
Halomoan yang terlihat sangat tampan pada siang ini, sedang memberikan briefing kepada para pegawainya di cafe miliknya. Aura Boss Halomoan sudah sangat melekat pada diri lelaki itu. Dari kasir, Butet terus memperhatikan lelaki pujaan nya itu sambil tersenyum-senyum sendiri.
Risa yang melihat Butet tersenyum-senyum sendiri pun, menghampiri Butet.
"Tet, kok senyum-senyum sendiri?"
Butet menatap Risa sesaat, lalu ia kembali melihat Halomoan.
"Makin cinta aku sama si Halomoan Ris, kek Boss ku tengok dia sekarang. Kek orang-orang tajir gitu." Ucap Butet.
"Kan memang Boss kita dia, Butet." Ucap Risa sambil tersenyum geli dan menata donat yang baru saja matang di etalase di samping kasir.
"Iya, eh jadi aku pulak yang gak sabar mau nikah sama dia lah." Seloroh Butet.
Risa tersenyum geli dan menepuk pundak Butet.
"Sudah segerakan Tet, kan Bang Moan juga sudah punya usaha." Ucap Risa.
"Kami udah ada perjanjian Ris. Utang nya sama Amang nya itu belom lunas. Kasian lah aku nengok dia mencret-mencret bayar sinamot ku nantik." Ucap Butet.
"Sinamot? apa itu?" Tanya Risa.
"Jadi sinamot itu..... "
"Moan..!" Panggil seorang wanita yang baru saja memasuki cafe milik Halomoan.
Butet langsung menoleh dan menatap gadis cantik berambut panjang sepinggang, layaknya bintang iklan shampo. Kulit gadis itu putih dan mulus. Badan nya bak supermodel terkenal, lengkap dengan baju mahalnya yang terlihat sangat pas membalut tubuh indahnya.
"Eh, siapa ini." Batin Butet.
Halomoan menoleh dan menatap gadis itu. Lalu, Halomoan pun langsung melirik Butet yang sedang memperhatikan gadis itu dari balik meja kasir.
Dengan ragu, Halomoan tersenyum kepada gadis yang sedang berjalan menghampiri dirinya itu.
"Hai Moan, apa kabar?" Tanya gadis itu sambil mencium pipi kiri Halomoan.
Sontak saja Butet terkejut dan langsung berdiri dari duduknya.
"Eh, Risma." Ucap Halomoan yang terlihat gugup karena gadis itu mengecup pipinya.
"Apa kabar Moan, lama gak jumpa kita ya. Ini usaha mu ya. Aku ada berapa kali kesini. Waktu ku tengok fotomu di dinding itu jadi aku tanyak lah sama pegawai mu. Rupanya kau yang punya cafe ini ya Moan. Sukses kau sekarang Moan." Ucap Risma. Gadis yang pernah mengisi hati Halomoan beberapa tahun yang lalu.
"I-iya." Ucap Halomoan.
Dari balik kasir, Butet sudah melipat kedua tangannya di dada.
"Siapa itu?" Tanya Risa.
"Mana ku tau..! Ini lagi mau ku carik tau. Kok di ciumnya pulak lakik ku..!" Ucap Butet dengan wajah yang mulai memerah menahan cemburu.
"Paten lah Moan, mantap kali kalau kau bisa punyak usaha kek gini. Jadi kek mana? apa kabar mu? gak pulang ke Toba kau Moan? pulang sama kita yok. Kau wisuda tanggal berapa Moan? Liburan sama kita." Ucap gadis itu.
__ADS_1
Halomoan mulai pucat saat melihat wajah Butet yang mulai seperti Hulk.
"A-a-aku gak pulang Ris." Ucap Halomoan.
Risma Diana Barus, adalah mantan kekasih Halomoan. Ia adalah gadis yang tercantik yang pernah Halomoan dapatkan. Risma adalah anak orang kaya di Samosir. Pertemuan Halomoan dengan Risma saat mereka sama-sama pulang menumpangi pesawat menuju Medan.
Risma adalah mahasiswi kedokteran yang kuliah di Universitas Negeri nomor satu di Jakarta. Mereka berdua menjalin hubungan selama hampir dua tahun lamanya. Mereka berdua putus karena komunikasi yang tidak lancar dan jarang bertemu. Karena Risma yang mahasiswi
kedokteran sangat sibuk dengan segudang aktivitasnya.
"Makin ganteng ya kau Moan." Ucap Risma.
