Kost Putri

Kost Putri
72# Ultimatum Dewa Dan Berita Baik


__ADS_3

"Kita dimana Mas?" Tanya Sri, setelah hampir enam jam Dewa mengendarai sepeda motornya hingga sampai di Bandung.


"Ayo turun." Ucap Dewa tanpa menjawab pertanyaan dari Sri.


"Serius toh Mas, kita ada dimana?" Tanya Sri.


"Rumah Santi." Ucap Dewa.


Sri terperanjat dan menatap Dewa dengan tak percaya.


"Edan kamu Mas..! Mosok aku di ajak ke rumah perempuan itu."


"Biar jelas." Ucap Dewa sambil menarik tangan Sri untuk masuk ke halaman rumah Santi.


Mendengar ada yang datang, Ibunya Santi pun, keluar.


"Eh, nak Dewa. Kamu teh ngapelin Santi?" Tanya Ibunya Santi. Lalu, wanita paruh baya itu terdiam saat melihat Dewa menggandeng tangan Sri.


"Itu teh siapa nak Dewa." Tanya Ibunya Santi.


"Malam Tante, ada Santi nya?" Tanya Dewa.


"Ini teh ada apa ya nak Dewa? Kok kamu mencari Santi dengan membawa wanita lain?" Tanya Ibunya Santi.


"Tante, saya cuma mau bilang sama Tante, kalau saya sudah lama putus dengan Santi. Tetapi, Santi menyerah wajah kekasih saya sampai seperti ini...!"


Dewa menunjuk luka-luka di wajah Sri.


"Astaghfirullah..!" Seru Ibunya Santi.


"Santiiiii...!"


Ibunya Santi langsung masuk kedalam dan memanggil putrinya.


"Iya Ibu."


"Kamu teh ngapain anak orang atuh Santi. Kamu teh cari gara-gara..!"


"Anak orang yang mana ya Bu?" Tanya Santi.


"Kamu teh jangan pura-pura bodoh ya San, itu teh si Dewa datang dengan kekasihnya..!"


Santi terkejut, lalu ia berjalan ke depan untuk melihat Dewa dan Sri.


"Heh, kamu teh ngapain disini!" Tanya Santi, saat ia baru saja keluar dari rumahnya dan melihat Dewa dan Sri yang saling bergandengan tangan.


Dewa menghampiri Santi sambil menggandeng tangan Sri.


"Kamu, berani sekali lagi mengganggu atau mencelakakan pacar saya, saya laporkan kamu ke polisi..!" Ucap Dewa dengan tatapan yang penuh amarah.


Santi tercengang saat melihat Dewa yang begitu membela Sri.


"Kamu teh kenapa Dewa, wajar atuh saya serang dia, dia teh selingkuhan kamu." Ucap Santi dengan terbata-bata.


Dewa menunjuk wajah Santi dengan matanya yang memerah.


"Ingat ya, yang selingkuh duluan siapa? Kamu...! Dan sekarang wajar aku sudah tidak mencintai kamu lagi San. Biarkan saya bahagia dengan wanita yang lebih baik dari kamu..! Bukan begini cara kamu San..!"


"Dewa, kamu teh kena hasut perempuan ini..!" Ucap Santi.


"Bukan, tetapi memang kamu salah..! Kamu menyerang orang yang saya sayangi, berarti kamu mengusik hidup saya...!"


Santi terdiam membisu. Tak ada kata-kata yang mampu ia ucapkan.


"Oh iya Tante, saya sudah putus dengan Santi. Dan ini kekasih saya yang baru. Satu lagi, anak Tante sudah melakukan tindak pidana, penyerangan kepada kekasih saya. Maka, saya bisa saja melaporkan nya dan memenjarakan Santi."


"Aduh, nak Dewa jangan begitu atuh." Ucap Ibunya Santi yang tampak sangat ketakutan.


