
Batra termenung di pantai Carolina, Padang. Ada firasat yang tidak enak menghampiri dirinya. Batra merasa, orangtua Siti tidak berkenan untuk melepas Siti untuk dirinya. Batra pun merasa sedih. Ia membuang napasnya dengan berat dan melempar pandangan nya jauh ke kapal-kapal wisata dan nelayan yang hilir mudik.
Rozi yang baru saja membeli es kelapa muda, datang menghampiri Batra. Sedangkan Nyak Tatik dan Cempaka sedang bermain bersama Farraz di tepi pantai.
"Mikirin Siti lu?" Tanya Rozi yang bergegas duduk di sebelah Batra.
Batra menoleh kepada Rozi dan tersenyum hambar.
"Kalau jodoh gak akan kemana-mana, yang penting kita sudah berusaha datang kesini." Ucap Rozi.
"Iya Bang." Sahut Batra.
Rozi menyerahkan sebutir buah kelapa kepada Batra. Lalu, Batra menyambutnya dan meminum air dari kelapa muda yang menyegarkan itu.
"Disini enak juga ya Bang." Ucap Batra sambil tersenyum.
Rozi menepuk pundak Adiknya itu dan menganggukkan kepalanya.
"Iya, berbeda dengan Jakarta, disini udaranya masih alami." Ucap Rozi.
"Rasanya enak kalau punya istri yang punya kampung halaman ya Bang. Lu, kalau pulang ke kampung si Cempaka gimana?" Tanya Batra.
"Bandung juga enak, itulah manusia, bagi orang yang di daerah, Jakarta itu enak. Tetapi, bagi orang Jakarta sendiri, di daerah itu enak." Ucap Rozi.
"Kita seumur-umur kaga pernah merasa pulang kampung. Dari brojol sampe bangkotan di Jakarta mulu." Ucap Batra.
Rozi tersenyum, lalu memandangi Nyak Tatik, Cempaka dan Farraz yang sedang berlari-lari di bibir pantai.
"Enak kali ya Bang, kalau kampung bini gue disini. Gue bisa setiap tahun maen kesini." Ucap Batra.
"Gue doain, semoga Siti jadi jodoh elu." Ucap Rozi.
__ADS_1
"Terima kasih ye Bang." Ucap Batra sambil tersenyum semringah.
..
Ninik Mamak bertandang ke rumah orangtua Siti. Mereka memenuhi undangan dari anak suku Piliang, suku Ibunda dari Siti. Dalam Adat Minangkabau, Ninik Mamak adalah junjungan dari suku yang bersangkutan. Segala keputusan harus dirundingkan terlebih dahulu oleh Ninik Mamak.
Tidak hanya dalam permasalahan meminang. Tetapi, permasalahan keluarga dan suatu keputusan yang menyangkut harkat dan martabat dari suku yang dinaungi atau di lindungi oleh Ninik Mamak.
"Jadi, sia nan ka maminang si Siti?" ( Red- Jadi, siapa yang mau meminang si Siti?) Tanya Ninik Mamak suku Piliang.
"Jadi bagiko Mak, ado urang rantau, putra dari Ibu Kost Siti nan baniek ka maminang si Siti. Ambo alun malapehan Siti Mak, kami butuah pendapat dari Mamak nan kami tuoan." ( Red- Jadi begini Mak, ada orang rantau, putra dari Ibu Kost Siti yang berniat untuk meminang Siti. Saya belum melepaskan Siti Mak, kami butuh pendapat dari Mamak yang kami tuakan.) Ucap Ibu Halimah.
"Apo karajo laki-laki itu dan apo suku nyo?" Tanya Mak Amran selaku Ninik Mamak Suku Piliang.
"Alun karajo Mak, inyo baru ka luluih kuliah. Sabanta lai ka wisuda. Tapi, bantuaknyo Ibu laki-laki itu taniek bana jo si Siti." (Red- Belum bekerja Mak, dia baru akan lulus kuliah. Sebentar lagi akan wisuda. Tetapi, sepertinya Ibu laki-laki itu niat sekali dengan Siti.)
Mak Amran menghela napasnya dan memandang Siti yang terus menundukkan wajahnya saat kedatangan Mak Amran.
Siti mengangkat wajahnya dan menatap Mak Amran. Lalu, ia mengangguk pelan.
"Iyo Mak." Sahut Siti.
"Tapi, kami sebagai orangtua, alun amuah Siti manikah Mak. Siti ko baru semester limo. Masih panjang perjalanan hiduik nyo. Beko kalo inyo manikah jo urang rantau, sia nan ka manguruih harato di kampuang?" ( Red- Tapi, kami sebagai orangtua, belum mau Siti menikah Mak. Siti ini baru semester lima. Masih panjang perjalanan hidupnya. Nanti, kalau dia menikah dengan orang rantau, siapa yang akan mengurus harta di kampung? - Harta yang di maksud adalah, harta turun menurun dari nenek moyang. Seperti tanah, sawah, rumah gadang dan lain-lain. Yang harus di jaga oleh anak perempuan atau keturunan perempuan saja. Dalam adat Minangkabau.)
