Kisah Cinta Andin Dan Gege

Kisah Cinta Andin Dan Gege
Kemarahan Andin #44


__ADS_3

"Aku sebenarnya datang untuk.." Andin tetap tak meneruskan perkataannya.


Dia menjadi ragu untuk meminta maaf kepada Gerald saat itu.Andin merasa kedatangannya ke rumah Gerald saat itu adalah salah.Andin merasa dia juga tidak perlu minta maaf tentang Rumah Duafa yang tak pernah ia ceritakan.


"Untuk..?" Gerald menunggu Andin menyelesaikan perkataannya.


"Untuk meminta maaf." Akhirnya Andin menyelesaikan perkataannya yang terhenti beberapa kali.Akhirnya kata kata yang tidak ingin dia katakan itu terlontar juga dari bibirnya.


"Minta maaf untuk apa?" Mata Gerald terlihat sinis menatap ke arah Andin yang berbicara dengan terbata bata. "Minta maaf untuk kesalahan kamu yang mana?" Gerald seperti berusaha memojokkan Andin.


"Kesalahan apa yang kau maksud?" Andin tersinggung dengan perkataan Gerald barusan.


Gerald terdiam.


Gerald keceplosan bicara seperti itu. Dia tak bermaksud menyinggung perasaan Andin.


"Kesalahan ku satu satunya adalah datang kemari untuk meminta maaf kepada mu." Jawab Andin dengan nada suara yang mulai tinggi.


Andin tersinggung dengan perkataan Gerald yang mengatakan kalau dia akan meminta maaf untuk kesalahannya yang mana.


"Kau pikir siapa dirimu, hingga menganggap aku begitu banyak bersalah kepada mu?" Teriaknya kepada Gerald.


Gerald tak menjawab.


Gerald tidak menyangka kalau Andin akan bereaksi sekeras itu kepada dirinya.Gerald tidak menyangka kalau Andin akan tersinggung dengan perkataannya.


"Kau selalu menganggap aku bersalah. Coba katakan dengan jelas, dimana letak kesalahan ku sebenarnya? Aku pergi meninggalkan mu, itu karena kau yang ingin kita berpisah." Kata Andin dengan mulai kehilangan kendali. Andin mulai bergetar, menahan emosi di hatinya yang berusaha dia redam.


"Aku ingin berpisah karena kau begitu egois." Gerald mencoba membela diri. "Kau selalu perduli pada perasaan Yoga. "


"Apa kau juga tidak egois?" Bentak Andin untuk kedua kalinya. "Aku sudah datang seperti yang kau inginkan, aku juga sudah mengiyakan keinginan mu, untuk mengajak aku kembali bekerja di sini.Tapi dengan begitu tidak perduli nya dirimu, kau tetap pada keinginan mu untuk berpisah dari ku! Dengan seenak jidatmu kau ingin membagi dua uang kita. Padahal aku sudah mengalah dan menuruti perkataan mu, untuk kembali ke rumah ini. Tapi dengan angkuhnya kau tetap mengatakan ingin mengakhiri hubungan kita. "

__ADS_1


"Tapi aku sudah datang untuk meminta maaf padamu!" Gerald tetap berusaha membela diri.


"Hatiku sudah terlanjur sakit, saat kau tiba-tiba mengatakan ingin putus dan membagi dua uang kita." Bantah Andin dengan nada tertahan.


Gerald terdiam.


"Seenak hati mu berkata kalau aku begitu egois. Apakah kau tau, seberapa sakit aku hidup tanpa dirimu selama ini? Kau hanya selalu mengingat ingat satu kesalahan ku. Kau tak pernah mau melihat perjuangan ku untuk mu." Kata Andin dengan tetap mencoba menahan emosinya.


Tangan dan kaki Andin mulai terasa dingin,Andin sudah sebisa mungkin menahan emosinya yang tiba-tiba saja naik saat dia tersinggung dengan perkataan Gerald kepadanya. Tapi, Andin tidak bisa mengontrol hatinya yang sudah sakit, menahan semuanya selama hampir dua tahun.


Fadil dan Ica datang ke ruang tamu karena mendengar Andin berteriak kepada Gerald. Fadil takut terjadi apa apa pada mereka berdua.Fadil pun berusaha menenangkan Andin, tapi sia sia, Andin sudah terlihat begitu emosi.


