
Beberapa menit kemudian akhirnya mereka tiba juga di rumah Ica. Gerald turun membukakan pintu mobil untuk Ica. Gerald jadi merasa bersalah karena telah membuat Ica menangis. Mungkin Ica merasa tersinggung karena Gerald tiba-tiba diam setelah dia bertemu dengan Andin. Padahal Gerald itu sedang bingung memikirkan apa alasan yang tepat untuk menjelaskan kepada Andin, tentang kepergiannya hari itu dengan Ica. Bukan merasa menyesal,telah pergi bersama Ica pagi itu, seperti yang Ica katakan kepada dirinya.
"Maaf Ca, jika ada sikap atau kata kata gw yang nyakitin elo." Kata Gerald seraya menggenggam tangan Ica, dan menatapnya dengan lembut.
Ica tak menjawab, ia hanya tampak mengusap usap air mata yang tadi sempet jatuh. Ia tidak mau, ketika dia masuk ke rumah dengan masih terlihat sembab karena menangis. Ica tidak mau ada banyak pertanyaan yang akan di layangkan oleh ibunya kepadanya karena matanya yang memerah karena menangis.
"Gw nggak bermaksud menyinggung perasaan elo,Ca!" Kata Gerald mencoba mengatakan kembali permintaan maafnya.
"Lo nggak capek, pura pura nggak tau perasaan aku,Ge?" Tanya Ica sembari menatap tajam wajah Gerald yang tampak begitu menyesali perbuatannya.
Gerald terdiam, kemudian dia tertunduk. Malu rasanya menatap wajah Ica yang hari ini terlihat begitu tegas bertanya tentang perasaannya.
"Aku nggak minta banyak sama kamu, Ge.Aku cuma minta sedikit perhatian dari lo,sedikit aja! Lo lihat dengan hati semua perhatian aku ke kamu. "
Gerald tetap terdiam.
Dia menyesal telah mendiamkan Ica tadi, walaupun dia sebenarnya tidak sengaja mendiamkannya.
"Aku tau cinta memang tidak bisa dipaksa. Aku tidak bisa memaksa mu untuk mencintai ku, tapi aku juga tidak bisa menghilangkan perasaan ku kepadamu begitu saja.Jika aku boleh memilih, siapa yang mau hidup seperti ini. Tetap mencintai orang yang sama sekali tidak pernah mencintai ku. Kau pikir aku bahagia? Hatiku sakit, Ge!" Ica tampak mengiba.
Untuk pertama kalinya Ica mengutarakan isi hatinya yang memang sakit jika Gerald tidak perduli padanya.
Gerald tetap tertunduk.Dia tidak bisa berkata kata.
"Hatiku sakit, saat kau terang terangan lebih memilih Andin, padahal dia sering sekali membuat mu kecewa.Apa kurangnya aku di banding Andin?"
Gerald tetap tak menjawab.
"Kau selalu sibuk mencari emas yang tak terlihat. Tapi berlian di depan matamu, kau tak pernah bisa melihatnya. Kau selalu sibuk mencari Andin yang bahkan dia tidak perduli padamu. Meninggalkan mu tanpa alasan yang jelas dengan laki laki lain!"
__ADS_1
"Jangan bicara begitu,Ca! Kau bahkan tidak tau siapa dia. Yang bersalah padamu adalah gw, jangan pernah bawa bawa Andin dalam masalah kita!" Kata Gerald dengan tegas.
Gerald tidak suka kalau Ica menyalahkan Andin atas semua yang terjadi. "Jangan pernah juga kau tanyakan kenapa aku lebih memilih Andin dari pada dirimu. Karena aku jatuh cinta pada dia.Kalau elo bertanya apakah kurangnya elo dari Andin, sebenarnya tidak ada yang kurang, kalian berdua sama sama cantik, sama-sama pintar, tapi bukan itu masalahnya.Masalahnya adalah hati. Coba kau tanya pada dirimu sendiri, kenapa kau jatuh cinta padaku? Kenapa tidak jatuh cinta kepada Agung, atau Fadil, atau Krisna atau orang lain? Apa kurangnya mereka dari gw?" Tambah Gerald kepada Ica. "Kau pasti tidak bisa jawab, karena mereka juga tidak kurang sesuatu apapun. Tapi hatimu tetap memilih untuk tetap jatuh cinta kepadaku bukan kepada mereka. Itu juga yang terjadi dengan hatiku."
Ica tak membantah lagi perkataan dari Gerald yang begitu panjang terhadapnya.Ica tau, Gerald sudah mulai marah kepada dirinya.
Gerald merangkul Ica yang sudah mulai terdiam. Tak tega rasanya Gerald tetap membiarkan Ica berbicara tentang perasaannya yang selalu terabaikan.Tapi Gerald harus menjelaskan kalau Andin tak ada hubungan sama sekali dengan permasalahan mereka.Kendati Ica harus merasa sedih karenanya.
Gerald tau bagaimana perasaan Ica selama ini, tapi apa yang bisa dia lakukan. Dia tidak juga harus berpura-pura mencintai Ica kan? Tapi dia juga sebenarnya tidak tega melihat Ica seperti ini. Walau bagaimanapun Ica sudah banyak membantunya.Tapi lagi lagi, apa yang bisa dia lakukan?
