Kisah Cinta Andin Dan Gege

Kisah Cinta Andin Dan Gege
Akhirnya Yoga Resmi Menjadi Mualaf #87


__ADS_3

Pagi nampak begitu cerah. Yoga sudah bangun dari subuh untuk mempersiapkan diri menghadiri acara peresmian dirinya menjadi islam di mesjid Ar Rahman pagi ini.


Sudah lama sekali ia memimpikan hari ini. Hari yang selalu ia tunggu untuk mengambil keputusan. Keputusan besar yang sangat berat. Bagaimanapun,, sengaja ataupun tidak sengaja ia sudah menyakiti hati keluarga besarnya.


Meski mereka mensupport keputusannya untuk pindah _ _ _ _ _, tapi Yoga yakin mereka pasti kecewa dengan keputusannya. Tapi demi kasih dan sayangnya keluarga kepada dirinya,,, bahkan keluarga besarnya rela datang untuk menghadiri acara peresmian Yoga pagi ini.


Hari masih tampak gelap saat Yoga duduk di balkon lantai dua rumahnya sambil menghisap sebatang rokok dan segelas kopi di atas meja sambil menunggu matahari bersinar.


Sesekali dia masih tampak melihat ponsel miliknya yang dari semalam terdengar berbunyi.


Panggilan tak terjawab dari Andin lebih dari sepuluh kali. Tapi dia tak mau mengangkat ataupun membalas chat Andin untuk dirinya.


Yoga tidak tau apa yang harus ia bicarakan dengan Andin. Yoga sedang ingin mengalah, Yoga sedang ingin berpasrah.Dia ingin bisa pergi jauh dari Andin jika memang ia tidak mampu memiliki Andin. Yoga juga ingin melihat Andin benar benar bahagia dengan pasangan pilihan hatinya.


Yoga ingin melepaskan semua ikatan yang selama ini selalu ia genggam erat. Tak ingin lagi menjadi beban untuk Andin. Tak ingin lagi menjadi orang ketiga di dalam hubungan Andin dan Gerald.


Yoga sebenarnya tak ingin menyerah untuk berjuang. tapi terkadang,,, justru ia merasa kasihan terhadap Andin yang terus berusaha menjaga perasaannya. Mulai hari ini Yoga ingin mengalah,, berdamai dengan keadaan dan berpasrah pada takdir bahwa Andin bukanlah miliknya.


Marisa tiba-tiba datang lalu duduk di samping Yoga.


"Yakin,,, nggak akan jawab telpon dari Andin? " Tanyanya,,yang tiba-tiba melihat ponsel Yoga kembali berdering.


Yoga melirik kearah Marisa lalu menggeleng.


"Ya udah,, ayo kita bersiap pergi ke mesjid! "


Yoga terlihat beranjak dari duduknya, lalu turun ke bawah di ikuti oleh Marisa,kemudian bersiap.


***


Di Mesjid Ar Rahman

__ADS_1


Arman benar benar menepati janjinya untuk datang ke acara pembacaan syahadat Yoga yang diadakan di mesjid Ar Rahman dengan sangat pagi. Bahkan lebih pagi dari Yoga dan keluarganya.


Arman sudah datang sebelum Yoga datang ke mesjid saking antusias dan semangatnya menghadiri acara pembacaan syahadat teman sekaligus bos besarnya di kantor.


Dia ikut bahagia akan keputusan yang Yoga ambil saat itu. Keputusan yang tentunya tidak mudah bagi Yoga.Apalagi hubungan Yoga dengan Andin juga sedang tidak baik.


Arman sangat menyayangkan satu hal yakni Andin tidak ada di sana. Andin tidak menyaksikan kebahagiaan hari ini. Andin tidak datang untuk melihat ataupun memberi selamat kepada Yoga untuk keputusan berat yang sudah dia ambil hari ini.


Padahal seharusnya Andin adalah orang yang pertama kali harus menyaksikan acara ini. Tapi, Yoga sudah jauh jauh hari melarangnya untuk memberi tahu Andin akan hal ini. Meski Arman ingin sekali memberi tahu Andin, tapi Arman lebih menghargai keputusan Yoga untuk tetap diam dan merahasiakan acara hari ini.


Acara berjalan dengan lancar dan penuh dengan haru. Tak ada satu orang pun yang tidak meneteskan air mata. Semuanya terbawa suasana bahagia penuh sukacita.


