
Agus yang sedang putus asa pun berhenti disebuah mesjid setelah ia dari kampus Risa. Agus duduk dengan peluh yang membanjiri dahinya. Ia bersender di beranda mesjid dan membuka jaketnya.
Seorang lelaki menghampiri Agus yang hanya duduk sambil mengibas-ngibaskan jaketnya untuk mendapatkan angin segar.
"Ini, ambil." Ucap lelaki bermata biru sambil menyerahkan sebotol minuman dingin kehadapan nya.
Agus menatap lelaki itu, lalu ia tersenyum dengan semringah.
"Terima kasih." Ucap Agus sambil menerima botol minuman itu.
"Tidak sholat?" Tanya lelaki itu.
"Hmmm, enggak." Ucap Agus.
"Kenapa? sebentar lagi iqomah, yuk sholat." Ucap lelaki itu.
Agus hanya tersenyum tanpa menjawabnya.
Iqomah pun di kumandangkan oleh Mu'azzin. Lelaki bermata biru itu pun beranjak dan bersiap untuk menunaikan sholat.
Agus terdiam, ada rasa malu di hatinya. Seorang bule dengan mata biru saja sholat, mengapa dia tidak? Begitulah kira-kira yang ada di hatinya.
Agus mengintip dari lelaki bermata biru itu jendela mesjid. Tampak lelaki itu sedang menunaikan sholat berjamaah dengan lelaki lain nya. Agus terus memperhatikan lelaki itu hingga lelaki itu selesai menunaikan sholatnya.
Setelah bersalam-salaman dengan jemaah lainnya. Lelaki itu pun beranjak dari duduknya dan keluar dari mesjid itu.
Saat keluar dari mesjid, lelaki itu menatap Agus yang sedang menatap nya dengan kagum.
"Masih disini?" Sapa lelaki itu.
Agus tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
Lelaki itu menghampiri Agus dan duduk di samping Agus.
"Matt." Ucapnya sambil mengulurkan tangannya.
Agus menatap Matt dengan seksama. Lalu, ia menyambut tangan Matt.
"Agus." Ucap nya.
"Dari mana, mau kemana?" Tanya Matt.
"Mau ke... ah, enggak kemana-mana." Ucap Agus.
"Maksudnya?" Tanya Matt.
"A-a-aku gak ada tujuan." Ucap Agus.
Matt mengangkat kedua alisnya.
Matt pun paham, lelaki yang duduk di sebelahnya adalah seorang musafir.
"Kamu muslim?" Tanya Matt.
Agus mengangguk dengan ragu.
"Sholat dulu sana, nanti ikut aku yuk. Biar saya yang menjaga tas kamu." Ucap Matt.
Agus menatap Matt begitu dalam. Lalu, ia pun mengangguk.
Agus beranjak dari duduknya dan pergi ke tempat wudhu dan ia pun mengambil wudhu di sana. Setelah itu, Agus pun melaksanakan sholat Dzuhur.
__ADS_1
Setelah sholat Dzuhur, Agus kembali kedepan dan bertemu dengan Matt yang sedang menjaga tas Agus.
"Sudah?" Tanya Matt.
"Sudah." Sahut Agus.
Matt tersenyum lebar dan menyuruh Agus duduk disampingnya.
"Sudah makan?" Tanya Matt.
Agus menggeleng dan tersenyum malu.
"Yuk, kita cari makan." Matt mengajak Agus dengan menarik tangan Agus dengan lembut.
Agus terdiam. Ada getaran di hatinya.
"Ya Allah, aku orang hina, tetapi kau temui aku dengan malaikat." Ucap Agus.
Agus pun mengikuti Matt ke mobilnya.
"Bisa menyetir?" Tanya Matt.
Agus mengangguk, Matt pun tersenyum.
"Ini kunci mobil. Sekarang kamu bekerja dengan ku. Mau?" Tanya Matt.
Air mata Agus tak terbendung lagi. Ia menangis dan langsung mencium tangan Matt.
"Terima kasih. Terima kasih..!" Ucap Agus.
"Sekarang, tinggallah dengan ku." Ucap Matt yang langsung meyakini Agus adalah orang baik. Tanpa keraguan, ia menolong Agus dengan caranya.
Tampaknya Matt benar-benar mengamalkan ajaran itu.
Agus mengendarai mobil Matt dan mengikuti petunjuk Matt yang akan mengajaknya ke restoran untuk makan siang.
Setelah sampai di restoran, mereka pun berbincang-bincang. Mencoba saling mengenal.
