
Agus termenung beranda rumah Matt. Ia benar-benar tidak menyangka bila calon istri Matt adalah Risa. Kenyataan ini begitu pahit baginya. Tetapi, ia sadar, dirinya tidak seharusnya banyak berharap dari Risa dan keluarganya.
Agus menulis di atas secarik kertas. Ia menuliskan segala isi hatinya untuk Matt. Matt lelaki yang baik dan telah berjuang untuk mendapatkan Risa, bukanlah saingannya. Sudah jelas Agus bukanlah tandingan Matt. Bahkan untuk lebih baik dari segala segi pun, Agus tidak akan mampu.
Matt, yang baru saja selesai mandi dan makan malam, menyusul Agus di teras rumah itu. Tetapi, Agus sudah tidak ada disana. Matt pun kembali beranjak ke dalam dan berjalan ke kamar Agus. Tetapi, kamar lelaki itu tertutup rapat. Matt pun merasa Agus sudah tidur, lalu ia pun beranjak ke kamarnya untuk tidur.
Pagi-pagi sekali, Matt sudah siap dengan setelan Jas nya. Ia pun beranjak ke kamar Agus untuk mengajak sahabat baru nya itu untuk sarapan. Ia mengetuk pintu kamar Agus. Terapi, tidak ada jawaban disana.
Merasa Aneh, Matt pun memberanikan diri untuk membuka pintu kamar Agus. Kamar itu kosong, tidak ada siapa-siapa disana. Matt pun berpikir, bila Agus sudah menunggunya di beranda rumah. Matt pun berjalan mencari Agus ke beranda rumah. Tetapi, ia tetap tidak menemui lelaki itu disana.
"Kemana Agus?" Gumam Matt.
Matt yang merasa curiga, langsung kembali ke kamar Agus. Ia membuka lemari lelaki itu. Benar saja, lemari itu sudah kosong. Tidak ada barang-barang Agus disana.
Matt pun panik, saat dirinya hendak pergi meninggalkan kamar itu, ia melihat secarik kertas di atas ranjang Agus. Matt menghampiri kertas tersebut dan meraihnya.
To: Matt
Matt mengeryitkan dahinya. Lalu, ia membuka lipatan kertas itu.
Matt, saya mengucapkan banyak terima kasih atas segala bantuan mu selama ini. Atas segala kebaikan hatimu, juga atas segala bimbingan mu untuk saya menjadi lebih baik dari pada sebelumnya.
Saya memang pengecut, saya pergi dari rumahmu tanpa berpamitan sebelumnya dengan mu.
Matt, selamat atas akan terjadinya pernikahan mu dengan Risa. Risa adalah wanita baik dan paling tulus. Aku harap, kau memang benar-benar tulus dan mencintai dia karena hatimu.
Maafkan saya yang tidak berani jujur secara langsung denganmu. Jujur, Risa adalah wanita yang pernah aku kecewakan. Wanita yang begitu tulus mencintaiku. Tetapi, aku lah yang mencampakkan dia dari kehidupan ku. Aku bersalah atas Risa dan Arkha, anak ku.
Maaf Matt, aku benar-benar pengecut untuk mengatakan yang sebenarnya kepadamu secara jantan dari kemarin. Aku malu, ternyata lelaki sebaik kamulah yang menjadi pengganti ku. Aku pun bersyukur, Risa dan Arkha dapat berbahagia denganmu.
__ADS_1
Matt, aku titip Risa dan Arkha. Aku serahkan mereka untukmu. Aku tahu diri, aku tidak akan pernah di inginkan ataupun mampu untuk membahagiakan mereka. Kamu lah yang sangat pantas untuk mereka.
Matt, aku pergi. Terima kasih untuk semuanya. Salam sayang ku untuk Risa dan Arkha. Dan selamat atas pernikahan kalian kelak. Maaf, aku tidak bisa hadir di hari bahagia kalian. Do'a ku selalu, untuk mu, Risa dan Arkha.
Kamu lelaki baik, kamu pantas untuk Risa yang berhati malaikat. Dia memang pantas untuk bahagia tanpa ada bayang-bayang aku di sisi kalian.
Agus.
Matt terpana sesaat setelah membaca surat dari Agus. Ia pun tercenung di tepi ranjang Agus.
Matt benar-benar tidak tahu, bila Agus lah lelaki yang pernah menyakiti Risa. Tetapi, Matt juga bersyukur, ia dapat bertemu dengan Agus walaupun tanpa disengaja.
