
Setelah berada di depan pintu, Gerald tampak terlihat ragu ragu akan masuk. Dia hanya berdiri saja, seperti yang sedang berpikir. Sesekali dia melihat ke bawah lantai yang terlihat sepasang sepatu laki laki di sana.Gerald sudah bisa menebak siapa yang tengah berada di dalam rumah.Sebenarnya dia berniat untuk mengurungkan niatnya bertemu dengan Andin, tapi Ketika dia tengah tertegun tampak seseorang membukakan pintu.
Yoga keluar dari kost-an. Dia terlihat akan membuang sampah makanan ke tong sampah yang berada di depan pintu.
Yoga tampak menatap tajam wajah Gerald yang terlihat masih terdiam.Yoga juga tidak bereaksi, dia hanya sekilas menatap wajah Gerald yang terlihat sedang tertegun.
"Masuklah! Andin ada di dalam." Kata Yoga mempersilahkan Gerald untuk masuk.
Gerald tak menjawab.
Dia juga tak terlihat masuk atau perduli pada yang Yoga katakan kepada dirinya.Benci Gerald melihat Yoga yang selalu jadi duri dalam kehidupan dia dan Andin.
Kenapa tidak mati saja orang seperti ini? Begitu pikirnya. Berpura-pura bersikap seolah menjadi teman, padahal ada sesuatu yang dia sembunyikan.
"Din, ada tamu nih! " Teriak Yoga kepada Andin.
Andin keluar melihat siapa yang datang.
"Ayang, kenapa diam di situ? Ayo masuk!" Ajaknya sambil menarik tangan Gerald untuk masuk kedalam.
Gerald masuk tanpa bicara, lalu duduk di sofa dan meletakkan cemilan yang tadi di belinya di atas meja.Gerald seperti sedang berpikir apa yang harus dia katakan saat itu. Suasana sudah mulai tidak nyaman dari saat pertama kali dia datang. Keberadaan Yoga yang selalu berada di dekat Andin sungguh membuatnya muak. Tapi ia tidak bisa berbuat apapun untuk membuat Yoga berhenti menemui Andin.
Andin duduk di samping Gerald.
"Aku mau minta maaf untuk kejadian kemarin." Kata Gerald memulai pembicaraan walaupun dengan agak terpaksa. Karena ia sudah terlanjur datang ke sana.
Gerald tidak mungkin jadi membahas hal yang lain saat itu. Walaupun ia begitu tampak kecewa dengan keberadaan Yoga di sana.
__ADS_1
Andin tersenyum, lalu menjawab.
"Ga pa pa, aku tau kok." Senyuman lebar tersungging di bibir Andin, lalu memegangi tangan Gerald dengan lembut sembari mengusap usapnya.
Andin tau, Gerald berusaha menjelaskan kejadian kemarin karena Gerald menyangka Andin akan marah kepadanya. Padahal tidak sama sekali.
"Tapi aku jadi merasa tidak enak, takut kamu salah faham."Tambah Gerald masih dengan raut wajah bersalah.
"Enggak, aku biasa aja! Ga pa pa, sudah jangan terlalu di pikirkan." Kata Andin menegaskan bahwa ia baik baik saja.
Kecewa pasti ada, cemburu juga ada. Andin tidak menyangkalnya kalau dia juga cemburu melihat Gerald pergi makan dengan Ica. Tapi yang di lakukan Gerald, tak beda jauh dengan yang di lakukan nya bersama Yoga. Jadi Andin tak berhak untuk marah kepada Gerald.
Pembicaraan terhenti ketika Yoga kembali masuk ke dalam. Dia sudah bersiap akan pulang. Tadi ketika dia melihat Gerald datang, dia langsung keluar untuk memakai sepatu.Dan bergegas akan pulang. Tidak enak rasanya berada di tengah tengah mereka berdua.
Yoga masuk hanya untuk mengambil tas dan barang barang nya yang masih tertinggal di dalam lalu berpamitan kepada Andin.
Yoga hanya tersenyum sembari membalas lambaian tangan Andin.
Setelah Yoga pergi, Gerald tetap terdiam. Dia seperti bingung dengan apa yang harus dia katakan. Bibirnya tiba-tiba kelu. Hilang semua kata kata yang akan di sampaikan setelah melihat Yoga berada di sana. Tapi dia tidak bisa marah. Karena dia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak cemburu pada Yoga lagi. Gerald percaya sepenuhnya pada apa yang di katakan Andin kepadanya. Walau terkadang apa yang terlihat di kehidupan nyata,kadang begitu sulit meyakinkan dirinya untuk mempercayai apa yang di katakan Andin.
