Kost Putri

Kost Putri
24# Butet melunak


__ADS_3

Pesawat yang di tumpangi Butet dan Halomoan pun, lepas landas dan segera meninggalkan langit Jakarta. Butet yang sudah was-was dengan Halomoan yang suka ngences pun sudah menjaga jarak dari lelaki itu.


Halomoan terlihat kalem sambil mendengarkan musik dari gadgetnya. Butet sesekali melirik lelaki itu, hanya untuk memastikan bila Halomoan tidak tertidur dan bersender di pundak nya seperti saat naik Bus waktu itu.


Wangi parfum Halomoan yang lembut namun segar tercium oleh Butet. Lelaki itu memang benar-benar sangat berbeda kali ini. Butet pun mulai tenang duduk di samping Halomoan.


Seorang Pramugari membagikan Snack untuk para penumpang. Saat Pramugari memberikan Snack, Halomoan meraih nya dan memberikannya untuk Butet. Lalu, ia mengambil jatah nya belakangan. Butet pun, grogi saat Halomoan begitu mengutamakan dirinya.


Hampir 2 jam kemudian, pesawat yang di tumpangi Butet dan Halomoan pun, mendarat di Bandara Kualanamu, Medan. Halomoan yang duduk di tepi di dekat lorong pesawat beranjak dan mengambil tas dari bagasi atas pesawat, saat diperbolehkan untuk membuka sabuk pengaman.


Halomoan menyerahkan tas Butet. Saat Butet beranjak dari duduknya.


"Ini tas mu Tet." Ucap Halomoan.


Butet menatap Halomoan, lalu meraih tasnya dari tangan Halomoan.


"Bilang "makasih sayang" kek gitu lah." Ucap Halomoan sambil tersenyum jahil.


"Mukak kau..!" Ucap Butet.


"Ish kapan lah jinak nya anak ini lah." Ucap Halomoan.


Butet menatap sebal, lalu ia beranjak keluar dari dalam pesawat. Halomoan terus mengimbangi langkah kaki Butet yang terlihat sangat tergesa-gesa.


"Naik Bus sama kita Tet." Ucap Halomoan.


"Malas aku, ngences pulak kau nantik." Ucap Butet.


"Jangan la di ungkit teros Tet. Waktu itu memang capek kali aku. Aku siap begadang pas perpisahan sama kawan-kawan ku di Toba. Teros naek Bus pulak kan, omakjanggggg capek kali memang Tet." Terang Halomoan.


"Kalok sekarang aku gak akan ngences. Janji aku Tet." Ucap Halomoan sambil mengangkat dua jarinya.


Butet melirik Halomoan dan mengacuhkan lelaki itu.


Langkah kaki mereka berhenti di tempat pengambilan bagasi. Butet dan Halomoan berdiri disana sambil menunggu koper mereka dikeluarkan. Koper Halomoan dan koper Butet keluar bersamaan. Butet dan Halomoan pun mengambil koper mereka.


"Naek apa kita Tet?" Tanya Halomoan.


"Kita? kau aja sama koper mu itu." Ucap Butet. Lalu gadis itu melangkah menuju counter taksi.


Halomoan buru-buru mencegah Butet dengan menahan lengan gadis itu.


"Jangan naek taksi. Mahal loh ke Toba sana." Ucap Halomoan.


"Jangan sok tau kau." Ucap Butet.


"Bukan kek gitu sayangku. Aku kan sudah sering naek pesawat. Jadi tau nya aku. Naek Bus aja kita. Itu langsong dia ke Toba." Ucap Halomoan.


"Sayang, sayang..!" Ucap Butet.


"Apa sayang? Ih, senang kali aku di panggel sayang sama mu Butet." Ucap Halomoan sambil tersenyum lebar.


"Apa pulak. Ih..! naik sasak aku semeter liat tingkah mu!" Ucap Butet sambil berjalan ke konter taksi.

__ADS_1


Sedangkan Halomoan berdiri menunggu Butet yang masih ngeyel.


"Kak, taksi ke Toba berapa?" Tanya Butet.


"700 ribu kak." Ucap petugas counter taksi resmi.


"Bah..! apa pulak.! kok mahal kali..!" Ucap Butet.


"Kualanamu ke Toba jaoh Kak..! kalok mau murah, jalan kaki aja Kakak. Paleng jajan limun seribu, kalok Kakak aos..!" (Red- limun- sirup | aos-haus)


Butet bersungut-sungut dan meninggalkan counter itu.


Tak lama kemudian Butet kembali lagi dan berjalan melewati Halomoan.


"Apa ku bilang, mahal kan?" Tanya Halomoan sambil mengikuti Butet dari belakang.


"Yang mana Bus nya? kasi tau aku." Ucap Butet melunak.


Halomoan pun tersenyum sumringah.


"Aaaaaa... kek gitulah. Nurut sama Abang." Ucap Halomoan sambil mengimbangi langkah kaki Butet.


Butet yang merasa malu, hanya diam saja dan mengikuti Halomoan yang berjalan menuju halte Bandara.


"Gak lapar kau Tet? Apa makan dulu kita?" Tanya Halomoan.


