
"Kalau lihat cerita cinta abang kita ini, ko aku rasa kaya nonton sinetron ya? Berantem, baikan, putus, nyambung lagi, berantem lagi." Ucap Krisna, memulai kembali percakapan karena melihat teman temannya berhenti bicara.
Memulai kembali percakapan tentang Andin dan Gerald yang tadi sempat tertunda karena beralih membicarakan tentang Ayu dan Angga.
Krisna penasaran apa sebenarnya yang sedang di pikirkan Gerald saat ini tentang Andin. Gerald terlihat tak ingin tau tentang Andin, tapi dia juga tidak berhenti memikirkan tentang Andin. Bingung jadinya.
Yang di bicarakan tidak menyahut. Dia tak bereaksi apapun. Gerald tetap asyik sendiri dengan ponselnya.Dia tetap fokus bermain game. Tak perduli Krisna berbicara apapun tentang dia.
"Iya, tapi kali ini kemungkinan balik lagi kayaknya susah deh. " Agung menyela.
"Ya tapi kan tidak ada yang tidak mungkin." Kata Krisna masih penuh dengan harapan. Krisna masih yakin, suatu hari nanti Andin akan kembali lagi pada Gerald seperti yang terjadi sebelumnya. Dulu juga mereka pernah berpisah, tapi akhirnya kembali berbaikan.
"Iya sih." Jawab Agung, hampir tak terdengar.
"Tapi emang enggak ada yang tau sekarang Andin dimana?" Tanya Krisna menatap ke seluruh teman temannya. Berharap salah satu dari mereka mengetahui sesuatu tentang kabar Andin sekarang.
"Dia masih ada di Resto, kadang aku masih lihat dia." Jawab Agung sambil melirik ke arah Gerald.
"Ngapain lo ke Restonya Andin?" Gerald tiba-tiba tertarik ketika mendengar Agung katanya masih suka melihat Andin di restorannya.
"Waktu itu gue pernah datang ke Resto nganter temen gue, tapi gue enggak turun dari mobil. Gue pernah lihat dia keluar dari Resto bersama seorang pria, tapi bukan si Yoga kayaknya. Kalau gue enggak salah lihat itu juga."Jawabnya, agak terbata bata. Agung takut Gerald marah kalau dia tau kalau Agung pernah datang ke Restonya Andin waktu itu.
"Yang mana?" Gerald malah terlihat lebih tertarik mendengar cerita Agung.
"Tinggi putih, rambutnya panjang sebahu."
"Oh," Gerald bergumam sendiri.
"Emang itu siapa bang?" Agung bertanya, tapi Gerald terdiam.
Gerald mengangkat bahu. Padahal dia tau siapa orang yang di maksud oleh Agung itu. Orang itu adalah orang yang sama yang datang menjemput Andin di malam saat Andin pingsan di rumahnya dulu. Gerald tidak tau siapa dia, tapi Andin menyebutnya dengan sebutan Arman. Orang yang sama juga ada ketika Gerald datang ke kosan Andin untuk terakhir kalinya.Ketika Andin mengatakan kalau dia menerima keputusan Gerald untuk berpisah dengannya dulu.
"Emang enggak ada niat buat datang dan temuin dia, Ge?" Krisna terdengar bicara lagi setelah melihat Gerald terdiam kembali.
Gerald melirik ke arah Krisna yang bertanya kepada dirinya.
Gerald menggeleng.
"Kayaknya lo udah mantap banget ga mau lagi cari tau tentang dia. Kalau yakin mau Move on, kenapa sampai hari ini lo masih aja belum bisa serius dengan Ica?"
"Gue datang kemari, bukan mau bahas masalah gue dan Andin. Gue mau nongkrong ngopi bareng sama teman teman gue, Krisna. Kenapa jadi bahas Andin terus sih? Pusing gue! Lagian, gue sama Andin sudah sepakat buat akhiri hubungan kita dua tahun yang lalu. Jadi, ya sudah." Gerald mulai terlihat kesal karena melihat Krisna yang terus mengusik tentang dirinya dan Andin.Bolak balik membicarakan hal yang sama di setiap pertemuan. Gerald pusing terus menerus harus menjawab pertanyaan tentang Andin yang dia sendiri sudah enggan untuk membahasnya.
Sedangkan Fadil hanya tersenyum senyum sendiri melihat Gerald yang mulai kesal pada Krisna yang terus bertanya tentang Andin. Krisna mungkin penasaran,karena dia tidak ada di samping Gerald setiap waktu. Beda dengan dirinya dan Agung yang setiap hari bersama dengan Gerald, Fadil tau semuanya. Fadil mengerti perasaan Gerald. Makanya dia dari tadi diam saja tak bersuara atau berkomentar apapun.
