Kost Putri

Kost Putri
59# Curhat Sri kepada Siti


__ADS_3

Air mata Sri membasahi bantalnya. Sudah satu jam lebih dia menangis di dalam kamarnya. Sri benar-benar merasa malu di perlakukan seperti itu di depan umum. Seumur hidupnya, baru kali ini lah ia dipermalukan seperti itu.


Siti yang sejak tadi menunggu Sri di ruang tamu juga ikut termenung. Memang bukan urusannya masalah Sri. Tetapi, sebagai teman satu atap, Siti wajib melerai pertikaian antara Sri dengan wanita yang tak di kenal itu. Terlebih saat Siti melihat Sri di jambak dan di pukuli hingga tak berdaya.


Siti menunggu Sri keluar dari kamarnya. Maka, sejak tadi dia tidak beranjak sedikitpun dari bangkunya.


"Si Sri di kecek an paja bar-bar tu pelakor, apo iyo nyo pelakor? Padahal den caliak si Sri tu urang nyo indak banyak tingkah mah. Ibo den mancaliak nyo di haja di depan umum mah." ( Red- Si Sri di bilang orang bar-bar itu pelakor, apa iya dia pelakor? padahal gue liat si Sri itu orang nya gak banyak tingkah. Kasihan gue melihat dia di hajar di depan umum.) Gumam Siti.


Cklekkk..!


Sri keluar dari dalam kamarnya. Terlihat raut wajah yang malu dan sedih, serta mata Sri yang sembab.


Siti pun bergegas menghampiri Sri.


"Sri." Panggil Siti.


Sri menatap Siti sesaat, lalu ia beranjak ke kamar mandi.


Lagi-lagi Siti harus menunggu Sri.


Setelah beberapa saat, Sri kembali dari kamar mandi. Dengan cepat, Siti menghadang Sri yang terlihat akan masuk kembali ke kamarnya.


"Sri, kau indak baa kan?" (Red- Sri, lu gak apa-apa kan?)


Sri menatap Siti dengan wajah yang sendu.


"Siti, Terima kasih ya sudah membantu aku." Ucap Sri dengan suara yang terdengar serak.


"Kau butuah pelukan? sini aku peluk." Ucap Siti. (Red- butuah-butuh)


Sri menatap Siti dengan seksama.


"Kenapa kamu membela aku?" Tanya Sri.


Dengan ragu, Siti tersenyum. Tanpa di minta, ia memeluk Sri dengan erat.


"Walaupun kita baru kenal dua hari. Tapi, di rantau kau saudaraku. Kita satu atap mah Sri." Ucap Siti.

__ADS_1


Sri tak sanggup membendung air matanya saat mendengar ucapan Siti. Lalu, ia membalas pelukan Siti dan menangis di pelukan gadis itu.


Siti memang terkesan sombong dan sedikit sinis. Tetapi, dirinya sangatlah perhatian dengan orang sekitarnya. Seperti rajin mengajak teman-temannya beribadah. Menawari makanan, bahkan Siti rajin sekali membersihkan paviliun itu. Dulu, Cempaka lah yang sangat rajin, kini ada Siti yang menggantikan Cempaka.


"Kau ada masalah apa? kok di kecek an nyo kau pelakor?" Tanya Siti sambil melepas pelukannya dan menatap Sri yang tertunduk malu.


"Kau cerita sama aku Sri. Ma tau hati kau lega." Ucap Siti dengan logat Padang nya yang kental.


Sri menatap Siti dengan lekat-lekat. Lalu, ia kembali menangis sambil menutupi wajahnya. Siti menuntun Sri masuk kedalam kamar, lalu mereka berdua duduk di tepi ranjang kamar Sri.


"Ado apo?" Tanya Siti.


Sri mengigit bibirnya, lalu ia kembali menatap Siti. Sri memutuskan untuk cerita dengan Siti. Walaupun ia baru mengenal gadis itu. Sri percaya, Siti dapat di percaya. Melihat Siti orang yang sangat religius dan care dengan orang-orang sekitarnya.


Hampir setengah jam Sri bercerita tanpa di sela oleh Siti. Siti terus mendengarkan keluh dan kesah teman seatap nya itu.


"Oh, aku kira memang kau mengambiak laki nyo. Ternyata cuma pacar." ( Red- mengambiak- mengambil)


Sri menatap Siti yang sama sekali tidak menghujat dirinya.


"Sebentul nya, kalau dia sudah putus jo pacarmu, dia tidak berhak menyerang kau doh Sri." Ucap Siti.


