Kisah Cinta Andin Dan Gege

Kisah Cinta Andin Dan Gege
Yoga Berusaha Pasrah #86


__ADS_3

Gerald tetap duduk menunggu Yoga meski hari sudah beranjak sore. Satu jam yang di janjikan Yoga untuk datang menemuinya meleset hampir seratus persen. Tapi Gerald tetap duduk menunggu Yoga datang karena Gerald yakin Yoga pasti akan datang.


Gerald harus tetap bicara dengan Yoga hari itu juga karena besok dan seterusnya jadwal Gerald sudah padat untuk syuting dan kegiatan lainnya.Hanya hari ini satu satunya kesempatan untuk bisa bertemu dan berbicara dengan Yoga sampai tuntas tentang kenapa Andin di berhentikan dari Panti.


Di Panti Yoga bersikap profesional sebagai pembina Yayasan Panti yang di kelolanya. Pembicaraan mereka terhalang oleh keprofesionalan dalam pekerjaan.


Gerald harus bicara dari hati ke hati meski sebenarnya ia muak melihat wajah Yoga. Tapi demi Andin ia rela melakukan hal yang ia benci.


Beberapa saat kemudian benar saja apa yang dipikirkan oleh Gerald.Yoga akhirnya datang sama persis dengan apa yang dia pikirkan.Yoga tidak mungkin tidak datang menemuinya.


Yoga duduk dengan santai di depan Gerald yang sudah menunggunya sejak tadi di ruangan kerjanya Arman. Arman menyuruh Gerald untuk pindah dari luar kedalam kantornya.


Karena Arman sudah tau kalau Yoga dan Gerald akan membicarakan hal yang sangat pribadi tentunya tentang Andin. Arman takut mereka akan saling berdebat dan mengganggu ketenangan para pelanggan yang lain yang sedang menikmati makanan mereka. Makanya Arman menyuruh Gerald untuk menunggu Yoga di dalam kantornya saja.


"Oke,, gw sudah datang. Mari bicara! Apa yang ingin kau tau sebenarnya hingga rela menunggu ku begitu lama? " Kata Yoga dengan menyandarkan dirinya di sofa dengan rileks dan bergaya sok menjadi bos.


Gerald terlihat menghela nafasnya sebelum ia memulai bicara. "Pertanyaan gw masih sama, kenapa Andin di berhentikan dari Panti? "


Yoga juga terlihat menghela nafasnya sebelum menjawab. "Apa pentingnya lo tanyakan Pertanyaan bodoh itu ke gw. Bukannya seharusnya lo senang,lo bahagia,akhirnya Andin bisa lepas dari gw? Lo sekarang sudah tidak perlu memikirkan bagaimana caranya memisahkan gw sama Andin, karena gw sudah melepas dia sepenuhnya buat elo. "


Gerald terdiam sejenak. Apa yang dikatakan Yoga itu memang benar. Dia tak seharusnya mempertanyakan itu sama Yoga. Bukankah itu yang dia inginkan selama ini. Kenapa harus di pertanyakan. Seharusnya Gerald bahagia saja, menikmati keberuntungan yang sedang dia alami.


"Lo harusnya berterimakasih sama gw, karena gw dengan ikhlas mau melepaskan Andin bebas dari gw. " Kata Yoga kemudian.


"Andin tau kalau dia di berhentikan dari Panti? " Tanya Gerald dengan menatap tajam wajah Yoga yang sedang bersandar dengan tenang.


"Tau." Jawabnya. "Beberapa minggu yang lalu gw sudah bilang kalau sebaiknya dia keluar saja dari Panti. Karena gw mau berusaha menerima takdir gw yang tidak pernah bisa memiliki Andin meski apapun yang gw lakukan. Meski apapun yang gw korbankan. Jadi ya sudah..! Gw juga harus belajar kehilangan dia. Karena cepat atau lambat. Sekarang ataupun nanti, gw tetap akan kehilangan dia."


Gerald menatap wajah Yoga yang terlihat tegar. Tapi Gerald tau ada luka didalam hatinya yang berusaha ia sembunyikan.

__ADS_1


Gerald juga agak sedikit tidak percaya dengan perkataan Yoga. Andin tidak mungkin mengiyakan perkataan Yoga yang jelas jelas memecatnya dari Panti.


Gerald tau seberapa berharganya Panti untuk Andin. Tidak mungkin dengan sukarela Andin mau berhenti ataupun mengundurkan diri.


