
Brakkkkkkkkk!
Sri membuka pintu paviliun dengan kasar. Lalu, ia beranjak ke dalam kamarnya. Dan mengunci kamarnya rapat-rapat. Butet yang sedang menunggu Cempaka dan Sri pulang, hanya terpana melihat Sri yang terlihat menangis saat masuk kedalam kost-kost-an nya.
"Kenapa anak itu ya?" Batin Butet.
Lalu, Butet menghampiri kamar Sri dan mencoba mengetuknya dan memanggil Sri berkali-kali. Tetapi, tidak ada jawaban dari Sri.
Butet pun menyerah, ia kembali duduk di kursi ruang tamu.
"aneh-aneh aja orang ini sekarang lah." Batinnya lagi.
Tak lama kemudian, Cempaka pulang dengan wajah yang berseri-seri. Butet menatap Cempaka dengan tatapan yang menyelidiki.
"Tet, kamu teh sudah pulang." Tegur Cempaka.
"Eh, sini kau dulu." Ucap Butet sambil menyuruh Cempaka untuk duduk di depannya.
"Ada apa atuh Tet?" Ucap Cempaka yang merasa bingung dengan wajah Butet yang terlihat sangat serius.
"Udah jan banyak kali cakap mu. Duduk dulu kau sini." Ucap Butet sambil menunjuk bangku di depannya.
Dengan ragu, Cempaka pun duduk di depan Butet dan menatap Butet dengan seksama.
"Ada apa Tet? sepertinya teh serius sekali." Ucap Cempaka.
"Cem, aku mau nanyak dulu sama kau, tapi cok kau jawab jujur ya." Ucap Butet.
"Insyaallah." Jawab Cempaka dengan wajah lugunya.
"Gosah pakek insyaallah Cem. Aku maunya kau janji yang betol dulu sama aku. Kau jawab jujur ya!"
Cempaka yang mulai gelisah pun, dengan ragu menganggukkan kepalanya.
"A.... kek gitu lah." Ucap Butet. Lalu, ia membetulkan posisi duduknya dan menatap Cempaka dengan seksama.
"Kau sukak ilang malam-malam, teringat ku kau tidor dimana?" Tanya Butet langsung ke intinya.
Cempaka tampak terkejut dengan pertanyaan Butet.
"Sa-sa-saya......" Cempaka menghentikan ucapannya.
"Kamu teh kenapa bertanya seperti itu Tet? itukan urusan saya." Ucap Cempaka.
Butet mengernyitkan dahinya dan menatap Cempaka dengan tak percaya.
"Eh Cem, kita udah kek keluarga disini ya. Aku tau itu urusanmu, tapi kalau kau gak betol jadi orang, aku sebagai saudara kau dalam kost-kost-an ini berhak buat ingatkan kau kalau kau mulai melenceng." Tegas Butet.
Cempaka terdiam, tampak raut kegelisahan yang luar biasa di wajah gadis cantik itu.
"Jawab Cem!" Desak Butet.
Dia terdiam membisu.
"Kau becewek sama Bang Rozi iya?" Tanya Butet.
Cempaka menatap Butet dengan salah tingkah.
"Kau tidur di kamar Bang Rozi?" Tanya Butet lagi.
__ADS_1
Cempaka semakin tak mampu berkata-kata.
"Jujur aja kau Cem, aku saudara mu disini"
Perasaan Cempaka mulai tak karu-karuan. Ia merasa bingung akan menceritakan dari mana, apa yang telah ia alami selama liburan kuliah.
"Cem, kau udah gak perawan? jawab Cem!" Desak Butet lagi.
"Sa-saya.....saya... saya teh... saya.."
"Alah lama kali, saya ke saya aja cakap mu. Bilang lah cepat!" Butet sudah habis kesabaran.
Cempaka kembali terdiam.
"Saya teh sudah menikah dengan A' Rozi." Ucap Cempaka.
"Apaaaaaaaaaaa...!!!!!!"
Butet tak menyangka dengan apa yang di ucapkan oleh Cempaka.
"Kau gak gilak kan Cem?" Tanya Cempaka sambil menempelkan punggung tangannya di dahi Cempaka.
"Saya teh belum gila." Ucap Cempaka.
"Jadi kok ngada-ngada kau?" Tanya Butet lagi.
"Saya teh tidak mengada-ada atuh Tet. Saya benar-benar sudah menikah dengan A' Rozi. Maaf ya Tet, saya teh sudah mengambil cowok yang kamu cintai." Ucap Cempaka sambil menundukkan kepalanya dalam-dalam.
"Ish, aku gak masalah ya, kau mau kawen ato becewek sama si Rozi. Tapi, cemana pulak kau bilang kau udah nikah sama dia? kapan pulak? apa kau mau nutup-nutupin aja kelakuan mu Cem!"
"Saya teh serius atuh Tet, kami teh kepergok sama warga. Jadi mau gak mau kami dinikahin." Terang Cempaka.
Mendengar ribut-ribut, Sri pun keluar dari kamarnya.
"Onok opo toh?" Tanya Sri yang matanya terlihat sembab.