Melihat mereka berdua begitu dekat, begitu akrab,sepintas orang yang melihatnya tidak akan pernah menyangka kalau mereka berdua hanyalah berteman.
Di mata Gerald menangkap ada sebuah hubungan yang lebih dari sekedar teman di antara mereka berdua. Hubungan seperti apa itu, dia sendiri pun tidak berani menebaknya.
Melihat Gerald yang hanya terdiam, Andin menepuk pundak Gerald untuk menghentikan lamunannya.
"Jangan terlalu banyak berpikir!" Kata Andin sembari mulai membuka makanan yang tadi di bawa Gerald untuknya.
__ADS_1
"Aku cemburu kalo dia terus nemuin kamu,Yang!" Kata Gerald perlahan mulai mengeluarkan sedikit unek-unek di hatinya.
Andin tersenyum lalu menatap tajam wajah Gerald yang memang terlihat jelas sedang menahan perasaannya. Tentu Andin tau perasaan Gerald saat itu.
"Lalu aku harus bagaimana?" Andin malah balik bertanya.
Gerald tak menjawab.
"Seperti kamu yang tidak bisa menjauhkan Ica dari kehidupan mu, itu juga yang aku sedang lakukan. Aku tidak bisa begitu saja menghindari Yoga yang sudah tentu Ayang tau, kalau Yoga itu sudah begitu banyak membantu aku saat aku sedang susah. "
"Lalu akan sampai kapan kita seperti ini?" Kata Gerald seperti yang sedang bertanya pada dirinya sendiri.
Suasana terlihat hening sesaat, sampai akhirnya Andin yang mencairkan suasana dengan tiba-tiba memeluk Gerald dengan erat.
"Aku tidak tau akan sampai kapan kita akan seperti ini, tapi jika kita bisa bertahan, aku yakin kita bisa melewati semuanya bersama sama. Jangan pernah lagi tinggalkan aku dalam keadaan apapun."Ucapnya, seperti takut Gerald akan meninggalkannya kembali seperti dulu.
Gerald membalas pelukan Andin serta tak lupa mendaratkan sebuah kecupan mesra di kening Andin. Berusaha menghilangkan semua kecemburuan di hatinya, dengan meyakini satu hal, kalau Andin hanya mencintai dirinya. Bukan Yoga.
Semua yang terjadi memang begitu sulit, tidak hanya bagi Gerald tapi bagi Andin juga tentunya. Semuanya memang tidak mudah untuk di jalani. Tapi tentu harus berusaha untuk bisa melewati semuanya tanpa menyakiti hati siapapun. Bagaimanapun Yoga adalah orang yang paling berjasa dalam kehidupan Andin. Bagi Andin,Yoga selalu ada saat dia sedang membutuhkannya. Bahkan saat dia sendiri yang menjauhi Andin, Yoga bahkan tak pernah sekalipun meninggalkan Andin.
Tapi Gerald sejenak berpikir, apakah sebegitu besarkah arti kebahagiaan Andin untuk Yoga? Hingga Yoga tak pernah sekalipun meninggalkannya. Apakah Yoga sampai saat ini masih sangat mencintai Andin? Ataukah memang mereka hanya berteman,seperti yang Andin katakan kepadanya? Ataukah lebih dari sekedar teman?
Kadang terbersit semua kemungkinan buruk di hati Gerald. Begitu berkecamuk jadi satu. Tapi dia ingin sepenuhnya percaya kepada Andin. Sepenuhnya meyakini apa yang di katakan Andin kepada dirinya.Dan dia juga melihat begitu cinta nya Andin kepadanya. Tapi Gerald juga melihat mata Andin yang begitu bersinar ketika tersenyum kepada Yoga. Ada begitu banyak kebahagiaan di matanya yang terpancar tanpa sengaja saat Andin bersama Yoga. Gerald sudah sangat sering melihatnya. Senyuman dan pancaran kebahagiaan yang tak pernah ada saat bersamanya.
Pikiran Gerald sebentar sebentar goyah, sebentar sebentar yakin pada keyakinannya. Tapi keyakinan Gerald selalu terbantahkan oleh pancaran kebahagiaan di mata Andin saat dia sedang bersama Yoga. Gerald tidak buta, dia tau Andin selalu bahagia saat bersama dengan yoga. Kadang dia bingung dengan hatinya sendiri.
Bertahan dengan segala bentuk kegondokan yang akan selalu berulang selama Yoga masih ada di dalam kehidupan Andin. Atau memilih kembali pergi meninggalkan Andin walaupun dengan segala penyesalan di kemudian hari yang tentu akan dia rasakan.
__ADS_1
***