
Esok harinya pagi pagi sekali Gerald sudah bangun dan bersiap siap akan pergi memenuhi janjinya untuk pergi mengantar ibunya Ica ke rumah sakit. Gerald tidak mau mengecewakan Ica karena ia mengingkari janjinya hari itu.Jadi, walaupun sibuk dan banyak kerjaan Gerald tetap berusaha menyempatkan waktu luang untuk pergi mengantar ibunya Ica untuk pergi cek up pagi ini. Padahal Gerald hari ini ada kerjaan di luar. Tapi dia sudah terlanjur janji kemarin pada Ica, tidak enak rasanya kalau tiba tiba dia membatalkannya. Lagipula jarang jarang dia melakukan ini untuk Ica.
"Pagi pagi gini mau kemana, bang?" Tanya Fadil yang baru saja keluar dari dapur setelah menyeduh kopi.
"Pergi antar ibunya Ica ke rumah sakit,Dil." Jawab Gerald sembari terlihat merapikan jaket yang baru saja di pakainya.
"Kenapa emang ibunya Ica,sakit?"
"Enggak,Cuma cek up biasa aja."
"Ohh." Jawab Fadil singkat, sembari agak tampak sedikit bingung dengan sikap Gerald yang menurutnya agak berbeda hari itu.
"Kenapa lo,Dil?" Tanya Gerald yang sadar saat Fadil menatapnya penuh dengan rasa heran.
"Enggak." Jawab Fadil tetap singkat sambil berlalu ke depan teras dan duduk disana.Menikmati secangkir kopi hitam yang telah di buatnya tadi.
Gerald juga ternyata mengikuti Fadil, di belakang.Dia juga ikut duduk di kursi teras depan bersama Fadil.Masih ada waktu beberapa saat sebelum dia pergi menjemput Ica di rumahnya.
"Kenapa lo tiba-tiba perhatian sama Ica?" Tanya Fadil akhirnya menanyakan apa yang ingin dia tanyakan sejak tadi.
Gerald terdiam. Dia juga tidak tau kenapa dia tiba-tiba jadi bersikap baik kepada Ica.
"Sikap lo kayak gitu ke Ica cuma ngasih harapan palsu aja, bang! Gw takut Ica berharap lebih sama lo."
Gerald masih terdiam.
Matanya tampak kosong dan terlihat menghela nafasnya berkali-kali.Dia berpikir apa sebenarnya yang harus dia lakukan. Apa yang di lakukan nya selalu saja salah.
"Jangan jadikan Ica pelampiasan jika lo ada masalah sama Andin."
"Gw enggak ada masalah sama Andin!" Bantah Gerald dengan cepat. "Gw juga enggak mau bikin Ica jadi berharap lebih sama gue."
Kini Fadil yang terdiam.
"Gw cuma mau berterimakasih sama Ica yang selama ini sudah banyak bantu gw. Udah itu aja!"Kata Gerald berusaha menjelaskan niat baiknya yang hanya ingin sedikit berterimakasih atas semua kebaikan yang pernah Ica lakukan sama dia selama ini.
"Iya gw juga tau maksud lo, bang! Tapi niat baik elo kan bisa saja di artikan lain sama Ica."
"Terus gw harus gimana?" Tanya Gerald agak kesal.
__ADS_1
Fadil mengangkat bahu. "Semuanya menjadi serba salah " Jawabnya. "Andin tau kalau abang mau pergi sama Ica?" Fadil malah mengalihkan pembicaraan.
Gerald tak menjawab.
Dengan terdiam nya Gerald saat itu, Fadil tau kalau Gerald tengah menyembunyikan sesuatu tentang Andin kepadanya.
"Emang harus ya, gue bilang ke dia kalau gue mau pergi sama Ica?" Tanya Gerald kemudian.
Fadil menatap tajam wajah Gerald yang terlihat sedang gondok. "Haruslah!" Jawab Fadil dengan tegas. "Biar tidak terjadi salah faham."
"Tapi dia juga tidak pernah bilang, kalau dia mau pergi sama Yoga!"
Sampai di situ Fadil mengerti semuanya. Gerald sedang kesal pada kedekatan Yoga dan Andin. Kisah cinta dan persahabatan yang sangat menguras emosi. Di Satu sisi ada cinta, di sisi lain ada sahabat.
Hubungan yang sedang di jalani Gerald memang sangat rumit. Jika itu terjadi pada Fadil pun, tentunya ia akan merasakan hal sama seperti yang Gerald alami. Berkali-kali Gerald merasa begitu marah pada kedekatan Andin dan Yoga yang memang menurut Fadil terlalu berlebihan sebagai seorang sahabat.
Yoga terlalu mencampuri segala urusan yang berhubungan dengan Andin. Mereka terlalu dekat sebagai seseorang yang hanya mengaku hanya berhubungan sebagai sahabat. Baik Yoga maupun Andin, sama-sama tidak menghargai perasaan Gerald yang berstatus sebagai pacar Andin.
