
Jalanan sudah sangat sepi. Hanya terlihat beberapa kendaraan saja yang masih berlalu lalang di jalanan.Mata Yoga tak pernah berhenti mencari, siapa tau motor Andin berada di depannya.
Tapi Yoga tidak menemukan Andin di jalanan meski dia sudah berusaha sekencang mungkin mengejar Andin.
Perjalanan dari kosan Andin kerumahnya juga tidak terlalu jauh. Hanya membutuhkan waktu sekitar 30 menit.Mungkin Andin mengendarai motornya dengan sangat cepat hingga Yoga tidak bisa mengejarnya.
Tiga puluh menit kemudian akhirnya Yoga tiba di depan kosan Andin. Motor vespa milik Andin sudah terparkir di halaman kosan.
Beberapa saat Yoga hanya terlihat menatapi kosan yang terlihat sepi. Hari sudah begitu larut. Tapi setelah berpikir beberapa saat akhirnya Yoga turun dari mobil lalu menghampiri kamar Andin.
Pintu terdengar di ketuk beberapa kali.
Tak berapa lama terdengar Andin membuka kunci pintu kamarnya.
Andin terlihat memandangi wajah Yoga yang berdiri di hadapannya.
Yoga masuk dan berusaha menghindari pandangan mata Andin lalu duduk tanpa bicara.
Andin terlihat beberapa kali menghela nafas panjangnya lalu ia kembali merebahkan tubuhnya di atas kasur juga tanpa bicara.
Andin membiarkan Yoga dengan segala kebisuannya.Andin kembali tertidur setelah melihat Yoga juga merebahkan tubuhnya di kursi.
Dipaksakan bicara pun percuma, hari sudah begitu larut sudah waktunya beristirahat.
***
Pagi pagi sekali Andin sudah terbangun. Dia agak sedikit kaget ketika melihat seseorang tidur di sebelahnya. Andin lupa kalau Yoga semalam datang ke kosannya.
Mungkin semalam Yoga pindah dari kursi dan tidur di sebelahnya.
Andin terlihat menatap wajah Yoga yang masih terlelap tidur. Tangan Andin tanpa sadar tampak mengelus rambut Yoga yang terlihat berantakan.
Andin sudah lama sekali tidak memperhatikan dengan jelas wajah Yoga yang ternyata hampir tak berubah dari jaman dulu ketika mereka masih bersama hingga hari ini.
Beberapa bulan ini, hubungan mereka kurang begitu bagus. Andin seringkali mengatakan hal yang mungkin menyakiti hati Yoga tanpa sengaja. Bahkan mungkin Andin juga sering tak perduli pada perasaan Yoga akhir akhir ini.
Semenjak Yoga menyatakan dengan gamblang kalau dia masih mencintai Andin, tak di pungkiri memang Andin agak sedikit menjaga jarak dengan Yoga.
Tapi melihat Yoga yang sedang lelap tidur seperti ini rasanya tidak tega jika tiba-tiba ia harus merubah sikapnya menjadi acuh tak acuh kepada Yoga.
Ada sedikit perasaan bersalah kepada Yoga karena ia sudah mengacuhkannya beberapa waktu ini.
Yoga terlihat membuka mata ketika dia menyadari ada yang sedang mengelus rambutnya.
Seulas senyum ia lemparkan kepada Andin yang tiba-tiba berhenti mengelus rambutnya.
"Jam berapa ini? " Kata Yoga sambil terlihat mengucek matanya.
"Masih pagi. " Jawab Andin.
__ADS_1
"Kenapa sudah bangun kalau masih pagi? " Jawab Yoga sambil menarik tubuh Andin kembali terbaring bersamanya.
"Aku mau ke kamar mandi. " Jawab Andin sambil berusaha melepaskan pelukan Yoga kepadanya.
"Nanti aja, temani aku tidur sebentar lagi! " Kata Yoga masih tidak mau melepaskan pelukannya.
"Aku mau siap siap bikin sarapan. Emang kamu ga lapar? " Kata Andin masih berusaha melepaskan pelukan Yoga kepadanya.
"Enggak." Jawab Yoga tetap dengan memeluk Andin.
Andin terdiam sejenak. Ia tak berusaha melepaskan pelukan Yoga yang begitu erat memeluknya. "Jawab dengan jujur kenapa kamu marah sama aku? " Tanya Andin tiba tiba sambil berbalik menghadap Yoga.
Yoga perlahan melepaskan pelukannya. Kemudian dia duduk lalu menyandarkan tubuhnya di tempat tidur.
