
Sebuah panggilan telepon menghentikan percakapan Ayu dan Gerald. Andin tiba-tiba telpon tengah malam buta.
"Halo, kenapa Yang? " Tanya Gerald yang merasa heran kenapa Andin menelponnya tengah malam buta.
"Aku mau makan nasi goreng. " Jawab Andin dari dalam telpon.
"Ya tinggal makan nasi goreng. Kamu kan jago masak. Kalau enggak tinggal beli di depan kan banyak nasi goreng di situ. " Jawab Gerald simpel.
"Ga mau. "
"Terus? "
"Aku mau nasi goreng yang di deket rumah kamu. "
"Ini jam berapa, malas lah aku keluarin mobil. " Gerald mencoba menolak keinginan Andin yang memintanya membelikan nasi goreng di dekat rumahnya.
"Ih gitu, ga sayang ya kamu sama aku. " Kata Andin dengan mengiba.
"Ya udah, tunggu sebentar! Aku cek dulu ke depan, siapa tau masih ada. Biasanya jam segini sudah habis kalaupun masih ada. "
"Ih Ayang jangan gitu,, tar habis beneran aku marah loh. "
"Ih ngapain kau marah sama aku, kan yang dagang tukang nasi goreng bukan aku. Ngapa pula aku yang harus dimarahi. "
"Mas, saya masuk dulu ke dalam sudah malam. " Kata Ayu menyela pembicaraan Gerald yang sedang menelpon.
"Oh, iya silahkan! " Bisik Gerald kepada Ayu sambil mengangguk.
"Ngomong sama siapa tuh? " Tanya Andin pada Gerald yang terdengar sedang berbicara dengan seseorang sambil berbisik.
"Sama Ayu. " Jawab Gerald.
"Oh jadi, ga mau keluar karena lagi tanggung sama Ayu. Sudah berapa ronde kalian? " Kata Andin dengan ketus.
"Hus...!!bicara apa sih? Sembarangan! Kami lagi ngobrol, Yang. Nggak ngapa ngapain. Ga boleh kayak gitu! "
"Ya kali ngobrol doang. "
"Andin, jangan suka berprasangka buruk sama orang! " Gerald terdengar menegur Andin yang bicara sembarangan. "Iya aku kesana sekarang. Tunggu! Aku beli dulu nasi gorengnya."Kata Gerald lalu menutup telponnya.
Dengan malas Gerald mengeluarkan mobilnya yang sudah masuk garasi. Tak lupa juga ia menyempatkan datang ke tempat nasi goreng langganan mereka dan membeli dua bungkus nasi goreng untuk Andin.
Karena sudah tengah malam, jalanan sudah terlihat sepi. Tak sampai berapa lama Gerald tiba di kosan Andin.
Gerald terdengar mengetuk beberapa kali hingga akhirnya pintu kosan di buka oleh Andin.
Andin tampak cemberut menyambut kedatangan Gerald di kamarnya.
"Hei,, ko cemberut sih? Senyum dong! Nasi goreng pedas mang Ujang langganan kamu. " Kata Gerald lalu memberikan dua bungkus nasi goreng mang Ujang yang tadi dia beli.
__ADS_1
Gerald terlihat mendekat kearah Andin lalu memeluknya, tak lupa mencium beberapa kali pipinya.
"Kok cemburu sama Ayu sih? Kan dia cuma karyawan di kantor aku. " Kata Gerald masih dengan memeluk Andin.
"Aku juga karyawan di kantor kamu lalu kau jadikan pacar. Ica juga karyawan di kantor, sama kau pacari juga. Sekarang Ayu juga kau bilang karyawan kan, tidak menutup kemungkinan kalau dia juga sasaran kamu selanjutnya. " Jawab Andin masih dengan cemberut.
"Ayang kenapa sih kok jadi cemburu kayak gini, biasanya juga gak pernah cemburuan. Kok sekarang dikit dikit cemburu sih. Aku makin ganteng ya,,,? " Goda Gerald sambil mengedipkan mata dengan nakal.
Andin melotot sambil menjambak sedikit rambut Gerald yang panjang.
"Kayak gini kamu sekarang? "
Gerald tertawa. "nggak, nggak cuma bercanda.. " Katanya sambil berusaha melepaskan jambakan tangan Andin pada rambutnya.
