Kost Putri

Kost Putri
16# Pungguk merindukan bulan


__ADS_3

Batra menghentikan sepeda motornya di sebuah taman yang ramai di kunjungi oleh pasangan muda-mudi. Batra melepaskan helm nya dan membantu Butet untuk melepaskan helm gadis itu.


"Ngapain kita kesini Bang?" Tanya Butet.


"Yuk ikut dulu." Ucap Batra sambil mengulurkan tangannya, berharap Butet menyambut dan menggandeng tangannya.


"Iya." Ucap Butet sambil mengabaikan uluran tangan Batra.


Batra langsung memasukan tangan nya kedalam saku celananya dan berjalan di samping Butet.


"Tempat apa ini Bang?" Tanya Butet lagi.


"Tempat nongkrong anak muda." Ucap Batra. Sambil beranjak ke arah sebuah cafe di taman itu.


Mereka berdua pun duduk saling berhadapan di cafe itu. Sambil menunggu minuman yang mereka pesan. Batra terus menatap Butet yang acuh kepadanya.


"Tet." Panggil Batra.


"Ya." Sahut Butet.


"Butet sudah punya pacar?" Tanya Batra.


Butet menatap Batra yang terlihat sedang serius saat berbicara kepadanya.


"Belom. Kenapa memangnya Bang?"


Minuman yang mereka pesan pun datang. Tanpa basa-basi, Butet meminum minuman nya sampai habis setengah gelas.


Batra yang merasa bersemangat karena Butet belum memiliki pasangan pun, berniat akan mengutarakan perasaannya kepada Butet.


"Tet, jujur aku suka sama kamu." Ucap Batra.


Butet mengernyitkan dahinya dan menatap Batra dengan seksama.


Batra tak kalah tampan dari Rozi. Tetapi, Butet tidak memiliki perasaan sedikitpun kepada Batra.


"Maksudnya Bang?" Tanya Butet.


"Aku cinta sama kamu Tet, aku ingin kamu dan aku lebih dari sekedar teman." Ucap Batra berterus terang.


Butet terdiam membisu. Ia bingung akan mengatakan apa kepada lelaki yang duduk di depannya itu.


"Coba kalau Rozi yang bilang, pasti langsung aku terima." Batin Butet.


"Tet, terima ya. Kita coba dulu." Batra berusaha meyakinkan Butet.


Butet menelan salivanya dan menundukkan pandangannya. Baru kali ini Butet tak mampu berbicara di depan lelaki yang menyukainya.


"Aku akan melakukan segala yang terbaik buat kamu, aku berjanji. Aku benar-benar menyukai kamu." Ucap Batra lagi.


Mendengar kata-kata Batra, Butet semakin tak mampu berbicara.


"I love you Butet." Ucap Batra.


Tangan Butet gemetar saat mendengar ucapan cinta dari Batra.


"Bang, bisa kau kasih aku waktu untuk berpikir?" Tanya Butet.


Batra terdiam mendengar pertanyaan Butet.


"Bang, aku gak pernah main-main dalam hubungan. Jujur aku gak pernah pacaran. Aku berpikir betol masalah pasangan Bang. Jadi untuk sementara kita saling mengenal dulu ya Bang. Abang pun gak tau kek mana sifat baik dan buruk ku kan Bang? Dari pada pacaran putus pacaran putus. Lebih baik kita gak usah punya hubungan dulu. Kalau memang jodoh, kita pasti bisa bersama kok." Ucap Butet dengan dada yang terasa sesak.


Batra mengangguk mencoba memahami apa kata-kata Butet.

__ADS_1


"Tapi aku gak mau menyerah Tet. Aku akan buktikan kalau aku layak buat kamu." Ucap Batra.


Butet menjadi kasihan dengan Batra yang terlihat sangat mencintai dirinya.


"Cinta kali Abang sama aku rupanya?" Tanya Butet.


"Lebih dari cinta Tet. Kalau boleh menikahi mu, aku akan menikahi mu detik ini juga." Ucap Batra.


"Omakjanggggg... obsesi kali Bang Batra rupanya sama aku." Gumam Butet.


"Apa yang abang suka dari aku?" Tanya Butet lagi.


Batra tersenyum tipis. Lalu, menatap kedua mata Butet dalam-dalam.


"Kamu unik, kamu ceplas-ceplos dan kamu asik. Kamu apa adanya dan tidak suka berpura-pura. Aku suka kamu apa adanya." Ucap Batra.


"Tapi aku suka sama Abang kau....!" Batin Butet.


Tetapi, bila memang kamu mau nya kita jalani dulu, saling mengenal, tidak apa-apa kok. Aku hanya ingin kamu tahu. Aku tidak sedang bermain-main Tet." Ucap Batra.


Butet hanya mengangguk dan menghabiskan minuman nya.


"Bang, udah malam, aku ngantok kali, pulang yok." (Red- ngantok- mengantuk) Ajak Butet.