"Aku kan sudah bilang, aku nggak marah sama kamu. " Jawabnya sambil mencubit sedikit hidung Andin.
"Masa? "
"Iya."
"Terus kenapa kamu menghindari aku beberapa hari ini? " Tanya Andin kembali.
"Siapa yang menghindar, gak ada. Biasa aja. Itu cuma perasaan kamu aja kali. "
"Ya udahlah terserah kamu. " Jawab Andin lalu bangkit dari tempat tidur.
Yoga dengan cepat menarik tangan Andin. "Kalau emang aku marah, kamu mau apa? "
Andin pergi ke dapur untuk membuat sarapan pagi dan segelas susu untuk dirinya.
Sedang asyik membuat sarapan di dapur tiba-tiba Yoga datang dan memeluknya dari belakang.
"Yoga.... " Andin berusaha menghindar.
"Sttt...! " Yoga mengacungkan telunjuk di mulutnya.
"Ga, jangan kayak gini! " Andin tetap berusaha menghindar.
"Kenapa kamu datang ke rumah semalam? " Kata Yoga tiba-tiba.
Andin terdiam.
"Kenapa kamu cari aku? " Tambahnya.
"Ya cari, kan kamu tidak bisa di hubungi seharian. "
"Iya, kenapa kamu cari aku? Kamu kangen aku ya? " Kata Yoga masih berusaha memeluk mesra Andin meski Andin tetap berusaha menolak.
"Yoga.. "
__ADS_1
"Jawab dulu! "
"Aku cari kamu karena aku pikir kamu itu marah sama aku. Kamu sengaja matiin handphone agar aku tidak bisa hubungi kamu. Ya aku mau tanya, kamu marah nggak sama aku, kalau marah aku mau minta maaf. " Jawab Andin.
"Cuma itu? "
"Iya."
"Yakin..? " Kata Yoga sambil membalikkan tubuh Andin ke hadapannya.
Yoga memegang dagu Andin lalu mendongakannya ke hadapan wajahnya.
"Yoga, apaan sih. " Andin tetap mencoba menghindar.
Melihat Andin yang terus berusaha menghindari pelukannya akhirnya Yoga melepaskan Andin.
"Bikinin aku kopi! " Perintahnya lalu kembali ke tempat tidur.
Andin terlihat cemberut melihat Yoga yang selalu membuatnya kesal.
Andin menyodorkan segelas kopi panas yang telah di buatnya di atas meja.
"Kamu ingin tau kan kenapa aku berusaha menghindari mu beberapa hari ini? " Kata Yoga sambil berusaha menyalakan satu batang rokok yang sedang dipegangnya.
Andin tak menjawab.
"Karena aku selalu tidak bisa menahan perasaan ku jika aku bertemu dengan kamu. Dan aku akan membuat kamu selalu marah seperti ini setiap kali kita bertemu. "
Andin masih membisu.
"Aku hanya tidak ingin membuat kamu marah, tapi sayangnya sesusah itu untuk aku lakukan. " Tambahnya sambil terlihat menyedot rokok yang sudah dinyalakannya.
"Maafin aku ya. " Tambah Yoga lagi.
Andin masih tak menjawab.
Yoga terlihat berdiri. "Kalau gitu, aku pulang aja. Percuma disini kalau cuma bikin kamu kesal. "
Andin menatap ke arah Yoga yang tengah bersiap membenarkan bajunya yang terlihat kusut. Lalu ia juga berdiri dan mendekat.
Satu pelukan hangat di berikan kepada Yoga. "Aku yang harusnya minta maaf untuk semua sikapku beberapa waktu ini kepada mu. Mungkin ada sikap atau tindakan ku yang menyakiti hatimu. "
"Sttt.. Jangan bicara begitu, kamu gak perlu minta maaf. Aku yang salah. Kenapa harus minta maaf. "
Andin menyandarkan tubuhnya di bahu Yoga. Tiba-tiba Andin ingin bersikap manja kepada Yoga pagi itu.Andin mengingat betapa dia sudah berbuat kasar kepada Yoga beberapa waktu ini.
"Kamu mau sarapan apa pagi ini, biar aku buatkan." Kata Andin sambil menatap wajah Yoga yang terlihat bahagia.
"Gak usah, aku gak lapar. Kamu duduk sini aja, temani aku minum kopi. " Jawab Yoga sambil mendudukkan Andin di sebelahnya.
__ADS_1
***