Butet diam saja, ia berusaha untuk tidak berkomunikasi dengan Halomoan.


"Kau sok perhatian kau! mau kau bayar rupanya makanan ku?" Tanya Butet.


"Ish, kalok aku ngajak kau makan ya aku lah yang bayar." Ucap Halomoan.


Butet menahan senyumnya.


"Kebetulan, aku bisa hemat kalok kek gini." Gumam Butet.


"Kek mana? makan kita Butet?" Tanya Halomoan lagi.


"Kau yang maksa ya." Ucap Butet.


"Iya, aku yang maksa."


"Jangan kau anggap utang budi pulak." Ucap Butet lagi.


"Iya aku gak anggap utang budi lah." Ucap Halomoan meyakinkan Butet.


"Yodahlah...! kau ini yang bayar." Ucap Butet.


Halomoan tersenyum girang.


"Kau bawak kan dulu koper ku." Ucap Butet.


"Iya, aku bawak koper mu." Ucap Halomoan sambil membawa koper Butet.

__ADS_1


...


Cempaka yang merasa bosan pun, beranjak duduk di beranda kost. Rozi yang baru pulang kerja, menatap Cempaka yang termenung di beranda. Lelaki itu turun dari sepeda motornya dan menghampiri Cempaka.


"Eh, A' Rozi teh sudah pulang kerja?" Sapa Cempaka.


"Sudah Cem. Kamu lagi ngapain?" Tanya Rozi.


"Cempaka teh lagi bosen A'. Gak ada teman di kost A'. Jadi ngadem aja di sini." Ucap Cempaka.


"Hmmmm, Cem, nanti sore kita keluar yuk. Saya ingin mengajak kamu nonton Film di bioskop." Ucap Rozi.


Cempaka menatap Rozi dengan mata yang berbinar.


"Beneran A'?" Tanya Cempaka.


Rozi mengangguk sambil tersenyum kepada Cempaka.


"Iya A', Saya mau." Ucap Cempaka.


"Ok, nanti jam 5 ya." Ucap Rozi.


Cempaka mengangguk dengan cepat.


"Ya sudah, saya masuk dulu ya, mau mandi. Nanti saya kesini lagi jam 5." Ucap Rozi.


"Iya A'."


Rozi terlihat bahagia. Lalu, ia beranjak menuju rumahnya.


Dari depan rumah kost-kost-an Nyak Tatik, Nyak Komariah mengintip dari balik jendela rumahnya. Selama ini ia terus mengawasi Rozi dan Cempaka.


Nyak Komariah terus mencari momen kesalahan Rozi, anak tirinya itu. Nyak Komariah ingin sekali membalas rasa sakit hatinya terhadap Nyak Tatik dengan membuat malu keluarga madunya itu.


"Liat aje lu Tatik. Gue udeh kek kamera sisitipi yang terus ngawasin anak lu yang kagak kawin-kawin itu. Biar ketangkep basah! terus gue panggil erte, biar malu lu sekalian! Bila perlu, rumah kost lu dilarang sama erte sini." Gumam Nyak Komariah dengan wajah nya yang penuh dendam.


Di madu adalah mimpi buruk bagi semua wanita. Apa lagi di madu dengan alasan yang klasik. "Tidak kunjung mempunyai anak."


Alasan Rojali, suami Nyak Komariah saat meminta izin akan menikahi Nyak Tatik adalah, karena Nyak Komariah tidak kunjung hamil. Kata-kata itu terus menggema di telinga Nyak Komariah.


Bahkan, saat Nyak Komariah mendapati dirinya sedang hamil Rita dan Risa, Rojali pun, tidak tampak begitu antusias. Rojali sudah asik dengan keluarga barunya. Bahkan Rojali pun mengunjungi Komariah yang rumahnya sengaja di buat berhadap-hadapan dengan Tatik, oleh Rojali pun, hanya di kunjungi saat Tatik sedang datang bulan.


Nyak Komariah merasa terhina dengan tidak adil nya Rojali terhadap dirinya. Bahkan Rojali pernah berkata-kata yang membuat Komariah merasa terguncang.


Rojali berniat menceraikan Komariah. Tetapi tidak jadi, hanya karena hadirnya Rita dan Risa. Hati nyak Komariah hancur berkeping-keping.


Nyak Komariah yang sudah yatim piatu saat itu hanya bisa pasrah menerima segala perlakuan Rojali. Karena Nyak Komariah tidak punya tempat untuk mengadu, apalagi untuk pulang dan mendapatkan perlindungan dari keluarga.


Keluarga Nyak Komariah adalah keluarga orang yang pas-pasan. Jadi, masing-masing sanak saudaranya memilih sibuk dengan urusan dan kesulitan mereka sendiri. Hingga Nyak Komariah pun merasa tidak tega untuk mengganggu keluarganya dengan membawa masalah yang sedang ia hadapi.


Hal itu membuat rasa sakit yang di derita Nyak Komariah menjadi membatu di hatinya. Sasaran utama dan sumber masalah di hidupnya hanya satu orang. Yaitu Nyak Tatik.


"Sampai mati gue benci sama lu Tik!" Gumam Nyak Komariah.

__ADS_1


__ADS_2