Halomoan hanya tersenyum dan terus melirik Butet yang tampak geram.
"Eh, sebentar ya Ris. Aku lanjot briefing anak-anak ini dulu ya." Ucap Halomoan.
"Oh, ya udah. Ku tunggu kau disanan ya. Udah lama kita gak jumpa. Pen kali aku cakap-cakap kek dulu." Ucap Risma.
Halomoan tampak kikuk dan tersenyum menanggapi ucapan Risma. Lalu, Halomoan kembali sibuk dengan anak buahnya.
Sedangkan gadis itu beranjak duduk di sudut cafe milik Halomoan dan melambaikan tangannya ke arah Butet yang memakai seragam pegawai.
"Mbak." Panggil Risma.
"Eh, ko jaga dulu kasir ya. Aku layani perempuan gatal itu dulu." Ucap Butet kepada Risa.
Risa hanya mengangguk dan duduk di bangku kasir.
Butet berjalan menghampiri Risma. Halomoan yang sedang membriefing para pegawainya pun menjadi tidak konsentrasi.
Butet mengabaikan Halomoan dan menyambar buku menu dan membawanya ke meja gadis itu.
Halomoan hanya dapat memandangi dari jauh sambil berkali-kali menepuk dahinya.
"M*mpus aku." Gumam Halomoan.
"Mau pesan apa Kak?" Tanya Butet sambil membanting buku menu di hadapan Risma.
Risma mengeryitkan dahinya dan menatap Butet dengan seksama.
"Kok kek gitu caranya? Yang sopan dong." Ucap Risma.
"Oh, iya lah Kak, maaf ya. Gak sengaja aku Kak." Ucap Butet sambil berusaha tersenyum kepada Risma.
Dengan kesal, Risma meraih buku menu dan membaca daftar menu yang tercetak di atas buku itu.
"Steak satu ya." Ucap Risma.
"Dageng nya apa Kak? Dageng manusia ato dageng b*ngke?" Tanya Butet.
"Apa?" Tanya Risma sambil menatap Butet dengan tak percaya.
__ADS_1
"Kakak, mau dageng apa?" Tanya Butet.
"Tadi kau gak sebut itu, kau tadi cakap apa?" Kata Risma.
"Mana ada aku cakap apa-apa Kak. Salah dengar Kakak mungken. Cok korek kupeng dulu Kak." Ucap Butet.
Risma bersungut-sungut dan menunjuk sebuah gambar,
"Daging nya yang tenderloin ya." Ucap Risma.
"Ok Kak, Saos nya mau apa Kakak?" Tanya Butet lagi.
"Blackpaper aja."
"Blackpaper campor air rendaman kakik atau pakek muntah ku Kak?" Tanya Butet.
"Eh, ko dari tadi cakap apa? jijik pulak aku. Gak betol kau ya. Tau kau aku bekawan sama Boss mu..!" Bentak Risma.
"Baru bekawan kan Kak? gak jadian?" Tanya Butet.
"Aku mantannya, mo apa kau!"
"Oooooo... jadi mantan? patut lah kegatalan cium-cium pipi Boss kami." Ucap Butet.
Merasa kesal, Risma pun memanggil Halomoan.
Halomoan yang merasa salah tingkah pun datang dan berdiri di antara Butet dan Risma.
"Moan! Pegawai mu ini kurang ajar..! Tah hapa-hapa aja di cakapnya itu." Ucap Risma yang terlihat sangat marah.
"Ris, aku minta maaf ya." Ucap Halomoan.
Mendengar Halomoan yang meminta maaf kepada Risma, Butet pun melemparkan tatapan tajamnya kepada Halomoan.
"Minta maaf?" Tanya Butet.
"Ya, bagaimana pun dia pelanggan Tet." Ucap Halomoan.
Butet menatap Halomoan dengan tak percaya.
"Oooo, kek gitu." Ucap Butet.
"Ha... kau layani lah dia sampek pagi." Ucap Butet sambil membanting pulpen dan nota ke atas meja.
"Tet, bukan kek gitu." Ucap Halomoan.
Butet berlalu dari hadapan Halomoan dan Risma. Lalu, ia pergi keluar cafe.
"Maaf ya Ris." Ucap Halomoan sebelum ia berlari keluar cafe untuk mengejar Butet.
Butet menangis karena kesal. Ia pun menyetop sebuah taksi dan pergi entah kemana.
__ADS_1
"Butet...!" Panggil Halomoan.
Tetapi terlambat, Butet sudah menghilang bersama taksi itu.