Kost Putri

Kost Putri
29# Tiba-tiba menjadi istri


__ADS_3

"Ya Allah Nenggggg...!" Seru Ambu saat pertama kali bertemu dengan Cempaka.


Cempaka terus menundukkan wajahnya. Ia merasa malu dengan kedua orangtuanya dan Kakaknya yang datang dari Bandung pada pagi ini.


Nyak Tatik menyambut keluarga Cempaka dengan senang hati. Hati Nyak Tatik berbunga-bunga, saat keluarga Cempaka cukup bijak dengan tidak menyalahkan Rozi. Mereka sepakat bila anak-anak mereka tidak dapat berperilaku baik, saat mereka bermusyawarah. Sidang keluarga itu ditengahi oleh Pak Rt.


"Neng, kamu teh berpacaran dengan A'a ini?" Tanya Ambu.


Cempaka mengangkat wajahnya dan menatap Ambu sejenak. Lalu, ia mengangguk dan kembali menundukkan wajahnya.


"Berarti kalian teh saling suka?" Tanya Ambu lagi.


Cempaka hanya diam membisu.


"Kasep, apa kamu mencintai anak Ambu?" Tanya Ambu kepada Rozi (Red-Kasep-tampan-ganteng)


"Saya sangat mencintai Cempaka, Bu. Saya siap bertanggung jawab. Ini semua salah saya. Cempaka tidak tahu apa-apa. Saya yang bersalah." Ucap Rozi dengan tegas.


Abah mengangguk-angguk. Ia begitu salut dengan sikap Rozi.


"Neng, kalau begitu, kalian lebih baik menikah saja." Ucap Abah.


Cempaka terkejut dan menatap Abah nya dengan tidak percaya.


"Tapi Bah, Neng teh belum siap menikah atuh Bah." Ucap Cempaka.


"Neng, kalian kan sudah saling cinta, dari pada terulang lagi, lebih baik kalian menikah." Tegas Abah.


Cempaka pun terdiam.


"Kasep, apa kamu siap menikahi anak saya?" Tanya Abah.


Rozi memandangi Cempaka, lalu ia menatap Abah.


"Insyaallah saya siap Pak." Ucap Rozi dengan gentle.


"Lahir batin?" Tanya Abah.


"Insyaallah." Ucap Rozi.


"Kamu teh sudah bekerja atau masih kuliah?" Tanya Abah lagi.


"Sudah kerja Pak." Ucap Rozi.


"Anak saya sudah bekerja dan sudah mapan kok Pak, tinggal nikah nye aje." Tegas Nyak Tatik.


Abah mengangguk-angguk paham.


"Untuk sementara, kalian menikah dibawah tangan dulu saja. Nanti surat-suratnya menyusul." Ucap Abah, yang merasa lebih baik menikahi Cempaka dengan cepat dari pada menunda-nunda. Abah takut bila ternyata Cempaka pernah melakukan hal yang lebih dari itu dengan Rozi. Jadi, Abah ingin Rozi bertanggung jawab dengan anak nya.


"Tapi Bah..." Ucap Cempaka.


"Tidak ada tapi-tapi Neng. Neng salah, Neng harus bertanggung jawab. Dan Rozi juga bersedia menikahi Neng. Neng berkuliah disini, bila ada yang bertanggung jawab atas Neng, itu lebih baik. Abah pun tenang di Kampung Neng." Ucap Abah.


Cempaka terdiam membisu.


Musyawarah berakhir mufakat. Siang itu juga Cempaka harus menikah dengan Rozi. Cempaka memakai Kebaya Betawi milik Nyak Tatik. Sedangkan Rozi memakai kemeja dan peci.

__ADS_1


Cempaka menangis sedih. Ini semua terjadi begitu cepat. Bukan karena ia tidak mencintai Rozi. Tetapi, Cempaka benar-benar belum siap untuk menjadi seorang istri. Dan tentu saja Cempaka merasa sedih karena dirinya menikah dengan cara yang tidak baik dimata kedua orangtuanya.


