Kost Putri

Kost Putri
34# Di apelin Halomoan


__ADS_3

"Mak, Mamak gak ke pajak? Kalok enggak biar aku yang ke pajak" Ucap Halomoan kepada Mamak nya yang sedang mencuci pakaian.


"Kenapa rupanya? kok lalap kali kau mau ke pajak?" ( Red- lalap- bernafsu) Tanya Mamak.


"Bukan kek gitu, hargai lah anak nya pas lagi rajen kek gini." (Red- Rajen- Rajin) Ucap Halomoan.


"Oiya lah, sukak-sukak kau lah Moan." Ucap Mamak sambil mengeluarkan beberapa lembar uang dari balik bajunya.


"Balen duet lah aku sikit Mak. Malam minggu nya ini. Minggu depan aku udah balek ke Jakarta. Pen jugak aku pigi sama kawan-kawan ku Mak." Ucap Halomoan. ( Red- Balen- bagi- minta)


"Alah..! Rupanya ada mau mu. Sok-sokan kau mau ke pajak. Rupanya ada mau mu." Ucap Mamak sambil memberikan Halomoan beberapa lembar uang seratus ribu.


"Ih makin cantek ku tengok Mamak. Baek kali Mamak ku ini." Puji Halomoan. (Red- cantek- cantik)


"Banyak cakap mu Moan. Belik kan dulu bumbu-bumbu sama ayam sekilo. Sebentar lagi Amang mu bangun dia. Belom masak bisa ngamok Amang mu." Ucap Mamak.


"Iya lah, semangat kali aku mau ke pajak pon." Ucap Halomoan sambil beranjak keluar rumah. Dengan hati gembira, dan bersiul-siul, Halomoan pun berangkat ke pasar.


Setibanya Halomoan di pasar, hal yang pertama kali ia lakukan adalah mengunjungi Butet. Tampak gadis itu sedang membersihkan ikan yang di beli oleh pelanggannya. Halomoan terpesona melihat Butet yang begitu cekatan saat membersihkan ikan-ikan dagangannya.


"Ish, calon istri idaman kali bah!" Gumam Halomoan.


Setelah selesai Butet membersihkan ikan dan memberikannya kepada pelanggannya. Halomoan pun, menghampiri gadis manis itu.


"Tet." Sapa Halomoan.


"Kau lagi..!" Ucap Butet yang terlihat kesal saat Halomoan berada di depannya.


"Tet, ini kan malam minggu. Raon kita Tet." Halomoan memberanikan diri untuk mengajak Butet. ( Red- Raon-jalan-jalan)


"Hah? Apa katamu?" Tanya Butet berpura-pura tuli.


"Raon Tet." Ucap Halomoan penuh harap.


"Hah? Gak salah nya kau ajak aku raon?" Tanya Butet.


"Enggak Tet. Aku pengen kali jalan sama kau Tet." Ucap Halomoan berterus-terang.


"Kenapa cinta nya kau sama aku?" Tanya Butet lagi.


"Iya. Aku cinta sama mu Tet." Ucap Halomoan sambil terus memandangi Butet.


Butet menatap Halomoan dengan tak percaya.


"Ecek-ecek kau aja nya tu." ( Red- Pura-pura saja kamu.) Ucap Butet sambil menghalau segerombolan lalat yang sedang hinggap di ikan dagangannya.


"Betol aku Tet. Kau mau jadi cewek aku Tet." Ucap Halomoan.


Butet mengangkat kedua alisnya.


"Gilak kau!" Ucap Butet sambil menahan senyumnya.


"Iya udah gilak nya aku, semua gara-gara kau Tet." Ucap Halomoan yang memang sedang berbicara jujur dengan Butet.

__ADS_1


"Jan kau agak-agak kan aku Moan. Ko kira aku percaya kali cakap mu itu? ko kira geer kali aku jadi cewek? gadak sama aku geer-geer. Pigi lah ko sana! gadak yang belik kalok kau bediri disitu teros." ( Red- Jangan kau pancing-pancing aku Moan. Kamu kira aku percaya ucapan mu itu? kamu kira aku geer-an jadi perempuan? gak ada ceritanya aku geer-geer. Pergilah sana kamu! gak ada yang membeli kalau kamu berdiri disitu terus.) Ucap Butet.


Halomoan menghela napasnya. Lalu, tertunduk lesu.


"Jan sebot nama ku Halomoan Tet, kalok gak sampek aku di rumah mu malam ini." Ucap Halomoan. (Red- Jangan sebut namaku Halomoan Tet, kalau gak sampai aku di rumah kamu malam ini.)


Butet terpana melihat kesungguhan Halomoan.


"Macam betol aja ko Moan!" Ucap Butet.


"Tengoklah. Kalo berhasil aku tau rumah mu, mau gak mau kau harus jalan sama ku malam ini." Ucap Halomoan.


"Gak akan ko jumpa rumah ku Moan!" Ucap Butet.


Halomoan hanya tersenyum dan beranjak dari hadapan Butet.


"Gilak dia kurasa lah." Ucap Butet.


"Hati-hati ko Butet. Cinta ko lama-lama sama dia. Dia itu anak Amang Pangaribuan. Orang kaya dia tu." Ucap Ibu-ibu penjual cabai di sebelah Butet.


