
Pagi ini, cuaca cerah berawan. Seperti biasa, Kota Jakarta sudah ramai oleh aktivitas para penduduk yang sudah aktif sebelum adzan subuh berkumandang.
Seperti biasa, pulang dari Mushola, Nyak Tatik menyapu halaman rumahnya. Kini, papan yang bertuliskan "Menerima Kost Putri" kembali tergantung di pagar rumah Nyak Tatik.
Mengingat Cempaka yang kini sudah sekamar dengan Rozi, Nyak Tatik memutuskan untuk menerima anak Kost lagi. Karena, Nyak Tatik takut sekali, bila Cempaka berubah pikiran dan pindah kembali ke kamarnya. Maka, Nyak Tatik langsung berniat untuk menerima anak Kost yang baru.
Pagi itu, terlihat Risa dan Rita yang akan berangkat ke kampus. Nyak Tatik awalnya tidak memperhatikan mereka berdua. Tetapi, akhirnya Nyak Tatik memperhatikan salah satu dari kedua anak tirinya itu.
"Si Risa kenape ye? Kok pucet amat? ape die lagi sakit?" Gumam Nyak Tatik.
Walau bagaimanapun, Nyak Tatik cukup perhatian bila ada yang sakit di antara kedua anak tirinya itu. Pernah saat itu, Nyak Tatik diam-diam menaruh buah-buahan di depan rumah Nyak Komariah, saat Risa sedang sakit demam berdarah. Nyak Tatik juga pernah merawat Risa yang saat itu sendirian di rumah, karena Nyak Komariah sibuk merawat Rita yang sedang di rawat di rumah sakit.
Semua itu Nyak Tatik lakukan karena ia benar-benar menganggap anak-anak Nyak Komariah adalah bagian dari hidupnya.
Tetapi, sayang sekali. Nyak Komariah selalu menanamkan kepada anak-anaknya bila Nyak Tatik adalah musuh bagi mereka. Maka, setelah anak-anaknya dewasa, kebencian itu tertanam di hati anak-anak Nyak Komariah.
"Risa, lu sakit?" Tanya Nyak Tatik saat Risa berdiri di seberang pagarnya.
Risa diam saja dan cenderung pura-pura tidak mendengar pertanyaan Nyak Tatik.
"Ya Allah orang tua nanya die diemin." Gumam Nyak Tatik.
Rita dan Risa pun pergi dengan sepeda motor mereka.
Nyak Tatik hanya bisa mengusap dada saat melihat betapa bencinya anak-anak suaminya dari Nyak Komariah kepada dirinya.
Nyak Tatik kembali melanjutkan aktivitasnya menyapu halaman.
Butet dan Sri pun berjalan menuju pagar rumah Nyak Tatik. Mereka pun berhenti sejenak untuk berpamitan dengan Nyak Tatik.
"Nyak, kita berangkat ke kampus dulu ya Nyak." Ucap Sri.
"Iye, hati-hati ye." Ucap Nyak Tatik.
"Iya Nyak."
Lalu, Butet berdua membuka pagar rumah itu. Saat Butet akan kembali menutup pagar tersebut, Butet melihat papan yang bertuliskan "Menerima Kost Putri" tergantung di pagar.
"Eh, Sri." Ucap Butet sambil mencolek tangan Sri.
__ADS_1
"Opo Tet?" Tanya Sri yang langsung menatap papan yang di tunjuk oleh Butet.
"Owalah, kalau ada anak baru gak seru toh..!" Ucap Sri.
"Iya ya, padahal kita udah klop kali sama si Cempaka. Sayang nya dia getek kali, jadi cepat kawen nya." Sesal Butet.
"Yo wes lah, do'akan saja tidak ada yang nge-kost di rumah ini." Celetuk Sri.
"Hust..! kau mendoakan rezeki orang serat namanya!" Ucap Butet.
Sri menutup mulutnya rapat-rapat.
"Ngawur kali kau. Ayoklah cepat, kita telambat pulak nantik!" Ucap Butet.
Lalu, mereka berdua berjalan kaki menuju ke depan komplek.
"Tet, berangkat bareng yuk!" Seru Batra yang bertemu Butet dan Sri di depan komplek.
"Gak lah Bang, aku sama si Sri aja lah." Ucap Butet.
Batra menatap Sri dan Butet sesaat. Lalu, ia mengangguk paham.
"Ya sudah, hati-hati ya kalian." Ucap Batra.
Saat itu juga, angkot berhenti di depan mereka. Tampak seorang gadis cantik turun dari angkot tersebut sambil membawa sebuah koper dan tas sandangnya.
Setelah gadis itu turun, Butet dan Sri pun naik ke atas angkot tersebut.