"Tapi aku ada perasaan marah sama Mas Dewa, karena kejadian ini." Ucap Sri.


"Manga kau marah jo pacar ang?"


"Artinya?" Tanya Sri.


"Oh iyo lupo den kau indak bisa bahaso Minang mah." Ucap Situ sambil tersenyum.


"Maksud aku, ngapain kau marah sama pacar kau? Yang nyerang kau kan mantannya."


"Tapi, dia gak tegas Ti," Ucap Sri.


"Setegas apa pun laki-laki, kalau mantan nya gilo yo gilo sajo." Ucap Siti.


"Terkadang, ada orang nan indak mau di putuskan hubungannya. Sekarang, dari pada kau marah sama pacar kau, lebih baik kau bilang sama pacar kau itu. Bisa gak dia bicara sama mantannya. Jangan ganggu kau lagi."

__ADS_1


Sri terdiam, ia mencoba mencerna kata-kata Siti.


"Kan kasihan juga pacar kau Sri, kalau kau tiba-tiba marah terus kau mau putus. Padahal kau kecek an tadi kau sudah serius sama dia." Sambung Siti.


Sri tersenyum, ia menatap Siti dengan genangan air mata di matanya yang indah.


"Terima kasih ya Siti. Kamu baik sekali." Ucap Sri.


"Sudah kewajiban den sebagai teman dan saudara kau disini." Ucap Siti.


Mereka pun berpelukan. Sri kembali menangis haru. Kalau bukan karena nasihat Siti, Sri sudah berniat untuk menjauhi Dewa. Tetapi, karena Siti lah, pikiran nya kini terbuka. Ia harus berbicara dengan Dewa dan mengultimatum Dewa, agar bisa memperingati mantan kekasihnya yang sudah dengan semena-mena memperlakukan dan mempermalukan dirinya di depan umum.


...


Risa duduk di depan televisi dengan cemilan di sampingnya. Saat ia sedang asik menonton televisi, tiba-tiba Nyak Komariah muncul dari pintu depan. Nyak Komariah yang baru saja membersihkan lantai atas, dimana kamar anak-anak kost berada, terlihat bingung.


Risa memperhatikan Nyak Komariah yang sedang menenteng kunci di tangannya.


"Ada apa Nyak?" Tanya Risa.


"Gue bingung, kamar si Agus kok kosong ya?"


Risa terperanjat dan langsung duduk dan menatap Nyak Komariah dengan seksama.


"Yang bener Nyak?" Tanya Risa.


"Iyak, ini konci nye. Die taroh di bagian dalam kamar nya. Gue kaga sengaja ngecek-ngecek pintu kamar anak-anak bujang. Udeh ke konci dengan bener ape belom. Eh waktu kamar nye si Agus gue cek, itu pintu langsung kebuka. Kaga ke konci. Jadi gue liat ke dalem, eh kosong. Malah tuh anak masih nunggak uang kost bulan kemaren..!" Ucap Nyak Komariah dengan kesal.


Jantung Risa berdegup kencang, nafasnya terasa sesak. Kepalanya mulai pusing, mendengar kabar itu.


"Kok bisa-bisanya itu anak begitu. Selama ini itu anak baek-baek aje. Kost juga kaga pernah macem-macem. Baru bulan kemaren juga die telat bayar. Alesan nye uang nye buat KKN dulu. Pulang KKN die mau bayar. Eh, malah kabur tuh bocah! Kagak bener juga tuh bocah! Ntar si Bambang ama si Moan pulang, gue introgasi die-die pade." Ucap Nyak Komariah.


Badan Risa terasa lemas. Ia langsung beranjak dari sofa, lalu ia masuk kedalam kamarnya.


"Kenape tuh bocah, gue lagi cerita malah di tinggal." Ucap Nyak Komariah.


Risa terduduk lemas di tepi ranjangnya. Ia memang sudah mempunyai firasat bila Agus mulai menghindari dirinya. Tetapi, Risa tidak pernah menyangka bila Agus akan kabur dari Kost-kost-an.

__ADS_1


"Gimana anak gue?" Gumam Risa. Ia mulai menangis. Ia tidak tahu akan berbuat apa.


"Berarti Bang Agus sudah pulang dari KKN. tapi dia balik ke kost-kost-an baru nye. Gue harus mencari Bang Agus. Die harus tau kalau gue lagi hamil." Gumam Risa.


__ADS_2