"Siapa namamu tadi?" Tanya Matt.
"Agus."
"Ah iya, sorry saya sedikit pelupa." Ucap Matt.
"Tidak apa-apa." Sahut Agus.
"Kita pesan makanan, apa saja yang kamu mau silahkan. Jangan sungkan." Ucap Matt.
Agus terus memandangi wajah malaikat tak bersayap itu.
Setelah memesan makanan, Agus pun bertanya tentang apa yang mengganjal dihatinya.
"Mengapa kamu membantu saya? kamu kan tidak mengenal saya ini orang baik atau jahat." Tanya Agus.
"Membantu tidak usah melihat baik atau jahat. Kalau baik Alhamdulillah, kalau jahat urusan kamu sama Allah." Ucap Matt.
Degggg....!
Bagaikan tertimpa bongkahan batu yang besar. Dada Agus terasa sesak.
"Kamu baik sekali." Ucap Agus.
__ADS_1
"Tidak, saya bukan orang baik. Saya hanya berusaha menjadi baik. Sejak kenal Muslim, saya damai dan menjadi lebih baik lagi. Alhamdulillah." Ucap Matt sambil tersenyum manis.
Hati Agus bergetar. Ia merasa terguncang.
"Kamu Muslim dari kecil? Kamu asal mana?" Tanya Agus.
"Saya baru menjadi Muslim, baru enam bulan. Saya dari Swiss, tetapi sudah lama di Indonesia." Ucap Matt.
"Bagaimana bisa..!" Ucap Agus terkagum-kagum.
"Apa yang tidak bisa? bila Hidayah mendekati? tinggal kita mau atau tidak? Awalnya aku tidak percaya Tuhan." Ucap Matt.
Agus terpana dan menatap Matt dengan seksama.
"Lucunya, Hidayah itu datang karena aku mendekati seorang wanita yang luar biasa." Sambung Matt.
"Wanita?" Tanya Agus.
"Ya wanita, mendekatinya bagaikan mencabut bunga mawar di tengah hutan. Kau harus berjuang." Ucap Matt.
Agus terperangah.
"Masih ada wanita begitu jaman sekarang?" Batin Agus.
"Kamu pasti tidak percaya," Ucap Matt sambil tertawa.
"Saya ceritakan, saya menyukai gadis biasa pelayan cafe. Dia berhijab dan sudah mempunyai seorang anak. Awalnya saya pikir gampang untuk mendapatkan wanita itu. Ternyata, sulit."
Agus mendengarkan cerita Matt dengan seksama.
"Tahu mengapa begitu sulit. Saya di hadapi dengan Abang nya. Dan Abangnya mengajukan syarat yang luar biasa. Hingga menuntun saya seperti ini." Cerita Matt.
"Apa syaratnya?" Tanya Agus.
"Belajar Agama dan harus bisa baca Al-Qur'an. Berat kan?" Tanya Matt sambil tertawa.
Agus menatap Matt dengan tak percaya.
"Sesulit itu?" Tanya Agus.
"Iya. Awal nya aku menggerutu. Tetapi, karena wanita itu menyemangati aku. Aku mulai menekuni. Dan ternyata aku benar-benar mendapatkan hidayah. Wanita itu benar-benar bidadari yang Allah kirim untuk ku." Ucap Matt.
Agus terdiam. Ia pun teringat dengan Risa. Bidadari yang ia rusak, ia tinggalkan dan kini ia menyesal. Terlebih, saat ia mengetahui bila ia dan Risa memiliki Arkha. Agus mulai menitikkan air mata.
"Mengapa kamu menangis?" Tanya Matt.
"Aku tidak apa-apa. Aku hanya terharu. Bisakah kamu mengajak ku belajar Agama juga?" Tanya Agus.
Matt menatap Agus dengan semringah.
"Kamu yakin?"
"Ya saya yakin. Dan Terima kasih pertolongan mu. Kamu memang berhati malaikat." Ucap Agus.
"Tidak saudaraku. Allah yang menggerakkan hati ku. Maka bersyukurlah kepada Allah." Ucap Matt.
Air mata Agus semakin deras. Ia benar-benar menyadari. Dirinya sudah terlalu jauh dari jalan NYA.
"Astaghfirullah al adzim, Allahu Akbar." Bisik nya lirih.
Pesanan mereka pun datang, Matt dan Agus berhenti bicara. Mereka menyantap makan siang mereka dengan lahap dan mensyukuri nikmat yang mereka dapatkan hari ini.
__ADS_1