Tapi Gerald tidak bisa berbuat apa apa kecuali hanya terdiam menahan semua kekecewaannya di dalam hati. Berontak pun percuma, Gerald hanya akan kehilangan Andin dari kehidupannya.
Setelah beberapa lama mereka bicara, akhirnya Gerald pergi meninggalkan Fadil yang masih asyik menikmati kopinya yang masih tersisa.Gerald tidak mau Ica dan ibunya menunggunya terlalu lama.
Jalanan pagi itu tidak terlalu ramai,padahal hari itu masih hari kerja. Tapi sepanjang perjalanan bahkan tidak terlalu banyak kemacetan.Hingga membuat perjalanan Gerald menuju ke rumah Ica menjadi tidak terlalu lama.
Setibanya di rumah sakit, hanya Ica yang turun mengantar ibunya untuk check up ke dokter. Sedangkan Gerald hanya menunggu di parkiran sampai pemeriksaan check up ibunya Ica selesai.
"Tante, aku nunggu di mobil saja ya!" Kata Gerald minta maaf kepada ibunya Ica karena ia tidak bisa mengantar sampai ke dalam rumah sakit.
"Ga pa pa,kok.Nak Gerald tunggu saja di sini!" Jawab tante Rahma dengan seulas senyum di bibirnya.
Kemudian tante Rahma dan Ica menuju ke pendaftaran dan menunggu antrian di sana. Sedangkan Gerald hanya duduk diam di mobil ga jelas apa yang harus dia kerjakan.
Menunggu adalah hal yang paling membosankan tentunya. Tapi dia juga tidak mau ikut ke dalam dan menunggu di sana bersama Ica dan ibunya.Karena di dalam juga pasti akan lebih membosankan lagi tentunya.
Sambil menyandarkan badannya ke belakang kursi jok mobil, pikirannya terbang melayang ke sana kemari. Dia berniat akan turun dari mobil dan cari warung kopi di sekitar rumah sakit ketika ponselnya berdering. Sebuah panggilan telepon dari Andin.
"Halo?" Tanya Andin dari dalam telpon.
"Iya,Yang. Kenapa?"
__ADS_1
"Ayang di mana sekarang?" Tanya Andin kemudian.
Gerald terdiam sejenak. "Di rumah sakit. " Jawabnya agak ragu.
"Ayang sakit?"
"Enggak."
"Ga sakit kok ke rumah sakit. Lalu siapa yang sakit?"
Gerald terdiam lagi sejenak. "Lagi nganter mamanya Ica untuk cek up rutin, emang kenapa, Yang?"
"Ohh." Jawab Andin pendek. "Enggak, aku ke rumah Ayang, tapi Ayang enggak ada di rumah. Aku tanya bi Sumi, bi Sumi enggak tau Ayang kemana katanya."
Terdengar hening sesaat. "Terus gimana? Ayang mau aku pulang sekarang? " Tanya Gerald pada Andin yang terdengar berhenti bicara.
"Ga usah, tungguin aja sampai selesai." Jawabnya singkat.
"Aku pulang sekarang bisa kok,Yang!" Gerald terdengar menawarkan diri untuk pulang saat itu juga.
"Enggak usah, aku juga udah mau pulang. Tadi aku cuma mau anterin kamu sarapan. Biasanya kan kamu belum bangun jam segini.Tapi ya udah lah!" Terdengar nada suara Andin seperti kecewa lalu mematikan ponselnya.
Gerald kembali menyandarkan badannya di kursi jok mobil untuk kedua kalinya. Pusing rasanya dia dengan semua ini.Lagi dan lagi kesalahpahaman selalu terjadi. Kenapa Andin selalu saja datang ke rumahnya saat Gerald sedang bersama Ica.
Tak berapa lama setelah itu, Ica dan ibunya datang.
"Kok cepet, tante?" Tanya Gerald yang kaget tiba-tiba tante Rahma datang membuka pintu mobilnya.
"Sudah bikin janji dari kemarin, jadi tidak terlalu lama." Jawab tante Rahma sambil tersenyum.
"Ohh." Gerald terlihat tersenyum.
"Gimana,,bosan ya nunggu tante sendirian?" Tanya tante Rahma sembari mulai naik ke dalam mobil.
"Ah enggak kok tante, biasa aja. Gimana hasil cek up nya tante?" Tanya Gerald berusaha basa basi tentang hasil pemeriksaan rutin tante Rahma tadi.
"Ya, gitu lah nak Gege, masih dengan tekanan darah tinggi."
"Harus banyak kurangin makan goreng gorengan nih kayaknya, tante!" Kata Gerald sambil tersenyum.
__ADS_1
Ica dan tante Rahma pun ikut tersenyum.
***