Abah mengucapkan ijab, di dampingi oleh seorang kyai dan Rozi mengucapkan kabul. Disaksikan ketua Rt setempat dan beberapa warga yang menjadi saksi pernikahan Cempaka dan Rozi.


Cempaka yang terus menangis di pelukan Ambu nya pun kini resmi menjadi istri sah secara agama bagi Rozi. Setelah ijab kabul, dengan ragu, Cempaka mencium tangan Rozi.


Nyak Tatik tampak sangat bahagia. Akhirnya, walaupun menikah dibawah tangan, Rozi resmi menikahi seorang wanita yang sesuai dengan kriteria yang di inginkan Nyak Tatik.


"Alhamdulillah, walaupun di jebak, akhirnya gue punya mantu. Bener juga taktik si Komariah. Niat hati nye ingin mempermalukan gue, eh, malah gue punya mantu dah. Gue jadi bingung mau marah ape terima kasih ama itu orang." Gumam Nyak Tatik sambil tersenyum sendiri.


"Emang bener, dibalik masalah, pasti ade aje hikmah nye." Batin Nyak Tatik lagi.


Dari depan rumahnya, Nyak Komariah memantau keluarga Nyak Tatik. Ia merasa puas karena berhasil mempermalukan Nyak Tatik.


"Sukurin lu Tik. Elu kaga bakal punya muka lagi di ini Kampung." Gumam nyak Komariah.


Risa dan Rita ikut mengintip bersama Nyak Komariah.


"Emang mereka sudah begituan Nyak?" Tanya Rita.


"Kaga tau gue, cuma orang begitu kudu di basmi..!" Ucap Nyak Komariah.


Rita dan Risa pun tertawa bersama Nyak Komariah.


...


"Eh..! Bangun kau Moan! Udah siang!" Ucap Mamak sambil mengguncang-guncang tubuh Halomoan.


"Apa nya Mamak ini. Aku masih ngantok!" Ucap Halomoan.


Dengan malas, Halomoan beranjak dari ranjangnya dan berjalan ke kamar mandi untuk mencuci wajahnya.


"Harus kali aku yang ke pajak?" Tanya Halomoan.


"Yang mau makan lambong mu kan Moan..? Aku yang masak aku juga yang ke pajak?" Tanya Mamak dengan wajah yang kesal.


"Mamak ni makin hari ku tengok makin cerewet kali." Ucap Halomoan.


Mamak yang merasa kesal menjambak Halomoan dan memukul bokong putra nya itu.


"Mau gak kau! kalok gak kau yang masak sanan!" Ucap Mamak.


"Adohhhh adohhh..! iya Mak. Ish, kasar kali Mamak lah." Keluh Halomoan.


"Mamak masih kesal sama mu, kelakuan mu udah kek orang sakit jiwa Mamak tengok!" Ucap Mamak yang masih kesal dengan Halomoan, karena terpergok sedang berbicara dengan pembalut, tadi malam.


Halomoan langsung mengunci bibirnya rapat-rapat.


"Bahaya kalo cakap sama Mamak-mamak. Segala mau di ungkitnya." Batin Halomoan.


Dengan malas, Halomoan pun menstarter sepeda motornya. Lalu, ia berangkat ke pasar.


Pagi di Toba, dengan udara yang luar biasa segarnya. Pemandangan alam yang begitu indah. Mampu membuat siapa saja terpesona. Mulai dari turis domestik hingga mancanegara. Tidak heran banyak turis yang lalu lalang disana berbaur dengan masyarakat sekitar.


Toba, tanah Batak yang sangat menarik hati, tanah kelahiran Halomoan. Dari kakek nenek nya yang memang asli orang Toba. Halomoan sudah begitu akrab dengan lingkungan sekitar. Bahkan Halomoan pun cukup terkenal disana. Banyak orang yang mengenal keramahan dan kebaikan hati Halomoan dan keluarganya.