"Uwayuuuuuuuu yo." Ucap Sri.
"Biasa aja, masih cantek aku lah." Ucap Butet.
Sri mencebikkan bibirnya saat Butet memuji dirinya sendiri.
"Gak asik yo, biasanya kita berangkat ke kampus bertiga. Sekarang berdua saja." Keluh Sri.
"Iya, teros cepak kau kawen sama si Dewa kan, tinggal lah aku sendiri..! Ha..! mau cepat kau kawen sama si Dewa? gak ko pikerkan naseb aku ha!" Butet tampak kesal karena masing-masing dari sahabatnya sudah mempunyai tambatan hati.
Keluarga Dewa sudah mulai berkomunikasi dengan keluarga Sri. Dan, mereka mempunyai rencana akan mengunjungi keluarga Sri di Yogyakarta saat libur semester ini. walaupun masih lima bulan lagi. Tetapi, Sri dan Dewa sudah merencanakan pertunangan saat orang tua Dewa menyambangi keluarga Sri.
__ADS_1
Tentu saja hal itu membuat Butet semakin iri dan gigit jari. Sedangkan hubungannya dengan Halomoan, belum juga ada kejelasan.
"Mungkin aku kenak ngences si Moan lah ini, makanya aku kek kenak pelet sama dia. Bisa pulak aku mikirin laki-laki kek dia gitu bentok nya." Gumam Butet.
"Ish, kemana lah kau Moan, udah hamper dua bulan aku gak nengok mukak kau. Tah kek apa kau sekarang. Ish rindu kali." Gumam nya lagi.
Saking kesalnya dan tak sanggup menahan rindu. Butet pun mulai kesal. Lalu, ia berteriak di dalam angkot tanpa ia sadari.
"Moaaaannnn cepat pulang kau..! gak tau kau aku rindu. Pen kali ku maki-maki kau Moan! gadak perasaanmu itu. Udah kek nahan ber*k aku nahan rindu ini...!" Teriak Butet.
Angkot mendadak berhenti, seluruh penumpang termasuk Sri menatap Butet dengan seksama.
Butet yang sedang kesal, lalu tersadar bila baru saja ia berteriak-teriak di dalam angkot.
Butet menatap para penumpang satu persatu termasuk Sri. Dengan cepat Butet menutup mulutnya dengan telapak tangannya.
"Woii...! ada apa nya ini? kenapa kau teriak-teriak di dalam angkot ku Butet!" (Red- Butet- panggilan untuk anak perempuan Batak) Ucap Supir angkot.
"Eh, maaf lay! gak sadar aku barusan." Ucap Butet sambil juga meminta maaf kepada seluruh penumpang.
"Meresahkan kali kau Butet! Jan kau buat malu orang Batak..!" Ucap Supir angkot yang juga orang Batak.
"Iya lay. Maaf ya, gak sadar aku barusan." Ucap Butet sambil menundukkan kepalanya dalam-dalam.
Sri tersenyum geli sambil menatap Butet yang sedang menahan malu yang luar biasa.
"Cieeee rasa rindu sampai seperti sedang menahan ber*k ya Tet." Goda Sri.
"Diam kau Sri!" Ucap Butet sambil menutupi wajahnya.
Sri tertawa geli. Ia lebih merasa geli saat mengingat betapa jijiknya Butet kepada Halomoan dan sekarang walaupun Butet tidak mengakui perasaannya kepada Halomoan. Tetapi, ucapan Butet barusan sudah jelas sekali bila gadis itu sedang menahan rindu dan sudah jatuh cinta kepada Halomoan.
Beberapa saat kemudian, tibalah mereka di kampus. Saat baru saja turun dari angkot, Sri langsung tertawa terbahak-bahak mengingat tingkah Butet di dalam angkot.
"Ya Allah Butet......Tingkah mu itu..." Ucap Sri yang masih terpingkal-pingkal mengingat kejadian di dalam angkot.
"Recok kau!" Ucap Butet yang kesal karena Sri terus menertawakan dirinya.
Lalu, mereka berdua berpisah. Masing-masing beranjak ke gedung Fakultas mereka.
__ADS_1
Sepanjang perjalanan menuju Fakultas nya, Butet terus menyesali apa yang telah ia lakukan di dalam angkot. Karena itu, saat ini dan kedepannya, Butet tidak akan bisa berbohong lagi kepada Sri atas perasaannya kepada Halomoan.
"Eeeee... paok kali aku bah! Gara-gara kau semuanya Moan. Cepat kau pulang! pen lu jambak, ku pijak-pijak kau! Berani-beraninya kau buat aku rindu setengah mati sama mu ya Moan!" Ucap Butet dengan geram.