Dihatinya Hanya ada Andin, tidak ada yang lain. Dia bahkan tak memperdulikan hal yang lain selain Andin. Dia memang tak pernah memperdulikan Ica yang telah begitu banyak membantunya. Ica yang selalu ada di sampingnya.
"Sudah, jangan bicara lagi! " kata Gerald sembari tetap memeluk Ica yang dalam keadaan sedih.
Gerald lalu menuntun Ica agar masuk ke rumahnya. Dan setelah Ica masuk ke dalam rumah, Gerald akhirnya berpamitan untuk pulang. Dan Gerald juga tidak lupa mengatakan kalau hari ini Ica tidak usah dulu pergi ke kantor karena motornya sedang berada di bengkel. Dan sore nanti baru akan di antar kan kembali ke rumahnya oleh Agung.Gerald menyuruh Ica untuk tetap istirahat di rumah hari ini.
Dalam perjalanan pulang Gerald berusaha menghubungi Andin lewat telpon. Tapi hape Andin tidak aktif. Gerald pasrah jika hari ini dia akan kembali ribut dengan Andin gara-gara Andin melihatnya pergi dengan Ica tadi.
Setelah memarkirkan mobilnya di garasi, Gerald masuk ke dalam rumah dengan lemas. Dia tampak seperti tak bersemangat. Lalu dia menjatuhkan dirinya di sofa di ruang tamu. Dia merebahkan dirinya tanpa berkata kata.
Tiba-tiba tiba bi Sumi datang dengan menjinjing sesuatu.
"Tadi pagi, Non Andin datang membawakan sarapan pagi buat den Gerald!" Kata bi Sumi sembari menuangkan makanan yang dari dalam kresek itu ke dalam piring.
Gerald tak menjawab.
Dia hanya menatapi makanan yang tengah di sajikan bi Sumi untuk dirinya. Sepiring nasi uduk mang Ujang yang telah Andin beli tadi pagi pastinya sewaktu mereka berpapasan di sana.
Malas rasanya dia makan nasi uduk lagi saat itu. Tadi pagi dia pergi makan nasi uduk bersama Ica, walaupun sebenarnya saat itu dia belum mau sarapan.
__ADS_1
Gerald tidak pernah makan sepagi itu karena biasanya dia baru bangun jam sembilan pagi.Dan akan sarapan pagi setelah dia mandi dan berpakaian rapih.Tapi karena dia tidak mau membuat Ica kecewa, jadi dia terpaksa menemani Ica makan bersamanya pagi pagi sekali.
"Ga biasanya Aden keluar pagi pagi. Biasanya kan belum bangun jam segini. Kasian non Andin udah capek capek datang, tapi den Gerald nya tidak ada." Kata bi Sumi memecah kebisuan di antara mereka.
"Iya, bi.Tadi ada urusan sebentar!" jawab Gerald tak bersemangat.
"Ya udah, jangan lupa di makan nasi uduknya nanti non Andin marah kalau ga di makan." Kata bi Sumi lalu meninggalkan kembali Gerald sendiri di sana.
Bi Sumi kembali membereskan pekerjaannya di dapur.
"Iya, bi." Jawab Gerald sambil menyandarkan kembali tubuhnya di sofa. Malas rasanya dia melihat keadaan seperti ini. Tadi pagi pasti Andin niat banget buat beli sarapan pagi sebelum dia berangkat kerja. Tapi dia malah pergi makan bersama Ica. Ketemu pula di tempat yang sama. Apa yang di rasakan Andin, Gerald tentu tidak bisa membayangkannya. Mungkin Andin begitu kecewa terhadap dirinya.
Tapi ya sudahlah, semuanya sudah terjadi dan tidak akan bisa di ulang kembali. Kini hanya tinggal bagaimana Gerald menghadapi dan menjelaskan kepada Andin tentang kejadian hari ini.
Hubungan yang baru kemarin di perbaiki, hari ini sudah mulai ada percikan api yang menerpa.Tapi Gerald akan berusaha sebaik mungkin menjaga hubungan mereka. Dan menjamin semua kesalahan yang terjadi dulu tidak akan pernah terulang kembali.
Hampir berjam jam lamanya Gerald hanya duduk di sana tanpa bicara. Jadi tak bersemangat dia hari itu. Dia merasa serba salah bagaimana akan bersikap.Bersikap baik pada Ica, tentu itu akan menyakiti hati Andin. Tapi sebaliknya jika dia mengabaikan Ica, hati nuraninya sebagai seorang manusia berteriak.
Ica telah begitu baik terhadapnya, selalu ada saat dia membutuhkannya. Dia tidak akan pernah tega mengabaikannya begitu saja.
***
Esok harinya.
Setelah menyelesaikan pekerjaannya Gerald berencana pergi ke rumah kontrakan Andin sembari membawakan kunci motor Vespa-nya yang di minta Andin beberapa hari yang lalu. Gerald pasrah pada apa yang akan di katakan Andin nanti kepadanya untuk kejadian kemarin.Dia berjanji pada dirinya sendiri untuk mengalah dan tidak akan mendebat apapun yang akan Andin katakan.
Di perjalanan Gerald berhenti sejenak di toko kue untuk membeli beberapa cemilan kesukaan Andin, lalu meneruskan kembali perjalanan menuju ke rumah Andin.
***
__ADS_1
Ada yang bisa membayangkan bingungnya perasaan Gerald?