
Setelah selesai menghabiskan mie ayamnya, Andin langsung menyimpan mangkok kotornya ke dapur.Lalu kembali ke kamar Yoga.
Hari sudah larut, Andin tidak mau ia pulang terlalu kemalaman di perjalanan.
"Aku bersiap pulang, Ga!" Kata Andin sambil terlihat bersiap.
"Ya, oke.Thanks ya udah sempetin datang meski kamu sedang sibuk." Jawab Yoga dengan sedikit tersenyum, meski terlihat di paksakan.
"Ga pa pa. Ga repot juga kok." Jawab Andin sambil melemparkan sebuah senyuman manis kepada Yoga yang sedang memperhatikannya bersiap.
"Uang pesangon kerjamu nanti aku transfer ke rekening mu. Kalau tidak sesuai nominalnya atau ada yang mau di konfirmasi kan silakan hubungi Arman!" Kata Yoga dengan nada suara yang dingin.
Andin menatap Yoga
Nada bicara Yoga terdengar agak berbeda tidak seperti biasanya.
"Mulai bulan depan, aku juga berhenti mengirim gaji mu di Panti." Tambah Yoga juga dengan raut muka yang dingin.
Andin semakin memandang wajah Yoga dengan pandangan yang bingung.
"Kenapa?" Tanyanya, yang bingung kenapa Yoga tiba-tiba menghentikan Andin juga di Panti.
"Aku sudah memasukan karyawan baru yang bisa full time membantu ku dan bu Aisyah di Panti." Jawab Yoga dengan tegas.
Ia seperti tak perduli pandangan Andin yang bingung akan sikapnya.
"Oh.. Oke. " Kata Andin hampir tak terdengar.
Andin terlihat sedikit kecewa dengan perkataan Yoga yang menyakiti hatinya.
__ADS_1
Tak ada angin tak ada hujan, kenapa Yoga tiba-tiba berubah menjadi dingin. Kenapa juga tiba-tiba menghentikan Andin di Panti secara sepihak.
"Jangan sakit hati dengan semua sikap ku kepadamu. Kau kan yang bilang bahwa kita harus professional dalam bekerja. Dan harus juga bisa memilah mana hubungan kerja dan masalah pribadi. Yayasan Rumah Duafa adalah tanggung jawabku. Ada masa depan anak anak di situ yang harus aku perjuangkan. Jika kau tidak ada waktu untuk Panti, lalu untuk apa kau tetap ada di Panti? Aku harus realistis, Panti bukan tempat persinggahan. Jika kau tidak siap membagi waktu untuk menjadi editor dan bekerja menjadi ibu di Panti maka kau harus melepaskan salah satu. Dan hari ini aku ijinkan kau meninggalkan Panti demi kebahagiaan mu.
Beberapa waktu yang lalu aku sudah memohon untuk kau tetap mendampingi ku di Panti. Tapi ternyata Andin begitu sibuk dengan pekerjaan barunya." Kata Yoga berusaha menjelaskan kenapa Andin di berhentikan secara sepihak olehnya.
"Tapi kau berhentikan aku secara sepihak. " Kata Andin mencoba mengatakan apa yang menjadi ganjalan di hatinya. Yoga tidak memberi tahu sebelumnya kalau Andin di berhentikan di Panti.
"Aku penanggung jawab di Panti, aku bebas memasukan atau mengeluarkan siapa saja termasuk dirimu. Tak ada gunanya kau tetap di Panti jika tidak berkontribusi apapun di sana. Lebih baik kau fokus menjadi editor, kau memang lebih cocok kerja di sana. Daripada mengurus Panti dan anak-anak. " Kata Yoga dengan sedikit sinis.
Kata kata Yoga jelas dan sangat tegas menyakiti hati Andin.
"Kau marah padaku karena masalah pribadi dan kau menyangkut pautkan semuanya dengan Panti. " Kata Andin berusaha mendebat perkataan Yoga yang menurutnya tidak masuk akal.
Andin tau Yoga marah kepada dirinya, tapi tidak begini juga cara menyelesaikan masalah yang terjadi antara mereka.
"Hanya karena aku tidak datang dua minggu lalu kau bilang aku tidak perduli pada anak-anak? "
Yoga tak menjawab.
