
Setelah para sahabatnya masuk ke kamar masing-masing. Sekitar pukul 10 malam, Cempaka bergegas keluar dari kamarnya. Sekiranya ia merasa aman untuk keluar kamar, Cempaka keluar dengan membawa pakaiannya dan menyelinap keluar paviliun.
Di depan rumah Nyak Tatik, Cempaka menghubungi Rozi, agar suaminya itu membukakan pintu untuk dirinya.
Beberapa saat kemudian, Rozi membukakan pintu rumah dan menatap Cempaka yang membawa beberapa pakaiandi tangannya.
"Ada apa Cem?" Tanya Rozi dengan nada suara yang datar.
Cempaka terdiam dan menatap suaminya dengan lekat.
"Kok A'a nanya ada apa? Saya teh mau tidur disini." Ucap Cempaka.
"Oh," Sahut Rozi. Lalu, lelaki itu membuka pintu lebar-lebar.
Cempaka merasa tak enak hati. Ia merasa Rozi masih marah dengannya.
Dengan ragu, Cempaka masuk dan langsung beranjak ke kamar Rozi. Rozi tidak langsung menyusul Cempaka. Ia beranjak ke dapur dan membuat teh untuk dirinya.
Setelah beberapa saat kemudian ia membawa gelas teh nya ke kamarnya.
"Terima kasih A'." Ucap Cempaka sambil meraih teh tersebut.
Rozi diam saja dan beranjak kembali ke dapur.
"A'." Panggil Cempaka.
"Ya," Jawab Rozi.
"Mau kemana lagi?" Tanyanya.
"Ke dapur."
"Mau ngapain A'?" Tanya Cempaka lagi.
"Bikin teh." Ucap Rozi.
Cempaka terdiam, ia langsung mengerti bila teh yang baru saja Rozi bikin bukan untuk dirinya. Rozi membuat teh itu untuk Rozi sendiri.
"A', maaf, saya kira itu buat saya. Biar saya yang buat untuk A'a." Ucap Cempaka.
"Gak usah, biar saya buat lagi. Kamu minum saja teh nya." Ucap Rozi. Lalu, lelaki itu beranjak ke dapur.
Cempaka benar-benar merasa tak enak hati. Ia mengerti kesalahannya sebagai seorang istri, cukup fatal. Beruntung Rozi tidak mengeluh dan marah-marah hingga membentak dirinya seperti kebanyakan suami lain di luar sana.
Rozi kembali dengan segelas teh yang sedang ia seruput. Setelah itu, Rozi menaruh gelas teh nya di atas meja kerja nya. Dan ia pun duduk menghadap laptopnya.
Lelaki itu tampak sangat serius bekerja, hingga ia tidak memperdulikan Cempaka yang duduk di atas ranjang. Bahkan, Rozi sama sekali tidak bertanya apa pun kepada istrinya itu.
"A'," Panggil Cempaka.
"Ya," Sahut Rozi tanpa menoleh kepada Cempaka.
"A'a teh marah sama saya?"
"Gak." Sahut Rozi.
Lalu hening....
Beberapa saat kemudian, Cempaka kembali memanggil Rozi.
"A',"
"Ya."
"Saya minta maaf bila saya ada salah." Ucap Cempaka.
Rozi diam saja dan masih terlihat sibuk dengan pekerjaan yang ia bawa ke rumahnya itu.
__ADS_1
"A'," Sudah malam, sebaiknya A'a istirahat." Ucap Cempaka.
"Ya."
Cempaka benar-benar merasa tidak enak dengan suasana yang tidak seperti biasanya saat mereka berdua di kamar.
Rozi mematikan laptopnya dan beranjak ke sudut ruangan. Ia meraih karpet yang biasa ia gunakan untuk tidur saat ada Cempaka di kamarnya.
"A'." Panggil Cempaka.
"Ya." Sahut Rozi, tanpa menatap istrinya itu, ia beranjak ke ranjang dan mengambil salah satu bantal yang berada di atas ranjang. Lalu, menaruhnya di atas karpet.
Cempaka kini benar-benar paham apa yang dikatakan Nyak Tatik. Sada atau tidak sadar, Cempaka sudah melukai hati suaminya. Melihat Rozi yang menggelar karpet seperti biasanya, hati Cempaka bagaikan teriris pisau. Sakit sekali bila tidak di anggap ada oleh suami sendiri. Selama ini itulah yang dirasakan oleh Rozi.
Cempaka beranjak dari ranjang dan membawa bantalnya. Lalu, ia menaruh bantal itu di samping Rozi yang sedang berpura-pura sudah tertidur.
Cempaka merebahkan dirinya di atas karpet dan menatap wajah Rozi yang masih memejamkan matanya.
Cempaka mendekatkan tubuhnya, dan memeluk Rozi.
Rozi membuka kedua matanya dan merasa kikuk dengan pelukan yang di berikan Cempaka kepadanya.
"Kamu tidur di atas saja." Ucap Rozi.
Cempaka mengangkat wajahnya dan menatap Rozi dengan lekat. Lalu, ia tersenyum dan membelai lembut pipi suaminya.
"Dimana A'a tidur, disitu saya tidur." Ucap Cempaka.
Rozi terdiam dan menatap Cempaka dengan tak percaya.
"Nanti badan mu sakit." Ucap Rozi.
