
"Jangan sambil merem dong! " Tambah Yoga kepada Andin yang terlihat memejamkan matanya.
Dengan malas Andin membuka matanya. Lalu menatap kearah ponsel yang menyala.
"Kenapa belum tidur? " Tanya Andin, walaupun dengan sedikit terpaksa.
"Belum lihat wajahmu seharian ini. " Jawab Yoga sambil tersenyum. "Aku kangen. Dari pagi aku belum sempat telpon. "
"Ga, stop jangan aneh aneh! Kalau masih bicara ngawur aku matiin telponnya. " Jawab Andin, kesal karena Yoga mulai berbicara ngawur.
"Iya, aku minta maaf. Aku baru sadar kalau aku ga penting di hidupmu. Siapa aku?"Jawabnya dengan datar lalu mematikan telponnya.
Andin kembali memejamkan matanya setelah melihat Yoga mematikan telponnya. Malam sudah sangat larut. Andin sudah sangat mengantuk. Andin agak sedikit tidak perduli dengan sikap Yoga yang mungkin kesal kepadanya.
Andin berniat besok pagi saja dia menemui Yoga dan meminta maaf. Malam ini Andin sudah sangat mengantuk, sudah tak ingin bicara dengan siapa pun termasuk dengan Yoga.
***
Pagi pagi sekali Andin sudah berusaha menelpon Yoga. Tapi sejak subuh, hape Yoga sepertinya tidak aktif.Berusaha tetap di telpon sampai pagi pun ponselnya tetap memanggil, tidak berdering.
__ADS_1
Mungkin Yoga masih kesal padanya gara-gara semalam, hingga ia mematikannya telponnya agar Andin tidak bisa menghubunginya.
Andin masih terdiam di mobil Gerald meski mereka sudah sampai di Resto.
Andin masih terlihat menyandarkan dirinya di kursi mobil sambil masih bermain handphone.
"Kenapa sayang, kok belum turun? " Kata Gerald melihat Andin yang masih duduk di dalam mobilnya.
"Enggak, masih ada waktu beberapa menit sampai Resto di buka. Aku masih mau duduk sama kamu. " Jawabnya sambil tersenyum. "Kenapa emang, Ayang mau pergi?"
"Enggak, aneh aja lihat kamu masih duduk. Biasanya semangat. " Jawab Gerald sambil kemudian memegang tangan Andin. "Kapan ada waktu buat lihat lihat rumah, Yang? " Kata Gerald mengalihkan pembicaraan.
"Emang Ayang mau beli rumah lagi? " Tanya Andin agak sedikit bingung melihat Gerald yang tiba-tiba mengajaknya melihat rumah.
"Enggak.Bukan buat aku. "
"Terus buat siapa? "Tanya Andin malah terlihat penasaran.
"Buat kamu lah. "
"itts.. so sweet. Ayang. " Jawab Andin sambil tersenyum.
"Biar Ayang pindah dari kosan. "
"Aku gak butuh rumah, Yang! Ngapain rumah gede, tapi tinggal sendirian. Kalau aku mau, aku juga bisa beli sendiri. Tapi aku malas tinggal di rumah. Cuma buat tidur doang, kok. Kosan juga cukup. " Jawab Andin.
Andin terdiam.
"Kita cari rumah yang nyaman, tidak terlalu besar tapi bagus. Gimana? "
"Aku pikirin dulu deh. " Jawab Andin biasa saja.
"Ya udah terserah. " Kata Gerald sambil mencium mesra jari jemari Andin.
"Ya udah, aku kerja dulu. Dah Ayang! " Kata Andin lalu turun dari mobil Gerald.
Gerald melambaikan tangannya kepada Andin, lalu memberikan kiss jauh padanya.
***
Hari sudah gelap ketika Andin memutuskan untuk pergi ke rumah Duafa untuk mencari Yoga. Andin penasaran kenapa Yoga masih belum bisa juga di hubungi. Ponselnya masih tidak aktif.
Sesampainya di sana, Andin tidak mendapati Yoga di kantornya. Bu Aisyah mengatakan bahwa semalam Yoga pulang ke rumahnya, dan hari ini tidak datang ke Rumah Duafa.
Setelah sebentar menemui anak anak panti dan juga Adinda. Andin kembali lagi tancap gas pergi ke rumah Yoga.Andin masih penasaran kenapa Yoga tiba-tiba menghilang dan tidak bisa dihubungi.
__ADS_1
Tak selang berapa lama, Andin telah sampai di rumah Yoga dan Marisa.
Setelah beberapa kali memencet bel, akhirnya terlihat Marisa membukakan pintu.
"Andin? " Tanya Marisa yang kaget dengan kedatangan Andin di tengah malam seperti ini. "Jam berapa ini? Kamu naik motor sendirian? "
Andin tersenyum, lalu masuk kedalam rumah bersama Marisa.
"Kamu bertengkar dengan Yoga? " Tanya Marisa tiba-tiba.
Andin sedikit menaikan alisnya. "Enggak." Jawabnya.
"Ya udah deh, bagus kalau begitu. " Jawab Marisa. "Yoga ada di kamar atas, sedang istirahat. Coba aja di cek sendiri, sudah tidur atau belum! Aku ke kamar dulu, Arjuna lagi mau bobo. " Jawab Marisa sambil tersenyum lalu masuk kedalam kamarnya.
Andin mulai melangkahkan kakinya menaiki tangga. Sebenarnya dia agak ragu untuk naik, apa yang harus dia katakan jika nanti Yoga bertanya kenapa dia mencarinya.
Lampu kamar masih terlihat menyala. Berarti Yoga masih terjaga. Perlahan Andin mulai membuka pintu.
Terlihat Yoga masih duduk di tempat tidur sambil memegang sebuah buku. Yoga terlihat sedang membaca buku.
Dia melirik kearah pintu kamar saat Andin membukanya. Sebuah senyuman kecil menyambut kedatangan Andin yang berjalan mendekat kearahnya.
"Tumben.. " Kata Yoga memulai percakapan. Lalu menutup buku yang sedang dibacanya.
"Ga, jangan gitu! Aku datang bukan untuk cari ribut. Aku datang baik baik loh. "
"Yang cari ribut itu siapa? Aku cuma bilang tumben, kok kamu tersinggung? "
Andin terdiam.
"Aku bilang tumben kamu datang, emang ada apa? Ada hal yang penting? Ini sudah malam loh? "
Andin masih belum menjawab.
Gerald meletakkan buku yang di pegang nya di meja lampu kamarnya. Lalu kembali menatap kearah Andin yang masih terdiam.
"Ada yang penting? Kan bisa besok pagi aja, kenapa datang malam malam? "
"Ga boleh? "
"Ya bukan.. "
"Ya udah aku pulang aja kalau gitu. " Kata Andin lalu beranjak dari duduknya.
"Hei,, gitu aja kok marah. " Kata Gerald sambil menarik tangan Andin untuk kembali duduk di sebelahnya. "Duduk..! "
__ADS_1
Andin kembali duduk di samping Gerald sambil masih terdiam.