
"Ih, palak kali aku lah. Nyesal pulak gak nanyak nomor handphone si Moan." (Red- palak- kesal) Ucap Butet saat ia keluar dari gedung Fakultasnya.
Tak bisa di pungkiri oleh Butet, rasa rindunya dengan Halomoan begitu tak bisa di bendung nya. Ia pun merasa menyesal karena telah acuh dan menolak lelaki itu.
Kini, untuk bertemu saja susahnya minta ampun. Halomoan sudah jarang berada di Kost-kost-an nya. Bahkan, sejak kemarin, lelaki itu sudah berangkat untuk KKN di sebuah desa di Jawa Barat.
Dengan bersungut-sungut, Butet menghentikan angkot yang akan mengantar dirinya pulang ke kost-kost-an.
Di dalam angkot, Butet termenung mengingat betapa gigihnya Halomoan mengejar dirinya. Lelaki itu adalah lelaki yang baik, tidak pernah berbuat kurang ajar kepada dirinya. Halomoan juga lelaki yang sabar dan kocak. Siapa saja akan tersenyum dan tertawa bila dekat dengannya.
"Pulang kenapa ko Bang." Gumam Butet.
Rasa sepi dan kehilangan hinggap di hati Butet. Terlebih saat Halomoan yang acuh kepada dirinya saat pertemuan terakhir mereka di depan rumah Kost.
"Mungkin dia cemburu sama si Batra ya." Gumam Butet yang terlihat risau dengan pikirannya. Butet menoleh ke luar jendela. Saat itu juga sebuah sepeda motor berhenti tepat di samping angkot itu, karena lampu merah menyala.
Butet terkejut saat melihat Cempaka di bonceng oleh Rozi. Buru-buru Butet menutupi wajahnya dengan masker kain yang tergantung di lehernya.
"A', nanti malam jalan yuk." Ucap Cempaka.
"Mau kemana sayang?" Tanya Rozi.
"Kemana aja, saya teh bete dirumah terus." Ucap Cempaka.
"Ya sudah, nanti kita jalan. Eh, kamu kapan pindah ke kamar saya?"
Pertanyaan Rozi membuat Butet terkejut.
"Pindah ke kamar Bang Rozi?" Gumam Butet.
"Ih, sabar atuh A', yang penting sekarang teh saya tidur tiap hari sama A'a." Ucap Cempaka dengan manja.
Butet mencebikkan bibirnya dan mencoba mengintip pasangan pengantin baru itu.
"Gak salah dengar aku? kok getek kali si Cempaka cakapnya. Kek, gitu kali dia. masak tidur berdua sama Bang Rozi. Apa kata Nyak Tatik? apa jangan-jangan malam-malam si Cempaka masok kamar Bang Rozi ya? Ih kayak udah biasa aja orang tu tidor berdua." (Red- getek- genit)
Butet bergidik geli membayangkan Rozi dan Cempaka tidur berdua dan bermesraan.
Lampu hijau menyala, Rozi pun memacu sepeda motornya dengan cepat. Sedangkan angkot yang di tumpangi Butet berjalan lambat sambil mencari penumpang lainnya.
"Gak bisa di biarkan ini, insaf kau Cempaka, kok jadi getek gini kau. Padahal ku tengok lugu kali kau lah." Gumam Butet yang tampak gelisah memikirkan sahabatnya itu.
Saat tiba di rumah, Butet melihat sepeda motor Rozi terparkir di halaman rumah Nyak Tatik. Lalu, dengan cepat ia menuju paviliun dan mencari Cempaka. Tetapi, gadis itu tidak berada di kamarnya.
"Apa di kamar Bang Rozi dia?" Gumam Butet.
"Pen kali aku grebek kamar Bang Rozi itu lah, mesum kali dia sama Cempaka. Cempaka pon getek kali!" Gumam Butet lagi sambil meremas blouse nya.
"Ku tunggu aja lah si Cempaka." Ucap Butet sambil duduk-duduk di beranda paviliun.
..
"Sri..!"
Dewa menarik lengan Sri yang berjalan dengan cepat saat melihat Dewa berada di kampusnya.
__ADS_1
"Sri kasih aku waktu untuk menjelaskan nya!" Ucap Dewa.
Sri menatap Dewa dengan malas. Hati Sri masih terasa sakit bila melihat lelaki yang ia cintai itu. Bagi Sri, walaupun secinta apa pun dirinya kepada seseorang, tidak ada kesempatan bagi orang yang telah berkhianat kepadanya.
"Ono opo sih!" Ucap Sri sambil berusaha melepaskan cengkraman tangan Dewa di lengannya.
"Sri, dengerin aku dulu." Ucap Dewa.
"Mas, aku capek, aku mau pulang." Ucap Sri.
"Besok aku mau KKN, kita pasti jarang bertemu, aku gak mau ini semua berlarut-larut. Aku ingin menjelaskan semuanya. Aku harap kamu mau mendengarkan penjelasan dari ku. Bila memang kamu ingin putus, ya aku terima. Tetapi, setidaknya kamu dengerin aku dulu. Please....."
Sri menatap Dewa dengan seksama. Lalu, ia mengangguk dengan ragu.
Dewa mengambil sepeda motornya, lalu menyuruh Sri untuk naik ke boncengannya.
Dengan malas, Sri naik ke boncengan sepeda motor Dewa lalu duduk dengan menjaga jarak dari tubuh lelaki itu.
Dewa menghela napasnya dan lalu menjalankan sepeda motornya menuju tempat yang cocok untuk berbicara empat mata.