"Biarin, asal di samping A'a." Ucap Cempaka sambil tersenyum manis.
Rozi terus menatap istrinya, lalu, ia tersenyum malu.
"Tumben mau tidur bersamaku?"
Rozi kembali tersenyum, Rasa kesal dan amarahnya luntur seketika.
"Kalau saya macam-macam gimana? Saya mempunyai nafsu yang besar." Ucap Rozi.
Kali ini Cempaka yang tampak tersipu malu.
"Kita tidur di atas ranjang aja ya A'." Ucapnya.
"Tidak apa-apa?" Tanya Rozi.
"Gak masalah kok A'. A'a kan suami saya." Ucap Cempaka.
Rozi tampak bersemangat. Lalu, ia beranjak dari atas karpet dan menggendong tubuh Cempaka dan membawanya ke atas ranjang.
Cempaka tersipu malu dan pipinya tampak memerah.
Setelah di atas ranjang, Rozi menatap Cempaka dengan lekat.
"A', jangan pernah tinggalkan saya ya." Ucap Cempaka.
"Tidak akan. Insyaallah do'akan saya menjadi laki-laki yang kuat iman di luar ya." Ucap Rozi.
Cempaka tersenyum dan lalu mengangguk.
"Aamiin." Ucapnya.
Lalu hening. Mereka hanya saling tatap tanpa ada kata-kata yang keluar dari bibir mereka.
Rozi menikmati indahnya wajah cantik istrinya. Sedangkan Cempaka terus memandangi imam nya yang tampan.
__ADS_1
"Kamu cantik, aku cinta sama kamu. Cintaaaa banget." Ucap Rozi.
Cempaka tersenyum dan membalas ucapan Rozi dengan ciuman lembut di bibir Rozi.
Rozi terperanjat, ia menatap Cempaka dengan tak percaya, saat gadis itu mengakhiri ciumannya.
"Cem...."
"A'.."
Napas Rozi mulai memburu, ia menahan rasa ingin menyentuh istrinya itu. Ia masih bingung dengan maksud Cempaka yang terlihat agak sedikit agresif pada malam ini.
"Dia sudah siap atau gimana sih? kok, gue jadi bingung mau nyentuh apa enggak." Gumam Rozi.
Cempaka beranjak duduk di atas ranjang. Lalu, ia menatap Rozi dengan seksama.
"A', ayo malam pertama." Ucap Cempaka.
Rozi tersentak dan duduk di atas ranjangnya.
"Maksudnya?" Tanya Rozi tak percaya.
Cempaka tersenyum malu.
"Saya teh malu kalau mengulang-ulang ucapan saya yang itu." Ucap Cempaka.
Rozi tersenyum semringah.
"Yakin?" Tanyanya.
Cempaka mengangguk, lalu menundukkan pandangannya.
"Serius yakin?" Tanya Rozi lagi.
"Iya A'a sayang." Ucap Cempaka.
Rozi merasa sangat bersemangat. Lalu, ia mulai mendekati Cempaka dan memulai malam yang sangat ia dambakan sebagai seorang suami.
Malam itu, mereka berdua melakukannya. Bagi Cempaka, Rozi lah yang pertama. Begitupun bagi Rozi, Cempaka lah gadis pertama yang ia sentuh.
Mereka sempat merasa sangat canggung. Tetapi, mereka terus mengikuti insting mereka sebagai manusia.
Dua anak manusia itu masing-masing menunaikan kewajiban mereka sebagai pasangan yang sah dimata Agama.
Rozi tersenyum bahagia saat ia berhasil merengut hal yang paling berharga bagi istrinya. Begitupun Cempaka yang merasa bahagia saat suaminya begitu memahaminya.
Mereka berdua berpelukan dan tertidur pulas dengan wajah yang bahagia, hingga pagi menjelang.
Pagi-pagi sekali, Rozi dan Cempaka sama-sama keluar dari dalam kamar. Lalu, mereka pun mandi bersama.
Nyak Tatik yang baru saja pulang dari Mushola, memergoki Cempaka dan Rozi yang baru saja keluar dari kamar mandi secara bersamaan.
"Astaghfirullah!" Nyak Tatik terlihat terkejut saat anak dan menantunya itu keluar dari kamar mandi dengan wajah yang malu-malu.
"Eh, Alhamdulillah!" Ucap Nyak Tatik, lalu wanita paruh baya itu terlihat pura-pura tidak melihat, dan langsung menggosok kompor yang terlihat sudah bersih.
"Pagi Nyak." Sapa Cempaka.
"Pagi." Ucap Nyak Tatik tanpa menoleh kepada sepasang pengantin baru itu.
"Saya ke kamar dulu ya Nyak." Ucap Cempaka.
"Iya, sono dah." Sahut Nyak Tatik.
Cempaka dan Rozi pun beranjak ke kamar.
Setelah mereka pergi, Nyak Tatik melompat-lompat kegirangan.
__ADS_1
"Alhamdulillah ya Allah, akhirnya do'a gue di kabulkan. Semoga segera ada bocah yang lahir di rumah ini. Ya Allah, Terima kasih. Dapat mantu yang mau dengerin nasehat orang tua. Ya Allah bahagia bener hamba ya Allah!"
Nyak Tatik menangis bahagia. Sambil menggosok kompor, Nyak Tatik terus mengusap air mata bahagianya.