Kost Putri

Kost Putri
101# Pindah Kost


__ADS_3

"Tet, Nyak mohon maaf ye Tet, kalau selama ini Nyak banyak salah ama Butet." Ucap Nyak Tatik saat ia membantu Butet sedang berkemas-kemas barang Butet.


"Sama-sama ya Nyak. Aku juga minta maaf Nyak kalau banyak salah sama Nyak.


"Iya Tet, lu hati-hati ye Tet. Di kosan baru lu, lu jangan sering pulang malem. Nyak kagak bisa monitor elu lagi." Ucap Nyak Tatik.


Butet menatap Nyak Tatik dengan tak percaya.


"Nyak, aku kan pindah kedepan. Kek pindah jaoh aja aku." Ucap Butet.


"Iye, walaupun lu pindah nye di rumah si Komariah, tetep aje gue khawatir Tet." Ucap Nyak Tatik sambil mengusap air matanya.


Butet pun ikut menangis. Betapa baik nya Nyak Tatik selama ini pada dirinya.


"Terima kasih Nyak. Bagaimanapun Nyak udah aku anggap kek orangtua ku sendiri Nyak." Ucap Butet.


Kini, Nyak Komariah tidak lagi menerima anak kost laki-laki. Setelah Agus, Halomoan dan Bambang sudah tidak tinggal lagi di Kost-kost-an nya. Nyak Komariah kini hanya menerima anak kost perempuan. Itu pun karena Nyak Tatik tidak lagi menerima anak kost.


Kini, Paviliun itu akan di tempati oleh Rozi. Walaupun awalnya paviliun itu untuk Batra. Tetapi, karena kehamilan Cempaka, Batra dan Siti mengalah. Mereka mempersilahkan Rozi dan Cempaka untuk menempati paviliun tersebut sampai Cempaka bisa full untuk merawat kedua anak nya.


Sedangkan Batra dan Siti kini menempati kamar Rozi yang lebih besar dari pada kamar sebelumnya.


Butet di antarkan Nyak Tatik ke kost putri Nyak Komariah. Kini, di pagar rumah Nyak Komariah terpampang papan pengumuman bahwa dirumahnya kini hanya menerima kost putri saja.


Butet menempati kamar bekas Halomoan. Nyak Komariah ikut mengantarkan Butet ke kamar baru nya itu.


"Yang betah ye Tet, jangan lu telat bayar kost nya." Pesan Nyak Komariah.


"Iya Nyak tenang aja lah." Ucap Butet sambil tersenyum.


Lalu, Nyak Tatik dan Nyak Komariah pun turun dan membiarkan Butet untuk menata barang-barangnya.


Butet melihat kesekeliling kamar itu, lalu matanya tertuju kepada sebuah guling yang tergeletak di atas ranjang itu. Butet pun menelan salivanya saat ia teringat akan cerita Bambang.


Butet memperhatikan guling itu, lalu mengangkat nya dengan ekspresi jijik.


"Heh kau! kau yang udah ambil keperjakaan calon suami aku ya..!" Ucap Butet kepada guling itu. Dengan ekspresi kesal, Butet pun mencampakkan guling itu ke atas lantai.


Lalu, ia memperhatikan bantal bekas Halomoan.


"Banyak pulau gak disini?" Ucap Butet sambil membuka sarung bantal itu.


Butet terbelalak saat melihat sisi dalam bantal tersebut. Lalu, ia pun melempar bantal itu ke lantai.


"Ih, mati lah aku..! Banyak kali pulau abstrak nya...!" Ucap Butet sambil bergidik.


"Kek mana lah si Moan, katanya dia cuma ngences pas di Bus aja. Tapi, apa kenyataannya? banyak nya di bantal jugak..! Kek mana nantik aku tidur sama dia Tuhannnn." Butet mengacak-acak rambutnya sendiri.

__ADS_1


"Ish, ku hubungin lah si Moan ini. Suruh dia belik bantal baru." Ucap Butet sambil mencoba menghubungi Halomoan.


"Halo..!"


"Halo hasian ku." Sahut Halomoan.


"Kau cemana nya Moan, Aku sekarang tinggal di kamar kau. Ish banyak kali pulau di bantalnya..! Belik kan aku bantal baru lah." Ucap Butet.


"Pakek aja bantal itu hasian ku cantek. Gak apa nya itu. Makin cinta kau sama aku kalo pakek bantal itu." Ucap Halomoan sambil tertawa geli.