"Gw harap kejadian ini tidak menyakiti hati Andin. " Kata Gerald kemudian ia berdiri.


Rasanya sudah cukup pembicaraan mereka.


"Sesekali menyakiti hati dia ga pa pa lah. Toh dia punya elo yang dia sangat cintai itu. " Kata Yoga dengan sedikit tersenyum pahit.


Gerald tak menjawab perkataan Yoga.


Ia terlihat membenarkan pakaiannya kemudian berlalu meninggalkan Yoga yang masih duduk di ruangan kerja Arman.


Beberapa menit setelah Gerald pergi, Arman datang menemui Yoga.


"Emang bener mas Yoga memecat mbak Andin dari Panti? " Tanya Arman kepada Yoga yang terlihat sedang menyandarkan tubuhnya di sofa sambil menutup mata dengan kedua telapak tangannya.


"Yakin mas, melepaskan mbak Andin? "


Yoga kembali tersenyum. "Tak tau lah, Man. Aku gak faham sama diri ku sendiri. Aku juga bingung dengan dengan apa yang sedang aku lakukan. Aku hanya sedang berusaha belajar kehilangan Andin. Karena cepat atau lambat aku pasti kehilangan dia."


"Jodoh nggak ada yang tau, mas. "


"Ya berdoa tetap jalan, tapi kan harus realistis juga, Man. Kalau Andin sebegitu bahagianya dengan Gerald masa aku harus tetap berjuang." Kata Yoga seperti yang sudah sangat pasrah menerima kekalahannya. "Andin hanya mencintai Gerald, bukan mas. Mas capek berjuang, mas capek menjelaskan kalau mas sangat mencintai dia. "


"Sabar ya, Mas! " Kata Arman,, dengan halus. Arman seperti yang begitu paham bagaimana perasaan Yoga saat itu.


Yoga kembali tersenyum untuk kesekian kalinya. "Ya apa yang bisa dilakukan selain sabar."

__ADS_1


"Eh Mas, besok jam berapa acara pembacaan syahadat Mas Yoga di mesjid Ar Rahman itu ya, aku lupa? " Tanya Arman mengalihkan pembicaraan kepada acara yang akan dihadirinya besok. "Takut telat aku datangnya, nanti Mas Yoga dan pak ustadz lama nungguin. "


"Jam tujuh pagi, sudah di mesjid. "


"Oh, oke. Selamat sebelumnya ya, mas. "


"Belum juga mualaf sudah selamat, gimana sih. Kan besok acara peresmiannya juga. "


"Nggak apa apa. Peresmian besok cuma formalitas aja. Kan mas Yoga sudah islam dari hati dari taun kapan kan. Cuma kan belum sah secara hukum, nah besok baru mas Yoga islam di hati dan islam di negara."


Yoga tersenyum kecil.


"Aku senang lo mas, dengar akhirnya mas Yoga jadi mualaf walaupun pasti tidak mudah memutuskan untuk pindah _ _ _ _ _. "


"Sebenarnya tidak berat juga sih, Man. Aku sudah lama mempelajari islam. Hanya dulu keluarga ku menilai bahwa aku pindah _ _ _ _ _ karena ingin bersama Andin. Jadi mereka menentang keras keputusan ku. Tapi setelah begitu lama, akhirnya mereka tau kalau keputusan aku itu tidak ada hubungannya sama sekali dengan Andin. Aku benar-benar mencari dan mendalaminya sendiri tanpa ada campur tangan Andin sama sekali. "


Arman terlihat mengangguk anggukkan kepalanya, dia terlihat begitu serius mendengarkan cerita Yoga.


"Setiap hari aku bertemu pak ustadz, Aku juga sering sekali mendampingi anak anak tausiah di mesjid. Seminggu sekali aku mendengarkan ceramah. Aku juga hafal hafalan solat dan hafalan doa doa. Aku juga bisa baca Qur'an. Apa itu bukan sebuah petunjuk yang sangat jelas? "


"Iya juga sih. "


"Bukan karena ingin bersama Andin. "


"Terus nggak ada rencana buat ngasih tau mbak Andin buat acara besok? " Arman kembali mengalihkan pembicaraan kepada Andin.


"Untuk apa? "


"Ya siapa tau, keajaiban terjadi. Mbak Andin kembali sama mas Yoga. "

__ADS_1


Yoga terlihat tertawa. "Aku mualaf bukan karena ingin Andin simpati, Arman. "


***


__ADS_2