"Kaya dari mana? bentok nya aja gak jelas kali." Ucap Butet.


"Keluarga orang tu memang sederhana-sederhana gaya nya. Tapi jan ko tanyak kalok pas begaya. Ishhh.. Mamak nya udah kek istri pejabat." Ucap Ibu tukang cabai.


"Kok kenal kali nampak nya Inang?" Tanya Butet.


"Kenal lah, memang terkenal nya keluarga orang itu disini. Punya cafe tuak banyak kali orang itu. Punya supermarket sekeliling danau ini. Usahanya banyak kali. Toko emas pun punyak dia itu di dalam pajak sebelah kanan, itukan punya Amang Pangaribuan." Terang Ibu penjual cabai.


"Itu kan cakap mu sekarang, nantik kau yang gilak sama anak Amang itu." Ucap Ibu penjual cabai lagi.


Butet bergidik membayangkan ia mencintai Halomoan yang suka ngences.


"Hoekkkkkk! Jijik kali!" Gumam Butet.


..


Selepas Maghrib, Butet tampak begitu bersemangat. Ia mandi dan berdandan dengan cantik, tidak seperti biasanya. Biasanya habis maghrib, Butet sudah memakai baju tidur dan leyeh-leyeh di kamarnya sambil mendengarkan musik. Tetapi, tidak kali ini.


Tentu saja Inang merasa curiga dengan Butet.


"Mo kemana ko Butet?" Tanya Inang.


"Gadak, dandan aja aku Nang, biar cantek." Ucap Butet.


"Macam mau di datangi laki-laki aja bah!" Ucap Inang. Lalu, Inang berlalu dari hadapan Butet menuju ruang keluarga.


Ucapan Inang membuat Butet tersadar.


"Ih, kenapa aku semangat kali? ih, kenapa pulak aku dandan ya?" Gumam Butet.


Butet teringat ucapan Halomoan yang berjanji akan menemukan rumahnya.


Diam-diam tanpa Butet sadari, ia pun mengharapkan Halomoan menemukan rumahnya dan menjemput dirinya malam ini.

__ADS_1


"Eh, kok gini ya?" Gumam Butet.


"Aku kenapa?" Gumamnya lagi.


Tiba-tiba saja terdengar ketukan dari luar rumah Butet. Butet yang langsung menyadari yang mengetuk itu adalah Halomoan pun, langsung mengunci pintunya dan mengganti bajunya dengan baju tidur.


"Ish, gengsi aku kalau dia tau aku nunggu dia." Gumam Butet.


Samar, terdengar Amang berbicara dengan Halomoan. Tak lama kemudian, Inang pun mengetuk pintu kamar Butet.


"Tet, o Butet, ada kawan mu." Ucap Inang.


Butet tak menyahut Inang yang berkali-kali mengetuk pintu kamarnya.


Kini Butet mulai merasa takut dengan perasaan nya yang tidak karuan. Ia merasa senang Halomoan datang. Tetapi, disisi lainnya dirinya menolak keras hadirnya Halomoan di rumahnya.


Tak lama kemudian, terdengar lagi ketukan di depan pintu kamar Butet.


"Butet! jan purak-purak tidor kau. Barusan kau cakap sama Inang. Keluar kau! gak sopan kau! ada kawan mu datang kau purak-purak mati didalam sanan!" Teriak Inang.


Mau tidak mau, Butet pun beranjak dari ranjangnya dan membukakan pintu kamarnya untuk Inang.


"Apa?" Tanya Butet.


"Ada kawan kau, pantas kau udah rapi jam segini ya." Ucap Inang.


Tiba-tiba Inang memperhatikan pakaian Butet.


"Eh, kok ganti baju kau?" Tanya Inang.


"Aku gak mau lah jumpa dia." Ucap Butet.


"Ish ganteng kek gitu gak mau kau? itu anak Amang Pangaribuan! ko jumpai dulu sanan! mana tau jodoh ko sama dia, jadi orang kaya kau!" Ucap Inang.


"Ish mau di jual nya anak nya bah!" Ucap Butet yang terlihat kesal dengan Inang.


"Biar ada harga mu." Ucap Inang sambil berlalu meninggalkan Butet.


Dengan ragu, Butet pun melangkah menuju ruang tamu.


"A... ini dia si Butet." Ucap Amang.


Halomoan tampak begitu senang saat melihat Butet, sedangkan Butet mendadak mati kutu. Wajah nya berdandan cantik, tetapi ia memakai baju tidur. Dari situ Halomoan bisa tahu, bila sebenarnya Butet sedang menanti kedatangan dirinya.


"Aku izin mau ajak Butet raon sebentar ya Amang." Ucap Halomoan dengan sopan, kepada Amang.


"Boleh, asal jan lama kali pulang nya." Ucap Amang.


Butet menelan salivanya. Selama ini Amang sangat melarang dirinya jalan dengan lelaki. Tetapi, kenapa di perbolehkan dengan Halomoan?


"Tet, ko ganti bajumu dulu." Perintah Amang.


Butet pun mengangguk dan berjalan menuju kamarnya untuk mengganti pakaiannya.

__ADS_1


__ADS_2