"Ini lagi, kenapa kau nanges tadi?" Tanya Butet.
"Ora opo-opo tet, aku cuma kesel." Ucap Sri. (Red-kesel-capek)
"Kesal sama siapa kau?" Tanya Butet.
"Kesel Tet. duduk kesal."
"Iya kesel sama siapa?" Desak Butet.
Sri menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Capek, capek aku Tet!" Ucap Sri.
"Oh, tadi kau bilang kesal, sekarang capek. Tah yang mana yang betol. Ih darah tinggi aku cakap sama klean!" Ucap Butet.
"Ini ada apa? kok kamu marah-marah sama Cempaka?" Tanya Sri.
"Ini anak udah gilak ku rasa. Dia bilang dia udah nikah sama Bang Rozi."
"Hah!"
Sri menatap Cempaka dengan tak percaya. Cempaka terlihat mulai menangis. Karena ia merasa tidak tahu akan mengatakan apa lagi. Ia benar-benar bingung, bagaimana caranya menjelaskan kepada para sahabatnya itu.
__ADS_1
"Dia bilang dia di pergokin warga. Tah lagi ngapain bisa sampek di nikahin sama warga." Ucap Butet.
"Apaaaaaa!" Sri tampak shock dengan apa yang Butet sampaikan kepadanya.
"Serius kamu Cem?" Tanya Sri.
Cempaka hanya mengangguk pelan dan mengusap air matanya.
"Terus piye Cem, kamu dan Mas Rozi." Tanya Sri.
"Ya, saya teh sudah suami istri sah secara Agama. Tetapi, saya dan A' Rozi teh belum menikah resmi. Rencananya teh dalam waktu dekat kami teh akan menikah resmi." Jelas Cempaka.
"Astagaaaaaa....!" Butet menepuk dahinya dengan pelan.
"Jadi klean betol-betol udah nikah? patut lah getek kali ku dengar cakap mu di angkot tadi." Ucap Butet.
"Angkot?" Tanya Cempaka.
"Iya, jumpa sama aku pas pulang tadi sama kau dan Bang Rozi di lampu merah gak jaoh dari kampus. Mesum kali bahasa klean." Ucap Butet kesal.
Cempaka tersipu malu. Ia tidak menyangka ucapan nya di atas motor di dengar oleh Butet.
"Kalok kek gitu wajar lah klean cakap kek gitu. Udah suami istri rupanya. Sempat pulak aku jijik sama kau Cem. Tah hapa aja kelen cakap kan." Ucap Butet.
"Saya teh mau minta maaf sama kalian berdua. Saya teh bukan mau merahasiakan sebenarnya. Tetapi, saya teh malu mau jujur." Ucap Cempaka.
"Kek mana ceritanya rupanya?" Tanya Butet penasaran.
Cempaka pun mulai menceritakan apa yang sudah ia alami selama liburan. Mulai dari ia nge-date dengan Rozi, Rozi menciumnya, hingga terpergok warga yang membuat ia terpaksa menikah dengan Rozi. Untungnya, Cempaka dan Rozi saling mencintai. Jadi, siap tidak siap, Cempaka bersedia untuk di nikahi oleh Rozi.
"Oohhh, jadi begitu toh?" Ucap Sri.
Cempaka hanya mengangguk sambil menundukkan wajahnya yang menahan rasa malu yang luar biasa.
"Jahat ya Nyak Komariah." Ucap Sri lagi.
"Ish, jijik kali aku sama Nyak Komariah lah. Sibuk kali ngurusin orang lain. Gak di tengoknya rupanya anak gadis nya kek apa kegatalan sama si Moan." Ucap Butet dengan kesal.
"Kamu cemburu Tet?" Tanya Sri.
"Ih, najis aku cemburu. Gak ko tengok gaya anak gadis nya Nyak Komariah? kek seksi-seksi gitu. Ih, kek gitu gak di tegor nya anak nya kan. Sempat khilaf salah satu anak kost nya kek mana?" Ucap Butet dengan berapi-api.
"Contohnya si Moan ya Tet?"
"Jangan sampe si Moan khilaf sama anak nya Nyak Komariah. Kalau iya khilaf, ku bakar rumah Nyak Komariah sama orang itu semua." Ucap Butet.
Cempaka dan Sri terdiam dan menatap Butet yang tampak emosi.
"Wis, positif. Kamu cemburu sama anak nya Nyak Komariah. Gara-gara sering cari perhatian sama Halomoan." Celetuk Sri.
"Enggak ku bilang! lama-lama kelen ku makan idop-idop ya. Banyak kali cakap kelen..!" Ucap Butet. Sambil mendengus kesal.
Sri dan Cempaka mengulum senyum mereka. Sri dan Cempaka mulai mengerti, benih-benih cinta kepada Halomoan mulai bersarang di hati Butet.
"Mbokyo ngaku wae toh Tet....." Sri masih menggoda Butet.
"Recok kelen! ku makan kelen ya!" Ucap Butet sambil mengejar Sri dan Cempaka yang berlari menuju kamar masing-masing.
Sri dan Cempaka tertawa terbahak-bahak karena mereka berhasil membuat Butet kesal.
__ADS_1