
Butet dan Halomoan duduk-duduk sambil menikmati jagung bakar. Mereka mulai mau bersenda gurau layak nya teman akrab. Kini Butet sudah mau tersenyum dan tertawa karena tingkah konyol Halomoan. Lelaki itupun merasa bahagia karena Butet sudah mau sedikit terbuka untuknya.
"Eh, Tet, ingat aku kau sama si Batra kek mana ceritanya?" Tanya Halomoan.
Butet menatap Halomoan lalu ia tersenyum geli.
"Kenapa memangnya? cemburu kau!" Tanya Butet.
"Jelas lah aku cemburu, cantik kek gini Boru Aritonang. Kek mana gak saket ati nengok kau sama dia peluk-pelukan di atas honda." (Red- honda- sepeda motor.)
Butet tersipu malu saat Halomoan mengakui apa yang ia rasakan saat melihat Butet dan Batra naik sepeda motor berboncengan.
"Dia suka sama aku, dia udah nembak pon." Ucap Butet sambil membuang pandangannya ke hamparan Danau yang memiliki luas 1.130 km persegi itu.
"Oh kek gitu, jadi kau terimanya? becewek ko sama dia Tet?"
"Ya enggak lah! aku gak suka sama si Batra, ku tolak dia." Ucap Butet.
Halomoan pun menatap Butet dengan bersemangat.
"Iya nya?" Tanya Halomoan.
"Iya, ko kira murah kali aku ya Moan?" Ucap Butet kesal.
"Bukan kek gitu Dek sayang Abang Halomoan yang ganteng kek lee min ho. Abang cuma takot aja, mencintai cewek orang. Gak baek lah kek gitu." Ucap Halomoan.
"Apa ko bilang? kek lee min ho, mukak ko itu?" Tanya Butet.
"Kenapa rupanya? Gak setuju kau Tet?" Tanya Halomoan sambil tersenyum jahil.
"Kek ngences lee min ho iya kau." Ucap Butet.
"Ish ngences lagi yang di bahas nya. Terpesona kali memangnya kau sama ngences ku Tet?"
"Eeee... jijik iya aku! Tebayang sama aku kalau kau jadi lakik ku. Kek apa aku nyuci sarong bantal tiap hari karena ngences mu itu!" Ucap Butet.
Halomoan tersenyum dan menopang dagunya di atas meja sambil menatap Butet yang melotot menatapnya.
"Kenapa kau senyum-senyum!"
"Gak papa Tet." Ucap Halomoan masih tersenyum dan terus menatap Butet yang kini tampak grogi karena tatapannya.
"Kenapa kau? mau ku colok mata mu yang genit itu!" Ucap Butet sambil mendengus kesal.
"Aku bahagia aja, udah kau bayangkan kau jadi istriku ternyata ya tet." Ucap Halomoan.
Butet terdiam dan terkejut dengan ucapan Halomoan. Tanpa sadar ia sering membayangkan bila ia menjadi istri lelaki yang sedang menatapnya saat ini.
Butet tertunduk malu dan berusaha mengalihkan pandangannya dari Halomoan.
"Gak kau bayangkan tiap hari kau nyuci seprei jugak Tet?" Goda Halomoan.
Butet menatap Halomoan dengan tak percaya.
"Gilak kau!" Ucap Butet.
Halomoan terkekeh dan meraih tangan Butet yang berada di atas meja.
"Butet cantek, mau nya kau jadi cewek ku?" Tanya Halomoan.
Butet terdiam dan menatap mata Halomoan dalam-dalam.
Terlihat kesungguhan dan harapan yang besar di mata Halomoan.
Butet pun melepaskan tangannya dari genggaman Halomoan.
"Jangan ko pegang-pegang tanganku." Ucap Butet, berusaha mengalihkan pembicaraan.
"Jadi apanya yang mau aku pegang?" Tanya Halomoan sambil menatap buah dada Butet.
"Eh apa nya kau!" Ucap Butet sambil menutup dadanya dengan tas miliknya.