"Aku datang jauh jauh kemari untuk meminta maaf karena aku tak pernah menceritakan tentang Rumah Duafa kepada dirimu.Aku tetap datang untuk menjelaskan walau sebenarnya aku tak perlu menjelaskan apapun lagi kepadamu! Karena kau bukan siapa-siapa lagi bagiku! Tapi rupanya aku salah, telah menganggap Gerald akan mengerti kedatangan aku ke rumah ini.Rumah yang di sertifikatnya pun masih tertulis nama ku. Apa kau tidak sadar, bahwa aku telah banyak mengalah kepadamu?" Bentak Andin kemudian. "Ternyata aku salah, telah berusaha menjelaskan Rumah Duafa kepada mu, aku telah salah telah menganggap mu masih perduli kepadaku!" Kata Andin seperti ingin menangis.


Gerald tak berusaha mendebat perkataan Andin. Gerald membiarkan Andin mengeluarkan semua isi di hatinya.Gerald takut, ketika Gerald mendebat perkataan Andin, Andin akan semakin marah kepada dirinya.


"Aku hanya salah karena tak pernah bercerita tentang Rumah Duafa kepadamu.Karena bagiku, Rumah Duafa itu tidak penting untuk hubungan kita. Lagi pula sudah lama sekali aku tak pernah menjadi bagian di sana. Yoga sudah mengambil alih semuanya." Andin akhirnya menurunkan nada bicaranya.


Tanpa ada yang menyadari seorang pria masuk kedalam dan langsung memukul Gerald berkali-kali hingga ia tersungkur di lantai.Pria itu tak memberikan kesempatan kepada Gerald untuk balas memukulnya.


Dengan cepat Fadil menarik baju seorang pria yang tengah memukuli sahabatnya itu dan langsung balas memukulnya.Hingga pria itu juga terjatuh.


Ica dan Andin menjerit, karena mereka tak menduga akan ada perkelahian di sana. Andin tak tau, kenapa Arman bisa datang ke rumah Gerald dan langsung memukuli Gerald seperti orang gila.Andin terkejut, Arman bisa melakukan hal yang tak pernah di bayangkan nya.


Andin berusaha membantu Arman yang juga terjatuh di lantai. Andin juga terlihat menyeka sedikit darah yang keluar dari ujung bibir Arman.


"Arman, kenapa bisa datang kemari?" Tanya Andin yang heran dengan kedatangan Arman ke rumah Gerald tanpa sepengetahuannya.


Tapi Arman tak menjawab, dia hanya terlihat menatap Gerald dengan penuh kebencian.Menatap Gerald penuh dengan kemarahan.


Arman meludahkan sedikit darah yang ada di sela bibirnya ke hadapan Gerald yang juga sedang berusaha bangkit.

__ADS_1


Gerald berusaha bangkit dengan di bantu oleh Ica. Gerald terlihat menyeka darah yang menetes di hidung dan sela bibirnya dengan tangannya.


Dia menatap tajam orang yang telah memukulnya itu tanpa perlawanan. Bukan karena dia benar-benar kalah tapi karena Gerald juga tak ingin membalas memukul Arman.


Arman tetap menatap tajam wajah Gerald dengan penuh amarah dan kebencian dan seperti ingin terus mencecar Gerald dengan pukulan. Tapi Andin berusaha memeganginya.


"Kau bisa di penjara karena telah melakukan penganiayaan terhadap orang lain." Kata Gerald dengan tenang. Dia tak terlihat emosi pada orang yang telah memukulinya itu.


"Dengan senang hati aku akan masuk penjara, karena aku bersyukur telah menghajar laki-laki yang tidak tau diri seperti dirimu." Jawab Arman, dengan pandangan mata yang begitu benci kepada Gerald.


"Aku tak pernah mengenalmu, kenapa kau terlihat begitu benci kepada ku?" Tanya Gerald kepada Arman.


"Aku benci karena kau telah membuat Andin menangis setiap hari.Lagi pula,tak perlu alasan untuk membenci seorang banci seperti mu. " Jawab Arman sambil meludah.


"Aku laki-laki, bukan banci seperti yang kau katakan." Kata Gerald dengan tetap tenang.


"Tapi kelakuan mu seperti,banci!"


"Oh, ya? " Gerald terlihat tersenyum. "Apa kau kira dengan seperti ini, kau telah menjadi pahlawan?Apa kau kira dengan seperti ini, kau merasa hebat?"


Arman tak menjawab.


"Dengan seperti ini, kau tidak akan tiba-tiba jadi pahlawan bagi Andin, bro."


Belum pun sempat Gerald meneruskan perkataannya, Andin sudah terjatuh ke lantai.Andin tak sadarkan diri.


Semua orang terlihat begitu panik. Baik Gerald ataupun Arman tidak menyangka kalau Andin akan tiba tiba pingsan.


Karena tangan dan kaki Andin begitu dingin, akhirnya Arman membawa Andin langsung ke rumah sakit. Arman takut terjadi apa apa pada Andin.


***

__ADS_1


__ADS_2