"Satu lagi Tante, anak tante sudah tidur dengan orang lain. Dia sudah tidak perawan, saya memergokinya sendiri. Dia berada di kamar kost lelaki lain, saat ia masih menjadi pacar saya. Tetapi, Santi sangat egois. Dia tidak terima saya putuskan dan mengancam-ngancam saya. Dan sekarang dia mengusik hidup saya dengan menyerang kekasih saya. Tolong nasihati anak Tante untuk jangan mengganggu kami lagi.." Ucap Dewa.

__ADS_1


Santi terbelalak dan menunduk malu saat Ibunya menatap dirinya.


"Santi, apa yang di bilang Dewa teh beneran?" Tanya Ibunya Santi.


"Silahkan periksa ke Dokter." Sahut Dewa.


"Satu lagi, jika masih mengganggu saya dan kekasih saya. Saya tidak segan-segan memberikan kamu pelajaran. Menghilang lah dari hidup saya. Mau kamu mengancam bunuh diri atau apa, terserah. Bila perlu kamu mati, mungkin saya akan damai." Ucap Dewa, geram.


"Dewa..! Kamu ngomong apa atuh..!" Ucap Ibunya Santi.


"Saya permisi dulu. Tolong didik anak Tante untuk lebih bermartabat." Ucap Dewa.


Lalu, ia membawa Sri pergi dari rumah Santi.


Sri terdiam tanpa kata-kata. Ia benar-benar tidak tahu akan berkata apa. Semua yang dilakukan Dewa hanya untuk membela dirinya.


Sri merasa terharu, lalu ia memeluk Dewa dengan erat.


"Kita menginap di rumah orang tua saya saja ya. Kamu bisa tidur di kamar Cempaka." Ucap Dewa.


Sri hanya mengangguk dan merebahkan kepalanya di bahu Dewa.


..


"Jadi dia tidak mau bertanggung jawab, malah dia menghina dan memfitnah kamu kalau kamu pernah tidur dengan lelaki lain? dan katanya, itu bukan anaknya?" Tanya Rozi.


Risa yang sedang tertunduk mengangguk dengan perlahan.


Nyak Komariah kembali menangis mendengar semua pengakuan Risa.


"Gua kagak nyangka kalau Agus begitu Tik, malah uang kost nunggak, anak gue di hamilin. Ya Allah..." Ucap Nyak Komariah kepada Nyak Tatik sambil menangis di pelukan Nyak Tatik.


"Sabar ye Kom." Ucap Nyak Tatik.


Rozi menghela napasnya dengan berat, lalu ia mengepalkan kedua tangannya.


Sejurus kemudian ia menatap Halomoan dengan seksama.


Halomoan pun mulai menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Lu aje ye Moan, lu mau kan nikahin Risa?" Tanya Nyak Komariah.


"Tuhan kamiiiii... jangan aku lah Nyak..!" Ucap Halomoan.


"Ya terus siape? Rozi, pokoknye elu kudu dapetin itu bocah yang hamilin Adek elu..!" Ucap Nyak Komariah.


Rozi masih terdiam dan berpikir bagaimana jalan keluar dari permasalahan yang sedang menimpa keluarganya itu.


"Nyak tenang aje, besok aye ubek-ubek itu anak sampe dapet sama Halomoan." Ucap Rozi.


Halomoan mengangkat kedua alisnya.


"Kok sama aku Bang?" Tanya Halomoan.


"Lu mau bantu kagak?" Tanya Rozi.


"Ma-mau Bang." Ucap Halomoan dengan bersungut-sungut.


"Ya sudah, sekarang sudah malam, lebih baik kita istirahat semua. Dan untuk elu Ris, jangan putus asa. Lu masih punya gue. Biar gue yang selesein." Ucap Rozi.


Risa mengangguk dan Rozi pun pergi meninggalkan rumah Nyak Komariah.