Halomoan memarkirkan sepeda motornya di parkiran pasar tradisional tak jauh dari rumahnya. Lelaki itu pun beranjak masuk kedalam pasar yang berbecek karena tadi malam turun hujan deras. Pagi yang dingin ini membuat Halomoan sedikit kedinginan walaupun dirinya sudah memakai jaket.

__ADS_1


Halomoan memasang Hoodie nya di kepala dan berjalan menyusuri pedagang ikan disana.


"Ikaaaaaannnnnn! Ikannnnnn ikannnnnnnn! Marilahhhhh marilahhhhh... Opung, inang, namboru semua..! ikan muraaaahhhh..! Segarrrrrrrr! muraaahhhh murahhhhhhh! segarrrrr....!"


Terdengar suara pedagang ikan yang tak asing bagi Halomoan.


"Eh, kok kek suara si Butet ya." Gumam Halomoan. Lalu, ia pun menoleh ke pedagang ikan yang sedang berteriak-teriak memancing perhatian pembeli.


"Ahaaaaaa..! betollll...!" Kau nya itu Butet..! Jualan ikan kau rupanya di Toba ini." Gumam Halomoan.


Lelaki itu melangkah menghampiri Butet dengan wajah jahilnya.


"Belik ikan Kak." Ucap Halomoan.


Butet menatap Halomoan yang sedang membuka Hoodie nya.


"Kau!" Seru Butet.


"Hai jodoh ku." Goda Halomoan.


Butet terlihat salah tingkah saat melihat Halomoan berdiri di depan nya dan hendak membeli dagangan nya.


Pagi ini Butet sengaja membantu Inang untuk berjualan di pasar. Hal itu selalu Butet lakukan sejak jaman ia masih sekolah di SMA. Butet merasa kasihan dengan Inang yang mengerjakan tugas rumah tangga dan juga berjualan di pasar.


Sebagai anak tertua, Butet tidak segan-segan ingin membantu dan meringankan tugas Inang nya. Sedangkan Amang Butet tidak mungkin membantu istrinya. Karena saat pulang mencari ikan, Amang pasti tidur, karena semalaman dirinya berada di danau.


"Aku gak jual sama kau!" Ucap Butet.


Halomoan tersenyum dan mendekatkan wajahnya ke wajah Butet.


"Aku punya janji, kalau jumpa sama kau lagi. Aku cium kau!" Ucap Halomoan.


"Apa nya kau!" Bentak Butet.


"Kau yang narok soptek di bibirku kan?" Tanya Halomoan.


Butet pun terdiam saat Halomoan mengungkit kelakuan nya yang sudah sangat keterlaluan dengan Halomoan.


"Aku gak marah, cuma aku janji mau cium kau sebagai hukumannya." Ucap Halomoan.


Tubuh Butet gemetar saat Halomoan semakin mendekatinya.


"Cuuuuuppppppp.." Ucap Halomoan sambil memejamkan matanya.


"Apanya ini...!" Teriak Butet sambil meraih ikan mas yang berada di meja dan menangkis ciuman Halomoan dengan bibir ikan mas.


"Pihhhhh..!" Ucap Halomoan saat menyadari bibirnya mendarat di bibir ikan mas.


"Ko cium lah ini." Ucap Butet. Sambil memasukan ikan mas itu kedalam pelastik.


"Nah, karena kau udah cium ikan ini, ikan ini jadi haram, biar kau yang makan ya. Jadi kau harus bayar." Ucap Butet sambil menyerahkan pelastik berisi ikan mas itu kepada Halomoan.


"Awas kau ya Tet..!" Ucap Halomoan dengan bersungut-sungut. Lalu, ia membayar ikan tersebut dan beranjak dari hadapan Butet.


"Weee...! kembalian nya." Teriak Butet kepada Halomoan yang berjalan ke arah luar pasar.


Halomoan tidak menghiraukan Butet. Butet hanya terdiam sambil meremas uang kembalian milik Halomoan yang masih berada di genggaman nya.

__ADS_1


__ADS_2