__ADS_1
"Gadak, normal namanya aku Tet." Ucap Halomoan sambil tersenyum mesum.
"Orang gilak kau!" Ucap Butet yang tampak kesal namun merasa lucu dengan Halomoan.
"Jawab lah. Jadian kita ya." Tanya Halomoan.
"Gak semudah itu dapatkan aku Moan. Kau harus berenti ngences dulu." Ucap Butet sambil tersenyum.
"Eeeee... gak mungkin lah!"
"Iya memang gak mungkin kau sama aku!" Ucap Butet.
Halomoan tertunduk dan terdiam.
"Ya udah, kalok gak mungkin, nantik rajin-rajin aku ke Gereja." Ucap Halomoan.
"Ngapain kau ke Gereja?" Tanya Butet.
"Memohon sama Tuhan, supaya di mungkinkan aku bejodoh sama mu Butet." Ucap Halomoan.
Butet terdiam. Ia tidak menyangka bila Halomoan sangat-sangat serius dengan dirinya.
"Yodahlah, nanti Amang mencari mu. Aku antarkan pulang ya." Ucap Halomoan sambil beranjak dan menuju kasir.
Butet terdiam. Halomoan memang tidak memaksakan kehendaknya kepada Butet. Tetapi, jawaban Halomoan yang akan memohon kepada Tuhan, agar berjodoh dengan nya, begitu mengena di hati Butet.
"Ayok pulang." Ucap Halomoan saat ia kembali dari kasir.
Butet hanya mengangguk dan mengikuti langkah Halomoan menuju mobilnya.
..
Malam ini, Cempaka kembali tidur di kamar Rozi. Rozi yang baru selesai sholat isya menatap Cempaka yang sedang asik menonton drama Korea dari laptopnya.
"Nonton apa?" Tanya Rozi sambil melipat sajadah nya.
"Nonton drama Korea A'." Sahut Cempaka.
"Boleh ikut nonton?" Tanya Rozi.
Cempaka menatap Rozi dengan tak percaya.
"Laki-laki nonton drama?" Tanya Cempaka.
"Ada yang salah? kayak nya ceritanya bagus." Ucap Rozi.
Cempaka tersenyum, lalu mengangguk.
"Oh iya, mau dibikinkan minuman? atau di belikan cemilan untuk nonton dramanya?" Tanya Rozi.
Cempaka tampak bersemangat dan mengangguk dengan cepat.
"Mumpung malam minggu, kita nonton drama sampai ngantuk." Ucap Rozi sambil beranjak dari ranjang dan menyambar kunci motornya.
"Aku minimarket dulu ya, membeli cemilan." Ucap Rozi.
Cempaka mengangguk dan terus menatap Rozi.
Rozi tersenyum dan membelai lembut puncak kepala Cempaka.
"Tunggu ya." Ucap Rozi. Lalu, lelaki itu keluar dari kamarnya.
Nyak Tatik melihat Rozi yang baru saja keluar dari kamar sambil menenteng kunci sepeda motornya.
"Ji!" Panggil nyak Tatik, saat Rozi berjalan menuju pintu depan.
"Apa Nyak?" Tanya Rozi yang menghentikan langkah kakinya.
"Sini dulu lu!" Ucap Nyak Tatik sambil mengaduk-aduk segelas minuman.
Rozi menghampiri Nyak Tatik yang sedang berada di ruang makan.
__ADS_1
"Nih lu minum, biar setrong!" Ucap Nyak Tatik sambil menyerahkan segelas jamu untuk Rozi.
"Apa ini Nyak?" Tanya Rozi.
"Udeh lu minum, biar stamina lu mantep." Ucap Nyak Tatik.
"Ya elah Nyak. Ngapain sih pake beginian!" Ucap Rozi sambil mengerutkan keningnya.
"Lu minum yak, lu pan manten baru. Buru minum! masa kudu gue cekokin!" Ucap Nyak Tatik sambil mendekatkan gelas berisi jamu itu ke bibir Rozi.
