Kisah Cinta Andin Dan Gege

Kisah Cinta Andin Dan Gege
Padahal Andin bahagia #41


__ADS_3

Andin tersenyum, salah tingkah. Andin tak menyangka kalau Gerald akan melihatnya di tengah begitu banyak orang yang berada di restoran tersebut.Gerald akan dengan tidak sengaja melirik ke arah dirinya yang sedang duduk memperhatikan dia dari kejauhan.Mungkin Gerald mempunyai sinyal yang bisa mengetahui kalau ada seseorang yang sedang memperhatikannya.


"Hai." Andin balas menyapa Gerald dengan sebuah senyuman kecil yang manis,memperlihatkan giginya yang putih bersih.


Gerald terlihat menggeser kan kursi yang ada di hadapannya, lalu dia duduk di hadapan Andin.


"Apa kabar?" Sapa nya, seraya menyodorkan tangannya kepada Andin.


"Baik." Jawab Andin sambil menerima jabatan tangan Gerald.


Untuk pertama kalinya setelah dua tahun mereka saling menjabat tangan kembali.Ada perasaan dag dig dug ga jelas di hati Andin.Badannya terasa panas dan dingin seperti yang sedang masuk angin.


"Lagi nunggu seseorang di sini?" Gerald terlihat agak ragu untuk basa basi. Agak canggung rasanya bertanya tentang hal formal kepada Andin yang tidak pernah di lakukan dia sebelumnya.


"Enggak."Jawab Andin pendek. Andin tak berani menatap wajah Gerald secara langsung.


"Bi, Sumi sering bertanya tentang kamu. Kenapa kamu enggak pernah main ke rumah lagi?" Gerald menjadikan bi Sumi sebagai alasan basa basi dia.Gerald tidak tau apa yang harus dia tanyakan kepada Andin.


"Oh ya?" Andin antusias mendengar Gerald yang bercerita kalau bi Sumi sering menanyakannya. Sebenarnya Andin juga merindukan bi Sumi.Sudah lama sekali dia tidak pernah makan masakan bi Sumi lagi.


Baik Gerald ataupun Andin terlihat sama sama canggung.Mereka bingung apa yang harus mereka katakan.Tapi mereka harus berbicara, supaya tidak terlihat kikuk oleh lawan bicaranya.


"Kapan mau main ke rumah?"Gerald terdengar bicara lagi, menanyakan hal yang sama.


Ditanya seperti itu Andin bingung harus Jawab apa.Untuk apa juga Andin datang ke rumah Gerald, jika tak ada kepentingan. Gerald sudah bukan siapa-siapa baginya.Datang ke sana hanya akan menimbulkan salah paham.


Sejak duduk dan berbicara dengan Andin, tatapan mata Gerald tak pernah lepas dari mata Andin. Gerald terus memperhatikan seluruh penampilan Andin dari ujung rambut hingga ke ujung kaki.


"Ada, yang aneh dengan ku? Kenapa menatap ku seperti itu?" Tanya Andin yang heran karena Gerald terus memperhatikannya sejak tadi.


Gerald tersenyum."Enggak."Jawabnya."Kamu terlihat begitu cantik hari ini." Tambahnya dengan senyum tersungging di bibirnya yang merah merona. Bibir yang di inginkan oleh semua wanita. Tapi Gerald yang memilikinya.

__ADS_1


Andin terlihat lebih cantik menurut Gerald. Entah karena memang Gerald tak pernah melihatnya sudah sejak lama, atau karena Andin memang lebih terlihat cantik dari sebelumnya.Rambutnya kini lebih pendek, dia memotong hampir setengah dari rambutnya. Tapi penampilan baru dari Andin ini,lebih membuat wajahnya lebih fresh dan lebih cantik.


Mendengar Gerald memujinya, Andin Ingin tersenyum. Dia ingin terlihat bahagia, tapi tak bisa. Pujian itu sudah tidak berarti apapun untuknya. Andin tak boleh terlena. Ia tidak boleh bahagia.Pujian itu mungkin hanya basa basi saja. Tidak benar benar dari hati Gerald.


Karena tidak enak dan salah tingkah terus, Andin memutuskan untuk beranjak pergi meninggalkan Gerald. Andin terlihat membereskan tas dan laptopnya di meja.Berusaha bersiap akan pergi.


"Aku duluan ya!" Katanya seraya berdiri, namun Gerald tiba-tiba memegang tangannya.Gerald tau, Andin ingin cepat cepat pergi karena tak mau berbicara dengannya.Andin ingin menghindarinya.


Hati Andin berdegup kencang,Andin takut dia tidak bisa menahan perasaannya.Sebenarnya dia ingin sekali memeluk Gerald saat itu. Melepaskan kerinduan yang sudah begitu lama tertahan di hatinya. Tapi Andin tidak pernah lupa, kalau dua tahun yang lalu Gerald sendiri yang meminta dia untuk menerima keputusan Gerald untuk berpisah.


