
"Tettttt... pelok lah pinggang Abang, kek tukang ojek Abang kalo kek gini. Jaoh-jaoh kali dudok nya." Ucap Halomoan saat berhenti di lampu merah.
"Pelok-pelok," Ucap Butet sambil bersungut-sungut.
"Ish, pelit kali dia. Pelok lah, nantik jatoh kau Tet, tejengkang kau di aspal nantik." Ucap Halomoan.
"Kalok kau gak ngebot-ngebot gak jatoh aku. Pelan sikit kau jalannya!"
Halomoan tersenyum seperti baru saja mendapatkan ide.
"Kenapa kau senyom-senyom?" Tanya Butet.
"Makasih Tet idenya."
"Ide apa?"
"Jadi aku harus ngebot dulu baru kau pelok pinggangku kan?" Ucap Halomoan.
"Ish! gilak kau Moan..!" Ucap Butet sambil menolak kepala Halomoan.
Halomoan cengengesan sambil menatap Butet dari kaca spionnya.
Lampu hijau menyala. Saat itu juga Halomoan langsung tancap gas, layak nya Valentino Rossi.
"Moaaaannnn! tejengkang aku nantikkkkkk...!" Teriak Butet.
Halomoan tertawa jahil. Akhirnya mau tidak mau Butet memeluk pinggang Halomoan.
Hati Halomoan berbunga-bunga, ia merasa bahagia sekali di peluk Butet dari belakang.
"Omakjanggggg, kek gini rasanya di pelok Butet. Rasa mau serangan jantong rasanya." Gumam Halomoan sambil tersenyum sendiri.
Tiba-tiba saja ada sebuah sepeda motor menyusul Halomoan yang sedang memacukan sepeda motornya dengan kencang.
Pritttttt..! Pritttt..!
"A... m*mpos kau kan, di berentikan polisi kau kan!" Keluh Butet.
Halomoan melirik ke sebelahnya. Terlihat polisi lalu lintas yang mengisyaratkan Halomoan untuk menepi.
"Amangoiiiiiiii..!" Keluh Halomoan.
Lalu, ia menepikan sepeda motornya di sisi kiri jalan.
"Selamat sore,"
"Selamat sore Pak." Sahut Halomoan.
"Apakah anda tau kesalahan anda?" Tanya polisi itu.
Halomoan menelan salivanya dan melirik Butet yang terlihat kesal kepadanya.
"Tau Pak."
"Kenapa mengebut Mas? Bisa lihat SIM dan STNK nya?" Tanya polisi tersebut.
Halomoan menghela napasnya dan mengeluarkan dompetnya dari saku celananya. Lalu, ia mengeluarkan SIM dan STNK motornya dan menyerahkannya kepada petugas tersebut.
"Anda saya tilang ya, karena memacukan kendaraan melebihi kecepatan maksimum." Ucap polisi tersebut sambil memperhatikan SIM dan STNK milik Halomoan.
"Jangan lah Pak, aku gak sengaja ngebot." Ucap Halomoan.
"Itu wajahnya kenapa? Habis berantem?" Tanya polisi itu.
Halomoan menyentuh wajahnya dan mengangguk sambil bersungut-sungut.
"Disini jalan raya. Ada batas maksimal yang harus di taati. Dan anda sudah melanggar batas tersebut. Jadi, nanti sidang ya tanggal 5." Ucap polisi itu sambil mengeluarkan kertas tilangnya.
"Janganlah Pak, kasihanilah Pak, aku mahasiswa Pak."
__ADS_1
"Ya terus? Mahasiswa tidak bisa di tilang gitu?"
"Bukan kek gitu....."
"Terus? Kamu sudah jelas-jelas melanggar lalu lintas kok." Ucap polisi itu sambil menyerahkan secarik kertas tilang untuk Halomoan.
"Pakkk...,"
"Sudah ya, STNK nya saya ambil." Ucap polisi itu sambil menyerahkan SIM milik Halomoan.