Yoga terlihat lebih tenang dan terlihat sangat bahagia. Hari yang diimpikannya selama beberapa tahun ini akhirnya menjadi kenyataan. Dia kini telah resmi secara agama dan secara negara sah menjadi seorang muslim.


Dia tak berbeda lagi dengan anak anak asuhnya yang berada di Panti Asuhan. Mereka kini sama-sama beragama muslim.


Acara di hadiri hanya oleh beberapa kerabat dekat dan Arman sebagai saksi dari pihak Yoga yang muslim.Karena semua kerabat Yoga yang datang hari ini,semuanya _ _ _ muslim.Marisa juga tidak absen untuk tetap menemani Yoga, meski ia sendiri belum memutuskan untuk menjadi muslim.


Marisa selalu mensupport apapun yang Yoga lakukan, apapun itu. Selagi Yoga masih perduli pada dirinya, Marisa tidak akan pernah membantah apapun yang Yoga ingin lakukan.


Marisa tahu betul, apa yang membuat suaminya bahagia. Keputusan yang hari ini dia ambil, sudah ia katakan beberapa tahun setelah mereka menikah dulu. Dan hari ini, Yoga benar benar merealisasikan keinginannya untuk menjadi mualaf.


Tentu keputusan yang Yoga ambil bukan keputusan yang gampang. Ia benar-benar memikirkan apa alasan sebenarnya ia ingin menjadi mualaf. Apakah hanya karena Andin? Hanya karena ingin memiliknya? Atau karena hal yang lain?


Pergulatan batin yang begitu lama dan setelah pemikiran yang panjang. Dan sudah banyak hal yang terjadi justru Yoga memutuskan untuk menjadi mualaf di saat dirinya benar-benar merasa kehilangan Andin.


Disaat Yoga memutuskan untuk menjauh dari Andin, keputusannya untuk mualaf sudah bulat. Karena bukan Andin tujuannya menjadi mualaf. Andin hanya menjadi perantara datangnya hidayah kedalam dirinya. Andin hanya menjadi perantara Yoga akhirnya mencintai islam sepenuhnya.


Setelah semuanya selesai, acara hari ini diakhiri dengan sesi berfoto.


Setelah saling mengucap selamat lalu berpelukan, acara pun selesai. Mereka kembali beraktivitas seperti biasa.

__ADS_1


Arman tetap pergi ke Resto meski agak sedikit terlambat. Yoga dan Marisa juga kembali pulang ke rumah.


Semua kerabat Yoga yang datang menghadiri acara hari ini juga sudah kembali pulang.


***


Setibanya di rumah, Andin sudah duduk manis di kursi teras depan Yoga. Wajahnya terlihat cemberut, sambil menatap Yoga dan Marisa yang berjalan menuju ke arahnya.


"Sudah lama, Din? " Tanya Marisa sedikit basa basi, meski ia tau Andin sedang marah kepada Yoga.


"Lumayan." Jawab Andin tanpa beranjak dari tempat duduknya.


"Ya udah,, aku masuk dulu. Kalian bicara saja! " Kata Marisa, memberikan kesempatan kepada Yoga dan Andin untuk bicara.


Andin menatap ke arah Yoga yang masih saja berdiri di hadapannya.


"Mau bicara dimana kita? " Kata Andin dengan nada suara tegas.


"Terserah."Jawab Yoga pasrah.


"Ikutlah dengan ku ke kosan!" Kata Andin sambil beranjak dari duduknya.


"Oke." Jawab Yoga pendek. Lalu ia terlihat berjalan ke arah motor Andin yang sudah terparkir depan rumahnya. "Mana kuncinya? " Tanya Yoga menoleh kearah Andin.


Andin memberikan kunci motor vespanya kepada Yoga.


Andin naik setelah terdengar suara mesin motor menyala. Motor pun melaju menuju kosan Andin.


Di sepanjang perjalanan,, Yoga tak berbicara. Ia terlihat kikuk dan bingung. Ia tiba-tiba bingung dengan apa yang harus dia lakukan terhadap Andin. Rasanya ada begitu banyak hal yang terjadi yang membuat dirinya merasa canggung di hadapan Andin.


Tapi Andin harus di hadapi,, bukan di hindari. Bagaimanapun Andin akan tetap mempertanyakan tentang perubahan sikapnya.

__ADS_1


***


__ADS_2