Mak Amran mengangguk paham. Ia mengerti ke khawatiran kedua orangtua Siti.
"Manga kau capek-capek bana ka nikah Siti?" (Red- Kenapa kamu cepat-cepat sekali akan menikah Siti?) Tanya Mak Amran.
"Ambo mencintai lelaki itu Mak. Urang tuonyo juga baik. Urang tuonyo juo bukan urang susah." ( Red- Saya mencintai lelaki itu Mak. Orang tuanya juga baik. Orang tuanya bukan orang susah.) Ucap Siti.
"Baa agamo nyo? Lai taat?" (Red- Bagaimana Agamanya? apakah dia taat?)
__ADS_1
"Agama nyo Islam, nyo lai taat baribadah Mak." (Red- Agamanya Islam, dia taat beribadah Mak.) Ucap Siti.
Mak Amran menghela napasnya dan mempersilahkan Siti untuk masuk kedalam kamarnya.
Mak Amran berbincang-bincang dengan kedua orangtua Siti. Mereka mengkaji baik dan buruknya bila Siti menikah dengan orang rantau. Serta membahas masalah apa keinginan orangtua Siti.
Siti hanya duduk mendengarkan dengan samar percakapan antara Ninik Mamak nya dengan kedua orangtuanya. Siti terus berdo'a agar diberikan segala kemudahan untuk dirinya dan Batra.
Hampir satu jam lamanya Ninik Mamak dan kedua orangtuanya berunding tentang Siti dan Batra. Hingga akhirnya, Siti kembali di panggil untuk bergabung dengan mereka.
"Siti, urangtua kau alun amuah malapehan kau Siti. Jadi, Mamak sebagai urang nan di tuokan disiko berpendapek, labiah baik kau manuruik jo urangtua kau. Ma tau, bisuak-bisuak kau dapek nan lebih rancak nan jadi pendamping kau. Iko alun saat nyo lai Siti. Luluih kau kuliah dulu, karajo kau dulu. Indak sio-sio urangtua kau manguliahan kau Siti." (Red- Siti, orangtua kau belum mau melepaskan kau Siti. Jadi, Mamak sebagai orang yang dituakan disini berpendapat, lebih baik kau menurut dengan orangtua kau. Mana tahu, besok-besok kau dapat yang lebih baik yang jadi pendamping kau. Ini belum saatnya lagi Siti. Lulus kau kuliah dulu, kerja kau dulu. Gak sia-sia orangtua kau menguliahkan kau Siti.) Ucap Mamak Amran.
"Tapi, manikah pun Siti, masih bisa kuliah Mak." Ucap Siti.
"Jan kau membangkang Siti." Celetuk Ibu Halimah.
Siti langsung tertunduk dan diam membisu.
"Mamak lai tau, urang kuliah bisa manikah. Tetapi, banyak pertimbangan Siti. Jadi, kesimpulan dari siko, Mamak jo urangtua kau, indak satuju kau manikah jo lelaki itu." (Red- Mamak tahu, orang kuliah bisa menikah. Tetapi, banyak pertimbangan Siti. Jadi, kesimpulan dari sini, Mamak dan orangtua kau, tidak setuju kau menikah dengan lelaki itu.)
Siti mengangkat wajahnya dan menatap Mak Amran dan kedua orangtuanya. Raut wajah kecewa pun terlihat jelas di wajah Siti. Hatinya benar-benar terasa sakit akan penolakan dan tidak diretuinya hubungan dirinya dan Batra.
"Manuruik lah Siti. Urang tuo tau ma nan terbaik buek anak-anak nyo." ( Red- Menurut lah Siti. Orangtua tau mana yang terbaik untuk anak-anaknya.)
"Beko, kau akan Bundo pindah an Kost nyo. Jan di situ lai." ( Besok, kau akan Ibu pindahkan Kost nya. Jangan disitu lagi.)
Air mata Siti berlinang. Ia benar-benar mencintai Batra. Namun restu tidak berpihak kepada dirinya dan Batra. Siti beranjak dari duduknya dan berlari masuk kedalam kamarnya.
"Siti..!" Panggil Ibu Halimah.
Siti tidak mau lagi berbicara dengan kedua orangtuanya. Ia mengurung dirinya di dalam kamar. Ia merasa kasihan dengan Batra dan keluarganya yang sudah jauh-jauh datang dan berniat baik untuk dirinya. Siti benar-benar bingung akan bagaimana. Menjelaskan kepada orangtuanya pun, ia tidak bisa, bila sudah keputusan dari Ninik Mamak yang mengatakan TIDAK, maka, pernikahan itu tidak akan pernah terjadi.
__ADS_1