Halomoan hanya bisa pasrah sambil cemberut.
Setelah polisi itu pergi, Butet pun mulai mengamuk.
"Aku bilang jugak apa! Kau bandal kali!" Ucap Butet.
Halomoan menatap Butet dengan seksama. Lalu, ia tersenyum semringah.
"Butet hasian ku, walaupun Abang kenak tilang ratusan kali, Asal kau pelok, Abang rela." Ucap Halomoan.
Butet yang tadinya ingin marah, jadi tertawa melihat tingkah Halomoan.
"Kau ini ada-ada aja, gadak bagos-bagos nya gombalan mu itu Moan!" Ucap Butet sambil mengulum senyumnya.
"Makanya hasian ku, pelok lah aku sebelum kenak tilang kedua kalinya ya." Ucap Halomoan sambil beranjak naik keatas sepeda motornya.
"Untong kau ganteng, kalok mukak mu pas pasan udah ku tokok kepala kau." (Red- Tokok- jitak)
"Ih, di bilang ganteng aku." Ucap Halomoan sambil tersenyum semringah.
"Gosah kau geer, basa basi aja nya aku." Ucap Butet sambil naik ke atas boncengan sepeda motor Halomoan.
"Pelok lah, nantik kenak tilang lagi kita." Ucap Halomoan.
"Ish, kau ini..!" Keluh Butet sambil memeluk Halomoan dari belakang.
"Aaa... kek gitulah. Demi kebaikan bersama ya Tet." Ucap Halomoan sambil tersenyum lebar.
Halomoan pun memacukan sepeda motornya menuju cafe langganannya.
Beberapa menit kemudian, sampailah Butet dan Halomoan di cafe. Lalu, mereka berdua berjalan memasuki cafe itu.
Setelah memesan beberapa menu, Butet dan Halomoan duduk berhadap-hadapan di salah satu sudut cafe itu.
Halomoan menatap Butet dengan seksama. Hati Halomoan bagaikan di tumbuhi bunga-bunga yang indah saat melihat pujaan hatinya itu.
"Apa kau liat-liat aku kek gitu!" Ucap Butet.
"Tau gak kau Tet, setiap liat wajahmu, hatiku kayak lagi di taman bunga."
"India kali hatimu ya. Kek pilem India, joget-joget jugak gak kau?" Tanya Butet sambil menahan tawanya.
"Bukan lagi Tet, guling-guling di rumpot pon, nyender-nyender pohon, tarek-tarek selendang." Ucap Halomoan.
Butet tertawa geli mendengar gombalan tidak bermutu dari Halomoan.
"Saket ya biber mu? bengkak itu pelipis mu Bang." Ucap Butet.
"Di ciom sama mu, juga semboh Tet." Seloroh Halomoan sambil melihat wajahnya dari kamera ponselnya.
"Mantap juga pukolan si Agus ya. Tapi tetap menang aku lah." Gumamnya.
"Jangan kau ulang lagi berantam kek gitu Bang, mau tanggal jantongku kau buat. Khawatir kali aku. Memang apa masalah kelen Bang?" Tanya Butet.
Halomoan terdiam sesaat. Tidak mungkin ia ceritakan masalah Risa kepada Butet. Karena bagaimanapun itu aib Risa.
"Gadak, cuma salah paham nya kami." Ucap Halomoan.
Lalu, ia menaruh ponselnya dan menatap Butet lekat-lekat.
__ADS_1
"Tet,"
"Ya,"
"Ko mau jadi cewek ku?" Tanya Halomoan tanpa berbasa-basi.
Butet membalas tatapan Halomoan dengan sorot mata yang berbinar-binar.
"Becewek kita sekarang ya Tet, gosah gengsi-gengsi lagi kita. Tau nya aku kita saling cinta Tet." Ucap Halomoan.
Butet menundukkan pandangannya.