"Kagak ah Nyak." Tolak Rozi.
"Ji, lu jangan bikin kecewa orang tua. Lu minum sekarang! gue kaga mau tau!" Ucap Nyak Tatik sambil terus menyodorkan jamu itu di hadapan Rozi.
Rozi menghela napasnya dan menatap Nyak Tatik yang begitu bersemangat.
"Nyak please." Rozi terus memohon untuk Nyak Tatik jangan memaksa.
" Ji, berikan gue cucu. Lu harus kuat, lu hajar istri lu semalaman suntuk. Bila perlu sampe besok malem, besok nye lagi lagi dan lagi ye." Ucap Nyak Tatik, dengan tatapan memohon.
Rozi menelan salivanya. Bukan karena Rozi tidak mau meminum jamu itu. Tetapi, masalahnya Cempaka yang tidak mau berhubungan dengan nya.
"Duh gue repot nih mau ngelawan Enyak. Gue repot juga kalo si otong salah tingah kalau liat si Cempaka." Batin Rozi.
"Buruan minum." Perintah Nyak Tatik.
"Ah bodoamat dah! Gue minum aje dah. Molor di kamar mandi, di kamar mandi dah gue." Ucap Rozi di dalam hatinya. Lalu, ia meraih gelas jamu tersebut dari tangan Nyak Tatik. Lalu, meminumnya sampai habis tak tersisa.
"Udeh ye." Ucap Rozi.
Nyak Tatik tampak tersenyum puas dan mengangguk dengan cepat.
"Semangat berjuang anak gue yang ganteng!" Seru Nyak Tatik.
"Ntar berjuang nye, mau ke minimarket dulu." Ucap Rozi sambil berjalan menuju pintu depan.
Nyak Tatik tersenyum jahil. Lalu, ia mengeluarkan sebungkus jamu lagi, dan menyeduhnya.
Tok! Tok! Tok!
Terdengar ketukan dari luar kamar Rozi. Cempaka langsung beranjak dari ranjang dan membuka pintu kamar itu.
"Eh Nyak." Ucap Cempaka saat melihat Nyak Tatik berdiri di depan pintu kamar Rozi.
"Cem, lagi ngapain lu?" Tanya Nyak Tatik.
"Gak lagi ngapa-ngapain Nyak. Nyak teh butuh apa? Biar Cempaka yang membuatkan." Ucap Cempaka.
"Ya Allah baek nye mantu gue! Nyak kagak butuh ape-ape anak cantik. Nyak cuma mau anterin jamu sehat untuk elu." Ucap Nyak Tatik.
"Jamu?" Tanya Cempaka sambil melirik segelas jamu di tangan Nyak Tatik.
Nyak Tatik mengangguk dan menyodorkan gelas itu ke hadapan Cempaka.
"Lu minum yak. Biar sehat." Ucap Nyak Tatik.
Cempaka tersenyum dan meraih gelas itu dari tangan Nyak Tatik.
"Ya Allah polos bener mantu gue yak. Kaga pake nanya-nanya langsung terima aje." Batin Nyak Tatik.
"Terima kasih ya Nyak. Nyak teh baik banget sama Cempaka." Ucap Cempaka.
"Kagak usah makasih-makasih, gue mertua lu. Sekarang lu minum buruan. Gelas nye mau gue pake." Nyak Tatik mencari alasan agar Cempaka cepat meminum jamu itu di depan nya.
"Iya Nyak." Ucap Cempaka sambil meminum jamu itu sampai habis.
"Siniin gelas nye. Dah, sekarang nyak mau ke dapur dulu.
"Terima kasih Nyak." Ucap Cempaka sambil menyerahkan gelas itu.
Dengan hati gembira, Nyak Tatik beranjak ke dapur. Sedangkan Cempaka kembali menonton, melanjutkan episode drama Korea nya.
__ADS_1
"Lu berdua rasain jebakan betmen gue." Gumam Nyak Tatik sambil tersenyum sendiri.