"Jangan bersikap seolah aku tidak berperan penting di Panti. Jangan karena urusan mu dengan ku, kau jadikan Panti sebagai tameng demi untuk bisa menyakiti ku, Ga! "
"Kau lucu! Di sepanjang sejarah aku mencintaimu. Tak ada niat aku sedikitpun untuk menyakiti mu meski aku juga tersakiti. Justru aku ingin melepaskan ikatan mu dengan ku sepenuhnya. " Kata Yoga dengan sedikit tertawa.Tertawa untuk menutupi keadaan hati yang sesungguhnya menangis.
" Panti adalah satu-satunya alasan ku untuk menjadikan mu tetap bersama ku. Panti adalah satu-satunya alasan yang tetap bisa membuat mu terus bertemu dengan ku. Dan Panti adalah satu-satunya cara agar aku tidak pernah kehilangan mu sepenuhnya.Dan sekarang aku ingin melepaskan kamu sepenuhnya untuk bisa bahagia dengan orang lain. Tanpa ada aku di tengah-tengah kalian berdua. Jika kau tetap di Panti maka aku akan tetap berharap kau akan kembali padaku. Tapi jika kau pergi, maka kemungkinan aku berharap mungkin sudah tidak ada. Aku ingin belajar hidup tanpa dirimu. Karena cepat atau lambat, kau akan meninggalkan ku dan hidup bahagia dengan orang lain. " Tambah Yoga dengan sedikit tertahan.
Andin tak bereaksi. Dia terlihat mencerna semua perkataan Yoga yang menurutnya aneh dan terlalu mendadak.
Baru saja mereka biasa saja. Tak terlihat Yoga yang dingin seperti sekarang. Kenapa Yoga jadi tiba-tiba berubah?
__ADS_1
"Aku bisa gila kalau seperti ini terus. Aku terus berharap kau akan memprioritaskan aku padahal kenyataannya kau bahagia bersama orang lain. Aku terus menjadikan Panti sebagai senjata agar kau tidak pergi dari hidup ku. Tapi aku sadar, kau mempunyai kehidupan lain selain aku dan Panti. "
"Aku tak ingin bicara sekarang! Lebih baik tenangkan hatimu dulu, baru kita bicara lagi nanti. " Kata Andin lalu keluar dari kamar meninggalkan Yoga yang masih ingin terlihat bicara dengannya.
Andin benar-benar tak habis pikir dengan Yoga hari ini. Bisa bisanya dia memutuskan sesuatu yang sama sekali tak pernah dibayangkannya.
Meski memang Andin berada dalam di lema antara Gerald dan juga Yoga. Tapi tak pernah ada niat sedikitpun dalam hatinya untuk meninggalkan Yoga sepenuhnya. Apalagi meninggalkan Panti dan anak anak yang sudah dia asuh selama bertahun-tahun.
Yoga akan tetap menjadi bagian dalam kehidupannya. Posisi Yoga juga tidak bisa tergantikan oleh orang lain termasuk oleh Gerald. Yoga akan tetap menjadi Yoga, orang yang sepanjang hidupnya menjadi malaikat penolong bagi Andin. Yoga akan tetap mengisi ruang lain di hati Andin.
Meski Andin sangat mencintai Gerald, tapi sosok Yoga juga tak kalah penting di hatinya. Andin akan tetap berusaha membuat Yoga bahagia. Bukankah selalu seperti itu?
Tapi kenapa hari ini tiba-tiba Yoga merasa bahwa dirinya tersisihkan dari hati Andin. Padahal ia tetap berusaha menyempatkan waktu untuk tetap datang menemui Yoga setelah beberapa minggu mereka tak bertemu.
Tak ada sedikitpun niat dalam hati Andin untuk menjauhi Yoga sepenuhnya seperti yang Yoga katakan padanya.
***
Beberapa hari kemudian.
Andin masih duduk didepan laptopnya dengan satu gelas kopi di hadapannya. Dia masih terlihat serius bekerja meski sudah waktunya istirahat dan makan siang.
"Mas Gerald kemana ya mbak, kok masih belum datang ke kantor sudah siang seperti ini? " Tanya Ayu kepada Andin.
Andin sedikit melirik kearah jam dinding, melihat sudah jam berapa sekarang. Dan ternyata benar ini sudah siang dan Gerald belum ada kabar. Gerald sama sekali belum menghubunginya sejak pagi.
"Kurang tau, Yu. Coba di telpon! " Kata Andin menyarankan Ayu untuk menelpon Gerald saja. Karena Andin juga tidak tau kemana Gerald. "Aku tanggung ngerjain kerjaan sedikit lagi, Yu. "
***
__ADS_1