Suasana malam itu sungguh menegangkan. Tetapi berakhir dengan perdamaian dua keluarga. Sekarang, Nyak Komariah dan Risa tinggal menunggu berita tentang Agus dari Rozi dan Halomoan yang akan mulai mencari lelaki itu mulai besok.


Sesampainya di rumah, Rozi langsung merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Ia benar-benar stress memikirkan Risa, Adiknya. Cempaka pun, menyusul kedalam kamar sambil membawakan segelas teh hangat untuk Rozi.


"A', minum teh nya dulu. Biar A'a tenang." Ucap Cempaka.


Rozi tersenyum dan meraih gelas teh itu dari tangan Cempaka.

__ADS_1


Cempaka baru mengerti mengapa Rozi sedikit acuh kepadanya belakangan ini. Ternyata Rozi stress memikirkan kehamilan Risa.


Cempaka duduk di tepi ranjang, tepat di sebelah Rozi.


"A', A'a capek dan stress ya?" Tanya Cempaka.


"Saya baik-baik saja Cem." Ucap Rozi sambil mengusap puncak kepala Cempaka.


"Kayak nya teh, A'a butuh suatu yang membuat A'a bahagia." Ucap Cempaka.


Rozi tersenyum dan menatap Cempaka dengan seksama.


"Apa itu? kamu mau ngajak saya ehem ehem ya." Ucap Rozi sambil tersenyum penuh arti.


"Ih, si A'a teh, pikirannya itu terus." Ucap Cempaka malu-malu.


"Ya terus apa dong yang bisa buat saya senang?" Tanya Rozi penasaran.


"Sebentar ya A'."


Cempaka beranjak dari duduk nya dan berjalan menghampiri tas miliknya yang tertaruh di atas meja. Lalu, Cempaka mengeluarkan testpack miliknya yang di berikan Ibu Bidan. Lalu, ia menyembunyikannya di belakang punggungnya.


"Apa itu?" Tanya Rozi.


"Merem atuh A'." Ucap Cempaka.


Rozi tersenyum, lalu ia menuruti permintaan istrinya itu.


"Nah, sekarang A'a boleh buka mata." Ucap Cempaka dengan suara yang terdengar manja.


Rozi menatap Cempaka, lalu ia melihat benda mungil yang berada di tangan Cempaka.


"Ini apa?" Tanya Rozi.


"Lihat atuh A'."


Rozi menatap testpack itu dan lalu ia terbelalak dan menatap Cempaka dengan tak percaya.


"Ini beneran Cem?" Tanya Rozi.


"Ia A', sekarang si dede teh sudah dua bulan." Ucap Cempaka.


"Alhamdulillah ya Allah....!" Seru Rozi sambil menangis bahagia.


Lalu, ia memeluk dan menggendong Cempaka ke luar kamarnya.


"Nyakkkkkkkk... Nyakkkkkkkk..!" Teriak Rozi.


"Apaan sih lu..!"


Nyak Tatik yang sedang berada di kamarnya pun keluar dengan tergopoh-gopoh.


"Nyak bakal punya cucu Nyakkkkkkkk.. Cita-cita Enyak kesampaian...!" Seru Rozi.


"Apeeee...! Seriusan?"


"Ini Nyak,"


Rozi menyerahkan testpack itu kepada Nyak Tatik.


"Allahu Akbar, Alhamdulillah, Allah maha baek... terima kasih ya Allah...!"


Nyak Tatik menangis bahagia. Ia benar-benar merasa malam ini ia di berikan limpahan berkah di dalam hidupnya. Pertama dia mendapatkan maaf dan saling memaafkan dengan Nyak Komariah. Yang kedua ia akan menjadi seorang Nyai.


Nyak Tatik langsung menghampiri Cempaka dan memeluk Cempaka dengan erat.


"Terima kasih ye Cem. Lu bener-bener mantu yang baik." Ucap Nyak Tatik dengan hati yang sangat bersyukur.


Cempaka tersenyum bahagia saat melihat suami dan mertuanya bahagia.

__ADS_1


__ADS_2