"Bisa kita bicara sebentar!" Pinta Gerald kepada Andin yang sudah akan melangkah pergi.


"Bicara tentang apa?"


"Tentang kita. " Ucap Gerald dengan tatapan mata yang penuh harap kalau Andin akan mau di ajak bicara olehnya.


Andin terdiam sejenak "Ok, aku tunggu di luar." Jawabnya seraya melangkah keluar restoran duluan.


Ketika sampai di depan restoran,di tempat parkir,terlihat Andin sedang memegangi motor Vespa Matic berwarna oranye miliknya. Sebenarnya bukan milik Gerald, tapi milik Andin. Namun Andin tak membawanya saat putus dengan Gerald dulu. Makanya Vespa itu sering Gerald pakai untuk sekedar jalan jalan sambil mengurangi sedikit kerinduan terhadap Andin. Mengenang saat saat dimana mereka berdua jalan jalan naik Vespa tersebut.


Andin terlihat sedang mengelus sepeda motor itu. Ia tampak begitu merindukan sepeda motornya yang sudah tidak pernah dia lihat ataupun dia pakai hampir dua tahun lamanya.


"Kangen sama motornya, atau sama orang yang naik motornya?" Terdengar Gerald menggoda Andin dari belakang.


Andin menoleh, dia kaget ketika tiba-tiba Gerald sudah berada di belakangnya. Tapi dia tak menjawab pertanyaan dari Gerald.Andin terlihat menepiskan tangannya dari motor Vespanya.


"Mau pergi bersamaku jalan jalan naik motor mu!" Ajak Gerald pada Andin.


Andin terlihat bingung, dia sebenarnya ingin pergi tapi ragu.Andin kangen menaiki motor kesayangannya itu.Tapi dia tidak mau pergi bersama Gerald.


"Apa yang ingin kau bicarakan tentang kita?" Andin malah mengalihkan pembicaraan. Andin takut terbawa suasana, dan akan kalah oleh perasaannya.Andin ingin secepatnya pergi dari sana.

__ADS_1


"Sebenarnya tidak ada yang ingin aku bicarakan, aku hanya ingin melihatmu lebih lama lagi."Jawab Gerald sambil senyum.Matanya tak pernah lepas dari Andin.


Andin memalingkan wajahnya. Dia seolah kesal kepada Gerald, padahal tidak sama sekali. Dia pun sama, ingin duduk dan ngobrol bersama Gerald lebih lama lagi. Tapi apa yang harus mereka bicarakan.Tak ada lagi yang harus mereka bicarakan saat ini.


Andin berbalik meninggalkan Gerald yang sedang duduk di motor Vespa miliknya.Tak berbalik lagi untuk berbicara dengan Gerald


"Andin!" Teriak Gerald "Buka semua blokiran akun sosial media mu. Aku ingin bicara !"


Andin berhenti sejenak, lalu meneruskan langkahnya menuju mobilnya yang sedang terparkir di depan restoran. Tanpa berbalik lagi ke belakang, Andin menancap gas mobil dan segera berlalu dari sana.


Sedangkan Gerald hanya diam menatap kepergian Andin di hadapannya. Gerald tersenyum, tapi hatinya menangis. Gerald sedih karena Andin tak perduli pada dirinya.Andin terlihat tidak bahagia ketika bertemu dengan dirinya.Terlihat juga dengan jelas kalau Andin tak ingin berlama-lama berbicara dengan dia.


***


_Hari ini kamu terlihat begitu cantik,jauh lebih cantik dari sebelum kita berpisah dulu. Apa kamu begitu bahagia, hingga kebahagiaan itu terpancar dari aura wajahmu?Aku hanya bisa mengiringi langkahmu yang berulang kali meninggalkan aku sendirian.


Kamu tak pernah berbalik untuk melihat ku!


Tak pernah ingin tau keadaan ku!


Apakah aku begitu tak berharga hingga tak sedikitpun rasa yang dulu pernah ada di hati mu, tak tersisa sedikitpun untuk ku.


Tapi tidak apa, melihat mu bahagia. Aku pun bahagia.


Melihat mu tersenyum walau bukan untuk ku, sedikit mengobati kerinduan ku yang begitu besar untuk mu.


Di Manapun kamu berada, wahai wanita tercantik ku. Coba pegang tangan mu dan rasakan aku yang sedang menyentuhmu mu. Jika kau merasakan aku ada, maka jangan pernah kau bohongi hati mu untuk kembali bersama ku.


Cinta memang penuh perjuangan, cinta juga kadang penuh dengan keegoisan, tapi kadang cinta juga perlu mengalah-


sebuah Story di post Gerald sesaat setelah Andin meninggalkannya di parkiran restoran.

__ADS_1


*


__ADS_2