Kost Putri

Kost Putri
10# Panas!


__ADS_3

Pagi-pagi sekali, Halomoan sudah olahraga pagi bersama Agus dan Bambang. Mereka sengaja hanya berlari-lari kecil di depan kost-kost-an mereka. Mata Halomoan selalu mengawasi kost putri Nyak Tatik. Ia berharap Butet keluar dan berolahraga, hingga ia bisa melihat wajah manis Butet.


Agus dan Bambang sudah tahu modus Halomoan. Mereka berdua tertawa melihat kelakuan Halomoan yang terus menerus melihat ke arah paviliun Nyak Tatik.


"Yakin gue, lu suka sama Butet." Celetuk Agus.


"Cuihhhh! menghayal kau Agus." Ucap Halomoan.


"Jangan munafik kau Moan." Ucap Agus sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Serius aku. Aku nunggu dia untuk ku tekek kepala nya!" (Red- Tekek- jitak- pukul)


"Alahhh Moan, awas aja kalau gue tahu lu jadian sama si Butet!" Ucap Agus.


Dari dalam rumah Nyak Komariah, Risa mengeluarkan sepeda motornya dan memarkirkan nya di jalan tepat di depan rumah nya. Risa menghampiri Halomoan dan menyapa lelaki 23 tahun itu.


"Bang Moan." Panggil Risa dengan manja.


"Ya Dek." Sahut Halomoan sambil menoleh kepada Risa.


"Bang, antarkan Risa beli nasi uduk yuk." Ucap Risa.


Moan menatap Agus dan Bambang.


"Ayo lah Bang." Desak Risa.


Risa salah satu anak kembar Nyak Komariah. Terlihat manis pada pagi ini. Ia terlihat sangat segar dengan dress nya yang berwarna kuning cerah. Gadis berkulit putih dan berkaca mata itu sudah lama menyukai Halomoan. Tetapi, Halomoan hanya menganggap nya sekedar Adik, tak lebih.


"Antar lah Moan." Ucap Bambang.


Halomoan merasa ragu. Lalu, tiba-tiba dia melihat Butet keluar dari paviliun rumah Nyak Tatik. Sambil menatap dirinya dengan tajam.


"Ayo lah Dek." Ucap Halomoan sambil beranjak ke sepeda motor Risa yang terparkir di jalan.


Butet melihat Halomoan membonceng Risa. Risa dan Halomoan terlihat saling tersenyum dan wajah Risa memerah malu.


"Cihhh..! laku jugak nya dia!" Gumam Butet.


"Udah Adek sayang. Jangan lupa peluk Abang, biar gak jatoh nantik. Kalo jatoh terus lecet, gak bisa pulak Abang tidor nantik malam." Ucap Halomoan dengan kencang-kencang, hingga terdengar jelas di telinga Butet.


"Lebay kali memang. Udahlah jelek, lebay pulak dia." Ucap Butet.


Halomoan menyalakan sepeda motor milik Risa, lalu ia menjalankan pelan-pelan sepeda motor itu sambil melirik Butet yang menatap nya dengan jijik.


Risa terlihat memeluk pinggang Halomoan dengan mesra. Sedangkan Halomoan terlihat senyum-senyum bangga.


"Bentuk kau lagi!" Ucap Butet.

__ADS_1


Halomoan berlalu dari hadapan Butet sambil tersenyum girang.


"Pagi Butet..." Sapa Agus.


"Gosah sok ramah kau!" (Red- gosah- gak usah). Bentak Butet.


Agus terdiam, sedangkan Bambang terkekeh geli melihat ekspresi wajah Agus yang terkejut saat di bentak oleh Butet.


"Galak banget lu Butet..!" Ucap Agus.


Butet hanya melengos dan berjalan ke arah keluar komplek.


Setelah beberapa menit Butet berjalan, tiba-tiba saja Batra menyusul Butet.


"Tet, Abang antar ya." Ucap Batra.


Butet menoleh kesamping nya dan melihat Batra yang terlihat bersemangat mengiringi langkah kaki nya.


"Gosah Bang." Ucap Butet.


"Gak apa kok Butet, Abang juga mau kedepan, beli nasi uduk." Ucap Batra.


Butet berpikir, kalau dia akan bertemu dengan Halomoan di depan komplek. Butet tersenyum jahil, lalu ia mengangguk dengan cepat.


Batra terlihat sangat bahagia, saat Butet naik ke boncengan motor nya. Batra pun melajukan sepeda motornya dengan kecepatan sedang hingga sampai di depan komplek.


"Moan." Sapa Batra.