"Gak mau aku loh. Jijik kali.. ish."


"Ih kek gitu kali kau Tet, di jemor lah, kan pakek sarong bantal yang udah di cuci sama Nyak Komariah itu." Ucap Halomoan.


"Itu lagi guleng mu udah bunteng dia, bentar lagi beranak dia itu." Ucap Butet sambil menahan tawanya.


"Eeeee... kek gitu dia kan, di ungkit-ungkit nya masalah guleng. Nokoh aja itu si Bambang, mana ada aku kek gitu sama guleng. Nokoh dia itu, percaya lah kau sama aku Tet."


"Ah, gak percaya aku sama mu. Pokok nya kau belik guleng sama bantal baru..!" Ucap Butet sambil menutup teleponnya.


Butet cemberut menatap bantal guling yang tergeletak di atas lantai.


"Bunteng kau sama Moan, iya?" Tanya Butet.


..


..


Agus termenung di teras rumah Matt. Matt sudah mendengar cerita Agus saat Agus pulang kerumah dalam keadaan babak belur. Matt tahu perasaan Agus saat ini. Agus sangat bersedih karena penolakan yang Agus terima dari keluarga mantan kekasihnya itu.


Matt duduk disamping Agus dan merangkul lelaki itu.


"Apa yang di pikirkan?" Tanya Matt.


Agus menoleh dan tersenyum kepada Matt.


"Tidak ada." Ucap Agus.


"Rindu anak?" Tanya Matt.


Agus tersenyum dan mengangguk.


"Saya tidak mau menghakimi kamu. Tetapi, kamu sudah benar meminta maaf. Walaupun di tolak, tetapi ini awal menyambung silaturahmi." Ucap Matt.


Agus mengangguk paham. Ia kembali termenung.


"Kau masih mencintainya?" Tanya Matt lagi.

__ADS_1


Agus tersenyum dan menundukkan pandangannya.


"Awalnya aku hanya mempermainkan dia. Tetapi, sekarang aku sadar, dia adalah wanita yang paking tulus yang pernah mencintai aku." Ucap Agus.


Matt tersenyum, ia menatap Agus dengan seksama.


"Bro, kejar dia sampai dia benar-benar menerima kamu." Ucap Matt.


Agus menatap Matt, ia merasa mendapatkan dukungan dan kekuatan dari ucapan Matt.


"Pasti." Ucap Agus dengan bersemangat.


Matt tersenyum dan merangkul Agus.


Dreeeettt..! Dreeeettt..!


"Wait." Ucap Matt kepada Agus, saat ia akan menerima panggilan yang baru saja masuk di ponselnya.


"Halo, iya. Oh sudah selesai ya? ok, saya akan segera kesana." Ucap Matt. Lalu, Matt menutup panggilan telepon itu.


"Ayo antarkan saya." Pinta Matt.


"Kemana?" Tanya Agus.


"Menjemput dokumen ku untuk menikah." Ucap Matt.


Agus pun mengangguk, lalu ia beranjak dari duduknya dan segera masuk kedalam mobil.


Satu jam kemudian, sampailah Agus dan Matt di kedutaan. Agus menunggu Matt di mobil sedangkan Matt masuk kedalam gedung kedutaan Negara nya.


Beberapa menit kemudian, Matt pun keluar dengan membawa berkas untuk pernikahan nya.


"Sudah, selesai urusan saya. Sekarang tinggal menyerahkan nya ke rumah calon istri ku. Ayo kita ke rumah calon istri ku." Ucap Matt.


"Ok, semoga lancar ya Matt." Ucap Agus dengan tulus.


"Aamiin, tinggal selangkah lagi Bro." Ucap Matt dengan bersemangat.


Agus tersenyum, lalu ia menyalakan mobil dan mulai mengemudikan mobil itu ke rumah calon istri Matt.


"Pakai maps saja ya. Biar tidak bingung. Kamu kan baru pertama ke rumah calon istri saya." Ucap Matt.


"Ok." Ucap Agus.


Matt menyalakan aplikasi maps di layar kecil yang berada di mobilnya. Lalu muncul lah maps yang menuju ke rumah Risa.


Agus tidak memperhatikan alamat yang tertera di layar, ia hanya fokus kepada gambar jalan yang ada di layar itu agar ia tidak salah saat mengantar Matt ke rumah wanita yang Matt cintai.

__ADS_1


__ADS_2