Diam-diam Matt menangis, ia tahu perjuangan Agus untuk lebih baik dan berusaha untuk kembali dengan Risa. Matt benar-benar merasa bodoh, karena tidak peka, saat Agus tidak mau ikut turun dengannya saat di rumah Risa.
"Maafkan saya Agus." Bisik Matt lirih.
Risa yang baru saja selesai memandikan Arkha, berjalan menuju pintu depan rumahnya setelah mendengar ada yang mengetuk pintu rumahnya.
Suasana lagi sepi saat ini, Nyak Komariah sedang pergi menagih uang kontrakan tahunan di komplek sebelah, sedangkan Rita sedang ke kampus untuk mengambil jubah toganya karena sebentar lagi Risa dan Rita akan wisuda.
Dengan menggendong Arkha, Risa membuka pintu rumah itu. Risa terkejut saat menatap wajah Agus saat ia membuka pintu rumahnya.
Risa diam saja tanpa sepatah katapun. Agus langsung menatap Arkha dan tersenyum kepada bocah laki-laki itu.
"Ris, selamat ya, kamu akan segera menikah. Dia orang baik, dia adalah lelaki yang pantas untuk kamu." Ucap Agus.
Risa mengerutkan keningnya dan menatap Agus dengan seksama.
"Ris, Abang pamit. Abang tidak akan pernah mengganggu kehidupan kamu. Tetapi, izinkan Abang meminta maaf dengan tulus atas semua kesalahan yang Abang lakukan selama ini. Abang menyesal Ris."
__ADS_1
Risa tampak menahan tangis nya. Tetapi, gadis itu tetap berusaha untuk tegar.
"Abang akan menghilang dari kehidupan kalian. Tetapi, Abang pastikan Abang tidak akan lupa akan tanggung jawab Abang. Berikan Abang nomor rekening mu. Biar Abang bisa mengirimi Arkha setiap bulannya. Tetapi, maaf, untuk sekarang Abang tidak bisa memberikan banyak-banyak. Tetapi, Abang akan rutin memberikan nafkah untuk Arkha." Ucap Agus.
Risa terdiam, air mata tak dapat lagi ia bendung. Risa menangis tersedu-sedu. Entah mengapa, hatinya merasa iba terhadap Agus.
"Jangan nangis, Abang tahu, Abang terlalu banyak salah kepadamu. Maafkan Abang ya, Arkha juga, Papa minta maaf." Ucap Agus yang ikut menangis tersedu-sedu."
"Abang tunggu disini, berikan Abang nomor rekening mu. Mohon jangan pernah di tolak, Abang lakukan ini semua karena Abang adalah Ayah kandung anak kita. Abang tahu, kamu tidak akan pernah membutuhkan tanggung jawab Abang setelah Abang mengecewakan kamu. Tetapi, izinkan Abang menebusnya dengan cara memberi Arkha nafkah setiap bulan ya Ris." Ucap Agus.
Tanpa kata, Risa beranjak dari hadapan Agus. Lalu, tak lama kemudian dia kembali dengan buku tabungannya dan menyerahkan nya kepada Agus untuk di catat.
Agus tersenyum saat menerima buku tabungan itu. Lalu, ia mencatat nomor rekening Risa. Setelah itu, ia langsung mengembalikan nya kepada Risa.
"Abang pamit ya Ris, terima kasih. Abang titip anak kita." Ucap Agus. Lalu, ia beranjak dari hadapan Risa setelah menggenggam tangan Arkha anak kandungnya.
Perpisahan itu begitu mengharukan. Agus berjalan sambil melepas tangan Arkha secara perlahan. Tangan bocah laki-laki itu menggenggam erat jari telunjuk Agus.
"Pa."
Agus menghentikan langkahnya, lalu ia menatap Arkha dengan tatapan yang penuh kesedihan. Lalu, Agus kembali dan meraih Arkha dari dekapan Risa.
"Maafkan Papa." Ucap Agus sambil menangis penuh penyesalan.
Sejak perpisahan itu, Agus tak pernah kembali lagi. Hanya kiriman nya setiap bulan lah yang datang dengan tepat waktu. Dengan tulisan yang begitu menyayat hati.
"Untuk yang terkasih, Arkha. Maafkan Papa ya Nak.
Rp. 2.000.000."
__ADS_1