Halomoan hanya mengangkat alis nya saat membalas sapaan Batra, lalu ia menatap Butet yang terlihat bahagia di samping Moan.


Batra melirik ke arah Risa yang sedang mengantri nasi uduk. Risa yang melihat Abang nya datang bersama Butet hanya melengos tanpa menyapa Batra.


Anak-anak Nyak Komariah tidak dekat dengan saudara mereka, anak-anak dari Nyak Tatik. Karena hasutan dari Enyak mereka, perasaan benci pun, ikut bersarang di hati mereka.


Padahal anak-anak dari Nyak Tatik tidak pernah membenci Rita dan Risa. Karena mereka merasa Rita dan Risa adalah adik kandung satu Ayah bagi mereka. Tetapi, sangat sulit bagi mereka untuk mendekatkan diri dengan Rita dan Risa. Rita dan Risa sudah termakan semua cerita-cerita buruk tentang keluarga Nyak Tatik.


"Mau beli berapa bungkus Tet?" Tanya Batra.


"Tiga Bang." Ucap Butet sambil mengikut antri di warung nasi uduk itu.


"Biar Abang yang pesankan ya Butet. Kamu tunggu saja di sana." Ucap Batra yang terlihat sangat perhatian dengan Butet.


Butet tersenyum dan menatap Batra dengan kagum.


"Perhatian kali Abang ya." Ucap Butet sambil tersenyum manja kepada Batra.


Batra tampak bahagia dengan pujian Butet. Lalu, lelaki itu mengantri tepat di belakang Risa. Sedangkan Butet duduk di atas sepeda motor Batra yang terparkir di depan Halomoan.

__ADS_1


Halomoan menatap Butet dengan wajah cemburu. Sedangkan Butet tidak sama sekali melihat wajah Halomoan.


"Sok romantis kali bah!" Gumam Halomoan.


Butet membuka gawainya sambil bersenandung kecil. Sedangkan Halomoan tidak sekalipun melepaskan pandangannya dari Butet.


Lama-lama Butet pun merasa risih dengan Halomoan yang terus menatap dirinya.


Butet pun mengangkat wajah nya dan membalas tatapan Halomoan.


"Mata kau!" Ucap Butet sambil melotot ke Halomoan.


"Ish, kenapa lah anak ini ya." Ucap Halomoan sambil mengerutkan keningnya.


"Ko tengok aja aku teros, gadak pemandangan laen memangnya?" Tanya Butet.


"Kok parah kali tingkat kegeeran mu?" Tanya Halomoan.


"Eh, aku bukan geer ya! udah jelas pun kau nengok aku teros!" Ucap Butet.


"Benci kali rupanya kau sama aku? Suka kau nanti sama aku!" Celetuk Halomoan.


"Hah! Aku suka sama kau? runtuh dunia! ngerti kau! Udah jelek pun kau, kepedean pulak sifatmu!" Ucap Butet tak kalah kesal.


"Ada apa Bang?" Tanya Risa yang sudah mendapatkan nasi uduk nya. Risa menatap Butet dengan wajah yang sinis.


"Gak apa Dek sayang. Udah nya? Ayok kita pulang." Ucap Halomoan sok romantis.


Butet tertawa sinis sambil membuang pandangannya.


Halomoan sengaja melambatkan laju sepeda motor itu. Hingga Batra yang sudah selesai membayar nasi uduk nya pun bergegas menyalakan sepeda motornya.


Halomoan terus memantau Butet dan Batra dari kaca spion motor Risa. Hingga akhirnya, ia pun di susul oleh sepeda motornya Batra.


Halomoan berusaha mengimbangi laju sepeda motor Batra hingga Butet dapat melihat dirinya dan Risa.


"Dek, peluk lah pinggang Abang. Biar gak jatoh." Ucap Halomoan dengan suara yang kencang, agar Butet dapat mendengar nya.


Risa tersenyum dan memeluk pinggang Halomoan. Sebagai saudara se-Ayah, Batra merasa sedikit risih melihat Risa memeluk Halomoan.


Butet yang merasa kesal dengan Halomoan pun, ikut memeluk pinggang Batra dari belakang. Batra terlihat bahagia saat Butet memeluk dirinya.


Halomoan yang melihat Butet memeluk Batra pun, merasa panas. Ia mencoba mendahului Butet dan Batra.


Butet tersenyum puas saat melihat Halomoan sudah pergi dari hadapannya. Tiba-tiba saja Butet terkejut saat tangan nya yang melingkar di pinggang Batra, di sentuh dengan lembut oleh Batra.


"Eh, apa ini?" Batin Butet.

__ADS_1


__ADS_2