__ADS_1
"Ye,,,,gue kan cuma nanya. Kok jadi sewot sih?"
"Lagian, ga ada bahan pembicaraan yang lain selain Andin?"
"Ada." Jawab Krisna.
" Ya udah, bahas yang lain."
" Gue mau bahas Ica, sama elo. "
Gerald tampak melotot kepada Krisna, sedangkan Krisna dan yang lainnya hanya tertawa.Mau bicara tentang Andin ataupun tentang Ica, itu sama saja dengan membahas dirinya sendiri.
***
Keesokan harinya.
Jam dinding sudah menunjukkan jam 9 pagi. Tapi Gerald belum terlihat keluar dari kamarnya. Padahal semua orang sudah sibuk bekerja. Di studio juga sudah terlihat Agung dan Fadil sudah berada di sana. Ica dan Ayu sudah sibuk packing barang online untuk di kirim ke ekspedisi hari ini.
Ica berulang kali melihat ke arah jam yang terpasang di dinding.
"Bentar lagi, bangun kok mbak." Kata Ayu melihat ke arah Ica yang dari tadi bolak balik lihat jam.
Ica tersenyum, malu kelihatannya di lihatin Ayu seperti itu.Ayu tau, Ica sedang menunggu Gerald keluar dari kamarnya.
"Iya."Ica terlihat mengangguk.
"Mbak Ica, sudah berapa lama ikut mas Gege?"
"Wah, udah lama, Yu."
"Dari mas Gerald masih sama mbak Andin, mbak Ica sudah di sini?"
Ica terlihat termenung sejenak. "Emang Ayu tau tentang Andin?"Tanyanya.
"Yo tau, to mbak."
"Tau dari mana?"
"Kan kita pernah ketemu di kosan Mas Agung waktu itu. Mas Gerald juga ada di sana. Kayaknya waktu itu mereka lagi berantem."
"Oh, ya?"
"Iyo, mbak. " Jawab Ayu dengan yakin. "Ga lama setelah itu katanya mereka putus kalau tidak salah."
__ADS_1
Tak berapa lama setelah Ayu dan Ica sedang bercakap cakap, terlihat Gerald menghampiri Ica yang sedang duduk di lantai sambil packing barang.
Gerald sudah terlihat rapih dan bersih saat keluar dari kamar.
"Pagi." Sapa Gerald pada Ayu dan Ica.
Gerald terlihat jongkok mencium kening Ica yang sedang duduk. "Sudah sarapan? " Tambah Gerald kepada Ica.
"Sudah." Jawab Ica terlihat membalas mencium pipi kiri Gerald.
"Bi sumi masak apa hari ini, Ca?"
"Masak rendang katanya." Jawab Ica.
"Oh,ya?" Gerald terlihat senang ketika mendengar Ica mengatakan kalau bi Sumi masak rendang pagi itu. "Ya sudah, aku mau makan dulu!" Katanya, lalu pergi ke arah dapur. Menghampiri bi Sumi yang sedang beberes di dapur.
"Aku mau makan bi. " Kata Gerald lalu duduk di meja makan.
Bi Sumi yang sedang mencuci piring menoleh ke arah Gerald. Lalu menghentikan kegiatannya sejenak, beralih menyiapkan piring dan lauk yang belum tersaji di atas meja makan.
"Tumben bi, masak rendang?" Tanya Gerald, sambil memulai menyuapkan nasi ke mulutnya.
"Lagi enggak banyak kerjaan,den."
"Ohh." Kata Gerald sambil terus memasukkan nasi ke dalam mulutnya. "Bi Sumi sudah makan?"
"Sudah." Kata bi Sumi sambil terus memperhatikan Gerald yang sedang makan. Gerald tampak lahap menyantap masakan rendang buatan bi Sumi. Bi Sumi begitu terharu melihat Gerald yang hari ini makan begitu lahap. Berbeda dengan sebelum sebelumnya yang selalu tidak selera makan. Dengan apapun yang dia masak.Mungkin hari ini, hati majikannya sedang bagus, hingga napsu makannya juga ikut membaik.
Setiap hari Gerald selalu makan sedikit, jauh dari kata ideal untuk seorang lelaki yang sibuk dan banyak kerjaan seperti Gerald.
Gerald selalu kehilangan selera untuk makan.Kalau tidak Ica terus memaksanya untuk makan, mungkin Gerald juga tidak akan pernah makan.
"Kenapa lihatin terus, bi?"
"Terharu, den."
"Terharu kenapa?"
"Den Gerald hari ini makannya banyak."
Gerald tersenyum kepada bi Sumi.
"Pagi ini mut ku lagi bagus bi. Kebetulan bi Sumi masak rendang. Jadi, banyak lah aku makan hari ini, bi." Jawabnya sambil tersenyum.
__ADS_1
***