"Aku itu cuma cinta sama kamu, bukan sama yang lain. Nggak sama Ica, nggak sama Ayu atau sama siapapun. Cuma Andin saja yang ada di hatiku. " Tambah Gerald sambil mencubit sedikit pipi Andin.
"Antar aku beli mobil besok ya, Yang! " Ajak Andin, sambil memulai membuka bungkusan nasi goreng yang telah di beli Gerald tadi.
Gerald berhenti tertawa kemudian menatap ke arah Andin. "Wihh,, gayamu beli mobil. Mobil apa, mobil mobilan? "
"Bukanlah..! Masa mobil mobilan? Mobil beneran. Pilihkan aku mobil yang bagus. " kata Andin sambil memulai menyuapkan nasi ke mulutnya.
Gerald tak menjawab.
"Kenapa? Besok Ayang banyak kerjaan? " Tanya Andin yang heran melihat Gerald tiba-tiba berhenti bicara.
"Nggak."Jawab Gerald.
Gerald menyandarkan tubuhnya di kursi sambil terlihat menghela nafas panjangnya berkali kali.
"Ayang sekarang banyak duit? " Kata Gerald sambil menoleh kearah Andin yang sedang makan.
"Loh bagus dong. "
"Ya bagus, tapi sekarang sudah tidak pernah minta lagi duit sama aku. Terus aku kerja banting tulang buat apa, buat siapa? "
"Ya tetep buat aku lah. " Jawab Andin. "Aku memang mau beli mobil besok tapi kan yang bayar kamu bukan aku. " Tambahnya sambil nyengir. "Kan aku bilang antar beli mobil doang, bukan berarti aku yang bayar sayang. "
Gerald tampak melototi Andin. "Kalau aku ga mau bayar? " Tanyanya.
"Pasti di bayar dong! Aku yakin. "
"Kalau nggak? "
"Kalau nggak, kamu nggak akan dapat ciuman dari aku selamanya. Gimana..? " Jawab Andin sambil tersenyum.
"Enak aja. "
"Ya udah makannya bayarin. "
__ADS_1
"Kamu ini sebenarnya mau minta atau mau ngerampok sih? "
"Tergantung yang berpikir. Kalau kamu cinta sama aku ya enggak akan berpikir di rampok. Tapi kalau nggak cinta ya, nggak apa apa. Aku bayar sendiri aja. " Jawab Andin datar.
"Bisa aja ni orang kalau ngomong. Ada aja jawaban yang bikin gue kikuk kalah bicara."
"Iyalah, kau kan bilang kalau duitmu ga berguna sekarang, ya kau gunakan lah sekarang buat beli mobil ku. Bosan aku pake motor terus kemana mana. "
"Ga ada duitku buat bayar mobil, Yang. Kan sudah ku bayarkan buat beli rumah. "
"Kan baru bayar DP aja, rumahnya. "
"Biar DP tetap harus ku bayar nanti, mau bayar pake apa kalau duit ku habis. Kau pikir harga rumah berapa? "
"Kerja lagi lah! Kalau duitmu habis ya kerja lagi,emang mau ngapain. Aku juga gitu kok, sama. Kalau duit ku habis, aku kerja lagi.
"Bisa aja orang ini ngomong. " Kata Gerald sambil noyor kepala Andin.
"Bayar pake duitmu yang ada di aku, mau? " Kata Gerald menawarkan Andin untuk memakai duitnya yang ada pada Gerald.
"Emang aku punya duit? " Tanya Andin yang bingung tiba tiba Gerald bilang kalau dirinya punya uang yang disimpan pada Gerald.
"Ada, lebih buat harga satu mobil yang kamu inginkan itu. "
"Banyak amat? " Kata Andin terkesima.
"Iya dong! Kan penjualan parfum kamu bagus. "
"Yakin dari parfum doang? "
"Enggak sebagian dari hasil monetisasi YouTube ku."
"Oh, uang yang waktu itu mau di bagi dua? " Tanya Andin menyakinkan uang yang Gerald ceritakan padanya.
Gerald mengangguk.
"Kan aku sudah bilang suruh kasih ke Panti. "
"Aku kasih juga ke Panti. "
"Berapa persen yang kamu sumbangkan ke Panti? "
"2,5 persen."
Andin terdiam sejenak.
"Aku nggak mau pake uang itu. " Kata Andin lalu menghentikan makannya.
"Kenapa? "
__ADS_1
***