Batra mengangguk dan menghabiskan minuman miliknya. Lalu, ia membayar minuman itu dan beranjak pulang bersama Butet.


...


Halomoan yang sedang bermain gitar di depan teras atas kost-kost-an Nyak Komariah, melihat Butet yang baru saja pulang bersama Batra.


Halomoan menghentikan petikan gitarnya dan beranjak dari duduk nya.


Butet yang sempat melihat Halomoan yang tadinya sedang duduk di teras atas pun, sekali lagi melirik ke teras Kost-kost-an itu. Kali ini, Butet tak lagi melihat Halomoan berada di sana.


Butet yang sedang mengunci pagar hanya menatap kosong teras atas kost Halomoan.


Batra yang baru saja memarkirkan motornya, menghampiri Butet yang hendak beranjak ke paviliun.


"Tet." Panggil Batra.


"Ya Bang."


Batra meraih kedua tangan Butet.


"Selamat tidur, mimpi yang indah ya." Ucap Batra sambil hendak mencium kening Butet.


"Makasih ya Bang." Ucap Butet, lalu ia berusaha menghindari kecupan Batra dan beranjak pergi dari hadapan Batra.


Semua yang terjadi, Halomoan dapat melihatnya dari balik jendela Kost-kost-an nya. Ia merasa lega saat Butet menghindari kecupan dari Batra yang akan mendarat di kening gadis itu.


"Liat apa lu." Ucap Bambang sambil menepuk bahu Halomoan.


Halomoan menoleh kebelakang nya dan menatap Bambang.


"Eh, kau.. ku kira siapa." Ucap Halomoan.


"Lu liatin Butet lagi?" Tanya Bambang sambil mengikuti Halomoan yang kembali duduk di beranda atas Kost-kost-an itu.


Halomoan diam saja, tak menjawab pertanyaan dari Bambang.


"Sudah toh Moan, kalau lu suka sama si Butet, ngomong aja toh." Ucap Bambang.


Halomoan menghela napasnya dan menatap Bambang dengan malas.

__ADS_1


"Dia benci sama aku." Ucap Halomoan.


"Yakin aku dia gak benci sama kamu. Coba kamu dekati terus. Lama-lama dia luluh loh." Ujar Bambang.


Halomoan hanya diam sambil memetik gitar nya.


"Agus mana?" Tanya Halomoan, berusaha untuk mengalihkan topik pembicaraan.


"Jalan dia sama gebetan nya." Sahut Bambang.


"Anak mana gebetan nya?"


"Anak kost gang sebelah." Ucap Bambang.


"Mantap kali memang dia ya." Ucap Halomoan merasa iri.


Bambang hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya.


"Mbuh, kalau si Agus naksir cewek, pasti langsung jadian. Kalau kita apa daya." Keluh Bambang.


"Itu karena mukak kau pas-pasan Bambangggg..!"


"Sembarangan kamu Moan, kayak wajahmu tidak pas-pasan saja." Ucap Bambang sambil bersungut-sungut.


"Aku tu ganteng, banyak yang suka sama aku. Cuma cinta ku hanya untuk Butet seorang." Seloroh Halomoan.


"Gayamu!"


Halomoan tertawa melihat ekspresi Bambang yang begitu kesal kepadanya.


..


Butet masuk kedalam kamarnya. Sri dan Cempaka sudah berada di kamar masing-masing. Butet membuka sepatunya dan menaruh nya di rak sepatu. Lalu, ia beranjak ke kamar mandi untuk mencuci kaki dan wajah nya sebelum tidur.


Sri yang kebetulan keluar dari kamarnya dan hendak menuju ke kamar mandi juga pun, bertemu dengan Butet di dapur, di samping kamar mandi.


"Tet, sudah pulang."


"Udah."


"Tet, kenapa tadi Batra ngajak kamu jalan?" Tanya Sri yang merasa penasaran.


Butet menatap Sri dan menyenderkan tubuh nya di dinding dapur.


"Dia katanya suka sama aku Sri. Kek mana ini?" Ucap Butet.


"Terus, kamu terima Tet?" Tanya Sri semakin penasaran.


Butet hanya menggelengkan kepalanya.


"Sebenarnya kamu itu suka sama Batra atau Rozi?" Tanya Sri.


Butet hanya diam dan menundukkan kepalanya.


"Atau Halomoan?" Seloroh Sri.


"Hoekkkkkk!"


Butet pura-pura akan muntah saat Sri mengucapkan nama Halomoan.


Sri pun terkekeh melihat ekspresi Butet.


"Aku suka sama Bang Rozi. Tapi dia suka sama Cempaka." Ucap Butet.

__ADS_1


Sri terdiam dan menatap Butet lekat-lekat.


"Aku bisa apa? Lagi pula itu hak Bang Rozi mau suka sama Cempaka. Aku siapa lah, hanya pungguk yang merindukan bulan." Ucap Butet sambil beranjak masuk ke kamar mandi.


__ADS_2