"Becewek kita ya Tet. Aku cakap serius ini. Setaon setengah lagi ku lamar kau Tet. Teros nikah kita Tet di Toba." Ucap Halomoan lagi.
Butet tidak bisa berkata apa-apa, lidahnya seakan kaku dan tubuhnya gemetar saat Halomoan mengutarakan cinta untuk yang kedua kalinya.
"Si Risa kek mana?" Tanya Butet.
"Alahhhh... itu pulak yang di bahas, aku gak ada becewek sama si Risa. Risa cewek si Agus. Semalam itu dia pingsan di kampos, makanya aku papah dia. Kau liat sendirilah aku keluar dari ruang kesehatan." Terang Halomoan.
"Yang jadi pertanyaan ku, justru kau tet, kenapa kau bilang gak becewek tapi kau jalan sama si Batra. Gak ko piker perasaan ku." Sambung Halomoan.
"Aku gadak becewek sama si Batra. Aku mo pulang teros dia tawarin tumpangan aja nya." Ucap Butet.
"Oooo, jadi salah paham aja nya kita Tet. Kalok kek gitu hari ini kita jadian ya Tet. Gak boleh kau tolak aku. Kalok kau tolak aku, bunuh diri aku di Danau Toba nantik."
"Eh, apa nya ini..!" Ucap Butet sambil tersenyum geli.
"Ish cinta kali aku sama mu Tet. Rasanya mo mati aku tiap ingat kau Tet."
"Kok gak mati kau?" Tanya Butet.
"Kan cuma mau, gak sampek mati." Ucap Halomoan sambil tertawa geli.
Lalu, Halomoan menggenggam tangan Butet.
"Jadian kita ya Tet. Aku serios ini."
Butet menatap Halomoan dengan lekat-lekat.
"Gak mau aku." Ucap Butet.
"Ish, jadi di tolak lagi aku?" Ucap Halomoan dengan raut wajah yang sedih.
"Gak mo nolak lah Abang Moan ku." Ucap Butet sambil tersipu malu.
"Ooooooiiiiiii Inanggggg..! jadi jugak aku sama bidadari ku ini..!" Teriak Halomoan sambil berdiri dari duduk nya.
Semua mata memandang ke arah mereka berdua.
"Eeeee... jan bikin malu kau Bang!" Seru Butet.
"Cinta memang gak tau malu Tet, senang kali aku Bah! Terima kasih Hasian ku..!" Seru Halomoan sambil mengecup kening Butet.
Butet tersipu malu.
"Weeee... jadian kami...! Tau kelen..! ucapkan selamat cepat..!" Teriak Butet kepada semua pengunjung.
"Eh Tet," Halomoan langsung duduk dan menyapu pandangannya ke semua pelanggan cafe. Kali ini dia yang merasa malu.
"Sini.. sini.. anggap aja lagi kondangan, kasikan kami selamat." Ucap Butet.
Dan, sejurus kemudian, Butet dan Halomoan bagaikan dua mempelai yang sedang bersanding di pelaminan. Satu persatu memberikan mereka selamat bagaikan tamu di sebuah acara pernikahan.
..
Yang penasaran dengan visual, mohon maaf, Author tidak bisa memberikan visual di novel ini. Tetapi, author taruh di IG author ya. Karena Author takut seperti yang sudah-sudah, banyak yang protes karena visual lokal.
Author sengaja memilih lokal karena hanya ingin mencocokkan saja dengan nama dan karakter tokoh. Tetapi sayangnya, bila di taruh di novel, banyak yang merasa tidak cocok dan lalu menghujat dan langsung komen ilfil dan tidak mau lanjut membaca. (yang sudah-sudah begitu, mohon maaf, jadi kapok). Jadi, mohon maaf visual author pindahkan ke IG saja. Bukan mau cari followers, IG author tidak di kunci. Jadi bisa di lihat oleh siapa saja. Mohon pengertiannya ya sayang.
__ADS_1
IG Derini_Derini.