Beberapa menit kemudian, sampailah mereka berdua di salah satu cafe yang tidak begitu ramai. Dewa memarkirkan sepeda motornya di halaman cafe tersebut. Sri tampak diam saja dengan raut wajah yang kesal.
"Ayo masuk." Ucap Dewa sambil menggenggam tangan Sri.
Dengan cepat, Sri menepis tangan Dewa dan berjalan mendahului Dewa. Dengan sabar, Dewa mengikuti Sri masuk kedalam cafe itu.
Setelah memesan minuman, Dewa pun duduk di depan Sri yang tampak acuh kepadanya.
"Gak makan?" Tanya Dewa.
"Ok, langsung saja ke pokok permasalahannya. Kamu itu kenapa sih Sri?" Tanya Dewa.
Sri mengerutkan keningnya dan menatap Dewa dengan tajam.
"Kenapa?" Tanya Sri dengan wajah tak percaya.
"Ok, ok, kamu menerima telepon dari Santi?" Tanya Dewa.
Sri tidak menjawab pertanyaan Dewa ia terus menatap lelaki itu dengan genangan air mata di pelupuk matanya.
"Kok kowe tego sih Mas khianati aku?" Tanya Sri.
Dewa terdiam dan menundukkan wajahnya.
"Santi ngomong apa sama kamu?" Tanya Dewa.
"Kenopo tanya aku? Tanya sana sama pacarmu si Santi!" Ucap Sri yang tampak emosi dengan Dewa.
Dewa menghela napasnya dan menatap Sri dengan seksama.
"Sri.." Ucap Dewa sambil menyentuh punggung tangan Sri.
"Ojok sentuh aku Mas..!" Ucap Sri sambil menggeser tangannya menjauh dari tangan Dewa.
Dewa terlihat panik dan bingung akan berkata apa.
__ADS_1
"Aku sudah tanya sama Cempaka. Kata Cempaka, Santi memang pacar mu." Ucap Sri yang memberanikan menantang tatapan Dewa.
Dewa terdiam membisu.
Minuman yang mereka pesan pun datang. Lalu, waiter menghidangkan minuman itu di hadapan Dewa dan Sri.
"Sri.." Panggil Dewa setelah waiter itu pergi.
Kini Sri yang diam membisu.
"Aku jujur, Santi memang kekasihku."
Sri terbelalak dan menatap Dewa tak percaya.
"Dia di Bandung, aku pacaran dengan Santi sudah sejak SMA."
"Ohhhh, jadi apa yang di katakan Cempaka bener toh!" Ucap Sri yang langsung bergegas beranjak dari duduknya.
Dewa buru-buru mencegah Sri dengan menahan tangan kekasihnya itu.
"Duduk dulu ya." Ucap Dewa.
"Opo maneh toh Mas!" Ucap Sri dengan napas yang sesak.
"Sri, aku benar-benar mencintai kamu. Hanya kamu!" Ucap Dewa.
"Lah, terus? si Santi mau kamu apakan?" Tanya Sri yang bertambah emosi dengan Dewa.
"Sri dengar dulu." Ucap Dewa sambil kembali mencegah Sri untuk meninggalkan dirinya.
Sri diam saja dan menatap Dewa dengan tajam.
"Sri, aku berpacaran dengan Santi itu putus nyambung Sri. Saat aku bertemu denganmu di stasiun, aku sedang putus dengan Santi. Saat aku mendekati kamu, aku pun sudah putus dengan Santi. Tetapi, sebelum aku mengatakan cinta denganmu, Santi meminta balikan dengan ku. Tetapi, aku menolaknya. Aku bingung saat dia mengancam akan bunuh diri Sri." Ucap Dewa dengan tatapan nya yang serba salah.
"Lah terus? kamu balikan dengan dia Mas? Hanya gara-gara dia mau bunuh diri?" Tanya Sri.
"Sri, Santi itu orang nya nekat. Kalau dia bunuh diri gimana? apa kata keluarganya? Terus pasti aku yang disalahkan." Ucap Dewa.
Sri terdiam, ia menatap Dewa dengan lekat. Sri paham betul, bila Dewa, lelaki yang tidak tegaan. Hati Dewa begitu lembut, ia pasti tidak akan bisa menolak bila memang Santi mengancam dengan hal yang nekat seperti itu.
"Aku benar-benar mencintai kamu, kalau tidak, aku tidak akan mengatakan nya kepada mu saat di kost-kost-an. Aku juga tidak akan menyusul kamu ke Yogyakarta." Ucap Dewa.
"Tetapi aku tidak bisa di duakan Mas..!" Ucap Sri sambil beranjak dari duduknya.
"Sri..! Aku tahu aku salah.." Ucap Dewa.
Kali ini Sri mengabaikan Dewa, hatinya benar-benar terluka. Ia berlari meninggalkan cafe itu dan langsung menghentikan taksi yang melintas di depan cafe itu.
"Sriiiii..!" Panggil Dewa. Tetapi gadis itu sudah pergi.
Dewa mengepalkan tangannya, lalu ia kembali masuk kedalam cafe itu. Ia duduk sendirian dengan dua gelas minuman yang belum tersentuh. Dewa mulai menangis dalam diam. Ia benar-benar tidak tahu apa yang akan ia lakukan. Dewa benar-benar mencintai Sri. Tetapi, ia benar-benar tidak tega dengan Santi.
"Ya Allah....."
Dewa mengusap wajahnya dengan gusar.
__ADS_1